Bab 7

1407 Kata
Rafa mengerutkan keningnya bingung, ketika melihat bagaimana penampilan Adara saat ini. Penampilan wanita itu terkesan seperti remaja belasan tahun, berbeda dengan usianya yang kurang dari empat tahun lagi akan memasuki kepala tiga. Kaos putih berlengan panjang bertuliskan 'I'm A Good Mama, So Why?' dengan outfit abu-abu sepanjang lutut, serta celana jeans sobek-sobek, membungkus tubuh perempuan itu dengan sempurna. Adara membiarkan rambut panjangnya tergerai asal, perempuan berparas ayu tersebut memakaikan topi secara terbalik pada kepalanyanya, membuat penampilannya semakin wah. Adara lebih memilih flat shoes sebagai pelindung sekaligus alas untuk kakinya, dari pada high heels yang memiliki resiko membuatnya kesakitan kalau-kalau ia mengenakan sepatu yang juga disebut sepatu tinggi itu terlalu lama. Adara tidak mau mengambil resiko yang berpotensi menyakiti dirinya sendiri. Kendati demikian, sebenarnya Adara sudah memasuki zona yang dihindarinya, dan sepertinya perempuan itu tidak sadar jika ia telah masuk ke area tebing yang dipenuhi rerimbunan semak belukar yang sewaktu-waktu, jika ia tak waspada ia akan masuk ke dalam semak belukar yang ternyata akan mengantarnya ke jurang pesakitan. Dan tebing penghantar kesakitan itu adalah pernikahannya dengan Rafa. Wajah Adara tak terlihat seperti tengah mengenakan make up, ya karena Adara memang sama sekali tidak membubuhkan bedak pada wajahnya, ataupun lipstik pada bibirnya yang memang sudah berwarna merah ceri alami itu. Akan tetapi hal tersebut tidak sepenuhnya benar, lantaran Adara masih mengenakan krim pelembab pada wajahnya. "Kamu yakin mau berpakaian seperti itu?" Tanya Rafa ragu. Dari apa yang ia lihat kini, Rafa semakin yakin bila Adara dan Adira memang berbeda, ia yakin tidak akan jatuh hati pada saudari kembar mendiang wanita yang dicintainya itu. Wanita yang dicintainya, Adira, sering memakai gaun, sering memakai sepatu tinggi, sering memakai bedak dan lipstik untuk menunjang penampilan saat bersamanya. Dan Rafa cukup senang melihat Adira seperti itu. Adara dan Adira yang berparas serupa, memiliki perilaku yang sangat berbanding terbalik. Jadi, tidak ada celah untuk Rafa mencintai Adara. Rafa memandangi dirinya sendiri. Membandingkan penampilannya dengan penampilan istri barunya itu. Ia mengenakan kemeja dan celana bahan, serta kaki besarnya mengenakan sepatu pantofel mengkilat. Penampilan laki-laki bernama Rafael Abraham itu, lebih seperti seseorang yang hendak pergi ke kantor. Padahal, nyatanya mereka hanya akan jalan-jalan ke suatu tempat, bukan pergi ke kondangan. Pakaian yang ia kenakan, dan pakaian yang Adara kenakan sangat kontras. Rafa menyadarinya. Lantas, laki-laki itu pun mengalihkan pandangannya pada Keano, menelisik anaknya itu dari ujung kepala sampai ujung kaki, ia mendesah melihat putranya yang sudah didandani sedemikian rupa oleh Adara. Anaknya mengenakan topi bermotif kulit sapi perah, dengan setelan kemeja kotak-kotak berlengan pendek yang tidak dikancingkan, karena di dalam kemeja itu masih ada kaos berwarna putih bertuliskan 'I'm A Good Boy, So Why?'. Anaknya itu mengenakan celana jeans sepanjang lutut yang membuat penampilannya benar-benar menggemaskan. Terlebih lagi sedari tadi bocah itu menyunggingkan seulas senyum lebar, yang membuat pipi chubby-nya terangkat. Siapa pun yang melihatnya, pasti punya keinginan untuk sekedar mencubit, menggigit, dan mengelus pipi dari anak bernama Keano Abraham itu. Melihat baju yang Adara dan putranya kenakan, membuat ingatan Rafa terlempar pada kejadian beberapa waktu yang lalu. Ialah yang membeli kaos yang saat ini Adara dan Keano kenakan. Rafa membelinya dua bulan yang lalu, lebih jelasnya. Sebenarnya masih ada satu lagi kaos yang serupa, namun bertuliskan 'I'm A Good Papa, So Why?' dan Rafa sudah tidak mengingat di mana kaos itu berada. Ya, kalau tidak salah, ia menaruhnya di gudang. Seingatnya sewaktu ia dulu hendak menemui Adara untuk mengutarakan keinginannya perihal menikahi perempuan itu, Rafa sempat mampir ke apartemennya dan mengumpulkan seluruh benda-benda yang menyangkut kenangannya bersama Adira. Kaos itu tidak ada sangkut-pautnya dengan Adira, bahkan Adira belum tahu jika Rafa membeli kaos itu untuk mereka kenakan. Namun, entah mengapa Rafa merasa sedih ketika melihatnya, sehingga pada akhirnya laki-laki itu pun ikut memasukkan tiga kaos tersebut ke dalam kardus yang selanjutnya akan Rafa taruh di dalam gudang yang ada di apartemen itu. Dan entah bagaimana ceritanya, Adara mendapatkan kaos itu. Apa perempuan itu sempat masuk ke dalam gudang? Rafa tidak mau mengambil kesimpulan jika kaos itu Adara sendiri yang membelinya. "Tentu saja. Kita mau jalan-jalan bukan mau pergi ke tempat kondangan. Untuk apa kita pakai baju yang rapi kayak gitu? Siapa yang peduli, coba?" Adara berucap seraya membenarkan topi hitamnya yang sedikit miring. Mendapat balasan demikian, membuat Rafa menjadi salah tingkah. Ini ceritanya, ia salah konstum, begitu? Betul juga apa katanya, kita kan mau jalan-jalan. Bukannya mau pergi ke acara resmi. Kenapa aku jadi sebodoh ini, sih? Batin Rafa bersuara. "Ah ya El, aku kemarin sempat pergi ke gudang dan menemukan kaos-kaos yang .. ya masih bagus, malahan label harganya masih ada. Jadi aku ambil, dan aku sama Keano pakai sekarang. Biar kita sarimbitan, kamu ambil gih kaos satunya lagi yang ada di lemari Keano. Biar keliatan kayak keluarga bahagia gitu." Keluarga bahagia? Aseeek! Adara bersorak dalam hati. Kemarin, atau lebih tepatnya kemarin sore, Adara memang sempat pergi ke gudang. Ia berencana mencari vakum cleaner untuk membersihkan karpet dan ternyata ia malah menemukan kaos-kaos itu. "Yoi Dad, bial kita celagaman hehe," sahut Keano disertai kikikannya. Rafa tersenyum tipis. "Ehm, kalau begitu aku ganti baju dulu. Kalian tunggu di mobil saja," kata Rafa yang langsung melangkahkan kakinya ke kamar Keano untuk mengambil kaos yang Adara maksud. Tanpa sadar Adara tersenyum tipis, merasa lucu dengan sikap aneh dari laki-laki yang berstatus sebagai suami―pura-pura―nya itu. "Mom, Daddy bisa aneh gitu ya?" Kata Keano tiba-tiba, Adara terkekeh lantas berjongkok di depan anak itu dan mengecup Keano dengan gemas. "Kok kamu makin bikin Mommy gemes, ya?" "Iya dong, anak ciapa dulu? Mommy Adila cama Daddy Lapa." Adara kembali terkekeh, meski dalam hati ia menjerit sedih. ***** Banyak pasang mata yang melihat ke arah Rafa, Adara, serta Keano, atau mungkin memang hanya ke arah dua orang berjenis kelamin laki-laki itu, bukan pada Adara. Tapi entahlah, siapa yang peduli? Saat ini, mereka tengah berada di mall ternama yang ada di Jakarta. Rafa yang menggendong Keano terlihat lebih tampan dan berkharisma. Pantas saja, Dokter Kandungan itu sering mendapat julukan Hot Daddy. Itu karena Rafa yang memang terlihat jauh lebih tampan ketika berinteraksi dengan Keano. By the way, penampilan Rafael Abraham saat ini begitu memesona. Celana jeans pendek sepanjang lutut, serta kaos putih bertuliskan 'I'm A Good Papa, So Why?' yang ternyata pas badan itu, membuat lekukan otot bisep trisep dan d**a bidang Rafa malah tercetak jelas, tubuh Rafa terbalut sempurna oleh kain-kain yang dimodifikasi itu. Sementara untuk kakinya, Rafa tak mengenakan sepatu, laki-laki itu lebih memilih memakai sandal jepit biasa. "Ra, kita makan dulu, ya? Baru kita pergi ke area bermain," kata Rafa, yang tanpa sadar masih menggenggam tangan Adara sedari tadi. Membuat Adara kerap gagal fokus. "Hah?" Seperti kali ini, Adara tidak mendengar apa yang laki-laki itu ucapkan. Rafa mendengus kesal. Apa Adara mendadak tuli? Batin Rafa bersuara. "Kita ke tempat makan dulu, sebelum ke area bermain. Gimana? Kamu mengerti?" Rafa mengulang ucapannya, nada suaranya terdengar kesal sekarang. Adara mengangguk kecil, setelah otaknya dapat mencerna kata-kata Rafa. "Tapi aku masih kenyang, kan tadi pagi udah makan. Kenapa nggak ke arena bermain dulu aja? Aku juga pengen main. Lagian aku sama Nono mau main trampolin, kalau ntar makan dulu bisa-bisa makanannya keluar," ketus Adara. Satu hal lagi yang menjadi pembeda Adara dan Adira, adalah Adara yang terkesan cerewet. Ngomong-ngomong, mulai tadi pagi Adara memanggil keponakannya itu dengan nama Nono. Keano pun tampaknya senang senang saja dipanggil Nono oleh Adara. "Iya Dad, kan Nono mau main tampolin eh apa tadi? Tempolin apa timpukin? Tampilin? Eh apa cih Mom yang dibuat loncat-loncat itu?" Bahkan, Keano pun sudah memanggil dirinya dengan nama Nono. Lihatlah bagaimana menggemaskannya bocah itu, mata besarnya tampak mengerjap-ngerjap menuntut jawaban dari sang Ibu. "Trampolin, Nono Sayang," ucap Adara. "Iya, tamplolin. Itu, itu. Nono kan mau main tamplolin," rengek Keano yang masih salah menyebut trampolin itu. Rafa terkekeh, ia mencium pipi gembul Keano. "Trampolin, Sayang. Duh, Mom, anak kita kok bisa gini ya?" Rafa merangkul pundak Adara dengan satu tangannya yang bebas, membuat detak jantung Adara tiba-tiba bertalu cepat. Adara berusaha mengusir kegugupannya, lantas membalas ucapan laki-laki itu, "Nggak tahu nih, mungkin ketularan Daddynya yang aneh." Rafa lagi-lagi mendengus, jawaban Adara itu tidak bisa apa lebih halus sedikit? "Eh, eh, bica dong, Daddy aja bica gitu, iya kan Mom?" Adara menganggukkan kepalanya, seraya mengulas sebuah senyum simpul. "Heh, ya udah. Kita ke arena bermain aja kalau gitu. Yang penting Keano senang." "Tul, yang penting Nono yang ganteng ini ceneng." Keano terkikik. Sekilas, mereka memang terlihat seperti keluarga bahagia. Tapi siapa sangka, apa yang tersaji itu hanyalah sandiwara belaka. TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN