"Anda diminta Tuan Axel untuk segera pergi ke ruang makan, beliau mengundang anda." Pria dengan setelan jaz hitam serta gaya rambut slicked back bicara kepada Roni. Roni mengangguk sembari memasang jam tangan di tangan kirinya dan menjawab,"Terimakasih, aku akan segera ke ruang makan. Ah... tunggu, jangan langsung pergi. Aku belum hapal seluk-beluk tempat ini, jadi maaf aku harus merepotkanmu sedikit." Pria itu balas mengangguk. "Bukan masalah, saya akan menunggu di luar."
Roni sekali lagi mengangguk seraya melempar senyum ramah ke arah pria itu, kemudian dia kembali fokus menatap bayangan dirinya di cermin. Sesekali Roni merapihkan rambutnya, setelah dirasa siap dia langsung berjalan keluar.
Roni berjalan di belakang pria dengan setelan jaz hitam tadi, mengikuti langkah pria itu dengan santai sembari melihat ke sana dan kemari. Mata Roni memperhatikan seluruh detail ruangan yang dia lalui, hingga tak terasa sekarang dia sudah sampai di ruang makan.
"Apa tidurmu nyenyak, Tuan Roni?" tanya Axel dengan bahasa Inggris. Roni menatap Axel, kemudian tersenyum dan mengangguk. "Tentu, semua berkat anda. Terimakasih banyak karena sudah bersedia memberikan tempat untuk saya."
Axel turut mengangguk pelan dengan senyum tipisnya, kemudian tangannya menunjuk kursi yang berada tak jauh darinya. "Silahkan duduk, kita sarapan bersama."
Roni lagi-lagi mengangguk dan mengucapkan terimakasih. Mereka sarapan bersama, seluruh bawahan Axel berada tepat di belakang mereka dengan tubuh tegak dan tak bergerak, seperti patung.
"Boleh saya menanyakan sesuatu?" tanya Roni, pria itu menaruh garpu dan pisau makannya sebentar. Axel menjawab sambil memasukkan daging steak ke mulutnya. "Tentu."
"Siapa Anashtasia?" nada bertanya Roni sedikit berhati-hati. Dan benar saja, seluruh orang yang ada di ruang makan menegang dan menatap Roni tajam, sedangkan Axel masih diam dan dengan santai mengunyah sarapannya.
"Anda mendengar nama itu di mana?" tanya Axel. Roni mengangkat bahunya sedikit, senyum tipis muncul di bibirnya. "Keahlianku adalah melakukan riset mendalam, saat sedang mencari informasi tentang Devalga saya menemukan nama Anashtasia."
"Anashtasia adalah adik dari Tuan Axel, dia meninggal dua tahun lalu," suara Diandra tiba-tiba muncul, membuat semua orang menoleh ke arah pintu. Roni yang mendengar ini mengangguk mengerti, dirinya ingin bertanya lebih banyak lagi, tetapi entah kenapa hatinya merasa hal ini lebih baik tidak dibahas sekarang.
"Ini untukmu." Diandra melemparkan amplop cokelat besar ke arah Roni, kemudian berjalan ke belakang Axel dan mematung di sana seperti yang lain.
Roni mengerutkan keningnya, kemudian membuka amplop cokelat tersebut dan mengeluarkan isinya. "KTP? Tunggu, ini bukan KTP dengan identitasku." Kemudian mata Roni menatap Diandra, menuntut penjelasan.
"Tapi wajahnya sama, kan?" jawab Diandra santai, alis kiri wanita itu naik sedikit. Roni menghela napas gusar. "Kau mencoba membuat identitas baru untukku?"
Diandra yang mendengar ini mengangguk. "Ya, kurasa itu adalah hal yang benar, Tuan Axel juga setuju. Kami memang berjanji untuk mengambil KTP-mu kembali dari tangan Polisi, namun itu adalah hal yang sangat sia-sia. Datamu saat ini pasti sudah diambil dan mulai dilacak."
Roni tidak langsung menjawab, pria itu memasukkan kembali KTP serta surat-surat identitas penting yang baru ke dalam amplop cokelat itu kembali. Kemudian Roni menatap Diandra dan Axel lalu mengangguk. "Terimakasih, maaf sudah merepotkan."
Axel tersenyum. "Bukan masalah, ini adalah balasan yang baik untuk perbuatan yang baik. Devalga tidak mau memiliki hutang dengan siapapun."
"Aku tidak pernah memiliki niat untuk menolongmu, itu terpaksa karena memang keadaan yang memaksa. Diandra adalah pelaku utama dari kesialan ini," batin Roni di dalam hati, hatinya tidak pernah berhenti untuk memaki dua orang di depannya. Benar-benar s**l, apa saat kecil dia kurang berbakti kepada orang tua sehingga nasibnya menjadi seperti ini?
"Tuan Axel!" suara baru datang dan membuat orang kembali menoleh ke arah pintu. Diandra mengerutkan keningnya. "Ada apa? Saat ini Tuan Axel masih sarapan."
"Dengar dulu informasi yang akan aku sampaikan, setelah mendengarnya aku jamin tidak akan ada dari kita yang nafsu makan," balas pemilik suara yang baru saja datang tadi.
"Sebenarnya ada apa, Daniel?" tanya Axel, pria itu langsung menaruh pisau dan garpu makannya kembali ke meja.
Daniel melirik ke arah Roni, wajahnya menampakkan keraguan untuk mengatakan masalahnya sekarang. Axel yang mengerti segera berkata,"Katakan saja, dia bukan masalah." Roni yang sebenarnya mengerti hanya diam dan fokus makan, dia memilih untuk mendengarkan saja.
"Salah satu anggota kita, entah yang mana, identitasnya berhasil Polisi temukan. Jika hal ini kita biarkan saja, maka semuanya akan-" belum selesai Daniel bicara, Diandra langsung memotong,"Tuan Axel sudah tahu, Daniel."
"Sudah tahu? Lalu siapa nama anggota yang identitasnya tertangkap? Aku dengar dia dari anggota sss yang selalu berada di dekatmu, bukannya ini sangat berbahaya?" tanya Daniel, raut wajahnya sangat serius. "Ini gila, identitas dari anggota sss tertangkap, kita semua dalam bahaya," lanjut Daniel.
"Dia bukan anggota sss, siapa yang mengatakan itu?" tanya Diandra dengan kedua sudut alis bertaut. "Bawahanku, menurut informasi yang dia tutur, orang itu kabur bersamamu dan Tuan Axel. Bukankah hanya anggota sss seperti kita yang boleh menempel dua puluh empat jam dengan dia?" tanya Daniel, kemudian matanya menatap Axel.
Diandra tertawa pelan. "Orang itu bukan anggota sss, dia adalah Roni, teman lamaku. Dan dia sekarang yang berada di hadapanmu sedang makan steak daging dengan tenang."
Daniel yang mendengar ini segera menatap Roni, matanya menilai Roni dari ujung kaki hingga kepala. Roni menoleh ke belakang dan tersenyum kaku, sejujurnya dia tidak nyaman ditatap seperti itu. "Apa hubungannya dengan Tuan Axel?" tanya Daniel, matanya kembali menatap Diandra.
"Dia telah mengorbankan dirinya untuk Tuan Axel. Roni melempar KTP-nya untuk melindungi Tuan Axel, hal ini membuat Polisi menjadi sibuk mencarinya, bukan Tuan Axel," jelas Diandra. Daniel yang mendengar penjelasan Diandra mengerutkan keningnya. "Bukankah ini adalah hal yang merepotkan?"
Diandra mengangguk singkat. "Aku mengerti maksudmu, tetapi lebih baik begini dari pada Tuan Axel yang diburu. Aku bisa saja melemparkan KTP-ku ke Polisi saat itu, tetapi sesuai yang kau tahu, anggota sss sama berharganya dengan ketua atau wakil Devalga. Anggota sss adalah kunci dari sang pemimpin, akan kacau jika identitas kita atau Tuan Axel yang bocor, semuanya pasti akan terpampang dengan cepat ke permukaan."
Daniel diam, pria itu tidak menjawab atau bertanya apa pun lagi. Namun kemudian gelak tawa darinya muncul, membuat semua orang menatapnya dengan tatapan aneh.
"Maaf-maaf, aku kelepasan. Tuan Roni, aku sangat berterimakasih sekaligus kasihan kepada anda. Anda terpaksa mengalami hari-hari yang buruk seperti buronan dan mengucapkan selamat tinggal kepada hari-hari tenang. Mulai hari ini tolong berhati-hati, karena anda sama pentingnya dengan anggota sss Devalga. Identitas dan keberadaan anda adalah rahasia, aku akan membantumu. Devalga adalah organisasi yang tidak boleh memiliki hutang dan juga tahu cara berterimakasih."
Roni memaksakan senyum tulus. "Terimakasih." Sekali lagi dia menjadi bahan lelucon yang sama sekali tidak lucu, ingin sekali rasanya Roni melemparkan bogem mentah. Tetapi hal itu tidak ada gunanya, lagi pula tentu saja Roni merasakan perbedaan keterampilan bertarung dengan mereka. Mencari masalah sama saja mendaftarkan diri untuk menjadi samsak gratis di sini.
"Ah... ya, sepertinya aku belum memperkenalkan diri dengan benar, ya?" tanya Daniel, pria itu tersenyum sangat manis, kemudian menjulurkan tangan kanannya ke Roni untuk berjabat tangan. "Aku Daniel, kapten divisi kedua Devalga, anggota sss."
Roni membalas jabatan tangan Daniel. "Senang mengenalmu. Aku Roni, seorang penulis yang sedang melakukan wawancara dan riset mengenai dunia para Mafia."