Sore terakhir bulan September diiringi dengan rintik gerimis yang cukup lebat, birunya langit sama sekali tidak terlihat, hanya ada awan gelap yang berkumpul memenuhi setiap sudut langit sore yang wajarnya berwarna jingga ke merah-merahan itu. Angin berhembus kencang, membuat dedaunan bergoyang mengikuti irama sang bayu. Kepulan asap tipis dari mug coklat panas di hadapannya, menemai Adara sore itu. Duduk seorang diri dan hanya ditemani laptop serta satu mug coklat di sebuah kafe ternama, di mana banyak pasang muda-mudi tengah memadu kasih di sana, membuat Adara mau tidak mau merasa iri. Ia iri dengan pasangan muda-mudi yang tengah menjalin kasih dengan canda tawa yang menghangatkan jiwa raga. Andai saja kisah cintanya berjalan sesuai dengan yang Adara harapkan, barangkali saat ini wanita

