Leviana masuk ke dalam Café, matanya mengedar mencari-cari Aldo. Senyumannya mengembang, tatkala matanya melihat seorang pria berpakaian formal sedang duduk di dekat jendela paling ujung. Tanpa berpikir panjang lagi, Leviana langsung menghampiri Aldo.
"Aldo!" pekik Leviana senang.
Aldo mendongkak, menatap Leviana dingin. Kedua sudut bibir Aldo sedikit terangkat, menampilkan senyuman tipis. Tipis, setipis benang jahit. Walau begitu, Leviana tetap senang. Sangat jarang Aldo menampilkan senyuman. Senyuman Aldo patut di abadikan. Seharusnya seperti itu.
"Duduklah," titah Aldo dibalas anggukan oleh Leviana. Wanita itu duduk, berhadapan dengan Aldo.
"Ada apa, Al? Kamu mau ngomong sesuatu?" tanya Leviana penasaran. Biasanya, dia duluan yang meminta Aldo bertemu atau mengunjungi pria itu, tapi entah ada angin apa Aldo mengajaknya bertemu.
Aldo menghela nafasnya panjang. "Bunda...," ucap Aldo menggantung. Seperti ragu untuk menyambungkan kalimatnya.
"Kenapa? Bunda sakit? Sakit apa? Ayo, Al! Aku mau jenguk!"
Pria itu menggeleng. "Bukan, bukan itu maksudku." Aldo diam sejenak. "Memangnya kamu setuju menikah denganku?"
Seketika Leviana terdiam. "Kamu gak setuju ya? Yaudah, kita gak usah menikah—"
"Leviana. Jawab, kamu setuju atau tidak? Aku hanya menginginkan Jawaban itu," potong Aldo pelan-pelan.
Seketika suasana menjadi hening. Aldo menunggu jawaban dari Leviana, sedangkan Leviana sendiri masih diam. Leviana bingung harus apa, di satu sisi dia mencintai Aldo dan di sisi lain, dia tahu Aldo tidak mencintainya. Aldo masih mencintai mantannya, Raira.
"Iya Aldo, aku mau nikah sama kamu. Aku ... aku mencintaimu," jawab Leviana tanpa ada keraguan sedikitpun. Matanya penuh keyakinan serta tekad. Dia sudah lelah melihat Aldo seperti ini. Bukankah, cinta datang karena terbiasa?
"Leviana. Kamu itu orang baik, cantik, mapan dan kamu dicintai orang banyak orang. Hidup kamu bisa hancur kalau kamu masuk ke dalam hidupku," ujar Aldo peduli. Bagaimana pun, Leviana adalah temannya. Wanita itu sudah sangat baik, jangan sampai dia tanpa sengaja menghancurkan hidup wanita itu. Aldo menarik nafasnya. "Aku tidak mencintaimu. Aku masih ada di ruang masa lalu, tapi kalau kamu mau mencoba silakan. Yang jelas, aku sudah memberitahumu sejak awal."
"Aku ... biarkan aku mencobanya, Al. Aku mau kamu bangkit dari masa lalu. Mungkin, suatu hari nanti kamu bisa mencintaiku."
"Baiklah jika itu maumu. Setelah menikah nanti, aku akan tetap bertanggung jawab sebagai seorang suami tapi—maafkan aku kalau ternyata Raira masih ada di dalam hatiku."
Sesak memang. Leviana selalu percaya, ada cinta karena terbiasa. Aldo akan mencintainya nanti, dan dia yakin itu.
"Makasih, Al. Aku akan berusaha membuatmu mencintaiku, Al. Aku akan selalu bersabar, menantikan itu."
Aldo terkekeh pelan. Bukan kekeh-an lucu atau senang, tetapi kekeh-an meremehkan. "Baiklah, selamat mencoba. Aku akan bicara pada Bunda. Kamu langsung pulang?"
Leviana mengangguk. "Iya, Al. Aku mau langsung pulang ke rumah."
"Aku hantar kamu."
Leviana terpekik kaget. Entah ada apa dengan Aldo, atau mungkin— pria itu memang berniat untuk bangkit? Aldo tak pernah sekalipun mengajak atau menawarkan sesuatu seperti ini. Jujur saja, Leviana sangat senang. Hatinya seperti ditaburi bunga-bunga indah dan harum.
"Ta—tapi—"
Berpura-pura menolak adalah salah satu ungkapan terbaik, agar tidak terlihat seperti orang yang sangat mengharapkan tumpangan. Aldo mengangguk-anggukan kepalanya, melihat itu Leviana menjadi waswas. Apa Aldo tidak membujuknya?
"Ana, ayo jangan menolak," ajak Aldo lagi. Kali ini sedikit memaksa.
Mati-matian Leviana menahan senyumannya. Tidak disangka Aldo bisa membujuknya. Jantungnya berdegup dengan sangat kencang. Dia ingin sekali segera sampai rumah dan mengekspresikan wajah gembiranya.
"Ayo, Ana." Aldo menggenggam tangan Leviana erat, membawanya pergi keluar dari café. Senyuman terbentuk begitu saja, setelah mati-matian Leviana menahannya.
Aldo menggenggam tangannya. Sungguh, tak ada hal yang lebih membahagiakan dari ini. Hari ini, Leviana sangat senang. Sungguh-sungguh senang. Semoga saja, sikap Aldo akan terus seperti ini dan bahkan lebih baik dari ini.
"Terima kasih, Aldo," batin Leviana menatap Aldo dari belakang.
***
"Makasih banyak, ya, Al. Hati-hati di jalan."
Aldo mengangguk kemudian melajukan mobilnya kembali tanpa berkata sepatah kata pun. Kata Merry—ibu Aldo—dulu Aldo sangat ceria, humoris, dan hangat tetapi semenjak kejadian itu, sikap Aldo berubah. Apakah Dia bisa merubah sikap Aldo seperti dulu lagi? Dia sama sekali tidak tahu, kalau ternyata Aldo dulu berbeda dengan Aldo sekarang. Dia pikir, sikap dingin Aldo ada sejak lahir tapi ternyata—kejadian itu yang sudah merusaknya.
Perlakuan kecil Aldo sudah berdampak besar bagi Leviana. Wanita itu masuk ke dalam rumah tanpa memadamkan senyumannya. Kedua orang tua Leviana pun menggeleng-geleng tak percaya.
"Kenapa? Seneng banget perasaan," goda Amrita—ibu Leviana sambil terkekeh.
"Woah. Baru ketemu Aldo 'kan? Gimana Aldo mau nerima perjodohannya?" timpal Henry—ayah Leviana bertanya. Orang tuanya dengan orang tua Aldo, sudah akrab. Perjodohan ini pun, buah bakal dari Henry.
"Cie. Adek Kakak udah besar ternyata," goda seorang wanita sedari menggendong balita. Melihat itu, mata Leviana langsung membulat. Leviana berlari, memeluk Ririn—kakak perempuannya.
"Kak Ririn! Astaga, kapan Kakak ke sini? Kenapa Kakak gak hubungin Levi dulu!" semprot Leviana kesal lalu melepaskan pelukannya. Dia mengecup pipi Senja—salah satu anak Ririn. "Senja-nya Tante Levi udah gede ya. Gemes!"
"Kakak ke sini cuma sebentar. Besok udah pulang," jawab Ririn mengoyang-goyangkan tubuhnya agar Senja tertidur.
"Senjani mana, Kak?"
"Ada di kamar, lagi tidur sama papanya."
Senja dan Senjani adalah anak Ririn. Mereka berdua kembar sepasang. Leviana ingin mencontoh kehidupan kakaknya. Mereka dijodohkan, tetapi bisa hidup bahagia seperti sekarang. Semoga saja, nanti dia akan bahagia seperti kakaknya.
"Senja udah tidur nih. Mah, Pah, Ririn ke kamar dulu ya?" pamit Ririn dibalas anggukan oleh Amrita dan Henry. Setelah itu, Ririn pergi naik ke atas kamarnya.
Leviana duduk berhadapan dengan Amrita dan Henry. "Apa kabar, Pah, Mah?" tanya Leviana berbasa-basi sambil mengambil stoples makanan ringan di meja.
"Kamu gak usah, sok-sokan basa-basi gitu. Cepet, ceritain aja gimana? Aldo mau nerima?" tanya Amrita penasaran.
Leviana menghentikan kunyahannya. "Iya nerima."
"Terus gimana?"
"Ya, gak gimana-gimana," jawab Leviana santai.
Henry mengembuskan nafasnya gusar. "Papa tahu, Aldo masih mencintai mantannya. Kalau kamu gak mau, Papa gak akan paksa kamu, Nak. Kamu tahu 'kan, kamu menginginkan kamu bahagia."
Leviana mengembalikan stoples itu ke tempat semula. "Papa, aku mau nerima ini. Aku yakin banget, Aldo pasti akan cinta sama Levi. Terima kasih, Papa!"
"Kalau itu mau kamu, Papa sama Mama ikut seneng. Papa dan Mama juga berpikir kayak gitu. Buktinya keluarga kita itu aman-aman aja 'kan? Padahal Papa sama Mama itu dijodohin, sama kayak kakak-kakak kamu," kata Henry lega.
"Tapi, sayang. Kalau kamu berubah pikiran, bilang aja ke kami ya?"
Leviana tersenyum. "Iya, Ma. Nanti aku pasti bilang."