Selamat Datang Di Hari Burukmu, Tuan Roni

1731 Kata
"Kamu terlambat dua menit, Roni. Jika aku jahat, aku benar-benar akan melupakan perjanjian kita." Roni yang mendengar ini segera menghentikan langkah kakinya, kemudian berbalik ke belakang dan melihat wanita dengan long dress berwarna merah yang memilki bagian sedikit terbuka di paha kanannya. Rambut panjang lurus berwarna hitam serta tatto bunga mawar di pundaknya benar-benar menambah kesan seksi di wanita itu. Namun, apakah Roni mempedulikan itu? Tidak. Roni tidak pernah tertarik dengan wanita manapun, dia juga tidak pernah tertarik untuk jatuh cinta. Yang dia suka hanya uang. Tetapi, bukan berarti bahwa Roni adalah seorang homoseksual, dia masih pria normal. Hanya saja tidak semua wanita bisa menarik perhatiannya. Roni tersenyum tipis. "Astaga, Diandra! Kamu semakin cantik!" Puji Roni, kemudian mengedipkan matanya sebelah. "Berhenti bicara yang tidak perlu, Roni. Sebanyak apa pun kamu memujiku, aku tetap masih marah karena kamu terlambat dua menit," Balas Diandra ketus. Roni tertawa pelan. "Oh...ayolah, hanya dua menit." "Kamu tidak tahu perjuanganku untuk meminta izin kepada suamiku? Orang tua bau tanah itu sangat posesif," Jawab Diandra, kemudian dia mengambil bungkus rokok dari tas kecilnya, kemudian menawarkan satu batang rokok ke arah Roni, namun Roni menggeleng dan menolak halus. "Yang terpenting adalah dia kaya, bukan?" Tanya Roni, kemudian tertawa. Diandra tersenyum tipis. "Dia lebih kaya dari penghasilan menulis murahanmu, Ron. Itu sebabnya aku memilih dia dari pada kamu." Roni menaikkan alis kirinya, kemudian menjawab,"Jika kamu memilihku pun, aku tidak memilihmu." Diandra tidak menjawab, dia hanya tersenyum tipis dan menggelengkan kepala. Diandra mengambil langkah maju menuju lift, kemudian berkata,"Aku sudah mengatur jam pertemuan dengan salah satu kerabatku, dia adalah orang penting Devalga." Roni mengangguk puas. "Terimakasih." "Hanya itu?" Diandra melirik Roni. Roni mengerutkan keningnya. "Lalu apa?" Suasana menjadi hening sebentar, namun kemudian Roni menimpal,"Ah...ya, tentu saja. Bayarannya akan aku transfer ke rekeningmu." Diandra tidak menjawab, wanita itu hanya menghela napas. Devalga adalah salah satu gangster mafia yang kini tengah membuat seluruh Indonesia repot. Ketuanya adalah orang Amerika yang memilki identitas tersembunyi. Kemudian dikabarkan wakil ketua Devalga adalah orang Jepang asli yang memilki hubungan dengan Mafia terkenal di Negara-nya bernama Yakuza. Hal lainnya adalah, Kasino yang dia datangi sekarang adalah milik mereka. Diandra adalah langganan mereka di sini. Roni akui, hidup Diandra terlihat ngeri, namun wanita itu sepertinya sudah biasa. Suami Diandra adalah pria berumur delapan puluh tahun dengan kekayaan seantero jagat raya. Pertama kali mereka bertemu tentu saja di Kasino ini. Berawal dari keisengan Diandra, pria tua itu menjadi tertarik. Awalnya mereka hanya berstatus "Sugar Daddy" dan "Sugar Baby", namun...siapa sangka pria tua itu berani melamar? Karena kaya, tentu saja Diandra terima. Lagi pula, pria tua itu tidak memilki anak dan Istri. Pintu lift tertutup begitu Diandra memencet salah satu tombol lift, kemudian jari lentik wanita cantik itu beralih menelan tombol nomor tiga. Setelah menunggu beberapa detik, lift telah sampai dan pintu lift kembali terbuka. Diandra dan Roni segera berjalan keluar. Diandra memimpin jalan, sedang Roni mengikutinya dari belakang sembari mulai mempersiapkan buku catatan serta pena-nya. Diandra melirik Roni dengan ekor matanya sembari terus berjalan, kemudian berkata,"Masih memakai buku dan pena? Ini sudah tahun berapa, Roni?" Roni tersenyum tipis. "Aku penulis, tentu harus menulis. Jika mengetik, berarti aku pengetik. Sudahlah, pembicaraan ini tidak penting. Yang terpenting adalah aku nyaman saat menulis dan mencatat semua jawaban wawancara nanti." Diandra tidak menjawab, dia segera berbelok ke kanan saat pertigaan koridor terlihat. Mereka berdua melewati beberapa pintu, masing-masing pintu mengeluarkan suara wanita aneh. "Sepertinya semua orang yang ada di sini sangat b*******h," Ujar Roni, kemudian ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa dia tidak nyaman. "Welcome to my world, Roni. Di sini kamu bisa bersenang-senang tanpa memikirkan pendapat orang lain," Jawab Diandra. Roni tertawa pelan. "No, thank you, Diandra. I'm comfortable with my world." "Kamu bisa mencobanya lain kali," Balas Diandra, kemudian dia segera berhenti di depan pintu besar yang lumayan mewah. Tangan Diandra membuka pintu tersebut, kemudian pemandangan orang-orang yang berteriak senang dan frustasi Roni lihat. "As!!! Bayar sepuluh juta-mu!" "Astaga! Bagaimana bisa kau kalah?!" "Lihatlah! Kita rugi banyak!" "Kawan, setelah ini kita bersenang-senang dulu, bagaimana?" Dan berbagai macam obrolan serta teriakan bahagia atau frustasi lainnya. Roni tidak peduli, dia hanya menegakkan badannya dan berjalan masuk. Tatapan matanya menyapu seluruh pojok ruangan. Diandra mengajaknya menuju salah satu pria dengan Jaz putih dengan wanita seksi di sebelah kanan dan kirinya. "Axel, dia adalah pria yang aku ceritakan kemarin malam," Ucap Diandra, kemudian menoleh ke arahnya dan melempar kode agar dirinya segera berjalan sedikit maju. Roni tersenyum, kemudian berjalan maju dan mengulurkan tangan kanannya ke arah Axel. "Roni." Axel mengangguk, kemudian membalas jabatan tangan Roni. "Axel." "Silahkan duduk," Axel mempersilahkan Roni untuk duduk di sofa empuk sebelah sofa yang pria itu duduki. Roni mengangguk sopan lagi, kemudian berjalan duduk. "Minum?" Tanya Axel. Roni menggeleng pelan. "Terimakasih, tetapi aku tidak minum." Axel tertegun sejenak, kemudian tertawa pelan. "Kamu akan suka ketika mencobanya." Roni menggeleng lagi. "Jika aku minum, bagaimana caranya aku bekerja?" Diandra yang mendengar ini segera melemparkan tatapan tajam ke arah Roni. Apakah Roni bodoh? Pria yang ada di depannya adalah ketua Devalga! Roni tahu arti tatapan Diandra, namun dia hanya diam. Toh, bukankah dia hanya menjawab jujur? Apa salah? Tidak bukan? Axel menyeringai, kemudian mendorong kencang kedua wanita yang ada di rangkulan tangannya hingga tersungkur ke lantai. Roni tidak berbicara apa pun, matanya hanya melirik kasihan ke arah kedua wanita tersebut. Pasti sakit, bukan? Axel menegakkan pose duduknya, kemudian menatap Roni serius. "Baiklah, berhenti basa-basi. Apa yang ingin kamu tanyakan?" Saat Roni hendak membuka mulutnya untuk bicara, tiba-tiba Axel kembali bicara,"Waktu kamu terbatas, hanya dua puluh menit." Roni mengangguk paham. "Baik." Roni mulai mengajukan pertanyaan yang sudah dia siapkan, kemudian mencatat semuanya. Saat hendak menanyakan pertanyaan terakhir, tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Seluruh orang segera menoleh ke arah pintu dengan cepat, salah satu dari mereka bertanya,"Ada apa?!" "Polisi!" Jawab orang yang tadi membuka pintu dengan sangat kencang. Seluruh orang segera berdiri panik, kemudian mengamankan uang mereka. Satu persatu berlari kabur, membuat ruangan yang tadi sangat sepi, kini menjadi hening. Roni mengerutkan keningnya saat melihat Axel dan Diandra tidak bergerak sama sekali dari tempat duduk mereka. Tak lama kemudian, suara tegas dari luar terdengar. "Angkat tangan kalian! Cepat tiarap! Tempat ini sudah kami kepung!" Axel tersenyum tipis, kemudian berdiri dan berjalan menuju pintu samping ruangan. Diandra mengikuti Axel dari belakang, otomatis Roni juga ikut. Saat mereka sudah berada di ruangan yang berbeda dengan sebelumnya, Axel segera memencet tombol samar yang ada di dinding ruangan, kemudian atas atap terbuka dan sebuah tangga besi turun. Axel dan Diandra segera naik, kemudian Roni menyusul. Saat sampai di atas, Roni terkejut ketika melihat helikopter besar berwarna putih terparkir di sini. Axel dan Diandra naik ke atas helikopter, Roni masih diam dan memperhatikan mereka. Diandra menoleh ke belakang dengan kedua sudut alis menyatu. "Apa yang kamu lakukan? Mengapa diam saja? Ingin tertangkap?" Roni mengerutkan keningnya. "Tertangkap? Aku hanya penulis." Axel tersenyum tipis. "Siapa yang akan percaya? Lebih baik kamu segera naik." Roni yang mendengar ini segera berjalan maju dan naik ke dalam helikopter. Dia ikut naik bukan karena takut ditangkap, namun tiba-tiba dia teringat bahwa dia bisa lebih dalam lagi mencatat data-data dunia gelap jika ikut bersama mereka. Roni tersenyum tipis. "Bisa jelaskan tentang transaksi n*****a apa saja yang sudah Devalga lakukan? Dan lagi, jika kalian pernah melakukan penjualan manusia, tolong ceritakan," Pinta Roni dengan terus terang namun sopan. Saat helikopter mulai terbang ke udara, polisi-polisi dengan seragam lengkap baru muncul dan berteriak,"Hei! Berhenti!" Diandra menggeleng pelan saat mendengar permintaan Roni, kemudian menjawab,"Kamu akan melihatnya sendiri, Ron. Ah...ya, maaf." Roni yang mendengar Diandra meminta maaf mengerutkan keningnya. "Maaf?" Diandra mengangguk. "Ya." "Karena?" Tanya Roni dengan kedua alis menyatu. "Aku mengambil KTP-mu saat menuju ke lantai tiga di lift," Jawab Diandra. "Astaga! Bagaimana mungkin aku tidak sadar? Lalu, di mana KTP-ku sekarang?" Tanya Roni, raut wajahnya terkejut dan sedikit kesal. Diandra menghela napas. "Justru itu aku meminta maaf. KTP-mu sudah aku lempar ke bawah, mungkin sekarang sudah ada di tangan polisi." Roni mengerutkan keningnya, wajahnya berubah suram. "Diandra, kau gila? Untuk apa?" "Kita harus melindungi identitas asli Axel, Ron. Jadi, agar Axel tak terendus, aku harus membuat polisi sibuk mencarimu," Balas Diandra. Roni memijit pelipis kepalanya. "Aku jadi buron?" "Sepertinya, iya," Jawab Diandra. "Selamat datang di hari-hari burukmu, Tuan Roni. Terimakasih karena sudah menolongku," Ujar Axel, kemudian dia menepuk pundak Roni pelan dengan senyum tipis yang menurut Roni menyebalkan. "Bagaimana dengan KTP-ku, Diandra?" tanya Roni dengan kedua sudut alisnya yang menyatu kesal. Setelah sampai di markas kedua Devalga, Roni, Diandra, dan Axel segera turun dari helikopter. Setelah turun, Roni segera bertanya mengenai KTP-nya. "Ada di tangan polisi, apa lagi, Ron?" jawab Diandra santai. Roni berdecak kesal. "Ck, aku tahu soal itu! Maksudku nasib KTP milikku, itu adalah kartu penting." Diandra menepuk pundak Roni pelan. "Tidak perlu terlalu khawatir, Ron. Salah satu pesuruh Alex akan diam-diam mengambil KTP-mu kembali." Roni memutar bola matanya jengah. "Tetapi dataku sudah diambil." Axel yang mendengar Roni terus mengeluh segera berkata,"Anda tidak perlu khawatir, Tuan Roni. KTP anda akan segera kembali, soal data anda yang diambil polisi, anda juga tidak perlu khawatir. Karena anda telah menyelamatkanku, sebagai gantinya Devalga juga akan menjagamu." Roni tidak bisa berkata apa-apa lagi, ekspresi wajahnya sudah suram. Dia menemui Axel untuk wawancara novel-nya, bukan menjadi tumbal mereka kemudian buron. Tetapi setelah itu, tiba-tiba terbesit ide yang tadi sempat Roni pikirkan. Segera raut wajah suramnya hilang. Roni tersenyum tipis, kemudian menatap Axel. "Menjagaku dari endusan polisi adalah tugas wajib Devalga karena saya telah menyelamatkan anda, Tuan Axel. Saya butuh kompensasi, jika menjaga saya adalah kompensasi yang anda berikan, itu tidak cukup. Aku menjadi buronan dan dataku diambil pihak kepolisian, bagaimana itu cukup?" Axel mengangguk mengerti. "Kalau begitu, berapa miliyar yang anda mau, Tuan Roni?" Roni menggeleng pelan. "Saya tidak butuh uang, saya mau hal lain." Axel mengangguk lagi. "Katakan." "Bawa saya ke markas utama Devalga, saya ingin melihat aktivitas kalian," pinta Roni. Diandra yang mendengar ini menaikkan alis kirinya. "Apa yang ingin kamu lakukan, Roni?" "Riset untuk novelku, apa lagi?" jawab Roni santai. "Bukankah pertanyaan yang kamu ajukan kepada Tuan Axel tadi di kasino sudah cukup?" tanya Diandra heran. "Tidak masalah, Diandra," ujar Axel tiba-tiba, kemudian matanya melirik Roni. "Anda bebas melihat dan mencari tahu apa pun." Diandra yang mendengar Axel memberi izin mengerutkan keningnya tidak setuju. "Tetapi Tuan Axel, itu termasuk privasi, benar?" Axel mengangkat bahunya acuh dan berjalan pergi meninggalkan mereka berdua sambil berkata,"Sebelum meminta Tuan Roni sudah tahu risikonya jika menyebar 'kan? Dan lagi, ini adalah kompensasi yang setara dengan anda menyelamatkan nyawa saya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN