Yunita membangunkan Askara dari tidurnya, lalu dia mulai bersiap diri juga untuk berangkat ke kantor. Keduanya turun bersama menuju ke meja makan, disana ternyata sudah ada Yoga yang sedang duduk di baby chair dan sarapan diawasi oleh Puspa.
"Puspa, makanlah bersama kami." ajak Askara.
"Tidak pak, terima kasih. Saya nanti makan setelah membersihkan Yoga saja." jawab Puspa dengan menundukkan kepala.
Askara menghela napas panjang, merasa frustasi dengan sikap Puspa yang seakan tidak mau lagi menganggapnya sebagai sahabat lagi. Yunita mengusap punggung Aska dengan lembut sambil tersenyum.
"Biar aku saja." bisik Yunita dan Aska mengangguk setuju pada istrinya.
Yunita mengambil sebuah piring dan sendok garpu dari dapur, lalu meletakkannya di hadapan Puspa.
"Ayo makan, kak. Setelah kami berangkat ke kantor, Yoga pasti tidak akan memberikan waktu untuk kak Puspa sarapan. Lihatlah! anakku ini sudah sangat aktif." ajak Yunita dengan memberi pengertian untuk membujuk Puspa.
"Terima kasih, nona." sahut Puspa dengan tersenyum menganggukkan kepalanya untuk berterima kasih.
"Puspa, istriku ingin kamu tetap di sini meski Sari sudah kembali nantinya. Aku harap kamu bisa menyetujuinya." ucap Askara.
"Maaf, pak. Saya tidak bisa, karena ibu saya seorang diri di kampung. Saya berterima kasih untuk tawarannya." jawab Puspa masih tetap tidak mau mengangkat wajahnya menatap Askara.
"Kamu boleh melupakan Aldi, tapi haruskah persahabatan denganku juga kamu lupakan?" Askara sungguh frustasi dengan segala kesopanan Puspa terhadapnya.
"Maafkan saya, pak. Sekarang anda adalah majikan saya dan juga sudah memiliki istri yang sempurna. Tidak baik jika saya kembali dekat dengan anda meski hanya sebagai seorang sahabat. Saya tidak mau bu Kades berpikir buruk tentang saya." sahut Puspa.
"Kak Aska...." panggil Yunita lalu menggelengkan kepalanya pada sang suami, untuk menghentikan suaminya memberi tekanan pada Puspa. Askara akhirnya berhenti bicara, dan melanjutkan sarapan bersama tanpa percapakan apapun lagi.
Selesai sarapan Askara dan Yunita saling berpamitan, tak lupa mereka juga berpamitan pada Yoga sekaligus Puspa, lalu pergi dengan mobil yang berbeda menuju kantor mereka masing-masing.
****
"Pagi." sapa Aldi pada Askara saat bertemu di lobby gedung.
Askara melihat ada perubahan pada sikap Aldi pagi ini. Tidak biasanya Aldi akan menyapa lebih dahulu pada Askara.
"Apa kemarin terjadi keajaiban?" tanya Askara memperhatikan atasan sekaligus sahabatnya.
"Apa maksudmu?" tanya Aldi, sambil melangkah masuk ke dalam lift berdua dengan Askara.
"Apa Hana sudah mendapatkan donor tulang sumsum? karena sepertinya ada beban yang lepas dari hidupmu." Asumsi Askara mencoba menebak sendiri.
"Belum. Kenapa kamu berkata demikian? Bebanku saat ini justru kamu! Zahra sudah melakukan booking liburan selama seminggu, itu artinya aku harus memastikan kamu benar-benar fokus dan bisa dipercaya selama kami pergi berlibur! itulah bebanku!" Omel Aldi pada sahabatnya itu.
"Wow...! Kapan kalian akan berangkat? Apakah aku perlu membelikan obat penambah stamina untukmu dan Zahra? Siapa tahu Hana bisa punya adik sekaligus donor?" tanya Askara menggoda Aldi.
"Jangan sembarangan bicara! ini kantor! jaga ucapanmu! lagipula siapa yang butuh obat stamina?! staminaku dan Zahra terbukti luar biasa sejak kemarin!" sahut Aldi yang tanpa sengaja membongkar sendiri kejadian kemarin dalam omelannya pada Askara.
"WOOO!!! Kemarin?!" seru Askara terkejut mendengarnya.
"Sssttt!!! kecilkan suaramu!" bentak Aldi melangkah keluar lift dan segera mempercepat langkahnya masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Jadi kemarin kamu ijin pulang awal karena...." ucapan Askara tidak berlanjut dengan kata-kata namun dengan gerakan kedua telunjuknya yang saling bergelut.
Aldi duduk di kursi kerjanya dengan kesal, menatap Askara dengan tajam karena sedikit malu kegilaannya kemarin terbongkar.
"Bukankah kamu yang mengusulkan untuk aku mulai mengisi pikiranku dengan Zahra? Itulah akibatnya! Aku jadi sama gilanya denganmu!" omel Aldi kesal untuk menutupi rasa malunya.
"Bagaimana? stamina Zahra bisa menandingimu? atau justru staminamu yang kalah dari Zahra?" tanya Askara semakin menjahili Aldi.
"Tidak ada yang kalah! Entahlah! aku juga bingung bagaimana bisa Zahra menjadi wanita yang sungguh sangat berbeda saat melakukan semuanya." sahut Aldi.
"Wooo... berbeda apanya?" tanya Askara penasaran.
"Dia bukan wanita lembut dan penurut seperti biasanya." jawab Aldi.
"Maksudmu Zahra suka kekerasan saat melakukannya?" tanya Askara semakin penasaran.
"Tidak..., bukan itu maksudku. Zahra sangat agresif dan berani." sahut Aldi.
"Ooo..., itu sih wajar saja, karena kamu tidak pernah menyentuhnya selama ini. Jadi kehausan dan kelaparan tuh dia. Bukannya itu jadi membuatmu ketagihan?" goda Askara dan Aldi hanya tersenyum lebar, membuat Askara tertawa keras.
"Sudahlah! jangan tertawa terus! Aku jadi malas bicara denganmu!" kesal Aldi.
"Aska, kami akan berangkat berlibur sekitar dua minggu lagi. Tolong kamu siapkan segalanya dan periksa ulang jadwal rapatku, apakah ada yang perlu diubah atau tidak?" ucap Aldi langsung memberi tugas pada Askara.
"Baiklah, aku akan periksa dan siapkan semuanya, supaya kamu bisa menikmati bulan madu kalian." sahut Askara masih lanjut menggoda Aldi.
"Pergilah! kerjakan tugasmu cepat!" usir Aldi supaya sahabatnya itu tidak lagi menjahilinya. Askara masih saja tertawa lebar sambil melangkah keluar.
Aldi kembali menyibukkan dirinya hari ini dengan berbagai pertemuan-pertemuan dan berkas-berkas di atas mejanya, hingga siang hari tiba waktunya istirahat makan siang.
"Aldi, aku ijin makan siang bersama Yunita ya?" pamit Askara saat masuk ke ruang kerja Aldi.
"Baiklah, jangan terlambat kembali ke kantor!" sahut Aldi dan Askara hanya mengacungkan jempolnya.
"Eh, kamu tidak makan siang dengan Zahra?" tanya Askara.
"Tidak, aku makan pesan antar aja." sahut Aldi.
"Hei! apa kamu jadi takut pulang karena Zahra menjadi agreasif?" goda Askara, dan langsung menghilang sebelum Aldi melemparkan bolpoint ke arahnya.
"Dasar gila!" rutuk Aldi pada sahabatnya yang sudah menghilang itu.
Aldi kembali memikirkan ucapan Askara barusan, dan tanpa menunggu lama, dia langsung berjalan keluar dari ruangannya dan menuju parkiran mobil.
***
"Kak Aldi pulang awal lagi?" tanya Zahra pada dirinya sendiri saat melihat mobil Aldi memasuki gerbang rumah mereka.
Zahra segera tersenyum lebar, teringat akan siang hari kemarin, Aldi pulang awal karena merindukan permainan suami istri mereka.
"Astaga! aku harus bersiap-siap." ucap Zahra lalu berlari ke kamar sebelum mobil Aldi berhenti di depan rumah.
"Zahra..., Hana...." seru Aldi memanggil istri dan anaknya.
"Kak, ada apa?" tanya Zahra yang kembali melangkah turun di tangga.
"Dimana Hana?" tanya Aldi.
"Hana sedang bermain di kamarnya, ada apa kak?" sahut Zahra kembali bertanya.
"Apa kalian sudah makan siang? aku lapar." ucap Aldi. Zahra kembali mendapat kejutan, karena siang ini Aldi memilih makan siang di rumah bersamanya.
"Ayo kak! aku temani makan siang. Aku juga belum makan siang." ajak Zahra sambil memeluk lengan kiri Aldi dengan manja.
Zahra menyiapkan makanan ke piring Aldi dan juga baginya sendiri. Lalu keduanya makan siang bersama.
"Kak Aldi setelah ini akan kembali ke kantor lagi atau...." Zahra ragu melanjutkan kalimat tanyannya.
"Zahra, boleh aku tanya?" tanya Aldi dan istrinya menganggukkan kepala.
"Darimana kamu bisa menguasai berbagai gaya hubungan suami istri? bukankah selama ini aku... tidak..." kalimat Aldi juga tidak terselesaikan.
"Kak Aldi mau tahu?" Zahra balik bertanya dan Aldi menganggukkan kepala, membuat Zahra tersenyum penuh rahasia.
Selesai makan siang keduanya naik ke lantai atas menuju kamar mereka. Zahra masuk ke ruang lemari pakaian, lalu membuka sebuah lemari dan mengambil sesuatu dari dalamnya. Zahra kembali ke kamar dimana Aldi sudah duduk di sofa yang ada di dekat balkon.
"Kak, semua pelajarannya ada di dalam sini." ucap Zahra sambil menyerahkan sebuah kotak pada Aldi. Aldi menerimanya dengan pertanyaan di kepalanya mengenai isi kotak itu.
Aldi terkejut ketika membuka kotak itu dan melihat isinya. Beberapa alat main wanita dewasa dan sebuah flashdisk. Aldi mengambil Flashdisk itu dan bertanya pada Zahra lewat kode tatapan matanya. Zahra lalu mengambil flashdisk itu dan mencoloknya ke laptop pribadinya. Seolah sudah bisa menebak isi flashdisk itu, Aldi tidak terkejut dengan file-file video yang disimpan di dalamnya. Zahra membuka sebuah video itu dan benar adegan yang ada di dalamnya sesuai dengan tebakan pikiran Aldi.
"Darimana kamu mendapatkannya?" tanya Aldi.
"Maaf, kak. Aku membelinya online. Aku kangen sama malam pertama kita, kak. Tapi aku tidak tahu bagaimana lagi harus memintanya sama kak Aldi." sesal Zahra menundukkan kepala, takut dengan reaksi Aldi.