Sahabat Baik

1196 Kata
Roni melempar seluruh pakaian yang dia gunakan ke atas ranjang yang memiliki ukuran big size, kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Hari ini adalah hari yang paling berat, gila, dan mengejutkan untuknya, tetapi Roni menyukainya. Axel meminjamkan salah satu kamar yang ada di markas kedua Devalga, tentu saja dengan kualitas pelayanan seperti hotel bintang lima. Membuat Roni tidak memiliki alasan lain untuk menolak niat baik Axel, bukan? Setelah selesai mandi, Roni segera berjalan keluar menggunakan handuk yang dia lilit di pinggang. Roni membuka matanya lebar kala melihat dua wanita dengan tubuh molek tengah berbaring di atas ranjangnya, pria itu kemudian mengerutkan keningnya bingung dengan secercah tatapan tidak senang. Matanya menatap kedua wanita itu seolah berkata,"Kau menggangguku." "Siapa yang mengirim kalian berdua kemari?" tanya Roni yang masih bertelanjang d**a, rambutnya basah, membuat tetesan air berjatuhan ke lantai. Kedua wanita itu segera saling tatap, kemudian mereka kembali menatap Roni. Salah satu dari mereka menjawab,"Tuan Axel meminta kami un-" Belum selesai wanita itu bicara, Roni sudah memotong cepat,"Keluar." "Hah? Maaf...?" jawab wanita satunya yang memakai kalung dengan liontin bulan sabit. Roni menaikkan alis kirinya. "Keluar." "Tetapi kami diperintahkan untuk menemani malam anda. Tuan Axel sudah berbaik hati untuk membuat anda nyaman." Roni yang mendengar ini mengangkat bahunya acuh. "Aku sudah cukup nyaman sekarang, maka dari itu aku tidak mau kelewat nyaman dengan merepotkan kalian berdua. Jadi, tolong keluar. Aku masih memiliki pekerjaan lain." "Anda serius?" tanya wanita yang tadi pertama kali bertanya. Wanita itu tersenyum manis ke arah Roni, tatapan matanya sangat menggoda. Roni membalas senyum manis serta tatapan menggoda wanita itu, kemudian berkata,"Hei, nona. Uangku lebih menggoda dari pada tubuhmu. Jadi, tolong keluar." Wanita yang memakai kalung liontin bulan sabit menatap kesal ke arah Roni, wajahnya menjadi merah padam. Dengan ketus dia membalas,"Tidak sopan!" Roni yang mendengar ini terkekeh, kemudian membalas juga,"Bagaimana dengan kalian berdua? Menerobos kamar pria perjaka di malam hari tanpa izin, apakah sopan?" Mereka bertiga terlibat perdebatan kecil, kemudian pada akhirnya kedua wanita itu berhasil Roni usir. Ketika Roni menutup pintu di depan wajah mereka, salah satu dari mereka berkata,"Pria itu mengusir kita?! Apakah dia gila?! Atau dia seorang gay?!" Roni yang tentunya masih dapat mendengar ucapan itu hanya memutar bola matanya malas, kemudian mengambil baju santai yang sudah diberikan Axel, lalu membuka ponsel dan mengeklik aplikasi catatan setelah itu mulai menulis. Karena dia tidak membawa laptop, malam ini terpaksa harus menulis di ponsel. Ini bukan masalah, pertama kali menulis cerita juga Roni memulainya di ponsel. Roni terus menulis sesuai dengan info yang sudah dia catat dan dapatkan dari wawancaranya dengan Axel. Roni terkadang termenung sejenak untuk memikirkan alurnya, apakah benar seperti ini atau sebaiknya seperti itu? Tak jarang pria itu menghapus kembali ketikannya, kemudian mengetik kata atau kalimat baru yang lebih enak dibaca. Sekeras mungkin pria itu memberikan awalan cerita yang baik dan berkesan untuk para calon pembaca nanti. Roni terus menulis, memutar otak untuk menemukan ide luar biasa. Sesekali pria itu berdiri dari kasurnya dan berjalan ke jendela, menatap pemandangan langit yang gelap. Kejadian yang di luar akal serta prediksinya barusan telah berlalu, hari esok akan datang dan entah hari tidak tenang apa yang telah menunggu Roni. Di tengah-tengah termenungnya, Roni tiba-tiba memiliki ide baru. Mulut pria itu menyeringai tipis sembari kepalanya mengangguk-angguk kecil. "Untuk apa menulis kisah orang lain jika kisah sendiri bisa ditulis?" gumam Roni, kemudian kembali berjalan cepat menuju kasurnya dan menyalakan ponselnya kembali. Roni kembali menulis dengan fokus, kedua ibu jari pria itu aktif bergerak lincah mengetik keyboard yang ada di ponselnya. Tatapan pria itu terlihat sangat serius, sesekali dia juga kembali menyeringai tipis. "Kamu jenius, Roni," pujinya sendiri di dalam hati. Sampai jam satu pagi, Roni mulai merasa lelah. Pria itu segera mematikan ponsel dan menaruhnya di atas nakas samping tempat tidur, kemudian mematikan lampu dan mulai tidur. Di pagi hari sekitar jam tujuh, Roni terpaksa terbangun karena mendengar dering panggilan ponsel. Awalnya dia menghiraukan panggilan itu, tetapi si penelepon tidak mau menyerah! Baiklah, Roni mengalah! Jika panggilan ini tidak penting dia benar-benar akan memblokir nomor si penelepon, karena orang itu mengganggu benar-benar mengganggu. "Hallo, sela-" "Selamat pagi, Tuan Roni! Apakah tidurmu nyenyak? Di mana kau sekarang? Hei, kau melupakan jadwal bersih-bersihmu hari ini?!" suara setengah marah yang memotong sapaan formal Roni langsung membuat Roni terdiam. Ah... Sagli, dia lupa untuk memberi kabar kepada Sagli. "Hei, teman, ini masih pagi. Setidaknya kau menanyakan kabarku? Urusan bersih-bersih kau bisa sewa orang 'kan?" jawab Roni santai masih dengan nyawa setengah terkumpul karena baru bangun tidur. "Baik, kalau begitu bagaimana kabarmu, Tuan Roni? Astaga, jangan bilang sekarang kau tidak lagi perjaka? Roni, kau m******t ludahmu sendiri. Saat itu kau mengatakan s*x di luar hubungan pernikahan adalah ilegal dan apalah, namun sekarang kau melakukannya, kawan," balas Sagli langsung. "Sagli, kau benar-benar menyebalkan pagi ini. Karena aku pria sopan, maka aku akan menjawab pertanyaanmu. Pertama, kabarku buruk, seburuk caramu bicara. Kedua, aku masih perjaka," ujar Roni, sembari meregangkan otot-otot lehernya dengan mata terpejam. Di seberang sana, Sagli terdengar terdiam. Namun kemudian suara pria itu kembali muncul dan bertanya,"Buruk? Apa yang terjadi? Kau ketahuan menjadi Penulis bayangan seseorang yang rata-rata bukunya masuk ke dalam rak best seller? Di mana kau sekarang? Kantor polisi?" "Tidak, bahkan lebih buruk dari itu," jawab Roni dengan kedua sudut alis yang bertaut. "Apa?" tanya Sagli dengan nada bicara yang terdengar tajam dan menyelidik, seperti siap membentak jika Roni Macam-macam. Sagli memang sangat mirip ibu-ibu, namun mau bagaimanapun juga Sagli adalah sahabat terbaiknya. Roni menghela napas sebentar, kemudian mulai menceritakan semuanya kepada Sagli. Selesai Roni menceritakan semuanya, tidak ada suara apa pun dari Sagli. Hening. "Hei, bicaralah. Kau puluhan kali menyeramkan jika hanya diam seperti ini," kata Roni sembari memutar kedua bola matanya jengah. "Kau sudah gila, Roni," ucap Sagli. Roni menghela napas lagi sambil kembali berbaring di atas kasur. "Kau sudah mengatakan itu di hari lusa dan kemarin pagi," balas Roni. "Bukankah sudah aku katakan kemarin pagi? Bahwa jika kamu sudah masuk ke dunia gelap berandalan itu, maka sulit untukmu keluar!" "Kau ceroboh, Roni. Bagaimana jika keluargamu tahu tentang ini? Dan lagi, yang akan dirugikan bukan hanya dirimu, tetapi keluargamu dan termasuk aku yang notabennya adalah teman serumahmu. Bagaimana jika polisi datang dan menyandera kami untuk mengatakan keberadaanmu?" "Astaga! Bagaimana bisa aku memiliki teman semerepotkanmu?!" Roni mulai merasa malas mendengar ocehan Sagli, oleh karena itu ketika Sagli berkata demikian Roni langsung membalas dengan nada meledek,"Astaga! Bagaimana bisa aku mempunyai teman seberisik kau?!" "Aku saat ini sungguhan marah, Ron. Situasinya tidak lucu. Aku tidak peduli padamu tetapi bagaimana dengan nasibku? Aku menjadi repot karenamu," ujar Sagli ketus, membuat Roni terkekeh. "Tidak perlu khawatir, sobat. Devalga akan memastikan kita semua aman. Jika Polisi datang, kamu cukup menerima mereka dengan baik dan bertingkah seolah tidak mengetahui apa pun tentang kabarku. Lagi pula wajahmu juga cukup tampan untuk meluluhkan hati para Polwan." "Berhenti bergurau," balas Sagli, kemudian terdengar pria itu menghela napas gusar. Roni kembali terkekeh, kemudian berkata,"Jika aku katakan semua baik-baik saja, maka akan baik-baik saja. Keselamatan nyawaku ada di tanganmu, Sagli. Aku harap kau memang benar sahabat sejatiku, bukan fake friend. Terimakasih, setelah masalah ini berlalu dan pekerjaanku selesai, aku akan mentraktirmu semangkuk bakso." Kemudian sambungan telepon berakhir setelah dua sampai tiga kalimat yang sudah termasuk protes Sagli selesai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN