Zahra segera melakukan pencarian tentang tempat berlibur yang menyenangkan bagi keluarga kecilnya. Dia sungguh bahagia hari ini, senyum terus merekah, wajahnya juga sering menjadi panas memerah setiap kali teringat indahnya semalam bersama Aldi. Hormonnya langsung menjadi ketagihan akan sentuhan Aldi.
Zahra segera melakukan pemesanan hotel yang terbaik untuk liburan putrinya sekaligus bulan madu dirinya dan Aldi. Zahra juga mulai melakukan pembelian pakaian-pakaian tidur yang terbuka sambil membayangkan dirinya memakai pakaian terbuka itu di hadapan Aldi. Gairahnya seketika muncul kembali, membayangkan tatapan Aldi yang penuh gairah terhadap dirinya.
"Aaarrrgghh! gila! kenapa aku terus memikirkan kejadian semalam?! aku bukan wanita hyper kan? ah! jangan sampai kak Aldi menganggap w************n deh, hanya karena aku ingin memintanya lagi nanti malam! gila otakku ini! m***m sekali aku hari ini!"
Batin Zahra merasa malu sendiri terhadap gairahnya sejak pagi tadi yang membuat pikirannya terus penuh dengan kejadian semalam.
Zahra memutuskan untuk kembali fokus pada penyusunan rencana perjalanan liburan mereka bertiga.
***
Askara memperhatikan Aldi sejak pagi tadi seakan sering kehilangan fokus dan sering menghela napas besar untuk mengembalikan fokusnya pada pekerjaan.
"Ada apa?" tanya Askara.
"Hah? apa?" Aldi balik bertanya dengan kebingungan.
"Ada apa dengan isi kepalamu? kenapa kamu terus menghela napas besar sejak pagi tadi?" tanya Askara lagi.
"Tidak, tidak ada apa-apa." jawab Aldi menutupi hal yang sesungguhnya terus memenuhi otak di kepalanya.
"Aku mulai gila! Seingatku beberapa tahun ini aku tidak pernah menjadi m***m seperti ini! kenapa sejak pagi bayangan tubuh polos Zahra pagi tadi selalu melintas di otakku?! hhuuuufttt!"
batin Aldi dan tanpa sadar kembali menghela napas besar lagi.
"Zahra semalam begitu agresif, dari mana dia belajar dan tahu beberapa macam gaya percintaan itu? aku tidak menyangka bahwa staminanya mampu seimbang denganku. Hhuuuuuffttt!"
Lagi dan lagi Aldi tanpa sadar menghela napas besar.
Askara tidak lagi bertanya dengan mulut, namun tatapannya terus menyelidiki Aldi dengan berbagai pertanyaan tanpa disadari oleh atasan sekaligus sahabatnya itu.
"WHOEY! SADAR!" seru Askara yang sangat mengagetkan Aldi dari lamunannya.
"Apa?! kenapa kamu berteriak?! mengagetkan saja!" omel Aldi kesal.
"Ada apa dengan isi kepalamu hari ini? kenapa kamu sangat tidak fokus? aku perhatikan kamu seperti sedang ada pikiran yang sangat berat, ayolah cerita padaku! siapa tahu aku bisa membantumu." ucap Askara.
"Tidak ada apa-apa! sudahlah! aku butuh istirahat sejenak! kamu kembali ke ruanganmu saja! aku akan memeriksa laporan ini nanti." sahut Aldi dan Askara segera keluar dari ruangan itu tanpa berdebat lagi.
Aldi menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi dan sedikit melonggarkan dasinya, matanya terpejam dan segera bayangan tubuh polos Zahra pagi tadi muncul kembali. Zahra yang polos tanpa pakaian apapun sedang menatapnya dengan tersenyum. Aldi menelan salivanya dengan berat.
"Isilah pikiranmu dengan Zahra."
ucapan Askara kembali teringat di telinganya, membuat Aldi tidak lagi menyangkal atau menolak bayangan Zahra di kepalanya.
Aldi membiarkan dirinya terus bermain dengan bayangan Zahra semalam hingga pagi tadi. Sentuhan-sentuhan dan godaan kulit Zahra yang halus terus terasa nyata di bayangan Aldi saat ini, hingga tanpa sadar dirinya kembali mengeras dan kesakitan karena butuh pelepasan. Aldi segera membuka matanya kembali, melihat ke arah jam dan segera berdiri lalu melangkah meninggalkan ruangannya.
"Aska, aku harus segera pergi. Tolong kamu gantikan aku dalam segala urusan hari ini. Jangan rusak kepercayaanku!" Pamit Aldi yang hanya berdiri di pintu ruangan Askara yang terbuka itu.
Aldi tidak menunggu respon Askara dan langsung melangkah pergi, membuat Askara semakin bingung dengan tingkahnya.
***
"Kak Aldi sudah pulang? Kenapa kak? apa kak Aldi sakit?" tanya Zahra kebingungan karena Aldi mendadak pulang dan langsung melepaskan jas serta dasinya dan membuka kancing atas kemejanya lalu duduk bersandar di sofa ruang tengah rumah itu.
Zahra memeriksa kening Aldi, namun tidaklah demam.
"Kak, ada masalah di kantor?" tanya Zahra lembut penuh perhatian.
Aldi membuka matanya lalu menoleh ke Zahra. Aldi menatap wanita itu dan gairahnya kembali muncul kesakitan di dalam celananya.
"Bagaimana mungkin wanita lembut dan lugu ini ternyata sangat liar di atas tempat tidur?"
Tanya Aldi dalam batinnya.
"Kak...??? Ada apa?" Tanya Zahra semakin bingung karena Aldi hanya menatap dalam diam.
"Dimana Hana?" Tanya Aldi
"Dia barusaja tertidur, mungkin karena efek obat, tapi dia baik-baik saja, kenapa kak?" Jawab Zahra masih dengan bingung.
"Apa kamu masih sibuk? atau akan ada kegiatan di hari ini?" tanya Aldi lagi dan Zahra menggelengkan kepalanya dengan tatapan bingung.
Aldi menghela napas panjang dan membuangnya dengan perlahan, seolah sedang melepaskan sesuatu dalam dirinya.
Aldi lalu berdiri dan menarik tangan Zahra, mengajaknya berjalan ke atas dengan buru-buru menuju ke kamar mereka.
Aldi segera mengurung Zahra di antara pintu kamar dan dirinya, sambil mengunci pintu itu. Zahra kebingungan dengan sikap Aldi, napasnya terengah-engah akibat menaiki tangga dengan buru-buru barusan. Tatapan Aldi membuat napas Zahra semakin naik turun karena ketakutan bercampur kebingungan sekaligus lelah.
"Ada apa kak Aldi?" tanya Zahra dengan hati-hati.
Aldi hanya menundukkan kepalanya menatap pada tubuhnya sendiri yang sudah mengeras dan sakit di balik celananya. Zahra mengikuti tatapan Aldi ke bawah dan menjadi sangat terkejut, namun senyuman segera merekah di wajahnya.
"Aku tidak bisa menahannya lagi. Sejak pagi tadi bayangan kita semalam dan tubuhmu pagi tadi terus membuat otakku gila." ucap Aldi dan semakin membuat hati Zahra berbunga-bunga bahagia.
"Aku juga, kak." jawab Zahra sehingga Aldi kembali menatap ke Zahra.
Tak ada lagi kata-kata dari keduanya, karena bibir mereka sudah menyatu dan saling menuntut sebuah pelepasan. Aldi tidak lagi ragu untuk melepaskan segala gairahnya pada Zahra, begitu juga Zahra yang tidak lagi menahan dirinya dengan malu-malu.
Keduanya terus saling memberi sekaligus meminta segalanya yang mereka butuhkan demi kepuasan batin mereka masing-masing. Entah apa yang terjadi pada Aldi, mungkinkah ini tanda dirinya mulai menerima Zahra atau sekedar kebutuhan batinnya saja yang menuntut untuk dipenuhi. Aldi seakan tidak puas hanya dengan satu pelepasan, dia seakan tak ingin berhenti menikmati tubuh Zahra. Aldi membawa Zahra dari berdiri di belakang pintu, lalu ke tempat tidur dan melanjutkan sesi berikutnya, bahkan Aldi kembali menginginkan Zahra saat wanita itu ingin membersihkan diri di kamar mandi.
Zahra sungguh berterima kasih pada Tuhan karena telah sepenuhnya memberikan pengesahan status sebagai istri secara lahir dan batin. Zahra tidak mengeluh lelah atau menolak Aldi sedetikpun, meski lututnya kini bahkan bergetar saat pelepasan di kamar mandi bersama Aldi.
Aldi lalu memandikan Zahra dengan terus menatapnya lekat, membersihkan tubuh istrinya juga dirinya sendiri lalu mengajaknya kembali ke tempat tidur untuk beristirahat bersama. Zahra tidak ragu lagi langsung masuk ke pelukan hangat tubuh Aldi di dalam selimut. Zahra hanya memakai pakaian tidur tipis dan celana dalam saja, sedangkan Aldi hanya memakai boxer.
"Aku mencintaimu Kak Aldi." bisik Zahra sebelum memejamkan matanya dan terlelap.
Aldi tak menjawab apapun, dirinya memeluk Zahra dan ikut terlelap.
***