"Makan yang banyak biar tambah bulet."
"Bulet-bulet, bulet pala lu bulet!" geram Zeo.
Zeo mengambil ponselnya di atas meja yang dia simpan, bersampingan dengan ponsel milik Geo.
Kini mereka tengah berada di Cafe Louise, sejak pulang sekolah Geo mengajaknya untuk pulang bersama. Namun kenyataannya Geo malah menculiknya.
Jika kedua orangtua Zeo memarahinya, ia akan katakan bahwa Geo pelaku atas penculikannya.
Zeo menatap dirinya di ponsel, ia memang merasa sedikit tembam akhir-akhir ini, tapi seharusnya dia tidak merasa risih. Hanya saja gara-gara akhir ini Geo mulai menyebalkan dan selalu mengejeknya membuat Zeo kesal dan ingin menurunkan berat badan.
"Eh Geo, gua kayaknya harus diet ya?" Zeo berkaca di ponselnya.
Geo menyeruput minum terakhirnya, ia meneguknya, keningnya berkerut lalu Geo menggelengkan kepalanya tidak setuju.
"Apaan sih? Nggak usah ngada-ngada." Jawab Geo terdengar memang melarang.
"Tapi ya, kalau muka gua beneran bulet nanti gua di ejek lu mulu! Gua itu harusnya cantik kayak kak Erina atau kayak Jenna yang body goals, atau kece kayak Rossy atau..."
"Kalo kayak Serra? Pacarnya Johnny, dia gimana?" Geo menahan tawanya sebentar sebelum tawanya beneran meledak.
Menyadari itu sepertinya hal mustahil, Serra itu memang kurus dan tinggi! yang membuat mustahil adalah tingginya. Mungkin saja Zeo bisa membuat dirinya kurus, meski dalam waktu yang lama. Namun kalau soal tinggi badan... Sudah Zeo lakukan dengan meminum obat kapsul peninggi badan dan s**u yang katanya bisa membuat tinggi pun sama sekali tak berpengaruh padanya.
Tolong! katakan segitiga bermuda ada di mana?! Zeo ingin sekali melempar Geo ke dalamnya.
"IH GEOVANO JELEK!!!!" Zeo menghentakkan kakinya dan memukul tangan Geo dengan sebal.
Tapi Geo malah tertawa, pukulan Zeo sama sekali tidak membuatnya sakit. Malah rasanya ketagihan, pengen dipukul lagi.
"Sst... sst... gue bercanda!" ujar Geo di selaan tawanya membuat Zeo mempoutkan mulutnya.
Geo masih sedikit tertawa, ia merasa gemas pada Zeo. Sikapnya yang seperti anak kecil membuat Geo ingin terus berbuat jahil padanya.
Tidak terasa makanan yang mereka pesan sudah habis termakan, Geo beranjak dari kursi lalu berjalan ke kasir dan membayar tagihannya. Zeo membuka ponselnya dan mencari sesuatu. Sebuah aplikasi berwarna hijau muda, Line.
"Kak Serra!!! OMG, gua kesel banget!!!"
"Apa? kenapa? Apa berat badan lu masih gak mau turun?"
"Hih dasar! Gua tersinggung loh." Jari Zeo masih mengetik, terlihat menari di atas layar.
"Haha bercandaa, ada apa?"
"Gua di culik sejak pulang sekolah! Bilangnya pulang bareng tapi malah mampir ke tempat makan."
"Serius? Itu bukan diculik, bodoh! itu namanya pendekatan. Lu kalau polos jangan polos amat deh, gua jadi takut."
"Sama aja sih kayaknya, dia nyebelin banget dari yang gua kira.Pendekatan your eyes!"
"Btw, diculik siapa?"
"Siapa lagi yang katanya lagi booming cowok ter-cool yang deket sama kak Erina? "
"Geovano maksud lu?"
"Iya, kak, aneh nggak sih? Cool dari mana coba? He's just annoying Mr. Geo."
"Halah awas lu jatuh cinta."
"Idih! Mana mau sama dia."
"Awas ajaa."
Tak lama dari itu Geo kembali pada Zeo, cepat-cepat dia menutup dan menyimpan ponselnya yang belum sempat datanya dimatikan.
"Lagi ngehubungi siapa?" tanya Geo.
"Nggak ada! jangan sok tahu deh."
"Ooh, nebak aja sih."
"Dih, dasar dukun!"
"Kirain lagi ngehubungi temen deket lu kalau lu lagi jalan sama cowok ganteng namanya Geovano."
Seketika ucapan Geo membuat Zeo mematung sejenak, ada benarnya tebakan Geo, tapi ada hoaxnya juga.
"Kepedean dasar!"
Cepat-cepat Geo mengambil kunci mobil tanpa duduk terlebih dahulu. Zeo berdiri dan mengikuti langkahan Geo, mereka keluar dari Cafe. Zeo masih belum membuka mulutnya, masih kesal pada Geo.
Mereka masuk ke dalam mobil Geo.
"Tumben nggak ngomong." Ujar Geo.
"Nggak mau ngomong sama lu!"
Geovano terkekeh, oh, ternyata Zeo masih marah. Sekilas Geo melirik pada Zeo lalu mengelus puncak kepala Zeo. Zeo masih kesal, tapi hatinya luluh, malah hatinya akan keluar dari tempatnya sebentar lagi.
Pipinya memerah padam seperti kepiting rebus. Jantungnya berdetak tak karuan. Perasaan apa ini? seingatnya, jantung Zeo belum pernah berdetak seperti ini ketika dia sedang kesal.
Cepat-cepat Zeo menepis tangan Geo, sebelum jantungnya melompat keluar.
"Ck. ish! Jangan pegang-pegang!" ketus Zeo seraya memelotot, dengan cepat ia membuang wajahnya dan menatap pada jendela mobil.
Kini wajahnya semakin memerah padam.
"Dih, dih, anak kecil nggak mau di pegang." Godanya.
"G-gue bukan anak kecil!" geram Zeo.
"Tadi gua bercanda, maaf ya." Kata Geo dengan tulus. Suaranya melembut. Ingin sekali Zeo menampar pipi Geo, ternyata lelaki bisa terlihat menggemaskan secara tidak sadar.
"Hm."
"Jiah, masih marah. Tuan puteri jangan marah dong, tadi gua cuman bercanda..." sesal Geovano.
"Tuan puteri."
Zeo masih tidak menyahut.
"Zeolily-Zeolily-Zeolily-Zeolily-Zeo-Zeo-Zeo-Zeo..."
"IYA IYA DIMAAFIN, UDAH DIEM BERISIK!"
"Yang tulus dong maafinnya."
"Y."
"Kan, masih marah..."
"Gak."
"Kalo nggak marah, buktiin dong."
"Gak mau."
"Coba bilang lagi kalau udah maafin."
"Gua udah maafin."
"Sambil senyum atuh."
Zeo menatap dengan tajam pada Geo, lalu ia memaksakan senyumannya, "Gua maafin." Lalu Zeo memutar bola matanya dengan kesal.
"Bilang gini, Geo ganteng sayang, udah dimaafin kok."
Sontak membuat Zeo membelalakkan matanya lalu memukul tangan Geo yang masih memegang setir mobil.
"ih-ih, kok mukul anjir, sakit woi lah! Iya-iya, gua becanda juga tadi!"
"Lagian lo!"
"Apa?"
"Alay!"
Zeo berdecih pelan. Geo tertawa lagi, mood-nya bagus hari ini. Mengganggu seorang Zeolily kini sudah menjadi salah satu hobinya sejak kemarin.
"Gua tadi beneran bercanda, lagian lu ngada-ngada mau diet segala. Nggak usah diet-diet, gua suka lu yang bulet kayak gini."
"IH NGATAIN LAGI!"
"Becanda lagi, Ze."
"Ih Geo!! sekali lagi ngatain gua pukul lu sampe ke Mars."
"Mau atuh dipukul, dari kemaren bilang mukul-mukul terus, nggak jadi-jadi."
"HUAA MAMA! TAU AH KESEL."
°°°~••~°°°
Pukul 17.00 p.m.
Zeo baru saja pulang ke rumah, daritadi ia menghabiskan waktu dengan Geo, sedari tadi Geo terus berbelok-belok ke banyak tempat sehingga rasanya hari ini mulai terasa lelah. Tak seperti biasanya, merasakan sesuatu yang hambar pada dirinya.
Setiap pulang sekolah, ia pulang ke rumah dan tidur atau mengerjakan tugas. Dilanjut dengan sibuk menangisi seseorang yang telah tiada. Menyesali perbuatannya di masa yang lalu.
Namun sekarang berbeda, rasanya hari ini begitu sangat berbeda! Zeo merasa senang. Melihat Geo tertawa karena dia pun rasanya tenang sekali, meskipun sedikit menyebalkan sebab Geo terus-menerus membuatnya sangat kesal.
