“Hati-hati, Nath.” Antara siap dan tidak siap ditinggal oleh orang yang dicintai. Rasanya begitu hampa, kesenangan sementara telah terenggut. Tanpa sadar, air matanya mengalir deras. Dia menggenggam kedua tangan Nathan, berat sekali. Dulu dia tidak bertemu Nathan selama bertahun-tahun tidak sesesak ini, tapi kenapa sekarang begitu sesak? Nathan menarik lengan Terresa, menyuruh wanita itu duduk. Setelah itu dia berjongkok di lantai, menggenggam tangan Terresa yang dingin. “Aku belum pernah liat tuh, kamu nangis kayak gini. Cengeng banget,” ejek Nathan mengusap air mata Nathan, “udah gak usah nangis.” Bukannya berhenti, air mata Terresa semakin mengalir deras. Nathan bangkit, dia duduk di samping Terresa lalu merengkuh wanita itu. Selama ini dia tidak pernah dicintai oleh orang yang dia c

