Bab 10

1169 Kata
Hari minggu disertai rintik-rintik hujan, membuat Rafa, Adara, dan juga si kecil Keano tidak bisa beraktivitas di luar ruangan. Keluarga kecil itu tampak asyik dengan kegiatan mereka masing-masing. Rafa dengan laptopnya, Keano dengan jeruk-jeruknya, dan Adara yang tengah memainkan salah satu game terkenal bernama Mobile Legend di smartphonenya. Keano atau yang kerap dipanggil Nono itu meletakkan kedua jeruknya di atas meja, lantas mengguncang lengan sang ayah dan ibunya secara bergantian dengan frekuensi lirih. "Dad, Mom," panggilnya yang langsung membut Rafa dan Adara menolehkan kepala ke arahnya. "Kok adiknya belum ada?" Ia bersuara, mata anak itu berkaca-kaca menatap Rafa dan Adara. "Kan emang belum dibuat," jawab Rafa tanpa berpikir panjang, tidak memedulikan jika selanjutnya anaknya itu akan meraung, menangis sesenggukkan meminta sang ayah untuk segera membuatkan bayi gembul yang akan ia daulat sebagai adiknya. Adara menatap kesal ke arah Rafa yang lagi-lagi berbicara tanpa disaring. Rafa mengernyit bingung mendapat tatapan sedemikian itu dari Adara, laki-laki itu rupanya belum paham dengan kondisi yang telah ia ciptakan. "Kapan bakal dibuatnya?" "Ya kalau udah nggak sibuk." Rafa kembali manjawab tanpa merasa bersalah. "El ..." lirih Adara bermaksud memperingati laki-laki itu. 'Kenapa?' Rafa bertanya tanpa suara, menggerakkan bibirnya untuk mengatakan satu kata tanya itu. Adara mendengus, tidak percaya jika laki-laki yang ia kenal berotak cerdas itu malah terlihat seperti tidak tahu apa-apa. Bagaimana bisa laki-laki itu malah bertanya kenapa? Benar-benar membuat Adara kesal saja. "Dad, hali ini Daddy mau pelgi ke mana? Mommy juga, Mommy mau pelgi ke mana?" Tanya bocah itu yang membuat Adara mendesah lega, lantaran Keano tak kembali mengungkit tentang bayi itu. "Hujan gini, ya enggak ke mana-mana." Adara menjawab, ya langsung ditambahi oleh Rafa, "Enaknya ya tidur-tiduran, atau nonton tv." "Emang Daddy cama Mommy enggak cibuk?" "Sibuk ngapain, No? Kan ini hari minggu. Bener nggak Mom?" Adara langsung mengangguk. Mendapat balasan demikian, membuat seulas senyum lebar terpatri pada wajah anak itu. "Nah, Mommy cama Daddy kan pelnah bilang mau buatin Nono dedek bayi kalo udah nggak cibuk. Cekalang, Mommy cama Daddy kan nggak lagi cibuk, kenapa nggak buatin Keano dedek bayi aja?" Suasana mendadak hening, Adara dan Rafa saling pandang. Pertanyaan yang menjebak, dan tidak mereka duga sebelumnya. Bagaimana bisa anak itu berpikir demikian? Baik Rafa dan Adara tidak habis pikir. "Kok jadi diem sih?! Mau boongin Nono lagi? Kalo mau boongin Nono, Nono bakal ngambek. Cemua jeluk yang ada di kulkas bakal jadi milik Nono! Telus, Mommy nggak boleh tidul di kamal Nono lagi. Daddy nggak boleh cium Nono, nggak boleh megang-megang Nono. Nggak boleh hukumnya!" Kata bocah itu yang sudah berdiri di depan kedua orang tuanya seraya berkacak pinggang. Mata bulatnya melotot tajam, bibir merah mudanya sudah maju beberapa senti. Keano benar-benar terlihat menggemaskan. Jika tidak mengingat kalau anak itu tengah marah, barangkali Rafa dan Adara sudah menghujani pipi gembul Keano dengan kecupan-kecupan mereka. "Emang Nono tahan nggak tidur dipeluk Mommy?" Tanya Adara dengan raut serius menyembunyikan senyum gelinya. Keano tampak berpikir, "Emangnya kalau Mommy nggak tidul di kamal Nono, Mommy nggak bisa peluk Nono?" Tanyanya polos. "Ya jelas nggak bisalah, Nono Sayang. Gimana Mommy mau meluknya coba?" "Eh iya ya, nggak bisa. Nono kok jadi bodoh gini? Padahal tiap hali udah belajal. Ini pasti ketulalan Daddy. Duh Daddy, jangan nulalin yang jelek-jelek dong, kacian Nono. Kalau nanti nggak ada yang cuka cama Nono, gala-gala Nono bodoh gimana? Siapa yang mau tanggung jawab?" Bocah itu memasang wajah cemberutnya pada sang ayah. "Yang penting muka masih ganteng No. Kamu kan nggak bisa hamil? Kenapa harus ada yang tanggung jawab? Daddy pula yang kamu suruh," celetuk Rafa tanpa berpikir panjang. "Hamil? Makcudnya?" Kosa kata hamil dalam otak Keano belum terprogram sempurna. Keano tampak kebingungan dengan satu kata itu. Ayahnya kerap berbicara dengan kosa kata yang sulit ia pahami, dan itu membuat Keano terkadang geleng-geleng kepala sendiri. Adara berdecak, mulut laki-laki yang pernah berstatus sebagai kakak iparnya itu seperti ember bocor. Adara berpikir, otak Keano pasti sudah ternodai dengan celetukan tak bermutu dari Rafael Abraham. "Hamil itu apa Dad?" Rafa mendadak gugup mendengar pertanyaan itu. Ia lupa kalau anaknya gemar bertanya, ia lupa menyaring ucapannya sebelum berbicara. Rafa baru sadar kalau ucapannya tadi benar-benar mengacaukan keadaan. "Hamil itu kalau perut orang itu besar, kayak balon." Rafa menghela napas ketika otaknya mampu memikirkan sebuah jawaban. Mendengar jawaban dari ayahnya, otak Keano seketika tertuju pada pemilik apartemen sebelah. Namanya Pak Ali, usianya sudah mencapai kepala lima, dan perutnya besar seperti balon. Keano langsung menyimpulkan jika Pak Ali tengah hamil. "Oh, kayak Pak Ali ya? Pak Ali lagi hamil? Telus, siapa yang bakal tanggung jawab?" Rafa kembali terdiam, Keano lagi-lagi bertanya. Dan pertanyaan itu membuat Rafa mati kutu. Kenapa anaknya ini pintar sekali membalik pertanyaan? "Ya itu beda. Yang bisa hamil itu cuma perempuan, Sayang. Laki-laki nggak bisa hamil," kata Adara buka suara. "Kalo gitu, Nono sama Daddy nggak bisa hamil, ya Mom?" "Enggaklah, kita bisanya bikin hamil pere ..." Rafa langsung membekap mulutnya, ketika menyadari jika ia melanjutkan ucapannya, bisa-bisa otak putranya itu akan tercemar. "Bikin apa Dad? Nono nggak dengel. Omongan Daddy cama Mommy bikin kepala Nono pucing. Nono sampai lupa kalau beldili telalu lama bikin capek. Nono mau duduk cama makan jeluk dulu. Daddy cama Mommy jelacin apa makcudnya, tenang Nono bakal dengelin. Tapi Nono nggak janji, kalau omongan Daddy cama Mommy bica macuk ke kepala Nono." Dengan gerakan pelan, Keano kembali naik ke atas sofa dan langsung mendudukkan dirinya. Anak itu lantas mengambil satu buah jeruk lalu diberikan pada Adara untuk meminta agar wanita itu mau mengupaskan jeruknya. Setelah jeruknya bersih dari kulit dan serabut putih yang entah apa namanya itu, Keano langsung melahap satu demi satu helai jeruk dengan rakus. Tiada ampun bagi anak satu itu jika sudah menyangkut yang namanya jeruk. "Telusin Mom, Dad, kok diem aja? Mendadak saliawan ya?" Adara terkekeh pelan. Wanita yang usianya sudah melebihi seperempat abad itu semakin gemas dengan tingkah putra tirinya. "Ya enggak lah, gini ya No. Percuma kalau Mommy jelasin sekarang, kamu nggak bakal ngerti, kamu masih terlalu kecil. Tapi Mommy mau ngasih tahu kamu, kalau kamu pengen punya adek, kamu harus nunggu sampai Mommy hamil, nah setelah Mommy hamil, kamu juga harus nunggu sampai sembilan bulan lebih, setelah itu, kamu bisa deh ketemu sama adek bayinya," jelas Adara seraya membenarkan poni anak itu yang tampak berantakan. "Telus, Mommy kapan hamilnya?" Adara tersenyum, perempuan itu melirik ke arah Rafa yang entah mengapa terlihat salah tingkah. "Ya Mommy nggak tahu. Kan yang nentuin itu semua Tuhan, Nono do'a aja, semoga Mommy bisa hamil secepatnya." Jantung Rafa makin berdetak kencang mendengar kalimat terakhir yang Adara ucapkan. Apa perempuan itu tengah memberinya kode? Jika iya, malam ini Adara mengajaknya usaha untuk program bayi gembul, ayo-ayo saja. Rafa sama sekali tidak menolak. Rezeki nomplok gitu. Lagipula mereka sudah halal, tidak ada salahnya melakukan kegiatan itu. Dan untuk yang kedua kalinya, dalam jangka waktu kurang dari lima menit, ketika lirikan mata dari istrinya itu kembali mampir pada dirinya, Rafael Abraham makin yakin jika itu adalah kode keras untuknya malam ini. Tanpa sadar, seulas senyum terpatri membingkai wajah tampan dokter kandungan yang kadang berotak udang itu. TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN