Bab 5

817 Kata
Akhirnya setelah melangsungkan pernikahan dengan sederhana, sekarang status Rafael dan Adara sudah sah sebagai sepasang suami istri. Rafael memboyong Adara ke apartemennya. Adara baru membersihkan diri, gadis itu membawa selembaran kertas dengan map berwarna merah pudar. Ia menghampiri Rafael yang duduk termenung di sofa, tampak melamun. Namun, Adara tidak peduli, niatnya hanya menyerahkan benda di tangannya itu. "El, ini surat perjanjian di antara kita. Baca dulu, dan tanda tangani surat ini," ucap Adara seraya menyerahkan map beserta pulpen pada Rafael. Mendengar suara Rafael yang tiba-tiba, Rafael terkejut, pria itu tersentak, ia menatap Adara dengan tatapan kesal. "Apa sih, ngagetin aja," kesalnya. "Lho, siapa yang ngagetin? Kamu aja yang melamun," balas Adara santai lalu mendudukkan dirinya di sofa yang berseberangan dengan sofa yang Rafael duduki. "Eh, ini surat perjanjian pernikahannya." Adara kembali mengingatkan soal map yang masih di tangannya. Dahi Rafael mengernyit, ia menatap map di tangan istrinya dengan bingung. Namun, Rafael tetap menerimanya. Pria itu membaca tulisan yang tertera di atas kertas tersebut secara perlahan. Di sana tertuliskan beberapa perjanjian di antara Rafael Abraham dan Adara Prameswari. "Ini yang kamu maksud tempo lalu?" tanya Rafael. Adara mengangguk tanpa berniat mengeluarkan suara. "Kamu beneran mau buat surat perjanjian gini?" Rafael kembali bertanya, lebih tepatnya memastikan. "Iya, perjanjian di atas materai, biar ada hitam di atas putih dan kamu tidak bertindak semena-mena dengan alasan 'suami berhak atas istrinya', itu nggak bisa dibenarkan sepenuhnya. Udah deh, mending kamu baca aja cepat, terus tanda tangani." Adara menunjuk map itu dengan dagunya. Rafael menghela napas, pada akhirnya membuka map itu dan mulai membaca poin demi poin di dalamnya. Surat Perjanjian antara Adara Prameswari dan Rafael Abraham. Adara Prameswari yang kemudian kita sebut sebagai pihak pertama. Rafael Abraham yang kemudian kita sebut sebagai pihak kedua. Dan terakhir, Keano Abraham yang kemudian kita sebuh sebagai pihak ketiga. Surat ini dibuat atas kesadaran masing-masing. Diharapkan, kedua belah pihak menyetujui isi perjanjian ini. Isi perjanjiannya adalah sebagai berikut; 1. Tidak ada kontak fisik di antara pihak pertama dan kedua. Kecuali di depan pihak ketiga, yang tidak lain ialah putra pihak kedua. 2. Tidak ada ciuman antara pihak pertama dan pihak kedua. 3. Tidak ada hubungan badan antara pihak pertama dan pihak kedua. 4. Masing-masing pihak bebas akan urusannya masing-masing. Serta, satu sama lain tidak boleh ikut campur. Pihak pertama tidak akan mencampuri urusan pihak ke dua, begitupun sebaliknya. 5. Pihak pertama dan pihak kedua, satu sama lain tidak boleh ada yang egois. Jika salah satu pihak melanggar perjanjian yang telah dibuat, maka akan ada sanksi tersendiri yang harus dipertanggungjawabkan oleh pihak pelanggar. Demikianlah surat ini dibuat atas kesadaran kedua pihak, atas kerja samanya diucapkan terima kasih. Pihak pertama ; Adara Prameswari Pihak kedua ; Rafael Abraham Rafael memahami satu per satu poin yang tertera, ia mengangguk setelah menyelesaikan bacaannya. Lantas laki-laki itu pun mengalihkan atensinya yang semula dari surat perjanjian yang ia bawa pada Adara yang sudah mendudukkan diri di sofa seberang. "Saya setuju dengan surat perjanjian ini. Tapi jika poin kedua dan ketiga tanpa sengaja kita lakukan, kita tidak boleh menyalahkan satu sama lain," ucap pria itu kemudian. Rafael tahu, apa yang ia ucapkan barusan terdengar seperti laki-laki kurang belaian, tapi perlu digarisbawahi jika ia merupakan seorang laki-laki yang juga memiliki kebutuhan biologis. "Dan ya, memangnya kenapa kamu tidak mau melakukan poin ketiga dengan saya? Apa kamu takut jika saya tidak bisa memusakan kamu?" tanya Rafael yang murni bermaksud menggoda Adara. Ia tidak tahu sejak kapan pastinya, kenapa ia tiba-tiba seberani ini mengerjai kembaran Adira Prameswari itu. Rasa panas mulai menjalar di pipi Adara, Adara merasa ada gelenyar aneh ketika pertanyaan konyol Rafael itu masuk ke indra pendengarannya. "A-aku hanya ingin menjaga harta berhargaku untuk suamiku nanti. Bukan karena alasan konyol yang kamu ucapkan itu. Lagipula pernikahan ini bukan pernikahan sungguhan yang harus melakukan itu. Aku juga tahu, kalau kamu nggak mungkin mengkhianati Adira, kamu terlalu mencintainya. Sudahlah, aku ingin tidur. Sampai jumpa." Adara langsung berlari menuju kamarnya yang terletak di sebelah kamar Rafael, lebih tepatnya kamar Keano. Perempuan itu memutuskan untuk tidur satu kamar dengan anak saudari kembarnya, hal ini Adara lakukan agar ia lebih leluasa mengawasi dan mencurahkan kasih sayangnya terhadap Keano. Keano pun sepertinya sudah terlelap semenjak kedatangan mereka dari kediaman orang tua Rafael tadi. Lagipula, Adara dan Rafael memutuskan untuk tidak tidur dalam satu kamar. Mereka tidak mau hal yang tidak diinginkan terjadi. Tentu saja, Rafael Abraham adalah laki-laki normal, mana bisa ia tidur dengan tenang di saat ada seorang perempuan yang tidur satu ranjang dengannya. Rafael tersenyum tipis, Adara dan Adira sangat berbeda. Adira yang berhati lembut, dan Adara yang berhati keras. Adira dengan tingkah malu-malunya yang menggemaskan dan tak jarang bersikap manja padanya, lantas Adara yang malah bersikap seperti gadis pecicilan. Semua itu membuat Rafael yakin jika dirinya tidak akan jatuh hati pada seorang Adara Prameswari. Karena bagi Rafael, tidak ada seorang pun yang dapat menyerupai istrinya, meski mereka kembar identik sekalipun. TBC Maaf untuk typonya, semoga suka ^^
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN