Rafa termenung di dalam kamarnya. Lebih tepatnya kamar Rafa sewaktu laki-laki itu masih tinggal di rumah ke dua orang tuanya tersebut. Rafa membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan menyenderkan punggungnya ke kepala ranjang. Tatapannya masih sama seperti tadi, kosong. Namun kini, pikirannya juga tidak ikut kosong. Lantaran laki-laki itu yang sebenarnya tengah memikirkan sesuatu. Rafa masih memikirkan bagaimana perkataan Ayah dan Bundanya tadi sore. Perkataan Ayah dan Bundanya itu, selalu terngiang di kepalanya. Sulit untuk Rafa menghapus ingatan tadi sore dari kepalanya. Tidak pernah terpikirkan olehnya sekalipun, untuk menikahi saudari kembar istrinya. Meski wajah perempuan itu serupa, tapi rasa yang ia miliki tidaklah sama. Wajah yang serupa tidak membuatnya juga menyukai, dalam konteks asmara, pada perempuan berstatus adik iparnya itu. Rafa menyukai Adara hanya sebatas suka terhadap kakak ke adiknya, tidak lebih dari itu. Kemudian, pandangan matanya teralih pada luar jendela di mana pekatnya malam yang kini terbentang di hadapannya. Langit malam tampak cerah, sangat berlainan dengan suasana hatinya yang tengah muram durja. Barangkali bintang-bintang serta bulan sabit yang malam ini hadir menghiasi langit, ada untuk menghibur dirinya yang tengah dalam suasana sedih itu. Namun, nyatanya kerlap-kerlip bintang serta bulan yang tampak tersenyum itu tidak mampu melumpuhkan resah gelisah dan sedih yang menyinggahi hati si maniak jeruk bernama Rafael Abraham itu. Rafa bangkit dari posisi berbaringnya, lantas berjalan menuju pintu yang menghubungkan balkon dengan kamarnya. Rafa membuka pintu itu, dan berjalan ke salah satu kursi yang terletak di balkon tersebut. Mendudukkan dirinya, pandangan Rafa jatuh pada langit malam yang begitu memesona. Awan tampak bergelung cantik, estetika sempurna yang Tuhan ciptakan. Benar-benar paduan awan, bintang, dan bulan, serta pekat malam yang indah. Sayang sekali Rafa tidak bisa menikmati keindahan alam yang torehan tangan Tuhan itu. "Kamu udah bahagia di sana?" Ia bersuara, menyuarakan tanya pada angin yang berhembus. Berharap ada sebuah suara yang akan menjawab pertanyaan itu. Matanya menatap fokus pada gugusan bintang yang menunjukkan rasi di bulan September itu. Angin malam bersuhu dingin, yang berhembus menerjang kulitnya yang hanya terbalut kaos tipis dan celana pendek sebatas lutut, pun tidak membuat Rafa merasa risih untuk tetap duduk di balkon itu untuk sementara waktu ke depan. Helaan napas berkali-kali terhembus dari mulut berbibir tebal penuh itu, helaan napas penuh penyesalan yang terdengar menyayat hati pendengarnya. "Sekarang kamu udah terbebas dari laki-laki tidak perhatian seperti aku ini. Kamu pasti senang." Rafa kembali berbicara, matanya tidak lagi menatap pada gugusan bintang, namun telah beralih pada bulan sabit, yang tampak seperti bibir yang tengah menyunggingkan seulas senyum manis itu. "Hanya maaf yang bisa aku ucapkan. Aku melalaikanmu selama ini, aku terlalu mencintai pekerjaanku, tidak kamu yang selama ini ada di sisiku. Bukankah aku sangat bodoh? Wajar kalau kamu meninggalkanku." Suara itu terdengar lirih. "Bolehkah aku berkata kalau aku menyesal? Apa sesalku bisa mengembalikanmu ke sisiku? Ah, tentu saja tidak. Mana mungkin kamu mau hidup dengan laki-laki seperti aku ini. Aku ternyata sangat bodoh, dan lebih bodohnya aku baru menyadari ini." "Ra..." Tepat setelah kata atau yang lebih tepatnya panggilan itu terucap, hembusan angin membelai pipinya, seakan-akan hembusan angin itu menjadi balasan atas panggilan Rafa. "Bunda dan Ayah menyuruhku untuk menikahi adik kamu. Tapi itu tidak mungkin, bukan? Itu akan menyakitinya, dan menyakiti kamu tentunya." Rafa kembali menghembuskan napasnya, "Aku sama sekali tidak mencintainya, dan aku yakin dia juga memiliki seseorang untuk ia jadikan sebagai suaminya. Tapi, putra kita masih membutuhkan sosok ibu, Keano menganggap Adara sebagai kamu, putra kita itu menganggap kamu belum pergi. Aku harus bagaimana, Ra?" Rafa mengusap wajahnya kasar, terlihat sekali bahwa laki-laki itu tengah frustasi. "Aku bingung harus menjelaskan seperti apa sama Keano. Dia nggak bakal ngerti di usianya sekarang, dia masih terlalu kecil. Tadi, putra kita nangis gara-gara lihat aku yang bertingkah seperti orang gila, dan jujur saja itu membuatku takut. Aku harus apa, Ra?" Rafa berhenti berucap, ia mengusap sudut matanya yang basah lantaran laki-laki itu yang baru saja menangis. Barangkali ia terlihat seperti laki-laki yang cengeng, namun apa pun itu sebutan untuknya Rafa sudah tidak peduli. Sesak di hati terlalu berkuasa untuk membuat laki-laki itu paham akan kondisinya sekarang. "Apa aku benar harus turun ranjang? Menikahi Adara?" Hembusan lembut yang langsung menerpa wajahnya, setelah pertanyaan itu terlontar dari mulut Rafa, seakan menjadi jawaban dari pertanyaan laki-laki itu. Rafa tidak terlalu bodoh untuk memahami suasana yang mendadak berubah, terasa berbeda dari detik sebelum ini. "K-kamu setuju?" Hembusan kembali menerpa wajahnya, hembusan hangat yang membuat bulu kuduknya seketika meremang. Dan memang, itulah jawaban dari alam atas pertanyaan laki-laki itu. **** Lain tempat, lain suasana. Dalam kamar yang didekorasi khas anak kecil, seperti gambar mobil-mobilan, pesawat terbang, dan lain sebagainya itu. Tampak sesosok anak kecil yang sudah bergelung di bawah selimut tebalnya bersama seorang perempuan yang anak kecil itu anggap sebagai sang ibu. "Keano kok nggak tidur, ini udah malam loh?" Tanya Adara dengan suara halusnya, Keano menggeleng lucu. Matanya mengerjap membuat Adara merasa gemas dengan tingkah keponakan yang kini menganggapnya ibu itu. Meski selama ini ia jarang berinteraksi dengan Keano, bahkan tidak pernah. Tapi rasa sayang itu sudah muncul semenjak pertama kali ia menatap anak tersebut. Adara jatuh cinta pada pandangan pertama kali pada Keano Abraham, jatuh cinta tidak dalam ranah asmara melainkan cinta kasih yang biasanya terjalin antara ibu dan anak. "Kean mau dengel Mom nyanyi. Biacanya Mommy kan bacain buku celita untuk Kean, tapi cekalang Kean mau dengelin nyanyian Mommy. Boleh, ya?" Dengan bahasa khas anak-anak, bocah itu bertanya. Adara tersenyum geli, keponakannya itu benar-benar menggemaskan. "Kalau Mommy nggak mau gimana?" "Mommy nggak boyeh tidul sama Kean. Mommy nggak boyeh peyuk-peyuk Kean!" Ancamnya dengan raut yang benar-benar membuat Adara gemas. "Wah, hukumannya berat ternyata. Ya udah, Mommy nyanyiin untuk Kean. Kean mau lagu apa?" "Ambilkan Bulan. Kean suka lagu itu," jawab Keano cepat disertai seulas senyum lebar. "Hmm, pilihan yang bagus. Ternyata Keano pintar milih lagu, ya?" Adara terkekeh pelan. "Iya dong, anak ciapa dulu? Mommy Adila, Daddy Lapa!" Balas Keano diakhiri dengan cekikikannya. Senyum Adara sedikit luntur mendengar nama saudarinya terucap dari mulut anak itu, ia merasa kasihan pada Keano tapi ia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tidak mungkin menceritakan keadaan yang sesungguhnya, jika keluarga terdekat anak itu saja belum berani berbicara. Ia kini terletak dalam posisi yang sangat rumit. "Ayo Mom, nyanyi!" Adara tersenyum, dan mulai mendendangkan lagu itu. Ambilkan bulan Bu... Ambilkan bulan Bu... Yang slalu bersinar di langit Di langit bulan benderang Cahyanya sampai ke bintang Ambilkan bulan Bu... untuk menerangi, tidurku yang lelap Di malam gelap... Ambilkan bulan Bu... Ambilkan bulan Bu... Yang slalu bersinar di langit Di langit bulan benderang Cahyanya sampai ke bintang Ambilkan bulan Bu... untuk menerangi, tidurku yang lelap Di malam gelap...