34 Hari Sebelum Persidangan
Rosaline melangkahkan kakinya dengan pelan untuk mengambil segelas air putih di dapur milik Farel.
Rosaline sama sekali tidak mengira kalau setelah semua hal yang terjadi, pada akhirnya Rosaline harus kembali ke tempat ini lagi.
Tidak ada hal yang bisa dia lakukan selain tetap bersama dengan Farel karena Rosaline yakin jika dia bisa saja melakukan hal yang gila jika tidak ada orang yang ada di sekitarnya.
“Apakah kamu lapar, Rosaline? Apa aku perlu memesan makanan cepat saji?” Tanya Farel.
Rosaline langsung menggelengkan kepalanya dengan pelan.
Tidak, Rosaline sama sekali tidak lapar karena pada kenyataannya Rosaline tidak bisa makan apapun sejak kemarin malam. Keadaan ini benar-benar mempengaruhi tubuh Rosaline.
Rosaline sama sekali tidak ingin melakukan apapun selain terus berpikir bagaimana cara menyelesaikan masalah besar ini.
“Jangan menyiksa dirimu seperti itu. Semuanya akan baik-baik saja.. Aku yakin kalau semuanya akan membaik sebentar lagi..”
Tidak, tidak akan ada hal yang membaik.
Sekarang Feli sudah tahu kebenaran tentang hubungan Farel dan Rosaline. Bahkan lebih bari itu, Feli sudah tahu hal apa saja yang terjadi di antara Farel dan Rosaline.
Sebenarnya Rosaline sangat jijik dengan dirinya sendiri. Tidak dia sangka kalau dia membuat satu keputusan bodoh yang benar-benar gila.
“Tetaplah di sini malam ini. Aku akan tidur di ruang tamu. Jangan menolak ataupun membantah, kita akan mencoba mencari cara untuk memberikan penjelasan pada Feli, tapi tidak sekarang.. Dia membutuhkan waktu untuk sendiri, jangan mengganggunya dulu..” Kata Farel.
Rosaline tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh Farel. Tidak, tidak ada masalah yang bisa dibiarkan berlarut-larut tanpa ada solusi. Rosaline tidak ingin kalau masalah ini akan semakin besar.
Ken sudah cukup kecewa dengan alasan yang Rosaline berikan ketika adiknya itu meminta izin untuk menikah lebih dulu. Iya, Ken sangat kecewa dengan Rosaline. Bagaimana perasan adiknya itu ketika dia tahu alasan yang sebenarnya?
Rosaline sama sekali tidak siap kalau dia harus mendapatkan tatapan kebencian dari adiknya sendiri.
Benar, sering kali Rosaline memang berharap untuk bisa mendapatkan keberuntungan. Rosaline sering kali memikirkan hal yang berkebalikan dengan kenyataan ini. Rosaline ingin tahu apa yang terjadi seandainya Rosaline dan Farel yang lebih dulu menyatakan hubungan mereka. Jika Rosaline dan Farel yang lebih dulu saling jatuh cinta, akankah Feli dan Ken juga akan tetap menang seperti sekarang? Apakah mereka yang akan mendapatkan kesempatan untuk menikah?
Iya, Rosaline memang sangat sering membayangkan hal-hal tersebut, tapi Rosaline sama sekali tidak pernah menginginkan kehancuran hubungan Feli dan Ken.
Bersama dengan Feli, Ken mendapatkan kesempatan untuk hidup dengan caranya, dengan pilihannya, dan dengan kebahagiaannya sendiri. Adiknya itu akhirnya bebas dari semua peraturan yang selama ini mengikat dirinya.
Rosaline tidak pernah bermaksud buruk dengan melukai hati Feli dan Ken. Sayangnya semua ini sudah terlanjur terjadi.
“Kalau aku jadi Feli, aku akan sangat membenci semua orang yang menghianatiku. Farel, kita harus segera mendatanginya dan mengatakan tentang apa yang terjadi—”
“Dia sudah tahu. Dia sudah tahu apa yang terjadi di sini. Feli sudah tahu semuanya.. apa yang harus kita katakan lagi? Dia tahu semuanya, Rosaline..”
Tidak, ini adalah mimpi buruk, ini adalah mimpi yang sangat buruk.
Rosaline baru saja akan kembali mengatakan pendapatnya ketika dia mendengar suara ponsel Farel yang berdering dengan kencang.
Rosaline sebenarnya tidak ingin mengetahui siapa yang sedang menghubungi Farel di akhir pekan seperti ini, tapi entah kenapa Rosaline malah melangkahkan kakinya untuk mengikuti Farel. Entahlah, Rosaline sama sekali tidak sadar dengan apa yang dia lakukan.
“Dari kepolisian. Kenapa mereka menghubungiku?”
Rosaline mengernyitkan dahinya ketika dia mendengar apa yang dikatakan oleh Farel.
Rosaline merasakan kalau jantungnya berdetak dengan kencang ketika dia melihat Farel mengangkat panggilan itu. Jujur saja Rosaline dan Farel memang sangat sering mendapatkan panggilan dari kepolisian, tapi biasanya mereka tidak menghubungi di jam-jam seperti ini. Mereka hanya akan menghubungi di jam kerja saja kalau memang ada suatu pekerjaan yang harus dilakukan dengan segera.
Kepolisian tidak biasanya menghubungi pada saat seperti ini.
“Selamat sore. Apakah ada hal penting sehingga Bapak menghubungi saya ketika akhir pekan?"
Sama seperti Rosaline, Farel sepertinya juga bingung dengan apa yang dilakukan oleh kepolisian. Iya, ini memang akhir pekan. Besok adalah hari minggu, seharusnya tidak ada pekerjaan apapun sekarang.
Sudahlah, lagi pula sejak dulu Rosaline juga tahu kalau tidak ada kata akhir pekan untuk seorang pengacara.
“Benar, saya memang kakak kandung Feli Prameswari. Ada apa sebenarnya? Kenapa Bapak menghubungi saya dan menanyakan tentang adik saya?”
Wajah Rosaline mulai memucat. Pasti ada sesuatu yang salah..
Tidak mungkin kalau kepolisian menghubungi Farel tanpa alasan yang jelas.
Ada apa ini?
Beberapa detik kemudian, wajah pias Farel menjelaskan sesuatu pada Rosaline.
Pasti ada sesuatu yang buruk. Rosaline tahu akan hal itu, tapi Rosaline sama sekali tidak bisa memberikan pertanyaan apapun ketika Farel hanya diam sambil meneteskan air matanya.
Apa ini? Ada apa sebenarnya?
“Farel, ada apa?” Tanya Rosaline sambil menyentuh bahu Farel.
Rosaline tidak mendapatkan jawaban apapun tapi Rosaline tahu kalau ada sesuatu yang tidak benar di sini.
“Kita harus ke taman bunga..”
Hanya itu yang dikatakan oleh Farel.
Rosaline sama sekali tidak bisa melakukan apapun lagi selain mengikuti langkah kaki Farel yang sangat cepat. Pria itu berlari secepat yang dia bisa dan Rosaline langsung mengikutinya karena jujur saja Rosaline mulai merasa ketakutan.
Ada apa dengan Feli?
Ini pasti menyangkut Feli, tidak mungkin polisi menanyakan tentang Feli kalau masalah ini bukan tentang Feli.
Ken, Rosaline harus menghubungi Ken.
***
Rosaline sama sekali tidak bisa melakukan apapun..
Sungguh, ini sama sekali tidak bisa dipercaya..
Tidak, ini tidak mungkin.. ini tidak mungkin..
Rosaline menjatuhkan tubuhnya ke arah tanah. Ini sama sekali tidak mungkin..
Taman bunga yang biasanya sepi ketika malam hari, taman ini kini penuh dengan riuh dan keributan.
Rosaline sama sekali tidak bisa menahan dirinya lagi ketika dia melihat dengan jelas jika Feli ada di sana..
Wanita itu ada di sana..
Dia terbaring dengan keadaan yang sangat—
Tidak! Tidak mungkin! Ini tidak mungkin terjadi!
Rosaline melihat ke sekelilingnya, Farel langsung mendekati adiknya dan menangis di sana. Rosaline sama sekali tidak bisa melanjutkan langkah kakinya. Rosaline tidak sanggup melihat semua ini.
Di depan sana.. di depan sana ada Feli yang.. yang tubuhnya berlumuran darah..
Tolong, siapapun tolong sadarkan Rosaline! Katakan kalau ini hanya mimpi buruk!
Rosaline mencoba untuk bangkit dari posisinya, tapi dia sama sekali tidak bisa. Kakinya lemas, tubuhnya bergetar karena ketakutan..
Tidak ini sama sekali tidak mungkin..
Feli mencoba menghentikan tangisannya tapi dia sama sekali tidak bisa melakukan itu.
Tubuh Feli ada di depannya. Wanita itu sedang berusaha dievakuasi..
Tidak, Feli tidak mungkin meninggal.. Dia adalah adiknya, adiknya tidak mungkin meninggal. Tolong jangan lakukan ini.. Rosaline sama sekali tidak sanggup menahan sesak di dadanya..
Dalam keadaan yang paling hancur, Rosaline menemukan jika ada Caleb di sana.
Caleb? Caleb ada di sini?
Rosaline bangkit dengan sekuat tenaganya. Dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.
“Me-merah! Merah! Dia membunuh Feli! Merah, di-dia membawa pisau! Dia membawa pisau! Merah! Dia membawa pisau..”
Samar-samar Rosaline mendengar apa yang dikatakan oleh Caleb.
Dengan susah payah Rosaline semakin mendekati Caleb lalu meraih pria itu ke dalam pelukannya. Rosaline tahu kalau ada sesuatu yang salah di sini.. kenapa hanya ada Caleb? Dimana Ken?
“Dimana Ken? Kak Caleb, dimana Ken?” Tanya Rosaline sambil menatap Caleb yang terus mencoba mengalihkan tatapannya seakan dia sedang ketakutan.
Rosaline sama sekali tidak mengerti dengan semua ini.. ini terasa seperti mimpi.
Dengan air mata yang masih mengalir, Rosaline terus mencoba mencari keberadaan Ken yang memang sama sekali tidak terlihat di sini.
Jika Ken ada di sini, seharusnya Rosaline bisa menemukannya..
Dimana Ken?
“Kak Caleb, dimana Ken?! Dimana dia?!”
Rosaline tidak bisa menghubungi Ken. Sejak tadi Rosaline memang sudah mencoba tapi tidak ada satupun panggilan yang tersambung.
Dimana Ken? Ini hal yang sangat tidak bisa dipercaya, dimana adiknya itu?
“Merah! Dia membawa pisau, Rosaline! Dia membawa pisau! Ak-aku sangat, ak-aku sangat takut! Merah! Dia berwarna merah!”
Rosaline menggelengkan kepalanya dengan pelan.
Tidak, tidak.. ini tidak boleh terjadi. Ken sangat mencintai Feli, bagaimana keadaan adiknya itu ketika tahu kalau Feli.. Feli sudah tidak ada. Wanita itu sudah tidak ada di sini.. Feli meninggal.. wanita itu meninggal..
Rosaline meraih Caleb ke dalam pelukannya. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Kenapa Caleb ada di sini? Kenapa pria itu terus mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan kejadian ini? Apakah Caleb melihat jika.. jika Feli di bunuh? Apakah ini sebuah pembunuhan?
Tuhan.. kenapa harus Feli? Kenapa harus Feli?
“Kak Caleb.. apa yang sebenarnya terjadi??”
Rosaline mencoba untuk menghubungi Ken sekali lagi. Keadaan di tempat ini memang sangat gaduh, tapi Rosaline tetap mencoba untuk menghubungi Ken.
Dimana Ken? Kenapa adiknya itu menghilang di saat keadaan seperti ini?
Rosaline kembali menghempaskan tubuhnya ke tanah. Ini sama sekali tidak mungkin! Ini tidak mungkin terjadi!
Tidak, Feli pasti masih hidup.. wanita itu harus hidup untuk Ken. Feli harus tetap hidup karena kalau tidak.. maka Ken juga tidak akan bisa hidup.
Ini sama sekali tidak nyata.. tidak, ini hanya mimpi buruk saja.
Rosaline berharap kalau dia akan terbangun dan menyadari jika ini hanya mimpi buruk.. sayangnya Rosaline salah. Ini bukan mimpi buruk.. ini sesuatu yang nyata..
Lalu, saat kenyataan itu menghampiri Rosaline, satu fakta menyakitkan semakin membuat Rosaline hacur.
Tidak, Rosaline memang mengatakan kalau sebaiknya salah satu dari mereka mati, tapi Rosaline sama sekali tidak mengharapkan kalau Feli yang akan pergi. Rosaline berharap kalau dia saja yang harus mati..
Tidak, ini salahnya. Rosaline melakukan kesalahan dengan mengatakan sesuatu yang tidak pantas.
“Tidak, Feli.. Tidak.. kenapa harus Feli?” Rosaline berbicara sambil terus menangis.
Sekarang ini, di tengah keributan yang ada di taman ini, Rosaline memeluk dirinya sendiri. Dia sama sekali tidak bisa melakukan apapun karena Rosaline tidak memiliki kekuatan bahkan untuk sekedar menghampiri Farel.
Rosaline tidak sanggup menerima fakta ini.. Rosaline sama sekali tidak sanggup..
Tolong, jangan lakukan ini pada Feli..
***
Di sisi yang lain, di tengah keributan yang terjadi di taman bunga itu, ada seseorang yang sedang mengintip di balik pohon besar.
Bibirnya tersenyum dengan pelan bersamaan dengan kantung jenazah yang dibawa masuk ke dalam mobil ambulance.
“Kamu bermain-main denganku. Sekarang kamu harus menerima akibatnya, Feli sayang..” Senyuman itu semakin lebar ketika mendengarkan suara tangisan banyak orang yang semakin memenuhi taman ini.
Baiklah, wanita itu sudah tersingkir.. pekerjaannya sudah selesai..
Bersama dengan bayangan merah yang disinari oleh cahaya rembulan, sepasang mata itu mulai menjauh, semakin tidak terlihat, lalu hilang bersama dengan pekatnya malam.