Begitu pelan, Gretha mulai membuka pintu kamar Kendrick. Tentu saja gadis itu bergerak dalam keraguan. Rasa ngeri melingkupi benak dan hatinya saat ini. “Saya tidak suka orang lamban, bergegas.” Gretha terlonjak saat suara berat itu menyapa indera mendengarannya. Dia memang bergerak pelan karena takut. “Maaf, Tuan. Saya izin masuk.” Gretha bergerak semakin masuk ke dalam kamar yang luas itu. Kepala gadis itu tertunduk, tak berani bertatapan dengan mata tajam Kendrick. Jantung Gretha semakin berdetak tak karuan ketika dia mulai melihat kaki ranjang. Merasa tak menemukan keberadaan kaki Kendrick, Gretha perlahan mengangkat kepalanya. Gadis itu akhirnya melihat sang majikan sedang berdiri di dekat dinding kaca pembatas balkon. Kendrick sedang membelakanginya, sehingga Gretha hanya meli

