Mungkin memang agak berat bagi Jefry atau pun Alex, mengingat perempuan itu pernah menempati posisi tertinggi di hatinya, namun itu sudah menjadi keputusan Rania. Dan Jefry yakin, keputusan itu pastilah keputusan yang terbaik bagi perempuan itu sendiri. Saat ini, mereka tengah berdiri di ambang pintu, melepas kepergian perempuan itu. "Ya sudah, kuharap kamu akan selalu baik-baik saja, dimana pun kamu berada." ucap Jefry tulus, sebelum pada akhirnya Rania beranjak dari rumah lelaki itu. Rania tampak menghela napas panjang, pada akhirnya memang bukan dia, yang mendampingin hidupnya. "Aku sangat menyesal." ucapnya dengan mata berkaca-kaca. "Sungguh." lanjutnya penuh kesungguhan. Jefry hanya tersenyum tipis menanggapi. Nasi sudah menjadi bubur. Itulah kalimat yang tepat untuk menggamba

