Fajar menyingsing dengan sangat damainya. Daerah asri, pepohonan masih bertebaran di sepanjang penghujung jalan. Tanpa mengabari suaminya terlebih dahulu, Leviana pergi ke kota di mana kakak tertuanya tinggal. Pertama kalinya Leviana datang ke kota ini sendirian, benar-benar sendirian. Hanya dengan modal nekat dan niat, akhirnya Leviana bisa datang ke sini. Sekitar dua puluh menit dari bandara, Leviana masuk ke dalam perumahan elite. Berkali-kali dia melirik secarik kertas bertulis alamat rumah Kevino. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya, tidak siap menemui sang kakak. Kesalahannya begitu banyak pada Kevino. Dia sendiri malu menampakkan wajahnya di depan Kevino. “Sudah sampai, Mba,” kata sopir taksi, menghentikan mobilnya. Leviana melirik kaca, melihat rumah Kevino. Asing sekali d

