Bingung

1139 Kata
Aldi dan keluarga kecilnya sudah berada di sebuah restoran mewah untuk makan malam di sebuah mall besar. Keluarga kecil yang berbahagia malam ini. Selesai makan malam, Zahra membeli beberapa hampers untuk dibawa ke rumah Askara. Ketiganya tiba di rumah Askara, dan sangat membuat si pemilik rumah langsung terkejut dan panik. "Kalian? Kenapa tidak menghubungiku dulu jika akan datang kemari?" sambut Askara dengan pertanyaan. "Kenapa? Bukankah kami terbiasa datang tanpa kabar?" Aldi balik bertanya dengan bingung. "Tidak apa, tunggulah sebentar, aku harus merapikan ruang tengah dari mainan Yoga yang berantakan." sahut Aska dan segera menutup kembali pintu rumahnya, tidak mempersilahkan Aldi dan keluarganya masuk ke dalam rumah. "Ada apa dengannya?" tanya Aldi pada Zahra, namun keduanya sama-sama bingung terhadap sikap Askara. Askara segera berlari ke ruang makan, dimana Yunita dan Yoga juga sedang makan malam. "Aldi, Aldi, Aldi datang." Panik Askara dengan sangat gugup. "APA?!" seru Yunita sangat kaget, Puspa juga langsung panik. "Puspa, cepatlah masuk ke kamarmu dan jangan keluar sebelum mereka pulang." pinta Askara dan Puspa segera mengangguk lalu meninggalkan ruang makan. Yunita segera menggendong Yoga, membawanya berjalan keluar bersama Askara untuk menemui Aldi dan keluarganya. "Hai...." sapa Yunita dengan senyuman lebar dan mencoba bersikap biasa. "Hai kak Yunita, maaf kami datang tidak memberitahu sebelumnya." ucap Zahra. "Tidak apa, maaf ya tadi kami masih makan. Apa kalian sudah makan malam?" sahut Yunita bertanya. "Kami sudah makan sebelum kemari. Apa kami tidak diterima di rumah ini lagi? sedaritadi kami tidak dipersilahkan masuk." sindir Aldi. "Astaga! maaf kak Aldi, maaf." ucap Yunita dengan tidak enak hati. "Masuklah, tidak perlu menyindir seperti itu." lanjut Askara, lalu mereka masuk ke rumah itu dan langsung ke ruang tengah seperti biasanya. "Kak, makan malamnya diselesaikan dulu saja. Yoga biar kami temani sambil bermain dengan Hana." ucap Zahra karena melihat meja di ruang makan masih berisi piring-piring yang terbuka. "Eh, dimana pengasuh Yoga? Kenapa kalian makan sambil mengasuh Yoga?" tanya Aldi dan langsung membuat Askara dan Yunita gugup sehingga hanya tersenyum saja tidak menjawab. "Dia sedang istirahat." sahut Yunita karena Aldi seakan tetap menunggu jawaban dari mereka. "Waah kalian memang majikan yang sangat baik." puji Aldi dan Askara hanya tersenyum sambil menggaruk tengkuknya sendiri, menutupi kegugupannya. "Kami memang ingin quality time dengan Yoga setelah pulang kerja." sahut Yunita lagi memberikan alasan yang lebih masuk akal. "Eh, kemana kamu setelah istirahat siang tadi?" tanya Askara segera mengalihkan pembicaraan. "Aku ada keperluan mendadak tadi, maaf." sahut Aldi namun Askara segera paham dengan wajah merona Zahra yang nampak malu-malu seolah ketahuan berbuat sesuatu. "Woooo! keperluan apa tuh???" goda Aska dengan jahil. "Sudahlah! jangan diperpanjang lagi!" Aldi segera menghentikan keisengan Askara. "Kak, ini oleh-oleh sebagai permintaan maaf kak Aldi karena siang tadi meninggalkan kantor tanpa memberitahu kak Aska." ucap Zahra menyerahkan hampers yang mereka bawa pada Yunita. "Waaaaahhhh sering-sering aja deh pergi tanpa pamit." Askara kembali menjahili Aldi. Keempatnya tertawa bersama mendengar keisengan Askara terhadap Aldi, sedangkan Hana dan Yoga sudah asik bermain di karpet bersama. Askara menemani Aldi dan Zahra mengobrol, sedangkan Yunita membereskan meja makan. "Kak, saya permisi ke toilet ya." ucap Zahra dan Yunita menganggukkan kepala. "Saya juga butuh ke toilet." ucap Aldi lalu mengikuti langkah istrinya. Puspa yang mendengar langkah orang menuju ke toilet yang dekat dengan kamarnya, perlahan mengintip dari gorden jendelanya. Puspa akhirnya melihat Aldi dan Zahra yang bergantian masuk ke dalam toilet. Hati Puspa terasa sangat nyeri melihat Aldi tersenyum sambil mengusap kepala Zahra, saat wanita itu baru keluar dari toilet dan Aldi bergantian masuk ke dalam toilet. Puspa melihat Aldi begitu menyayangi istrinya. Puspa kembali menutup gorden itu rapat, lalu berjalan ke arah tempat tidurnya, airmata tak tertahankan lagi, dia menggenggam erat pakaiannya di bagian d**a, isak tangis yang dia tahanpun akhirnya sedikit terdengar dari luar kamar. "Kak, seperti ada suara orang menangis ya?" tanya Zahra setelah Aldi selesai dari toilet. "Iya, apa pengasuh Yoga sedang menangis di dalam kamarnya?" Aldi juga bertanya bingung. "Apa mungkin dia barusaja dimarahi oleh kak Aska?" Zahra masih berasumsi. "Sudahlah, sebaiknya kita kembali ke dalam saja." ajak Aldi mengakhiri rasa penasaran mereka. Aldi dan Zahra kembali ke ruang tengah, kebetulan Yunita sudah selesai merapikan meja makan dan bergabung di sofa bersama Askara. "Kak, tadi aku mendengar suara wanita menangis dari dalam kamar yang ada di dekat toilet." ucap Zahra. "Eh? menangis? Ah tidak mungkin. Sepertinya itu suara kucing dari dalam kamar pengasuh Yoga." sahut Yunita. "Kucing? di dalam kamar?" tanya Aldi bingung. "Itu kucing milik pengasuh Yoga." sahut Yunita. Aldi menatap pada Askara dan Yunita secara bergantian. Malam ini Askara banyak diam setiap kali membahas tentang pengasuh Yoga. "Ouw iya, siapa nama pengasuh Yoga? dia berasal darimana?" tanya Aldi. "Namanya Upa, Yoga biasanya memanggil begitu. Dia berasal dari kampung halamanku." sahut Yunita dan membuat Yoga langsung menoleh saat mendengar nama Puspa disebut seperti dirinya menyebut Puspa. "Upa, Upa, da Upa." panggil Yoga yang langsung berdiri dan berlari ke arah kamar Puspa, diikuti oleh Yunita. Bugh! Bugh! Bugh! "Upa, Upa, Upa...." panggil Yoga sambil memukul-mukul pintu kamar Puspa. Yunita segera mengangkat tubuh Yoga dan menghentikan putranya memanggil Puspa. "Upa.... Upa...." Yoga terus memanggil Puspa meski sudah kembali dibawa ke ruang tengah. "Dia langsung dekat dengan pengasuh barunya ya?" ucap Aldi. "Iya, pengasuhnya sangat sabar dan baik, juga sayang pada Yoga. Itulah kenapa kami setiap pulang kerja ingin mengasuh Yoga sendiri, supaya Yoga tidak terus menempel padanya, takut sampai besar nanti tidak bisa lepas dengan pengasuhnya." sahut Yunita tetap menutupi semaksimal mungkin. "Waaahhh benar juga pemikiran kak Yunita." ucap Zahra setuju dengan pemikiran Yunita. Yunita hanya tersenyum canggung sambil menoleh pada Askara. "Upa...." Yoga masih saja memanggil Puspa. "Upa sudah tidur, besok ya main sama Upa lagi. Sekarang main sama kak Hana aja ya..." bujuk Yunita pada putranya. Beruntung sekali Yoga langsung tertarik pada mainan yang sedang di pegang oleh Hana, sehingga dia berhenti mencari Puspa. Para orang dewasa itu mengobrol tentang banyak hal, hingga hari semakin malam, Hana dan Yoga juga sudah mulai mengantuk. Aldi dan Zahra akhirnya berpamitan untuk pulang. Yunita dan Askara baru merasa lega ketika mobil Aldi sudah keluar dari halaman rumah mereka. "Hampir saja." ucap Askara dengan lega. "Kak, ayo lihat kak Puspa! tadi kata Zahra terdengar suara tangisan dari dalam kamar kak Puspa." ajak Yunita, tapi Askara menahan langkah Yunita. "Biarkan dulu, besok pagi saja baru kita tanya ke Puspa. Biarkan malam ini dia meluapkan tangisnya dan memiliki ruangnya sendiri." ucap Askara dan Yunita mengangguk setuju, lalu keduanya berjalan masuk ke dalam rumah tapi langsung menuju ke lantai atas. "Kasihan kak Puspa, sepertinya tadi dia melihat kak Aldi dan Zahra saat ke toilet." sahut Yunita. "Iya, mungkin saja seperti itu. Sekarang juga sikap Aldi berubah terhadap Zahra. Aldi sepertinya sudah mulai mencintai dan menerima Zahra sebagai istri seutuhnya. Sekarang mereka juga sudah sering melakukan hubungan suami istri." ucap Askara. "Waaahhh pantas saja wajah Zahra sekarang lebih ceria dan berani menempel manja pada kak Aldi. Lalu bagaimana dengan kak Puspa?" sahut Yunita.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN