Bab 1
"Aldo, Mama minta kamu menikah dengan Leviana!"
Aldo menghentikan langkahnya, dia berbalik menatap sang ibu datar. Di dunia ini, dari sekian banyaknya manusia, tak ada satu pun orang yang mengerti dirinya bahkan kedua orang tuanya sekalipun. Perasaan di hatinya belum sembuh total, tetapi mereka menyuruhnya untuk menikah. Leviana adalah wanita baik, mana bisa kedua orang tuanya ingin dia— pria paling buruk menikahi wanita baik seperti Leviana?
"Bun. Aldo," ucap Aldo menggantung, "Aldo masih cinta Raira."
Merry—ibu Aldo menepuk-nepuk bahu anaknya pelan. Sebagai seorang ibu, Merry ingin melakukan hal baik untuk anaknya. Bertahun-tahun anaknya terpuruk, dan sekarang waktunya dia bangkit mencari kebahagiaan. Merry yakin, seiring berjalannya waktu, Aldo bisa melupakan Raira dan mulai mencintai Leviana.
"Bunda tahu, Nak. Raira sudah bahagia, dia sudah menikah dan bahagia. Apa mau kamu terus kayak gini? Buktiin sama Raira kalau kamu bisa hidup tanpa dia," balas Merry sedikit memberikan semangat. Hatinya sangat sesak, tidak tega melihat anaknya seperti ini. Bertahun-tahun, hidup Aldo seperti tak bernyawa. Makan telat, sering melamun, dan sering berkunjung ke tempat-tempat istimewa. Tempat yang biasa Aldo dan Raira kunjungi. Namun, anehnya Aldo bisa terus berkonsentrasi menyangkut kuliah dan pekerjaan.
"Tapi dia gak bahagia, Bun. Dia dipaksa nikah sama kakak-kakaknya—"
"Aldo?!" potong Merry berteriak. Aldo selalu mengelak, dia sudah hafal betul apa yang akan dikatakan anaknya. Aldo akan mengatakan, 'Raira tidak bahagia' 'Raira hanya dipaksa' dan 'Raira masih mencintainya'. Sudah jelas, ada di depan mata, Raira sudah bahagia. "Raira sudah bahagia! Dia sudah bahagia bersama suaminya Aldo! Lagi pula, Raira sudah membencimu. Sedikit mengertilah Aldo! Jangan sampai kamu menjadi buronan lagi! Ingat kelima kakak Raira itu orang terpandang. Sudah bersyukur waktu kamu berbuat gila, mereka tidak sampai menghancurkan hidup kita sampai dasar."
Aldo diam, merenungi kata demi kata yang dilontarkan ibunya. Benar, kesalahannya bisa membuat semuanya menderita. Untung saja Raira berbaik hati, masih ingin menolongnya. Kalau tidak, mungkin keluarganya sudah menjadi gelandangan. Berurusan dengan keluarga Raira sama dengan mencari mati.
Kejam? Sadis? Over protektif? Tentu saja, mereka seperti itu. Raira adalah anak emas, kesayangan mereka semua. Sedikit saja Raira terluka, mereka akan mencari pelaku sampai dapat. Termasuk dirinya, pernah berbuat nekat dan berakhir seperti ini. Dendam? Tidak, Aldo tidak dendam. Ini kesalahannya, dan ini juga hukumannya.
"Bagaimana Ana, Bun? Jangan sampai dia menyesal telah menikahi Aldo," Aldo bertanya ragu. Dia berharap, semoga Leviana tidak setuju. Dia tidak ingin menghancurkan hidup wanita itu. Wanita baik, yang beberapa tahun kebelakangan ini selalu perhatian padanya.
Merry tersenyum semringah. "Levi mencintai kamu. Dia mau menikah denganmu. Bunda berharap, kelak kamu juga bisa mencintai Levi dan melupakan Rara."
"Tidak semudah itu, Bun," sahut Aldo datar. Pria itu mengambil tas kerjanya, mengambil telapak tangan Merry lalu mencium punggungnya, "Aldo pikirkan nanti, Bun. Semoga nanti Bunda bisa menerima apa pun keputusan Aldo."
"Bunda yakin sekali, kamu tidak akan mengecewakan Bunda," ucap Merry sambil tersenyum, "oh ya, Al? Kamu jarang sekali makan di rumah, ayo makan bareng sama Bunda."
Aldo menggeleng. "Aldo mau sarapan di kantor," tolak Aldo halus.
"Yaudah, tapi kamu harus sarapan ya? Bunda gak mau kamu sakit. Hati-hati di jalan."
Aldo tersenyum tipis. "Aldo pamit, Bun."
***
Aldo bergeming, mengambil sebuah bingkai di atas meja kantor. Sebuah foto lama, tetapi masih bersih dan terjaga. Foto itu Aldo pajang di meja kantornya. Di foto itu ada Raira sedang memeluk Aldo dari belakang. Wajahnya cantik, senyumannya manis. Aldo sangat merindukan semua itu. Kenangan yang tak mungkin dilupakan.
"Rara ... apa kamu masih inget aku? Apa kamu bisa lupain kenangan kita?" tanya Aldo seraya mengusap-usap bingkai itu. Dadanya sesak, sangat-sangat sesak. Cintanya untuk Raira begitu besar, sampai-sampai Aldo kesusahan untuk melupakannya. Tidak, sedetik pun Raira tidak bisa lepas dari hati dan pikirannya.
Aldo jadi teringat kenangan masa SMA-nya. Raira bercita-cita ingin menjadi guru fisika. Mungkin Raira sudah menjadi guru fisika hebat sekarang. Sedikit info yang dia dapat, kalau Raira sudah mengajar di Bhatia High School—sekolah berbasic internasional milik kakak tertua Raira.
"Aldo! Gue mau jadi guru fisika!"
"Kenapa?"
"Gue mau buktiin fisika itu gampang! Gue mau ngajarin orang semacam lo, yang bodoh banget sama fisika!"
Suara Raira beberapa tahun lalu bergema di pikirannya. Senyumannya terangkat, memikirkan itu membuat hatinya berbunga-bunga. Kata orang masa SMA adalah masa terindah. Ya, itu memang benar, masa terindah sekaligus masa terburuknya. Raira ingin menjadi guru fisika, karena ingin memusnahkan orang yang berkata fisika itu sulit termasuk dirinya. Dulu, setiap kali pelajaran fisika berlangsung, Aldo langsung mengeluh. Mungkin, Raira muak mendengar keluhannya.
"Aku, Aldo Altenza akan selalu mencintaimu. Sampai kapan pun, tak akan ada orang yang bisa menggantikanmu. Hanya kamu, Raira," ucap Aldo meletakan kembali foto itu ke tempat semula. Pria itu diam sejenak, mengambil bingkai itu lagi lalu memasukkan bingkai itu ke dalam laci.
Aldo mengambil handphone-nya, mencari-cari nama seseorang kemudian meneleponnya.
"Halo, Ana. Kita harus ketemu sekarang."
"Di mana?"
"Café biasa. Bisa?"
"Bisa-bisa. Oke aku ke sana sekarang."
Tut
Aldo menghela nafasnya kasar. Menyandarkan tubuhnya di kursi. Bagaimana pun hidup tak selalu berputar di masa lalu, hidup akan terus berjalan. Sesuai permintaan Merry, dia akan mencoba untuk menjalaninya. Sulit, ini memang terasa begitu sulit tapi dia harus melakukannya.
***
"Kenapa, Lev?"
Leviana menoleh lalu tersenyum. "Aldo mau ketemu. Maaf ya, Nath. Aku gak bisa nemenin kamu sampai selesai," jawab Leviana merasa bersalah. Wajahnya berubah menjadi murung, tetapi di sisi lain hatinya sedang berbunga-bunga. Merasa sedih dan senang di satu situasi, bisa 'kan?
Nathan sahabat Leviana tersenyum tipis. Pria itu mengusap pucuk kepala Leviana gemas. "Iya santai aja. Hati-hati di jalan, mau aku anter?"
Mendengar tawaran itu, refleks kepalanya menggeleng cepat. "Eh, enggak, Nath. Makasih banyak ya."
"Bener?" tawar Nathan sekali lagi.
"Iya bener, Nath. Maaf ya."
"Iya, maaf terus. Oh, iya. Besok persiapkan data-data presentasi ya? Jangan sampe telat." Nathan adalah atasan sekaligus sahabat Leviana. Nathan orang yang sangat profesional, saat di dalam pekerjaan Nathan menganggap Leviana sebagai bawahannya dan di luar dari itu, Nathan menganggap Leviana sebagai sahabat dan cintanya. Sudah dua tahun terakhir, Nathan mencintai Leviana. Pria itu masih belum mengungkapkan perasaannya, karena dia takut Leviana akan menjauh.
Leviana mengangkat ibu jarinya ke atas. "Pasti. Yaudah, aku pergi dulu ya? Bye Nathan jelek!" Leviana berlari keluar dari restoran sambil cekikikan. Nathan terkekeh pelan, kurang apa lagi Leviana. Sudah baik, apa adanya, cantik, bisa segalanya dan nyaris sempurna. Bahkan semua pria akan menatap Leviana kagum dan Nathan cemburu soal itu.