Bab 2

1028 Kata
Saat ini, Rafa dan juga kedua orang tuanya tengah terlibat perbincangan serius di ruang keluarga milik kedua orang tuanya itu. Sebenarnya, belum termasuk pembicaraan serius, karena mereka masih berada di awal perbincangan. Sehabis pulang dari pemakaman tadi, Alena dan Leon selaku orang tua dari laki-laki bernama Rafa itu, meminta Rafa untuk berbicara dengan mereka secara enam mata. Pembicaraan itu dimaksudkan oleh Alena dan Leon, untuk memberi saran pada Rafa yang tampak sangat terpuruk. Wajar sebenarnya, laki-laki itu begitu mencintai istrinya. Sepeninggalan Adira, Rafa ikut merasakan bahwa separuh jiwanya juga ikut pergi. Ia merasa tak ada lagi gairah untuk hidup. Ia merasa tidak ada gunanya lagi ia hidup di dunia ini. Laki-laki itu seolah-olah melupakan kehadiran putra semata wayangnya, yang masih membutuhkan kasih sayang darinya itu. Rafa tampak kacau, bahkan jeruk-jeruk besar yang berjumlah tidaklah sedikit di hadapannya sama sekali tidak mampu membuat laki-laki itu keluar dari zona keterpurukannya. Biasanya, jeruk menjadi penghibur paling manjur―setelah putra dan istrinya―bagi seorang Rafael Abraham. Namun, saat ini sepertinya buah tropis itu kehilangan kekuatannya, sehingga tak lagi mampu untuk membuat si maniak jeruk itu merubah guratan kesedihannya menjadi guratan kebahagiaan. Wajah tampan itu seakan kehilangan kemampuan untuk ia tersenyum saat ini. "Raf, Ayah dan Bunda tahu kalau kamu hancur saat ini," ucap Alena yang entah ke berapa kalinya, namun sama sekali tidak mendapat tanggapan dari sang putra. Rafa terlihat melamun, tatapan matanya begitu kosong, tidak terlihat seberkas binar di sana. Yang ada hanya bola mata itu, yang tengah menatap lurus ke depan. Rafa tampak tidak memperhatikan ucapan Ayah dan juga Bundanya. "Yah, itu Rafa kenapa? Kenapa dia nggak nyahut omongan kita?" Tanya Alena dengan tatapan sendunya yang terlayang pada wajah sang suami. Leon menggeleng lemah, dan segera merengkuh tubuh wanita yang sangat dicintainya itu, seolah-olah laki-laki paruh baya itu tengah memberi kekuatan pada sang istri lewat pelukannya. "Dia baik-baik saja, dia butuh waktu untuk merekatkan lagi kepingan-kepingan hatinya yang sudah hancur. Kamu harus kuat, karena kamu juga harus menguatkan dia," ucap Leon diakhiri dengan kecupan lembut di kening Alena. Leon melepas rengkuhan tangannya, lantas berdiri dan berjalan menuju putra semata wayangnya itu, "Raf..." suara berat yang terdengar berwibawa itu akhirnya mampu mengait kesadaran Rafa. Rafa mengerjapkan matanya sesaat, lalu beralih menatap ayahnya yang kini berdiri di sisinya. Tatapan Rafa itu terlihat sendu, sarat akan kesedihan yang dirasakannya, "Ada apa, Yah? Tadi Ayah sama Bunda mau ngomong sama Rafa kan? Ngomong aja, Rafa bakal dengerin kok," ucapnya seakan melupakan kejadian beberapa detik yang lalu. Rafa seakan berada di posisi ketika ia baru masuk ke dalam ruang keluarga dan baru duduk di sofa berwarna coklat yang menjadi spot favorit ibunya saat tengah menonton drama Korea itu. "Dari tadi kamu nggak dengerin omongan kami, Raf. Kamu cuma ngelamun, tubuh kamu ada di sini, tapi tidak dengan pikiran kamu," ucap Leon seraya mendudukkan dirinya di samping kanan sang putra. Alena pun ikut berdiri dan melangkah untuk duduk di samping putranya itu. Dukungan dari mereka nyatanya memang sangat dibutuhkan oleh Rafa. Rafa tersenyum tipis merasakan rengkuhan tangan ke dua orang tuanya, rasa hangat menjalar ke dalam hatinya ketika tubuh wanita dan laki-laki paruh baya yang sangat berperan penting atas kehadirannya itu, memeluknya dengan erat. Sudah lama sekali ia tidak mendapat pelukan dari Ayah dan Bundanya. Ia merasa masa kanak-kanaknya berlalu terlalu cepat, ia belum puas menikmati masa-masa itu. Masa-masa di mana ia tidak perlu berpikir keras, tidak perlu mengurusi masalah orang dewasa yang rumitnya melebihi benang kusut, ia tidak perlu merasakan patah hati ditinggal pasangan, ia tidak perlu menjalani hari-hari berat yang kerap membuat senyum enggan menyapa wajahnya. Sekali lagi, Rafa berharap dirinya tetap seorang bocah kecil berusia enam tahun yang sangat dicintai oleh ke dua orang tuanya. "Kami tahu kamu hancur, kami tahu hati kamu sakit, kami tahu segalanya tentang kamu. Sekarang, kamu tidak perlu berpura-pura kuat, kamu tidak perlu berpura-pura tidak membutuhkan kami sebagai sandaran kamu. Kami bersedia menjadi sandaran kamu, ketika kamu terpuruk seperti ini. Tidak perlu malu, karena kamu sudah dewasa. Karena bagi Bunda, kamu tetap anak Bunda." Alena mengelus rambut cepak putranya itu dengan gerakan halus. Sementara Leon, laki-laki itu lebih memilih menguatkan sang putra dengan tepukan bertempo lambat di bahu putranya itu. "Tapi ... Rafa ngerasa nggak kuat. Di sini ... sakit banget, Bun, Yah..." Rafa menunjuk dadanya. Seakan, tempat itulah yang menjadi pusat kesakitannya. "Kami paham Rafa. Tapi Bunda dan Ayah nggak mau kamu terus-terusan terpuruk seperti ini, kamu masih punya Keano yang harus kamu beri kasih sayang," ucap Leon yang mendapat balasan berupa helaan napas dari putranya itu. Rafa sadar jika putranya itu masih terlalu kecil untuk ia abaikan. Namun, perasaan bersalah, penyesalan, dan rasa sakit di hatinya membuatnya melupakan hal itu. "Raf, apa kamu nggak lihat, kalau anak kamu tadi ketakutan lihat kamu yang seolah-olah lupa dengan segalanya? Kamu nggak lihat bagaimana sedihnya dia, ketika kamu mengabaikan dia?" Alena kembali berbicara, nada suaranya terdengar lembut. Ia tidak mau terlalu mengintimidasi putranya itu dengan berbicara menggunakan nada menyerca. Rafa mengangguk pelan membenarkan pertanyaan bunda tercintanya itu. "Kamu tahu kan? Ngelihat kamu kayak tadi, bisa bikin mental Keano terganggu. Bunda kira, Keano belum mengetahui keadaan yang sebenarnya. Cucu Bunda itu mengira kalau Ibunya masih hidup. Bunda harap, kamu tidak menunjukkan raut sedih kamu itu di hadapan cucu bunda. Jangan membuat Keano merasa takut karena perubahan sikap kamu, Keano takut melihat kamu menangis, Nak." Alena kembali bersuara, memberikan arahan-arahan pada putra semata wayangnya yang sudah berusia kepala tiga itu. "Untuk sementara, biarkan keadaannya seperti ini. Biarkan putramu berpikir kalau Adara ibunya, setidaknya sampai mental Keano terbentuk dan merasa kuat menerima kenyataan bahwa Ibunya telah tiada. Kamu saja yang sudah dewasa tidak kuat, apalagi Keano yang masih kecil. Bunda nggak mau terjadi apa-apa sama cucu Bunda itu." Rafa terdiam, masih mencerna kata-kata Bundanya itu. Rafa paham, tapi ia harus bagaimana? Apa yang harus ia lakukan? Di saat seperti ini, otaknya seperti berhenti bekerja. Ia malas memikirkan masa depannya untuk saat ini. Semuanya sudah hancur semenjak belahan jiwanya pergi. "Apa yang harus Rafa lakuin, Yah? Bun? Rafa bingung." Rafa mendesah lemah, ia menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, menyalurkan keresahan dalam hatinya. "Turun ranjang. Nikahi Adara," ucap Leon mantap. "Bunda setuju, nikahi Adara. Dengan begitu, kerumitan ini sedikit berkurang."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN