Bab 4

1250 Kata
Pagi itu, ketika acara sarapan telah usai, Rafa meminta Adara untuk menemuinya di Kafe Green X. Kafe Green X merupakan salah satu cafe cabang dari restoran milik Ayah Rafa, Leonard Abraham. Kafe itu baru dibuka satu tahun yang lalu, masih cukup muda untuk usia berdirinya sebuah usaha, namun sudah memiliki banyak penggemar. Baik dari kalangan remaja sampai dewasa, bahkan lansia pun banyak yang suka berkunjung ke kafe milik ayah Rafa tersebut. Desain interiornya yang unik dan khas, serta dapat menyesuaikan selera setiap orang dapat membuat tempat itu nyaman untuk dikunjungi siapapun, bahkan menu makanan di sana dijamin tidak akan menguras isi dompet meski rasa masakannya sekelas masakan restoran bintang lima. Satu hal yang menjadi daya tarik dari Kafe Green X. Rafa sudah tiba di kafe milik ayahnya dan laki-laki itu juga sudah melihat Adara duduk di salah satu kursi yang terletak di samping kaca besar. Namun, Rafa sama sekali tidak ada niat turun dari mobilnya yang tengah terparkir di area parkiran itu, untuk memasuki cafe dan menemui Adara. Posisi Adara membuat Rafa bebas melihat apa yang dilakukan gadis itu. Tempat Rafa memarkirkan mobil dengan posisi Adara memang berhadapan. Rafa terus memperhatikan perubahan raut wajah Adara yang saat ini tengah memasang raut kesal. Rafa tahu penyebabnya, barangkali gadis itu merasa kesal karena keterlambatan dirinya datang menemui perempuan itu. Sudah satu jam lebih dari waktu yang dijanjikan dan Rafa tak segera menemui Adara, wajar kalau Adara merasa kesal. Perempuan biasanya, memang tidak sabaran, apalagi dalam urusan tunggu-menunggu. Menghela napas, Rafa mengusap wajahnya dengan kasar. Ia frustasi. Laki-laki itu masih ragu akan keputusannya. Menikahi Adara bukanlah hal yang mudah untuk ukuran seorang Rafa yang begitu mencintai mendiang istrinya. Siapapun pasti tahu bagaimana frustasinya seorang Rafael Abraham sekarang ini. Namun, jika ia tidak menikahi Adara, bagaimana dengan putranya? Lagipula, jika ia dan Adara tinggal di bawah satu atap yang sama, tanpa adanya status yang kuat, apa kata orang lain? Di sini ia tidak boleh egois. Keano adalah peninggalan Adira yang begitu berharga, dan Rafa tidak bisa membiarkan hal buruk terjadi pada putra sematawayangnya itu. Tapi ... ini rumit! Rafa juga tidak bisa mengorbankan adik iparnya, bagaimana jika perempuan itu tengah dekat dengan seseorang? Ia akan melukai hati Adara dan juga pasangannya. Namun, jika satu-satunya cara agar putranya terhindar dari hal buruk adalah menikahi Adara, apa boleh buat? Rafa akan melakukannya, tidak peduli jika nantinya akan ada hati yang tersakiti. Bagi Rafa, kebahagiaan Keano adalah satu-satunya hal yang akan ia lakukan setelah meninggalnya sang istri. Rafa tahu ia egois, dan ia tidak memedulikan hal itu. Rafa kembali menghela napas, lantas memutuskan untuk menemui perempuan yang masih berstatus sebagai adik iparnya itu. Rafa berjalan santai memasuki kafe, ia berusaha membuat raut wajahnya terlihat biasa-biasa saja. Keputusannya sudah bulat, ia akan melamar Adara saat itu juga. **** Adara memfokuskan matanya ke arah pintu kafe yang berderit. Perempuan itu mendengus lirih melihat Rafa yang tampak berjalan santai ke arahnya tanpa raut wajah bersalah. Pantatnya terasa panas lantaran menunggu laki-laki itu, Adara sudah hendak pergi tadi, namun ia teringat kata kakak iparnya itu, yang bilang jika yang akan mereka bicarakan adalah suatu hal yang bersifat amat darurat. Adara mulai menyesali keputusannya mengapa ia menolak ajakan laki-laki itu untuk berangkat bersama saja. Eh, tapi bukannya mereka bisa membicarakan masalah yang katanya darurat itu saat di mobil atau barangkali di rumah saja? Kenapa harus pusing-pusing memilih tempat? Tidak efisien sekali, buang-buang waktu dan tenaga! Dengus Adara dalam hati. "Maaf terlambat, tadi saya ada urusan yang perlu diselesaikan," ucap Rafa yang tentunya adalah sebuah kebohongan. Rafa sudah datang sejak sebelum Adara tiba di kafe itu, bisa dibilang di sini yang paling lama duduk itu Rafa bukan Adara. "Kenapa tidak bilang? Tahu gitu aku pergi dulu," balas Adara sedikit ketus. "Maaf." Hanya itu yang terucap dari mulut Rafa sebelum laki-laki itu mendudukkan dirinya di kursi yang berhadapan dengan Adara. "Masalah darurat apa yang mau kamu bicarain?" Tanya Adara yang membuat laki-laki itu mengernyitkan dahinya, "Kamu nggak manggil saya kakak lagi?" "Untuk apa? Emangnya penting gitu, manggil kamu kakak?" "Ya untuk ... kamu kan adik saya, wajar kalau kamu harus memanggil saya kakak." Rafa berucap dengan sedikit bingung. Ia juga tidak tahu kenapa seolah menuntut Adara untuk memanggilnya kakak. "Nggak usah dibahas, nggak penting juga. Mending kamu to the point, masalah darurat apa yang kamu omongin dan mau kamu bahas sama aku?" Nada suara Adara berubah datar. "Ini mengenai Keano." "Keano? Ada apa?" Rafa tersenyum tipis melihat air muka Adara yang berubah panik, setidaknya hal itu membuat Rafa tahu kalau Adara benar-benar peduli terhadap keponakkannya. "Menikahlah dengan saya, dan jadilah ibu pengganti untuk Keano," ucapnya langsung yang tentu saja membuat Adara kaget bukan main. "Kamu gila? Kakakku baru dikebumikan kemarin, dan kamu sudah berniat menikah lagi? Dengan aku pula. Apa kamu nggak mikir gimana orang lain akan menilai kita?!" Adara merasa marah dengan ucapan Rafa tadi. "Bukan begitu, tapi ini demi mental Keano. Dia belum siap mengetahui kebenarannya." Adara terdiam, memikirkan kata selanjutnya yang akan ia ucapkan. "Adara, saya mohon menikahlah dengan saya. Ini demi Keano dan juga saudari kembar kamu," ucap Rafael berusaha meyakinkan Adara untuk mau menikah dengannya. Adara masih diam, seolah memikirkan kemungkinan terbaik untuknya. "Tapi, aku dan Kak Adira berbeda, El. Kami jauh berbeda, baik dari penampilan dan tingkah laku kami. Kamu tahu sendiri, bukan?" Ucap Adara terdengar serius, ada nada keraguan di dalamnya. Dari sekian banyak orang, hanya Adaralah yang memanggil seorang Rafael Abraham dengan panggilan El. "Hanya kamu harapan saya, Dar. Kamu tahu bukan, jika psikis Keano belum siap menerima kenyataan, bahwa ibunya telah pergi? Setidaknya, kamu bisa berpura-pura menjadi Adira untuk sementara waktu. Hanya untuk sementara Dar, sampai Keano bisa menerimanya. Saya mohon. Lagipula, saya mengambil keputusan ini bukan sebagai kesenangan saya, Ayah dan Bunda saya yang menyarankannya," ucap Rafa. Tangan laki-laki bertubuh jangkung itu menggenggam tangan Adara, setiap detiknya genggaman itu semakin erat. Laki-laki itu seolah khawatir dengan keputusan Adara selanjutnya. "Tapi aku tidak suka berpura-pura. Aku tidak suka menjadi orang lain, aku tidak suka dikenal sebagai orang lain, bukan diriku sendiri. Rasanya sangat menyakitkan ketika kita dipaksa menjadi orang lain." "Saya tahu Dar, saya mengerti, tapi saya mohon. Hanya untuk sementara." Rafael bahkan sudah menurunkan egonya dengan memohon pada gadis itu. Ia terlihat sangat menyedihkan, Rafa juga menekan rasa malunya yang seolah begitu mengharapkan pernikahan itu. Adara menghela napasnya, ia tentu saja tidak mau menerima tawaran Rafa itu. Selain dengan alasan yang sudah diucapkannya tadi, Adara masih memiliki alasan lain. Pertama, Adara masih mencintai seseorang di masa lalunya, lebih tepatnya laki-laki masa kecilnya dulu. Kedua, Adara tidak mau dianggap sebagai pengganti. Ketiga, Adara tidak mau menikah tanpa ada ikatan cinta di dalamnya. Dan masih ada banyak alasan lain, yang tidak bisa Adara jabarkan satu persatu. Tapi, mengingat Keano Abraham, keponakannya yang masih berusia empat tahun itu, Adara merasa tidak tega. Di usianya yang belum genap lima tahun, Keano harus kehilangan ibunya. psikis anak laki-laki itu, tentu belum siap menerima kenyatannya. Hal itu akan berpengaruh pada perkembangan otak si anak. Adara yang sepenuhnya menyayangi Keano, tidak mau kemungkinan buruk itu terjadi. Demi apapun di dunia ini, Adara sangat menyayangi anak kembarannya itu. "Aku mau menikah dengan kamu, tapi dengan beberapa syarat," putus Adara akhirnya, seulas senyum tipis terbit di bibir Rafa. Puluhan kata terima kasih terlontar dari mulut Rafa. Laki-laki berparas tampan itu, begitu bersyukur atas keputusan Adara. Setidaknya, Rafa bisa tenang akan kondisi putranya sekarang ini. Semoga saja ini awal yang baik untuk kehidupanku, batin Adara memanjatkan do'a. "Syarat apa pun, akan saya penuhi demi kamu mau menikah dengan saya dan menjadi pengganti untuk Keano."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN