Rafael Abraham, laki-laki itu merebahkan tubuhnya dengan posisi terlentang di atas ranjangnya. Mata laki-laki itu menatap ke langit-langit kamar bercat putih, yang sekarang ini tampak dihinggapi oleh seekor cicak yang barangkali saja tengah mencari mangsanya.
Helaan napas terdengar pelan dari mulut laki-laki itu, ternyata pura-pura tersenyum itu sangat melelahkan. Jauh lebih melelahkan ketimbang saat ia tengah menangani persalinan seorang wanita hamil. Jika bukan karena putra semata wayangnya, barangkali Rafa sudah menyerah. Ia tidak sanggup untuk tersenyum lebih lama lagi. Setiap ia berusaha melebarkan senyum, goresan luka di hatinya semakin melebar. Menimbulkan rasa sakit yang membuatnya sesak tak bisa bernapas. Sakit, perih bercampur menjadi satu, melebur hingga membuatnya ingin menangis saat itu juga.
Dia bukan laki-laki lemah, tapi sekarang ia malah terlihat sebaliknya. Lemah dan rapuh. Pria yang benar-benar mencintai seorang wanita, kehilangan wanita itu adalah kehancuran terbesarnya. Sama seperti yang Rafa alami saat ini. Rafa merasa ia berada di ambang jurang, ia bisa selamat jika ia bangkit dan berusaha menjauh dari jurang itu, namun jika ia terus terpuruk dan tetap berdiam diri di sana, maka lambat laun pasti ia terjatuh. Entah itu karena dirinya sendiri, atau karena alam yang bertindak.
Rafa meraba dadanya, tepukan pelan ia bubuhkan melalui telapak tangannya yang lebar pada salah satu bagian tubuh itu, "Ra, aku dan Adara sudah menikah. Aku harap kamu nggak marah di sana, aku masih mencintai kamu hingga detik ini, kamu tetap nomor satu di hatiku." Rafa menghela napasnya lagi, "Kamu nggak bakal tergantikan, kamu nggak perlu khawatir kalau aku akan jatuh cinta ke perempuan lain," lanjutnya.
"Ra, aku lelah berpura-pura tersenyum. Aku lelah bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa di hadapan Keano. Ra, aku lelah dengan semua kepura-puraan ini." Rafa berbicara pada udara yang berhembus, pada ruang hampa dengan penerangan yang remang-remang itu.
"Adara dan kamu itu berbeda, rasanya sangat sulit bersama dengannya. Wajahnya mengingatkanku pada kamu, tapi itu sama sekali tak membuat rasa rinduku terobati. Aku benar-benar merindukan kamu, Ra. Rindu ini nggak cuma berat, tapi juga membuatku sakit karena tak kuasa menahannya," gumam Rafa begitu pelan, hampir tidak terdengar oleh telinga manusia.
Rafa mengusap wajahnya pelan, berusaha mengusir bayang-bayang mendiang istrinya yang tengah meregang nyawa. Wajah pucat yang tampak menyedihkan itu, mengapa terus terbayang di ingatannya? Mengapa sulit menghilangkan bayangan menyesakkan itu? Rafa benar-benar frustasi. Hari ini, Rafa begitu lelah berpura-pura. Lelah yang pada akhirnya menghantarkan kantuk untuk datang lebih cepat, Rafa menutup matanya, berusaha meraih nirwana yang diinginkannya melalui sebuah alam bernama mimpi.
****
"Molning Mom, ayo tidul lagi. Ini macih pagi."
Ketika pagi menjelang, ketika cahaya mentari telah menerobos melalui tirai jendela, ketika kokok ayam peliharaan Pak Burhan, penghuni apartemen sebelah sudah berhenti berkokok, suara balita yang begitu menggemaskan menyambut gendang telinga Adara, membuat wanita berparas ayu itu tersenyum.
Adara semakin melebarkan senyumnya ketika Keano menolak melepas pelukan itu. Bocah yang usianya masih di bawah lima tahun itu malah mempererat pelukannya pada tubuh Adara, seakan tak mau jika wanita yang bocah itu anggap sebagai Mommy tersebut beranjak pergi.
"Keano Sayang, kok nggak mau bangun?" Tanya Adara seraya membelai lembut surai hitam milik putra dari mendiang saudari kembarnya itu.
Keano menggelengkan kepalanya dengan lucu, matanya mengerjap sebelum terpejam lagi. Adara terkekeh, spontan mencium kedua pipi gembul Keano. Keponakan yang sekarang sudah beralih status menjadi putranya itu begitu menggemaskan, Adara tidak bisa membayangkan jika suatu saat nanti, ketika kebohongan itu terbongkar, apakah ia masih bisa menyaksikan tingkah menggemaskan dari anak laki-laki yang didekapnya kini? Karena, setahu Adara ketika seorang anak kehilangan salah satu bagian dari hidupnya yang begitu berharga--Ibu misalnya--anak itu tidak akan tetap sama seperti dulu.
Bahkan, hal itu terjadi pada dirinya sendiri. Ia, di usianya yang cukup dewasa pun bisa mengalami perubahan yang begitu besar. Seperti senyumnya yang mendadak luntur, seperti dirinya yang tak lagi memiliki gairah hidup, seperti dirinya yang merasa masa bodoh dengan masa depannya, dan bagaimana jika itu terjadi pada sosok anak yang usianya saja masih di bawah lima tahun? Apakah anak itu akan kuat? Jujur saja, Adara tidak kuat menerima kenyataan ketika Ibu dan Ayahnya dinyatakan meninggal. Adara yang sudah dewasa saja tak kuasa, apalagi Keano, yang bahkan untuk berbicara saja belum fasih itu?
Adara berusaha menghentikan pemikiran-pemikaran yang tentunya akan membuat ia menangis. Terlalu lama memikirkan hal itu, membuat Adara tidak yakin, untuk tidak menangis lima menit ke depan. Karena, sekarang ini saja liquid di matanya sudah berdesakan untuk menjebol tanggul pertahanan Adara. Adara berusaha menarik kedua sudut bibirnya membentuk seulas senyum simpul, bukan senyum tulus dan Adara bersyukur saat ini Keano sudah mengalihkan tatapannya ke arah lain. Hanya sepersekian detik waktunya sebelum Keano kembali menatapnya, untuk merubah senyum paksa itu menjadi seulas senyum tulus. Adara berusaha membayangkan bagaimana saja tingkah lucu Keano, yang kerap membuatnya terkekeh tanpa sadar. Hingga sepersekian detik kemudian, tepat setelah perempuan bernama Adara itu mampu menciptakan seulas senyum tulus, Keano kembali menatapnya. Tanpa sadar Adara menghela napas leganya. Biar bagaimana pun, anak kecil biasanya bisa memiliki insting kuat terhadap seseorang, bahkan tak jarang banyak anak yang bisa membedakan apakah orang itu benar-benar tulus padanya atau tidak.
"Apa Kean nggak mau ketemu Daddy, sebelum Daddy berangkat kerja?" Tanya Adara setelah Keano kembali menatapnya lagi.
"Nggak Mom, Kean macih mau tidul baleng Mommy, kayo ketemu cama Daddy, Kean kan sudah seling, tidul cama Mommy aja yang jayang," jawab Keano dengan logat anak-anaknya yang khas. Lucu dan menggemaskan.
"Tapi, Keano kan belum sarapan. Keano nggak takut sakit?"
"Nggak Mom, Keano nggak takut sakit. Kalo Keano sakit, kan nanti ada Mommy yang bakal ngelawat Keano. Lagian, Keano lebih takut kalau Mommy ngilang," ucap anak itu.
Adara tertegun mendengar ucapan Keano. Belum apa-apa saja, Adara bisa melihat sorot keputus-asaan anak itu ketika menyebut jika ibunya menghilang. Adara bisa melihat ketakutan di mata anak itu. Ya Tuhan! Adara bahkan bisa merasakan kesedihan yang Keano alami saat menatap mata bening di hadapannya tersebut.
Menggeleng pelan seraya menghembuskan napasnya pelan, Adara kembali berbicara, "Sakit nggak enak lho ... Keano nggak takut, kalau nanti disuntik sama dokter?"
"Emang, kalo sakit, nanti bakal disuntik ya Mom, ya? Kean nggak mau disuntik, nanti tambah sakit," kata anak itu setengah merajuk.
"Nah, makanya. Kean bangun ya, terus kita sarapan bareng," kata Adara yang saat ini sudah merubah posisinya menjadi duduk, begitupun dengan Keano yang mengikuti gerakan Adara.
"Keano nggak mau sakit, tapi Keano juga nggak mau bangun tidul. Keano pengen malas-malasan sambil dipeyuk Mommy. Keano cuka banet peyukan Mommy. Tapi aneh ya Mom, kok Keano ngelasa beda." Adara sedikit tersentak, otaknya berusaha memproses perkataan anak laki-laki itu.
"Loh, kok beda? Beda kenapa? Pelukan Mommy udah nggak sehangat dulu, ya?" Adara bertanya dengan nada panik, yang justru mendapat balasan berupa tawa cekikikan dari anak itu. "Bukan, bukan gitu. Keano nggak ngomong gitu loh. Peyukan Mommy cekalang itu mayah lebih anet." Adara menghela napasnya.
"Keano ngelasa nyaman, Keano mau tiduyan teyus sambil dipeluk Mommy pokoknya!" Keano kembali berbicara saat Adara sama sekali belum mampu mengeluarkan suara.
"Nanti Keano bisa meluk Mommy lagi, sekarang Keano harus bangun, terus mandi dan kita sarapan bareng-bareng, baru setelah itu Keano bisa peluk Mommy sepuasnya," tawar Adara.
Kendati posisi mereka sudah beralih menjadi duduk, tangan mungil Keano masih memeluk Adara dengan erat. Memeluk perempuan yang Keano anggap sebagai ibunya itu. "Nggak mau, emang mau ngapain pagi-pagi gini, Mom? Kan tadi juga udah bangun pagi buat colat, sekayang nggak apa-apa kan, kayo tidul lagi?"
"Iya, tapi nggak boleh Sayang. Kita nggak boleh malas-malasan, orang yang malas itu pintu kesuksesannya tertutup rapat. Keano mau nggak jadi orang sukses gara-gara males bangun pagi?" Sontak Keano menggelengkan kepalanya dengan tegas seraya mencicitkan kata penolakan.
"Keano mau jadi orang sukses kan? Makanya, Keano nggak boleh malas-malasan. Lagian, kan nanti Keano bisa meluk Mommy lagi."
Keano mengerucutkan bibirnya, "Ya udah deh, Mommy cepet mandiin Keano, bial nanti bisa cepet-cepat sayapan teyus bisa peyuk-peyuk lagi," ucap Keano akhirnya. Adara terkekeh pelan, lantas menganggukkan kepalanya dengan mantap dan meraih tubuh mungil balita laki-laki itu ke dalam gendongannya untuk segera melaksanakan ritual hariannya.
****
Suasana meja makan tampak hening, hanya dipenuhi suara denting sendok yang beradu dengan piring. Rafa tampak menikmati nasi goreng yang sudah Adara siapkan untuknya. Untung saja, sebelum Rafa datang ke meja makan, perempuan itu sempat membuatkan sesuatu sebagai pengganjal perut di pagi hari. Sementara itu, Adara sendiri, tampak fokus menyuapi Keano.
Sebenarnya, Keano sudah bisa makan sendiri. Tapi, anak itu merengek meminta Adara suapi. Berbeda sekali dengan tingkah Keano yang biasanya, bahkan Rafa saja sempat bingung dengan tingkah putra semata wayangnya tersebut.
Anak laki-laki itu berkata jika ia merindukan suapan dari ibunya yang sudah jarang ia rasakan. Adara terenyuh mendengar celotehan Keano, hampir saja ia menitihkan air matanya ketika kalimat menyesakkan itu keluar dari mulut mungil anak itu.
"Sayang, kamu nanti nggak sibuk kan?" Tanya Rafa yang sudah menghabiskan makanannya. Adara menatap laki-laki itu sekilas, laki-laki yang Adara tahu tengah berpura-pura tersenyum di seberang sana.
'Sayang' yang Rafa ucapkan semata-mata untuk memuluskan aktingnya di hadapan Keano.
"Nggak. Memangnya kenapa?" Tanya Adara, tanpa menatap Rafa.
"Say ... maksudku, aku ingin mengajak kamu dan Keano jalan-jalan." Rafa hampir saja menggunakan kata pengganti 'saya' saat menyebut dirinya.
"Bukannya hari ini kamu kerja, ya?"
"Kamu lupa ya? Aku kan masih ... cuti." Rafa tersenyum kecut setelah mengucapkannya. Adara mengangguk pelan, bagaimana bisa ia lupa jika laki-laki itu masih dalam masa cutinya? Adara menatap laki-laki itu prihatin. Sepertinya ia harus meminta maaf pada laki-laki itu.
"Hei kenapa tiba-tiba diem gitu? Terpesona dengan kegantenganku, ya?" Suara berat Rafa kembali berkoar, membuat raut wajah prihatin Adara seketika berganti menjadi raut wajah penuh kekesalan.
"Ya, ya, dan ya terserah apa katamu," kesal Adara yang mendapat balasan berupa kekehan lirih yang lagi-lagi Adara tahu hanya sebuah sandiwara.
"Ya, ya, ya, telcelah Daddy caja." Tiba-tiba Keano ikut menyahut, Adara dan Rafa saling tatap lantas tergelak secara bersamaan. Dan untuk pertama kalinya, tawa tulus laki-laki itu kembali berderai.
TBC