Seseorang mengenakan baju hitam dengan celana levis, dia menutup jendela kamarnya. Hari sudah mulai gelap, dilihatnya jam weaker menunjukkan pukul 19.00 p.m.
Lelaki itu berjalan ke atas tempat tidur dan merebahkan dirinya, menatap langit-langit kamar tidurnya dengan lampu yang menyala. Membayangkan sosok gadis berambut panjang yang selalu masuk ke dalam pikirannya.
Lelaki itu pun tersenyum.
"Gadis itu, selalu gua kejar namun nggak pernah sekalipun dia melirik gua."
Ia beranjak dari tempat tidurnya, terduduk lalu memukul bantal di sampingnya.
"Sebaik apapun sikap gua, seramah apapun, sedamai apapun, tetap saja nggak pernah melihat dan menyadari keberadaan gua." Lelaki itu mengacak rambutnya frustasi.
Ia berdiri, berjalan mendekat pada kursi dan meja belajarnya. Lalu ia terduduk, menatap luasnya kota jakarta dari atas sini.
"Zeolily, satu-satunya orang yang berhasil bikin gua nggak bisa tidur tujuh hari tujuh malam."
Lelaki itu mengambil bolpoint di atas meja dan memainkannya, "senyumnya yang berhasil bikin gua selalu kepikiran. Akhirnya gua punya nomor lu setelah susah-susah gua cari."
Lelaki itu tersenyum sinis, "Gua nggak minta banyak, yang gua mau cuman satu."
Ternyata sedari tadi ia memperhatikan foto gadis yang ia maksud, lelaki itu mengambil foto itu di hadapannya dan senyumnya semakin mengembang.
"Gua mau lu jadi milik gua, nggak boleh ada yang milikin lu selain gua."
"Atau kalau orang itu udah bosen hidup."
°°°°Annoying Mr. Geo°°°°
"APA LAGI GEOVANO?!"
"G-geo? siapa Geovano?"
Zeo mengerutkan keningnya, suaranya berbeda dengan suara Geo. "I-ini siapa?! dapet nomor gua dari mana?!"
"Zeo, gua kangen lu, kita udah cocok. Jadi pacar gua mau?"
Zeo mengepalkan kedua tangannya, siapa orang yang berani menyebar nomor seorang Zeolily pada orang yang tidak dikenal?
Haduh... bikin kepala Zeo pening saja, Zeo memijat pelipisnya. Memang sekarang lagi zamannya nge-prank ya?
"Sebentar! pertama, kita nggak kenal dan lu tiba-tiba nelpon gua dengan anehnya ngajak gua pacaran. Lu siapa sih? Kenal aja nggak, jadi nggak usah sok kenal deh." Dengusnya.
"Ah ya, lu lupa sama gua atau gimana?"
"Hah? Maksudnya?" Zeo semakin tidak mengerti. Orang gila ini berani-beraninya membuat Zeo bingung dan membuat Zeo seperti orang bodoh sekarang. Dasar gila!
"Pfttt... imut banget sih,"
"Gila dasar!" dengusnya.
Zeo merasa kesal, dia memutuskan sambungannya lalu melempar ponselnya pada tempat tidur. Ia masih terbaring menatap langit-langit kamarnya seraya mendengus dengan kesal.
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar Zeo. Zeo pikir itu adalah Mamanya. Ia menoleh ke pintu sambil menghela napas panjang.
"Masuk aja, nggak di kunci kok." Sahut Zeo.
Ceklek.
Kreeetttt
"Zeo..." Lirihan seseorang sontak membuat Zeo menoleh pada ambang pintu.
Matanya semakin membulat, tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Zeo merasa dirinya kini tidak bisa berbuat apa-apa, ia membeku di tempat seolah dirinya sudah berubah menjadi patung es.
Jangankan bergerak, mengedipkan mata saja Zeo tidak berani.
Apa ini? kenapa ada Varo di sini?
"V-Varo?!"
"Zeo, gua kangen lu." Ujar Varo seraya tersenyum.
Varo mendekat pada Zeo lalu duduk di samping Zeo. Zeo masih menatap Varo tidak percaya, dirinya masih mematung, napasnya seakan habis kali ini.
"L-lu kok..."
"Ssttt, itu nggak penting." Varo menggenggam tangan Zeo.
"Lu harus tahu, di sini gua udah relain lu. Gua sadar, kita nggak akan pernah bisa bersatu, sekuat apapun lu jaga hati. Nyatanya kita udah berbeda. Beda alam. Lu juga harus paham, sebenarnya ada orang yang lebih tulus dari gua dan dia siap buat jagain lu dari apapun yang mengganggu lu. Gua yakin dia orang baik. Jangan siksa diri lu, lu harus move on dari gua. Gua janji gua akan baik-baik aja di sini, gua mau lu jalani hidup seperti biasanya tepat seperti waktu kita belum kenal. Hidup lu normal-normal aja kan?"
Zeo mengangguk, dirinya menunduk menatap pada tangan yang digenggam Varo.
"Maaf sekali, gua ninggalin lu dengan kondisi yang nggak gua duga juga."
Zeo menangis, Varo memeluknya. Rasanya hangat dan Zeo sama sekali tidak ingin melepaskan pelukan itu.
"Akan ada pelukan yang lebih hangat dari gua,"
Zeo terisak di sandaran Varo, lelaki itu menyebalkan! apa dia sedang bercanda?!
"V-varo... G-gua... G-gua nggak bisa." Ucap Zeo di selaan isakannya.
"Lu bisa! berusaha terus, Zeo. Lu belum peka aja, cowok yang nemenin lu akhir-akhir ini. Gua percaya sama dia."
"Lu kira gua barang?!"
"Nggak begitu, Zeo. Lu harus paham, nggak akan ada kita di antara lu sama gua. Kita dipertemukan cuman sebentar, sebagai teman seharusnya dan bukan sebagai pasangan. Ini bukan salah lu atau gua, cuman perasaan gua ke lu aja yang terlalu cepet hadir."
"G-gua nggak mau..."
"Lu harus!"
"T-tapi... V-Varo... kenapa lu ada di─"
"Gua ke sini, nggak mau lu seperti malam ini. Murung teringat masa lalu yang jelas nggak bisa diubah, lu selalu murung kalau sendiri. Nggak bisa memberikan orang kesempatan buat bahagiain lu. Tapi setidaknya gua lega waktu tahu lu mau pelan-pelan buat nerima uluran tangan orang baru."
"Uluran tangan baru? Maksudnya?"
"Nanti lu paham." Varo tersenyum lalu menghapus air mata Zeo.
"Jangan khawatirkan gua, diri lu lebih penting sekarang."
"Zeo, gua sayang lu." Varo tersenyum.
"Eh? V-Varo, Varo mau kemana?!"
"Gua belum..."
"VAROO!!"
*
*
*
"Dek, dek bangun! Heh lu nggak apa-apa kan?" Renal menepuk-nepuk pipi tembam Zeo dengan panik, Renal bingung harus apa. Adiknya seolah tengah mendapatkan mimpi yang sangat buruk sampai mengigau seperti ini. Renal terus menepuk pipi chubby itu.
Zeo membuka matanya, napasnya tidak beraturan, matanya menyapu ruangan mencari sosok Varo. Zeo menghela naossnya berat, gadis itu hampir akan menangis di tempat, Zeo bahkan belum sempat memeluk Varo, lalu mengapa dia bisa-bisanya menghilang saat Zeo belum memeluknya? Zeo sangat merindukan Varo. Varo bodoh sekali.
"Heh lu nggak kerasukan 'kan?" Renal menyimpan tangannya di kening Zeo untuk memastikan apakah adiknya sakit atau tidak. Renal tidak habis pikir, suhu tubuh Zeo biasa saja, normal. Namun entah mengapa dia bisa mengigau seperti orang sakit.
"Ya Allah... bocah ini ditanya nggak dijawab. Bener-bener setan."
"V-Varo mana?!" tanya Zeo dengan panik,
"Varo apa? lu ngigau apa buset..." lirih Renal, tak pernah habis berpikir Zeo akan bersikap seperti tadi. Membuat Renal takut sekaligus ingin mengetuk kepalanya agar tersadar.
"T-tadi ada Varo!"
"Nggak ada. Wah lu saking kangennya pasti langsung mimpiin tu anak. Gila emang! Gara-gara si Varo doang, adek gua jadi sedikit gila." Renal menunjuk Zeo, lelaki itu nyaris dibuat jantungan oleh adiknya.
Geplak!
"WOI LAH, SAKIT!" protes Renal. Dia memegang lengannya yang dipukul Zeo. Gadis itu mengapa ngamuk hanya karena ucapan Renal?
"ABANG PERGI SANA KELUAR!"
"Yeu lihat jam noh!"
"Aelah baru aja jam..." Zeo melirik jam weaker doraemon miliknya, ternyata sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.
"ASTAGA ABANG! UDAH SIANG!!!! KENAPA NGGAK BANGUNIN JEO!!"
"Tenang dulu, jangan panik, abang ke sini mau kasih tahu. Tuh ada yang nyamper. Siapa sih? doi baru lu ye? lumayan cakep, tinggi juga."
"Loh Geo udah di sini?"
"Ooh namanya Geo, toh?"
Gubrak!
Cepat-cepat Zeo melakukan ritual mandinya dan langsung bersiap-siap.
"Ini adek gua kenapa sih?" Renal menggaruk kepalanya yang tak gatal. Kebingungan dengan sifat adiknya saat ini. Semakin hari semakin gila.
Bersambung...
Di bawah ada seseorang yang masih menunggu, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kok belum keluar sih? kebo dasar." - Geo