Rafa menghela napas, lantas membaringkan tubuhnya hingga terlentang di atas kasur besar itu. Raut wajahnya terlihat amat lelah, wajar saja seharian ini, ia, Adara dan juga Keano yang sekarang ini lebih senang dipanggil Nono, baru mengelilingi mall dan juga Taman Mini Indonesia Indah atau yang terkenal dengan nama TMII itu.
Tubuh laki-laki itu hanya dibalut oleh handuk yang hanya menutupi daerah keramat sampai lututnya. Rafa baru saja mandi, tapi rasa lelah dan penat di tubuhnya tidak juga hilang. Bahkan, ia sama sekali tidak merasa segar.
Jam sudah menunjukkan pukul enam sore, tapi Rafa sudah mulai mengantuk. Belakangan ini laki-laki itu memang merasa tubuhnya lebih mudah lelah daripada biasanya. Barangkali karena otak laki-laki itu terlalu banyak berpikir atau bekerja, sehingga berimbas pula pada tubuhnya.
Tapi, biarpun tubuhnya sudah terasa lelah, matanya sudah terasa berat, dan mulutnya yang sudah menguap beberapa kali, Rafa tetap melakukan rutinitas hariannya, hal yang belakangan ini kerap laki-laki itu lakukan setelah kematian sang istri. Yaitu, berbicara pada angin sore yang berhembus melalui jendela kamarnya yang terbuka, pada langit sore yang menampilkan gradasi warna yang begitu indah, serta pada langit-langit kamar yang lagi-lagi menampilkan sosok hewan pemilik kemampuan unik berupa autotomi.
Hewan yang gemar memutuskan ekornya ketika dalam bahaya itu, kali ini tidak tengah sendiri, tidak pula tengah bersama nyamuk yang akan menjadi santapannya, melainkan bersama seekor cicak lain yang sepertinya merupakan cicak betina. Kedua cicak itu barangkali tengah memadu kasih, atau barangkali pula memang sengaja berada di situ untuk memamerkan kemesraan mereka pada Rafa yang terus saja bergalau ria, memikirkan mendiang sang istri yang sudah meninggal kurang dari satu minggu yang lalu itu.
Rafa menghela napasnya, jujur ia merasa iri melihat cicak-cicak yang sekarang ini malah saling menempelkan mulut mereka itu. Melihat bagaimana cicak itu bermesraan, membuat Rafa merindukan pelukan dan juga ciuman, serta sikap manja dari Adira.
"Ra, aku tadi habis jalan-jalan sama Keano dan juga kembaran kamu. Hampir seharian kami mengelilingi mall, dan hampir seharian juga kami mengelilingi TMII. Dulu, waktu kita masih pacaran, kita sering ke TMII kan? Aku kangen pergi ke sana bareng kamu," ucapnya disertai kekehan pelan yang malah terdengar miris.
Dulu, sewaktu Rafa dan Adira masih berpacaran, sepasang kekasih itu sering menghabiskan waktu kencan mereka ke Taman Mini Indonesia Indah. Mereka bisa memadu kasih di sana, tapi mereka juga bisa mendapat ilmu dari berkeliling TMII. Ibaratnya sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Bukankah gaya berpacaran mereka itu tergolong unik? Yah, tentu saja. Dibanding dengan gaya berpacaran anak muda di zaman sekarang, yang lebih suka kelayapan di jalan, nongkrong-nongkrong cantik di kafe, atau barangkali berbuat asusila di tempat-tempat sepi. Rafael Abraham dan Adira Prameswari lebih memilih bergandengan tangan dan saling melempar senyum, seraya mengelilingi TMII yang cukup luas, ya walaupun tidak seluruh tempat dapat mereka singgahi kala itu. Hal paling banter yang pernah Rafa juga Adira lakukan adalah berpelukan, itupun mereka lakukan ketika gondola yang Rafa dan Adira naiki itu sedikit berguncang. Hanya wujud tindakan refleks dari ketakutan sesaat mereka.
"Ra, tadi Keano juga keliatan seneng banget, apalagi pas Dara panggil dia Nono. Anak kita makin gemesin, ngomongnya makin banyak, tingkahnya apalagi. Tapi aku ngerasa dia makin ekspresif, dan aku cukup senang dengan perubahannya." Rafa kembali berbicara.
"Ra, aku bingung. Kenapa aku nggak bisa ketawa lepas, aku bingung kenapa tubuhku kaku dan sama sekali nggak bergerak dari tempat dudukku, padahal aku kepengin ikutan Dara dan Keano lompat-lompat di trampolin. Aku nggak tahu, kenapa aku nggak mampu gerakin tubuhku. Apa karena pikirkanku yang hanya di isi kamu? Aku tahu, di sana kamu pasti sedih ngelihat aku yang terus terpuruk seperti sekarang ini, aku minta maaf. Sulit untuk melupakan semuanya, sulit kembali menata hidup setelah kekacauan ini, aku belum bisa melepaskan kesedihanku. Aku masih kepikiran kamu terus."
Rafa menyeka matanya yang berair. Tubuhnya sedikit terguncang lantaran menangis. Semakin hari, bukannya lekas bangkit dari keterpurukannya, Rafa malah terlihat semakin menyedihkan. Benar-benar lelaki malang.
"Adira, Sayang, aku tahu tangisanku, kesedihanku, malah membuat jalan kamu makin sulit. Dan aku benar-benar meminta maaf karena hal itu. Aku benar-benar sulit mengenyahkan bayang-bayang penderitaan kamu. Aku tidak bisa menghapus ingatanku tentang kamu yang selalu menangis karena aku kerap mengabaikan kamu. Maaf banget," ujar Rafa.
Rafa bangkit dari posisi terlentangnya, lantas memakai pakaiannya yang sebelumnya sudah ia letakkan di atas nakas. Laki-laki itu pun berjalan menuju balkon.
Entah kemana perginya kantuk yang mendera Rafa tadi, namun sekarang ia sudah tak lagi merasakan kantuk itu. Mata laki-laki tampan itu menatap langit yang mulai menghitam, menyisakan warna kemerahan di ufuk barat. Adzan sudah berkumandang beberapa menit yang lalu, tetapi Rafa tak kunjung menunaikan kewajibannya dan malah berniat untuk tidur. Belakangan ini, Rafa juga sedikit kehilangan semangat beribadahnya. Ia kerap terlambat menjalankan kewajibannya. Padahal laki-laki itu dulu begitu rajin menyetor wajahnya pada Sang Pencipta.
"Adira, aku sadar, jika kesedihanku nggak bisa memperbaiki semuanya. Aku juga sadar kalaupun setiap hari aku menangis, kamu tetap tidak akan kembali. Mulai sekarang aku akan mulai bangkit," ucap Rafa, setelahnya laki-laki itu terdiam.
"Ra, aku udahan dulu ya ngomongnya. Aku mau lihat Keano dulu, tadi dia sempat nangis. Katanya minta jeruk." Rafa menjeda ucapannya, ia menengedahkan kepalanya seraya tersenyum, "Bukankah dia mirip aku? Dulu, pas dia lahir dia mirip banget sama kamu, tapi makin lama putra kita itu makin mirip aku."
Rafa terkekeh namun setelahnya terdiam, ia memang sudah berniat mengakhiri pembicaraannya dengan angin. Namun, ia merasa ada yang belum ia katakan. Tapi apa?
"Oh iya, aku belum bilang sesuatu sama kamu. Seperti senja yang setia memperindah langit sore, seperti kemerlip bintang yang begitu mempesona, seperti udara yang berhembus, seperti tumbuhan yang tidak bisa hidup tanpa daun, seperti itulah aku mencintaimu. I love you, Adira." Rafa tersenyum.
Laki-laki itu pun melangkahkan kakinya kembali masuk ke dalam kamar. Ketenangan mulai ia rasakan setelah mencurahkan isi hatinya itu. Rafa yakin, ia pasti bisa bangkit dari keterpurukannya. Perlahan, ia memang harus bangkit, ia harus menggapai kebahagiaannya.
****
Di ruang makan, tampak Adara dan Keano yang menyantap santapan makan malam mereka. Keano tampak menggemaskan lantaran mengenakan baju koko berwarna coklat serta sarung kecil yang membalut tubuh bagian bawahnya. Peci putih yang menutupi sebagian rambut bocah itu, membuat penampilan Keano terlihat semakin tampan.
Sementara Adara yang duduk di sisi Keano, tampak begitu cantik. Gadis yang mendapat julukan perawan tua dari sahabat-sahabatnya itu mengenakan gamis berwarna abu-abu yang membalut indah tubuh rampingnya. Adara cantik. Apalagi tampilan Adara sekarang, begitu berbanding terbalik dengan dandanan sehari-harinya yang kelewat tomboi.
Keduanya baru pulang dari masjid yang terletak di samping gedung apartemen yang mereka huni itu.
"Mom, Nono mau nanya. Ayam Jantan Ko Buhan kok bica betelul ya?" Tanya Keano ketika usai menyantap makanannya. Adara yang tengah menegak air seketika terbatuk.
"Mana ada ayam jantan bertelur? Yang bertelur itu ayam betina, No. Eh iya ayam bertelur, itu untuk berkembang biak. Kalau enggak berkembang biak, nanti ayam punah, kita nggak bisa makan ayam kriuk deh."
"Oh gitu." Keano mengangguk, dua detik kemudian anak laki-laki itu kembali berbicara, "Tapi ini enggak, Mom. Ayam Jantan Ko Buhan betelul. Kemalin Nono ke apaltemennya, telus liat si ayam udah punya tiga telul aja. Kalo si Betina, Betina nggak betelul Mom. Kan si Betina tugasnya bangunin kita di pagi hali."
Ko Burhan atau Pak Burhan adalah pemilik apartemen sebelah yang merupakan seorang pecinta binatang, terlebih lagi ayam. Banyak berbagai macam jenis binatang di apartemennya, apartemen tetangga Rafa itu bahkan lebih terlihat seperti kebun binatang dibandingkan tempat hunian. Beruntungnya, apartemen tempat mereka tinggal tidak memiliki aturan yang tidak memperbolehkan pemiliknya memelihara binatang. Asal membayar uang sewa lebih dari yang lain, mereka boleh membawa binatang peliharaan mereka. Hanya itu saratnya.
Selain itu, gedung apartemen tersebut ternyata milik salah satu teman Pak Burhan. Barangkali hal ini juga, yang membuat Pak Burhan bebas memelihara hewan kesukaannya. Beruntungnya, sejauh ini tidak ada hal buruk yang terjadi karena ulah hewan peliharaan tetangga Rafael itu.
"Enggak Nono, yang bertelur itu betina, yang bangunin kita itu jantan!" Adara mulai kesal dengan pembicaraan tidak penting yang hampir membuatnya gagal bernapas, lantaran tersedak air itu.
"Ih dibilangin ya. Mommy kok nggak pelcaya?! Yang betelul itu Jantan, yang belkokok itu Betina. Tanya Daddy kalo nggak pelcaya. Benel nggak Dad?!" Tanya Keano langsung ketika sang Ayah baru mendudukkan pantatnya di kursi.
Rafa baru keluar dari kamarnya, lantaran laki-laki itu baru mengerjakan kewajibannya beribadah pada Tuhan. Dan tiba-tiba saja, ketika ia memutuskan untuk duduk setelah kurang lebih dua menit mendengarkan perbincangan anak dan istrinya tersebut, ia langsung dilibatkan ke dalam perbincangan konyol itu. Di satu sisi anaknya memang benar, dan di lain sisi istrinya juga benar. Bagaimana ya, Rafa menjelaskannya?
Pak Burhan, menamai ayam betinanya yang tengah bertelur itu dengan nama Jantan, sementara untuk ayam jantan yang setiap pagi berkokok membangunkan mereka itu, diberi nama Betina oleh Pak Burhan. Tujuannya? ya entahlah. Hanya Pak Burhan dan Tuhan yang tahu.
"Eh, gimana ya? Keano nggak salah. Mommy juga nggak salah." Rafa menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba saja kepengin digaruk.
"Loh, kok gitu?!" Seru Adara dan Keano bersamaan. Keduanya menatap sengit ke arah Rafa.
"Ya gitulah, emang geteklah? Kan ayam Pak Burhan yang jenis kelaminnya betina, dikasih nama Jantan. Terus yang jenis kelaminnya jantan dikasih nama Betina. Rumit kan, kalau mau kalian debatin, soalnya pada bener semua. Yang salah itu Pak Burhan. Udah ah, jangan bahas ayam. Aku mau makan, kasihan cacing-cacing di perutku yang sudah kelaparan. Kalau aku kelaparan dan nggak dapet pasokan nutrisi, karbohidrat, protein, dan lainnya, entar ketampananku jadi berkurang. Gagal deh, jadi dokter terganteng," ucap Rafa seraya terkekeh pelan.
Sepertinya, Rafa yang dulu sudah mulai kembali.
"Eh, eh, jeruk-jeruknya mana? Kok tinggal satu? Siapa yang makan? Tadi kita belinya tiga kilo loh." Sekarang nada suaranya terdengar kesal.
Adara dan Keano sama-sama terdiam. Dua anak manusia berbeda usia itu, sama-sama tahu kalau Rafael Abraham tengah kesal lantaran jeruk yang dibeli laki-laki itu hampir habis karena dimakan oleh mereka. Adara baru tahu, jika ternyata ayah dan anak itu juga menyukai jeruk, sama seperti dirinya yang memang menggemari buah satu itu dari usianya masih kecil.
Beberapa hari yang lalu, bagi Rafa tidak masalah ia tidak kebagian jeruk, atau jeruknya ludes dihabiskan orang lain. Itu kan karena Rafa yang memang tengah terpuruk. Tapi sekarang, karena Rafa sudah sadar jika bersedih tidak ada gunanya, tidak juga membalikkan keadaan, mulai merasa jika jeruknya telah dihabiskan perut lain adalah sebuah masalah yang besar.
"Malah diem. Jeruk siapa yang makan siapa. Kesel aku tuh."
TBC