Bab 13

1498 Kata
Sepulangnya Leviana dari kantor, dia pergi ke apartemen Nathan. Di dalam hidupnya Nathan juga menjadi bagian terpenting. Seperti sebuah pemimpin negara yang membutuhkan menteri untuk mengatur negaranya, tanpa menteri pemimpin negara akan kewalahan mengatur negaranya. Dulu, sewaktu dia belum mengenal Aldo, Nathan menjadi bayangan hidupnya. Leviana tidak bisa melakukan apa pun tanpa Nathan, beruntunglah Aldo masuk ke dalam hidupnya, karena Aldo dia tidak terlalu ketergantungan akan keberadaan Nathan. Leviana masuk ke dalam gedung apartemen Nathan. Apartemen Nathan ada di lantai 7, dalam beberapa menit Leviana sudah ada di depan pintu apartemen Nathan. Ragu-ragu Leviana menekan tombol bel yang terletak di samping pintu. Untaian-untaian kata permintaan maaf sudah tersusun dan siap dilontarkan. Bagaimana Nathan membuka pintu dan dia akan langsung memeluk pria itu dengan erat, kemudian dia akan menangis dan bersungguh-sungguh meminta maaf. Sebelum pergi ke apartemen, Leviana membeli martabak keju kesukaan Nathan. Martabak ini sebagai barang suapan agar Nathan mau memaafkannya. Setiap Nathan marah pasti Leviana membelikan martabak keju untuk membujuknya, tentu saja dengan permintaan maaf tulus dengan sekotak martabak keju, Nathan langsung memaafkannya. Pintu terbuka, baru saja Leviana ingin memeluk seseorang itu tiba-tiba niat itu dia urungkan, melihat siapa yang membukakan pintu. Seorang wanita berpakaian santai dengan kaos oblong dan celana pendek muncul di balik pintu. Wanita itu Brisila, adik sepupu Nathan. “Bris, Nathan ada?” tanya Leviana to the point. Semua rencananya hancur berantakan. Kata-kata permintaan maaf itu tak lagi berguna sekarang. Sepertinya lebih baik mengucapkan kalimat permintaan maaf yang apa adanya dan mengalir begitu saja, daripada tersusun rapi tetapi gagal diucapkan. Sering kali orang menyiapkan kata-kata untuk bertemu seseorang, tapi pada akhirnya kata-kata yang telah disiapkan tidak berguna malah akan menambah kegugupan. Brisila tersenyum riang. “Kak Nathannya gak ada, Kak. Dari kemarin dia belum pulang, aku telepon juga gak diangkat-angkat. Hm, abis jogging Kak Levi tahu Kak Nathan kemana?” Deg Jadi? Nathan tidak pulang ke apartemen, lalu? Ke mana perginya pria itu? Pernyataan Brisila membuat perasaan bersalahnya semakin menggelora. Leviana menggigit bibir bawahnya, dia merenung memikirkan di mana Nathan sekarang. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Nathan. “Kak?” panggil Brisila, menyadarkan Leviana dari lamunannya, “ada apa Kak? Apa Kakak tahu di mana Kak Nathan? Sumpah aku khawatir banget. Gak biasanya dia kayak gini.” Leviana menggeleng lemah. “Sebenernya kemarin, aku gak sengaja nampar Nathan, Bris. Aku ... aku kelepasan, dan Nathan pergi gitu aja.” Brisila menutup mulutnya kaget. “Ya ampun, aku emang gak tau masalahnya apa tapi ... yang aku kenal Kak Nathan gak suka ditampar katanya sih mukanya nanti rusak. Gak ada skincare yang cocok soalnya,” ucap Brisila sambil tertawa ringan. “Aku khawatir lho, Bris, kok kamu bisa-bisanya buat lelucon kayak gini. Aku tahu Nathan marah banget sama aku, aku gak peduli dia mau maki-maki aku tapi aku gak tenang sebelum dia mau bicara sama aku,” balas Leviana kesal, dia mengembuskan nafasnya gusar, “aku boleh minta tolong sesuatu gak?” “Apa Kak? Kalau aku bisa, aku pasti bantu kok.” “Kabarin aku ya kalau Nathan udah pulang. Aku juga mau coba telepon Nathan, siapa tahu handphone-nya mati mangkanya gak bisa dihubungi,” pinta Leviana seraya mengecek handphone-nya. Brisila mengangguk cepat. “Iya, Kak! Pasti aku kabarin, sebaiknya Kakak pulang istirahat, Kakak capek ‘kan abis dari kantor langsung ke sini.” “Iya, makasih banyak ya Bris. Kalau gitu, aku pamit,” ucap Leviana setelah itu pergi meninggalkan apartemen Nathan. Sementara Brisila memandang miris Leviana dari pintu, dirasa Leviana sudah menghilang dari penglihatan, barulah dia masuk ke dalam apartemen. *** “Aku ngerasa berdosa banget, udah bohongin Kak Levi,” kata Brisila merasa bersalah sedari membaringkan tubuhnya di sofa. “Udah biasa bohong juga, ngapain ngerasa bersalah. Kakak Cuma mau kamu bilang ke Levi kalau Kakak gak ada, gak usah banyak drama.” Sebenarnya Nathan ada di apartemen, firasatnya Leviana akan datang ke sini ternyata benar. Untung saja dia sudah menyuruh Brisila untuk berbohong. Sampai saat ini, dia masih belum siap bertemu dengan Leviana. Setiap kali bertemu, bayangan Leviana saat menamparnya kembali terputar di otaknya. Dia ingin sekali berpura-pura melupakan semuanya, seolah kembali seperti semula tanpa ada masalah apa pun tapi hatinya ini tidak bisa diajak bekerja sama. Brisila berdecak sebal, dia bangkit dari posisi tidurnya. Matanya berkilat marah, menatap Nathan seakan Nathan ini adalah musuh bebuyutannya. Nathan tidak menatapnya, karena itulah Brisila berani menatap marah seperti itu pada Nathan. Saat Nathan menatap ke arah Brisila barulah Brisila menormalkan tatapannya. Agar tidak terlalu canggung, Brisila tertawa kikuk. “Brisila Rinjani, diajarkan untuk tidak berbohong dalam keadaan apa pun. Suka menolong orang dan rajin menabung, Brisila juga tidak pernah membeda-bedakan siapa pun. Itulah Brisila Rinjani.” Nathan terkekeh seram membuat Brisila meneguk salivanya kasar. “Diajarkan untuk tidak berbohong? Iya betul, orang tua kamu mengajarkan itu tapi telingamu ini tersumpal sesuatu. Lakon berbohongmu itu patut diacungi jempol.” “Bagus ‘kan? Kok Kakak gak ngasih aku acungan jempol?” tanya Brisila, nyalinya langsung menciut saat Nathan memelototinya. “Kamu terkena banyak kasus di sekolah dulu, sampai orang tua kamu itu capek liat tingkah kamu. Asal kamu tau aja ya Brisila Rinjani, ibu kamu mohon-mohon sama Kakak agar kamu Kakak yang urus.” Glek Lagi-lagi Brisila menelan salivanya kasar. Mungkin jika Nathan yang mengawasi hidupnya, dia akan mati terkekang. Nathan itu tegas dan disiplin, dan itu semua berbanding terbalik. Sekali meninggikan suara atau bertingkah tidak sopan, Nathan langsung menyemprotnya. Nathan memang tidak melukai fisik, paling mentok memukul mulut saat berbicara tidak sopan atau menjewer telinga tapi ancaman Nathan yang mengerikan itu, terdengar tidak main-main. Brisila selalu merindukan sosok Nathan, sesekali bolehlah tinggal bersamanya asal jangan setiap hari apalagi sampai bertahun-tahun. “A-apa? Bu-bunda gak mungkin gitu. Jahat amat,” elaknya tak percaya. Nathan menaikkan sebelah kaki kirinya ke kanan, menatap Brisila angkuh. “Tanya sana kalau tidak percaya. Saat itu Kakak menolak, padahal bisa saja Kakak jadikan kamu babu di si—“ “Kakak!” potong Brisila berteriak. “Mulutmu, Bris. Mau Kakak geplak?” ancam Nathan, tangannya terangkat bersiap memukul mulut Brisila. Brisila menutup mulutnya takut. “A-ampun bercanda elah, Kak. Kan tadi aku udah bantuin Kakak. Ngomong-ngomong Kak, enak gak ditampar Kak Levi? Pasti enak banget ‘kan?” Pria itu menatap adik sepupunya geram. Emosinya sekarang sudah terkontrol dengan baik, sudah tenang, jangan sampai gara-gara Brisila emosinya kembali terpancing. Hanya dengan tatapan Brisila sudah ketakutan, gadis itu berpura-pura sibuk menatap hal lain. “Eh, jangan kurang ajar ya kamu.” “Ma-maaf, baperan amat si,” ucap Brisila takut. Nathan bangkit dari duduknya kemudian dia duduk kembali, di sebelah Brisila duduk. Sontak saja Brisila tambah ketakutan, semakin dekat semakin tidak baik untuknya. Tidak tahu seberapa banyak gadis itu tidak sopan di dekat Nathan, mulutnya akan menjadi korban nanti. “Kamu percaya gak? Kalau Levi udah nampar Kakak?” “Sebenernya, kurang percaya si. Tapi mungkin itu juga salah Kakak.” “Kok salah Kakak?” “Kakak buat jengkel Kak Levi ‘kan?” Nathan berdecak. “Jengkel apaan, padahal Kakak Cuma gak mau liat Levi nangis karena Aldo tapi Kakak malah ditampar. Aldo itu, b******k, di depan tunangannya sendiri dia terang-terangan mata-matain mantannya yang udah berkeluarga.” “Wah, kayaknya seru.” Kening Nathan berkerut melihat reaksi Brisila yang kelewat antusias. “Kenapa?” “Seru, nanti deh aku coba kirim naskah skrip film. Siapa tau ada yang tertarik buat filmin ‘kan? Judulnya ‘Cinta tak terarah’ ea,” canda Brisila, “Gini, Kakak suka Kak Levi tapi Kak Levi suka sama Aldo, si Aldo juga gak suka sama Kak Levi, dia malah suka sama mantannya dan mantannya gak suka Aldo, sukanya sama suaminya. Tapi, mentoknya di suami mantannya Aldo si. Kalau suami mantannya Aldo gak suka sama mantannya Aldo dan suami mantannya Aldo suka sama orang lain, mungkin nambah rumit dan tak berujung hahaha.” Brisila memperinci hubungan cinta mereka dengan penjelasan seperti guru yang sedang mengajar di kelas. “Kalau mau gabung sini, Kakak kasih jalan buat kamu gabung. Sukain aja suami mantannya Aldo,” usul Nathan. Brisila mengetuk-ketukan jarinya di dagu. “Kalau cakep, om-om juga aku sikat. Tapi semoga aja ya, aku dan suami mantannya Aldo saling suka. Jadi hubungan percintaan yang menyakitkan ini terhenti sampai di sini.” “Sebelum itu terjadi, kamu disikat duluan sama mantannya Aldo.” *** Leviana membaringkan tubuhnya di kasur, meletakan handphone di sampingnya. Sedari tadi Leviana menelepon Nathan tapi tak kunjung diangkat, beberapa kali mengirim pesan pun sampai sekarang tidak ada respons. Sebenarnya ke mana perginya Nathan? Tidak tahu saja, Leviana sangat mengkhawatirkan Nathan. Ting Suara dentingan membuat Leviana langsung terbangun. Dia mengambil handphone-nya dengan satu gerakan. Senyumnya seketika mengembang, saat melihat nama Nathan muncul di notifnya. From : Nathan Jangan peduliin aku, inget bekas tamparan kamu masih membekas di hati dan wajahku Cepat-cepat, Leviana mengetikan balasan. To : Nathan Nath, aku minta maaf. Kamu sekarang ada di mana? Pulang Nath, aku khawatir banget Read Nathan berhenti membalas, Leviana berdecak sebal. Dia menekan icon telepon kemudian mendekatkan handphone-nya di telinga. Leviana tidak menyerah dengan ditolaknya satu panggilan darinya, kedua kalinya barulah Nathan mengangkatnya. “Ini bukan Nathan, ini Pak Nathan. Monster Ferlandes, jangan ganggu." Tut Panggilan langsung dimatikan. Akhirnya Leviana bisa bernafas lega, setidaknya dia bisa mendengar suara Nathan. Pria itu baik-baik saja, hanya itu yang Leviana inginkan. Sedikit gurauan dari Nathan, membuat senyumnya merekah. Monster Ferlandes? Leviana terkekeh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN