Bab 9

1256 Kata
Tidak terasa, sudah dua bulan lebih Adara dan Rafa menjadi pasangan suami istri. Selama itu, tidak ada hal istimewa yang terjadi di antara mereka. Hanya hal-hal klise saja. Seperti, makan bersama, nonton bersama, jalan-jalan bersama, dan beberapa hal lain. Tapi, bukankah itu awal yang baik untuk hubungan mereka? Hah, lupakan. Rafa sudah kembali ke rutinitasnya sebagai dokter, laki-laki itu juga sudah bangkit dari keterpurukan yang selama ini mengukungnya. Senyum yang dulu hanya senyum pura-pura, sudah menjadi senyum nyata. Tidak ada lagi kepura-puraan. Sekarang ini, Adara, Rafa dan juga Keano tengah menonton televisi. Keano duduk di tengah, di antara Daddy dan Mommynya. Sama dengan sang Ayah, anak itu menggenggam satu buah jeruk di masing-masing tangannya. Padahal, sedari tadi Adara sudah menyuapi mulut anak itu dengan potongan jeruk yang sebelumnya sudah dikupas kulitnya oleh perempuan itu. Tidak hanya Keano saja yang Adara suapi, melainkan Rafa juga yang beberapa belakangan ini mulai bersikap manja terhadapnya. "Lagi, Ra," pinta Rafa dengan matanya yang tetap fokus ke televisi, menonton siaran sepak bola yang disiarkan secara langsung itu. Mulutnya terbuka, siap menerima suapan dari Adara. "Mom, lagi!" Suara Keano menyentak, meminta sang ibu memberi suapan jeruk itu ke mulutnya. Adara menghela napas berat, perempuan itu merasa kesal. Ia sendiri belum menyantap secuilpun jeruk, tapi dua laki-laki yang merupakan ayah dan anak itu sudah memonopolinya. Padahal, di tangan dua laki-laki beda usia itu sudah ada satu buah jeruk di masing-masing tangannya. "Buka sendiri dong itu jeruknya, nggak usah nyuruh bisa kali?" Ketus Adara bersungut-sungut, namun tak urung melakukan permintaan suami dan anaknya. Kendati Adara sudah berbicara dengan bersungut-sungut, namun pasang ayah dan anak itu sama sekali tidak menghiraukannya. Mata mereka masih sama-sama fokus menatap ke arah tv, sesekali bersorak ketika bola yang digiring mendekati gawang, lalu mendesah kecewa ketika bola direbut lawan. Ayah dan anak itu benar-benar mirip, mereka sudah seperti pinang di belah dua saja. Tanpa sadar, seulas senyum terpatri di paras ayu perempuan itu. "Mom ... Dad..." panggilan tiba-tiba dari Keano itu membuat Rafa dan Adara langsung menatap anak itu. "Iya, Sayang. Ada apa?" Tanya Rafa pada sang putra, Adara diam menanti jawaban yang siap meluncur dari mulut anak saudari kembarnya itu. "Nono pengen punya dedek gembul," kata Keano seraya menatap Rafa dan Adara bergantian, beberapa saat setelah kalimat itu terlontar dari mulut bocah berusia empat tahun itu, suasana mendadak hening. Baik Rafa maupun Adara, mereka sama-sama sibuk akan pikiran mereka masing-masing. "Nono, kamu kan tahu, Daddy sama Mommy lagi sibuk banget, jadi Daddy nggak bisa ngabulin permintaan kamu untuk sekarang ini." Akhirnya, Rafa dapat membuka suaranya. Adara segera menimpali ucapan suaminya itu, "Benar kata Daddy, No. Mommy sama Daddy kan lagi sibuk, jadi nggak bisa menuhin permintaan kamu." "Yah, kan Nono pengen punya adik. Hali minggu Daddy cama Mommy kan libul, belalti Daddy sama Mommy nggak sibuk, kan? Udah, hali minggu aja ngabulin keinginan Nononya," ucap Keano setengah merajuk. Matanya menatap berkaca-kaca pada Adara dan juga Rafa. "Lagian, kata temen Nono halga bayi nggak mahal, jadi Daddy cama Mommy bica beliin satu buat Nono. Catu aja, ya Mom ya? Ya Dad ya?" Lanjut anak itu dengan rajukan mautnya. Astaga! Rafa dan Adara sontak geleng-geleng kepala. Sejak kapan bayi diperjual-belikan? Ada sih, tapi itu kan tindakan kejahatan yang emang sengaja dilakukan oleh beberapa orang yang tidak bertanggung jawab. "Nono Sayang, bayi itu nggak diperjual-belikan, tapi ada suatu proses di mana bayi itu ada. Sekarang, Nono mengerti kan?" Adara menatap Keano dengan was-was, begitu pun laki-laki yang berprofesi sebagai dokter kandungan itu. "Lah, kok gitu? Telus, ploces buatnya gimana? Cucah nggak? Kalo enggak cucah, buatin ya Mom, ya Dad." Kali ini Rafa dan Adara berusaha menahan geraman kekesalan mereka. Anak itu benar-benar bikin gemas. "Prosesnya panjang Sayang. Dibutuhin bumbu cinta, kepercayaan, kasih sayang, kerelaan lahir batin, dan beberapa bumbu-bumbu kehidupan lainnya. Prosesnya juga nggak main-main, harus hati-hati, jadi itu buatnya susah-susah gampang," jelas Rafa apa adanya. Adara membekap mulutnya menahan tawa. Bumbu kehidupan apanya? Laki-laki itu benar-benar aneh! "Telus, bumbu kehidupan itu apa Dad?!" Tanya Keano tak ingin mengakhiri sesi tanya jawabnya. "Bumbu kehidupan itu semacam, semacam, semacam apa ya? Ehm..." Rafa terlihat kebingungan saat ingin menjawabnya. Ya, salah sendiri berkata yang tidak-tidak. Jadi repot kan, pas mau jawab. Rafa melirik Adara yang tampak enggan membantunya, untuk menjawab pertanyaan dari putra mereka itu. Adara sendiri, sebenarnya mengerti tapi ia tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata. Terlalu rumit kalau menurut perempuan itu. "Plocesnya tadi gimana Dad?" Belum juga satu pertanyaan terjawab, Keano sudah kembali memberinya pertanyaan. "Aduh Sayang, Daddy bingung gimana jawabnya," kata Rafa akhirnya. Keano, anak kecil itu mengerucutkan bibirnya kesal, ia melihat Ayahnya dengan tatapan permusuhan. "Daddy pasti boong, ploces buatnya nggak cucah. Daddy nggak mau buatin Nono adek bayi, iya kan? Daddy jahat, Nono kecel cama Daddy, Nono malah cama Daddy. Daddy udah nggak cayang cama Nono lagi, Daddy nggak mau kacih Nono adek bayi yang pipinya gembul," kata Keano yang hendak menangis. Adara segera mengambil tindakan, perempuan itu segera mengangkat tubuh Keano duduk ke atas pangkuannya. "Nono Sayang, cup, cup, cup, jangan nangis ya? Iya, kapan-kapan, Daddy sama Mommy kasih Nono adek bayi. Nono sabar aja ya? Kan prosesnya juga lama. Oke?" Kata Adara, membuat Rafa sedikit tercengang. Rafa tidak pernah membayangkan kalau Adara akan berbicara seperti itu. Untuk bergenggaman tangan saja, rasanya mereka tidak mampu. Apalagi melakukan hal lebih, yang bahkan lebih intim dari sekedar berciuman. Errr, membayangkannya membuat sesuatu dalam dirinya bereakasi. Rafa harus segera mengalihkan fokusnya kalau tidak mau menderita malam ini. Ia tidak siap jika harus tersiksa. Sebenarnya, ia bisa saja terhindar dari ancaman super menyiksa itu. Tapi itu tidak mungkin, Rafa malu kalau harus memintanya. Lagipula tidak mungkin juga, karena pernikahan mereka hanya didasari sebuah perjanjian. Mereka tidak disatukan oleh cinta, sehingga tidak ada alasan yang bisa memberatkan keinginan laki-laki berusia tiga puluh tahun itu, untuk mendapatkan hak batinnya. "Benelan Mom? Mommy nggak bohong ke Nono kan? Mommy celius kan? Yey! Nono mau punya adik, Nono ceneng banget! Tuh Dad, Mommy mau buatin Nono adik bayi pipi gembul, jadi Nono nggak usah minta ke Daddy yang pelitnya minta ampun. Yang penting Mommy udah mau buatin Nono dedek bayi," kata Keano diselingi pekikan-pekikan senangnya. Apa sih yang membuat kebahagiaan itu terasa lengkap? Sederhana jawabannya, buatlah kebahagiaan untuk kalian serta orang yang ada di sekitar kalian. Jangan memikirkan kesenangan sendiri saja! "Nono Keano Sayang, Mommy nggak bakal bisa buatin adik bayi kalau nggak sama Daddy. Daddy juga ikut andil loh, kalau nggak ada Daddy adik bayinya nggak bakal jadi," kata Rafa menyerukan kekesalanya. Adara melotot dan langsung memukul bahu laki-laki itu. "Jangan berbicara macam-macam kalau di depan anak kecil. Kalau dia tanya, terus nggak bisa jawab. Siapa juga yang repot, kamu sendiri kan?" Bisik Adara, seraya melayangkan cubitannya di pinggang Laki-laki itu. "Jangan melakukan kekerasan di depan anak kecil. Tahu nggak? Itu nggak baik Adara Abraham!" Balas Rafa disertai ringisan kesakitannya. Tanpa sadar laki-laki itu sudah menyebut nama asli Adara di depan sang putra, mengenai nama belakang perempuan itu, Rafa memang sengaja menggantinya. "Biarin! Biar kamu tahu rasa!" Balas Adara yang tidak menghentikan aksinya. Matanya masih setia melotot ke arah laki-laki itu. "Mom, Dad, kenapa adiknya nggak bakal jadi kalau nggak ada Daddy?" Mati kalian! Siapa yang bisa jawab? Itu pertanyaan yang sensitif! "Ehm, Nono Sayang, kamu dipangku Daddy aja ya? Tiba-tiba perut Mommy sakit, Mommy mau ke kamar mandi," kata Adara seraya menurunkan Keano dari pangkuannya. Tanpa banyak berkata, Adara langsung berlari menuju kamar mandi. "Dad..." "Hmmm, ya?" Rafael Abraham, laki-laki itu mulai takut dengan lontaran kata-kata dari mulut putranya sendiri. "Kenapa adik bayinya nggak bakal jadi kalau nggak ada Daddy?" Matilah dikau Rafael Abraham! TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN