Aldi terbangun saat hari sudah larut malam bahkan sudah dini hari. Dia melihat ke arah samping namun Zahra sudah tidak ada di tempat tidur. Aldi segera bangun dan meraih piyamanya lalu berjalan keluar kamar.
Aldi memeriksa kamar Hana, dan menemukan Zahra sedang terlelap di samping putri mereka. Aldi perlahan masuk lalu membangunkan Zahra.
"Kak, kamu sudah bangun. Apa kamu lapar?" tanya Zahra sambil merubah posisinya menjadi duduk.
"Kenapa kamu tidur di sini?" Aldi balik bertanya dan Zahra hanya tersenyum.
"Tadi Hana sempat muntah setelah makan malam, jadi aku menemaninya istirahat di sini sambil memantau kondisi sepanjang malam ini." jawab Zahra.
"Sepertinya Hana sudah terlelap, kembalilah ke kamar dan istirahatlah dengan nyaman. Tempat tidur ini terlalu kecil untuk kalian berdua." ucap Aldi.
Zahra tersenyum menganggukkan kepala, lalu berdiri dan meraih tangan Aldi, menggandengnya keluar dari kamar Hana.
"Aku akan siapkan makan malam buat kak Aldi. Kak Aldi mau makan di kamar atau di ruang makan?" tanya Zahra ketika baru menutup pintu kamar Hana.
"Aku temani kamu di ruang makan saja." jawab Aldi dengan tersenyum, membuat Zahra bagai mendapatkan jackpot saat ini. Hatinya sungguh sangat berlimpah bunga indah, hidupnya bagai langit gelap yang mendapat kembang api yang terang dan sangat indah.
Keduanya terlihat bagai pengantin baru yang sedang dimabuk cinta, turun bersama sambil bergandengan tangan dan wajah yang tersenyum.
Zahra segera menyiapkan makan malam bagi Aldi di dapur, sedangkan Aldi duduk di meja makan yang ada di dapur itu.
"Semua inilah yang seharusnya berjalan di pernikahan kami, semua inilah yang benar. Maafkan aku, Zahra. Kamu sudah selayaknya mendapatkan segala yang terbaik dari diriku sebagai suamimu."
Batin Aldi sambil menatap Zahra yang sedang sibuk.
"Ada yang perlu kubantu?" tanya Aldi.
"Tidak perlu, kak. Sebentar lagi makanan siap. Terima kasih, kak." jawa Zahra sambil menuangkan masakannya ke dalam sebuah mangkok.
Zahra membawa makan malam Aldi ke meja makan, menyiapkan alat makannya sekaligus.
"Selamat makan, kak." ucap Zahra tersenyum lebar.
"Kamu sudah makan?" tanya Aldi sambil mulai menyuap makan malam di hadapannya.
"Sudah, kak. Tadi Hana membangunkan aku ingin ditemani makan malam." jawab Zahra.
"Hana tidak masuk ke dalam kamar kita kan?" tanya Aldi cemas dan membuat Zahra tersenyum lebar melihat ekspresi panik di wajah Aldi.
"Tidak kak, aku yang langsung keluar saat dia mengetuk pintu."sahut Zahra dan Aldi kembali lega.
Zahra menatap Aldi yang sangat menikmati makan malamnya. Senyuman sedari tadi tidak pergi dari wajah Zahra.
"Kak, aku sudah melakukan booking di dua hotel dan tiket masuk di beberapa tempat wisata. Kita akan berlibur sekitar dua minggu lagi, jadi kak Aldi bisa memiliki waktu untuk mempersiapkan kak Aska dalam mengurus perusahaan selama kita pergi berlibur." ucap Zahra dan Aldi mengangguk setuju.
"Kita akan berlibur selama satu minggu, kak. Bagaimana Kak?" lanjut Zahra dan Aldi kembali menganggukkan kepalanya.
"Kamu tidak perlu mengajak mama dan papa, aku ingin kali ini hanya kita bertiga saja." ucap Aldi dan Zahra kini yang mengangguk setuju.
"Bihun udang buatanmu sangat enak, terima kasih ya." puji Aldi dan Zahra semakin bahagia.
Tangan Aldi segera menahan tangan Zahra yang hendak membereskan peralatan makan Aldi.
"Biarkan saja, kamu pasti sudah sangat lelah. Sebaiknya kita kembali beristirahat. Biarkan besok pelayan yang membereskannya." ucap Aldi yang direspon dengan anggukan kepala Zahra, Lalu keduanya kembali berjalan bersama naik ke atas dan masuk ke dalam kamar mereka. Tak ada lagi percakapan, karena keduanya langsung masuk ke dalam selimut dan berpelukan untuk kembali terlelap.
***
Puspa mendadak terbangun dengan sangat terkejut dan hati yang ketakutan atas mimpi buruknya, napasnya tersengal-sengal sangat kelelahan.
Puspa mengusap airmata yang mengalir di pipinya. Dia segera meraih gelas air minum di dekat tempat tidurnya.
"Kenapa mendadak aku bermimpi hal seburuk itu?"
Batin Puspa setelah meneguk segelas air minum untuk menenangkan dirinya.
"Apa terjadi hal buruk terhadap Aldi? Selama ini aku tidak pernah bermimpi tentang Aldi. Mengapa malam ini tiba-tiba aku bermimpi tentangnya? Aldi, sebenarnya kamu akan pergi kemana? Mengapa kamu tidak menoleh lagi meski aku sudah berteriak memanggilmu? Ya Tuhan, firasat buruk apakah ini? Apakah Aldi mengalami kecelakaan? Mengapa Aldi melangkah pergi semakin menjauh ke cahaya terang itu dan meninggalkan aku di kegelapan? Apa maksud dari mimpiku?"
Puspa kembali bertanya banyak hal tentang mimpinya itu.
Puspa tak mampu lagi untuk terlelap, dia akhirnya bangun dan memutuskan mulai melakukan bersih-bersih rumah, meski waktu masih menunjukkan jam empat pagi.
Puspa hampir saja selesai dengan pekerjaan bersih-bersih rumah saat Yunita turun ke lantai bawah.
"Kak Puspa, kenapa pagi sekali bersih-bersih rumahnya? Apa kak Puspa kesulitan tidur?" tanya Yunita.
"Selamat pagi, nona. Tidak apa, saya hanya tidur terlalu awal, jadi terbangun lebih awal juga." jawab Puspa dengan sangat sopan.
"Jangan terlalu lelah ya kak Puspa, kasihan Yoga." ucap Yunita dengan tersenyum lalu lanjut berjalan ke dapur.
Puspa segera menyelesaikan pekerjaannya lalu menyusul ke dapur dan membantu Yunita menyiapkan sarapan bagi keluarga di rumah itu.
"Eko sangat beruntung hidupnya, istrinya sangat sempurna, dia cantik, sukses dalam karir sekaligus masih mau melayani suami dan memperhatikan anaknya dengan semaksimal mungkin. Apakah Aldi juga mendapatkan istri yang baik?"
Batin Puspa sibuk dengan pikirannya sendiri meski tangannya ikut membantu Yunita.
"Kak!" seru Yunita agak keras karena Puspa terlihat melamun setelah dipanggil beberapa kali hanya diam saja.
"Eh, maaf nona, ada apa?" tanya Puspa terkejut, sedangkan Yunita hanya tersenyum.
"Masak jangan ngelamun, kak. Nanti bisa gosong." goda Yunita dengan tersenyum lebar, membuat Puspa tersipu malu.
"Maaf, nona." sahut Puspa menunduk dengan tersenyum malu.
"Mikir apa kak?" tanya Yunita.
"Pak Askara sungguh beruntung bisa memiliki istri sempurna. Tidak sia-sia selama remaja dulu pak Askara sangat pemilih, akhirnya pak Askara bisa mendapatkan yang terbaik." jawab Puspa, membuat Yunita tersenyum lebar.
"Aku yang bersyukur dapat kak Aska. Dia suami yang tidak pernah menuntut apapun, bahkan membebaskan aku untuk tetap berkarier. Kami hanya saling mendukung dan percaya saja, kak." ucap Yunita dan kini Puspa ikut tersenyum.
"Kak, aku boleh tanya?" tanya Yunita dengan hati-hati.
"Silahkan, nona." jawab Puspa.
"Kak Puspa, apa pernah berharap atau punya keinginan untuk bisa bertemu kak Aldi lagi?" tanya Yunita dengan sangat hati-hati.
"Keinginan pernah ada, tapi.... setelah dipikir ulang, tidak ada gunanya bertemu lagi." jawab Puspa sambil tersenyum pahit menahan rasa nyeri di dadanya.
"Kalau seumpama tanpa sengaja kalian bertemu, apa kak Puspa akan mengatakan segala alasan kak Puspa menghilang?" tanya Yunita lagi.
"Tidak, tidak ada yang perlu dijelaskan tentang apapun." jawab Puspa namun kini airmata mulai mengalir di pipinya.
Puspa segera meraih tisue di dekatnya dan menyeka airmatanya.
"Maaf ya kak." sesal Yunita sambil mengusap punggung Puspa dengan lembut.
"Tidak apa, nona." sahut Puspa tersenyum kembali.
"Semua masakan sudah siap, tolong kak Puspa yang menata di meja makan ya, aku mau bangunkan kak Aska." pinta Yunita.
"Baik, nona." sahut Yunita.
"Terima kasih, kak. Saya naik dulu." ucap Yunita lalu pergi meninggalkan dapur. Puspa melanjutkan menata makanan ke meja makan, sekaligus peralatan makan untuk Askara dan Yunita.
***