Gretha memperhatikan Kendrick yang sedang menatap teh di atas meja. Dia kembali menghembuskan napas melihat keraguan sang majikan. “Jika Anda tidak yakin, jangan dipaksa, Tuan. Saya bisa membawa teh ini kembali ke bawah.” Kendrick menoleh mendengar suara Gretha. “Tidak, saya harus mencobanya. Jika kau terbukti ingin meracuni saya, maka saya tidak akan segan-segan memberi pelajaran. Bagus tahu lebih cepat ada pengkhianat di dalam mansion ini.” Gretha menatap Kendrick dengan wajah lelah. Dia pun diam, membiarkan Kendrick berbicara sesukanya. Perlahan Kendrick akhirnya meraih gagang gelas teh tersebut. Dia menatap Gretha yang tersenyum tipis. Menjadi orang besar di negara itu membuat Kendrick memang tak mudah percaya kepada orang lain. Jiwa arogannya itu pun hadir sebagai bentuk pagar pe