Zeo melepas sepatunya, masuk ke dalam kamarnya lalu menggantung tasnya dan langsung pergi ke kamar mandi untuk ritual membersihkan badan.
Tak lama selesai itu, Zeo berganti pakaian dengan baju tidur tangan pendek berwarna pink muda. Zeo naik ke atas tempat tidurnya. Rencananya ia ingin langsung tidur saja, namun ponselnya seolah memanggil dan meminta Zeo untuk membukanya.
Zeo merebahkan dirinya menindih guling kesayangannya lalu membuka ponselnya.
"Geo... Cowok itu ternyata nggak sedingin yang orang-orang omongin. Malah aslinya lebih nyebelin. Keren dari mananya? bahkan Gava sempet muji-muji dia sampe ekspresinya kayak udah ketemu idol kpop." Geruntu Zeo seraya memainkan ponselnya.
Chat dari Geo muncul, notifnya menyala, tidak sengaja Zeo menekan notif tersebut.
Line.
"Malem, Ze"
"Iya malem juga, Ge. Ada apa? Tumben chat."
"Gapapa, Mau aja, Udah makan?"
Dasar anak ini, bukannya sepulang sekolah dia terus memberikan Zeo traktir makanan sangat banyak? dan malam ini bertanya lagi apa Zeo sudah makan? apa dia gila?
"Ah gitu ya, kangen gua kan? Udah kok ini lagi makan ramen."
"Geer banget, nasinya?"
"Emang bener gua ngangenin, nggak makan nasi."
"Idih. Mau ngapain kali nggak makan nasi."
"Lagi males Ge, makan nasi."
"Kasian nasinya, ntr nangis."
"Hih itukan bujukan buat ke anak kecil yang nggak mau makan."
"Emang anak kecil kan?"
"Geo!! Gua udah gede! Lu aja yang kecil noh."
Lihat? menyebalkan bukan?
Zeo memutuskan untuk mematikan ponselnya demi keamanan negara hati yang mungkin sebentar lagi akan meledak jika terus meladeni seorang Geovano yang menyebalkan.
Zeo memposisikan dirinya terlentang menatap langit-langit kamarnya. Hari ini memang menyebalkan, tapi rasanya Zeo merasakan sesuatu yang sebelumnya belum pernah dia rasakan.
Bahkan dengan Varo dulu. Zeo tidak merasakannya, meski takut berhubungan dengan orang baru pun, tapi sang pencipta kini membalikkan hati Zeo.
Serra benar, Zeo akan menemukan seseorang yang baru. Meski belum bisa menemukan hati, setidaknya dia bisa menerima pertemanan dengan lawan jenis dulu untuk meredakan hatinya.
Geo adalah teman yang baik untuk Zeo saat ini.
Sekaligus, teman yang menyebalkan.
Zeo mengetukkan ketiga jarinya di atas perutnya, matanya memandangi langit-langit kamar yang bernuansa putih bersih.
Mengingat Geo, perlahan senyuman terukir di bibirnya.
Namun satu detik kemudian dia tersadar, Zeo membelalakkan matanya lalu bangun dari tidurnya dan menggelengkan kepalanya seperti orang yang sedang frustasi.
"Kenapa wajah Geo yang muncul?! bisa-bisanya gua juga senyum." Geruntunya.
"Nggak boleh dibiarin."
"Bisa-bisa gua gila."
Tiba-tiba ponselnya berdering, Geo menelponnya. Zeo menerima panggilan itu.
"Halo, Geo, ada apa?"
"Kenapa belum tidur?"
"Ini mau, lu nelpon."
"Hoo, maaf maaf jadi ganggu."
"Enggak ko santai aja,"
"Besok gua jemput, awas kalau belum bangun. Gua siram pake air panas."
"APA APAAN?! besok gua mau berangkat bareng Kak Serra aja!"
"Gua nggak nerima penolakan. Jam 7 pagi udah siap. Bye, good night."
Telpon dimatikan sepihak. Bibir Zeo komat kamit seolah sedang mengucapkan mantra.
Ponselnya kembali berdering, Zeo mengambilnya dengan kasar lalu menerima panggilan itu tanpa menoleh pada layar ponsel. Bahkan melihat siapa yang memanggilnya pun tidak sempat.
"APA LAGI GEOVANOO?!"
"Geo... Geovano? Siapa Geovano?"
Bersambung...