Bab 06 ─ Be Carefull

1509 Kata
Assalamualaikum teman-teman, alhamdulillah aku bisa update lagi. Happy Reading! "Sorry ya, Geno atau siapapun nama lu. Adek gua emang kebo plus kang tidur, jadi sedikit susah di bangunin." Ucap Renal sambil seraya bahu Geo. Tuhkan? Memang benar dugaan Geo, Zeo memang kebo! "Jaga adek gua baik-baik ya, dari tadi dia..." Renal menggantungkan kalimatnya membuat Geo semakin penasaran. Kening Geo mengernyit, ia memiringkan sedikit kepalanya seraya menatap kembali pada Renal. "Dia kenapa?" tanyanya. Renal mendekat pada telinga Geo, "dia habis ngigau dan terus manggil nama mantan dia." Bisik Renal, lalu menjauhkan kepalanya dari Geo. Geo malah merasa geli, ia menahan tawanya. "Pfft... dia gagal move on, bang?" tanya Geo diselaan tawa kecil. "Ya... gitulah." Renal menggelengkan kepalanya. "Emang... kemana mantannya?" tanya Geo, ia merasa ini bukan sebuah candaan belaka. Membuatnya merasa ada yang ganjal. Renal menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal, ia sangat kebingungan bagaimana menjelaskan semuanya. Bibir Renal terasa kelu, entah mengapa rasanya seperti Geo harus mengetahui semuanya. Terlebih lagi Renal menitipkan Zeo pada Geo bukan? Renal mempelankan suaranya, takut Zeo bisa mendengarnya. "Emm... Dia meninggal, kecelakaan sih katanya... So? gua harap lu bisa jaga dia ye? Karena gua nggak bisa ngawasi dia terus selama dua puluh empat jam dalam seminggu. Tapi seenggaknya di sekolah ada lu yang jaga." Pinta Renal dengan hati-hati, takut ada kalimat yang membuat Geo salah paham. Geo merapatkan bibirnya, lalu tersenyum serta mengangguk pelan. "Gua nggak mau adek gua jadi gil─" Geplak! Seseorang dengan santainya memukul bahu Renal dengan buku LKS dan terasa sangat keras. Membuat Renal dan Geo terkejut bukan main. Sosok Zeo sejak kapan sudah berada di sini? Geo mengedipkan matanya beberapa kali tatkala melihat sosok Zeo yang hampir saja menyerupai macan yang akan mengamuk. "Gua nggak gila ya, abang!" dengus Zeo. "Tuh, lu lihat kan? Udah berani mukul abangnya mentang-mentang ada doi." Lirih Renal. Zeo bersiap akan memukul lagi, bibirnya mengerucut kesal. Dengan cepat Geo menarik tangan Zeo dan langsung pamit pada Renal sebelum dunia runtuh dibuat Zeo. Sekaligus mencari aman untuk dirinya dan Renal. "Bang, kita pamit berangkat ya. Pendek, buru sini!" Pamit Geo. "Pendek your head! " °°°° Di mobil, perjalanan menuju sekolah. Entah mengapa mimpi semalam membuatnya bungkam dan rasanya cukup membuatnya tidak berselera untuk berbuat apa-apa. Hanya ingin diam, memikirkan perkataan yang Varo lontarkan. Zeo menghela napasnya dengan kasar, ingin sekali ia mengutuk dirinya. Mengapa Varo harus muncul di mimpi Zeo? padahal hati Zeo kini sudah mulai membaik karena adanya Geo. Baru beberapa hari saja, Zeo sudah cukup akan lupa. Meski dalam mimpi Varo menyuruh Zeo mau menerima orang baru, tetap saja Zeo merasa Varo selalu ingin Zeo berharap terus-menerus padanya. "Cemberut mulu, biasanya ngomel-ngomel nggak jelas." Protes Geo. Zeo menoleh dengan memutar bola matanya, ia menatap pada Geo dengan malas. "Ck! lu tuh nyebelin ya ... gua ngomel-ngomel, salah! Gua diem juga salah! mau lu apa sih?!" "Mau kamu aja gimana?" "Gombal aja sana sama tukang pecel di depan sekolah!" Geo terkekeh, kini Geo merasakan suasananya berubah. Yang tadinya asik dan nyaman buat bercanda malah mendadak gugup dan saling memalingkan wajah. Entah benar atau tidak, pasti ada sesuatu. "Emmm ... lu kenapa diem terus? ngelamun mulu liatin jalan. Itu jendela mobil lebih cakep dari gua?" protes Geo lagi, ia mencoba mencairkan suasana. Zeo tidak menyahut, pikirannya masih berputar pada kejadian mimpinya semalam. Namun, ada benarnya juga perkataan Varo, mau sesungguh dan sekuat, sekukuh apapun Zeo menjaga hati, mereka─Zeo dan Varo─tidak akan pernah bersatu. Pada kenyataannya saja sudah berbeda alam. "Woy!" Geo menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Zeo membuat Zeo terlonjak kaget. Zeo mengerjapkan matanya, seolah ia larut ke dalam ingatan mimpi semalam. "Ck! apa sih? ganggu aja." Ketus Zeo. "Dih, marah-marah... Udah nyampe sekolah nyonya neng Lily." Ujar Geo seraya melepas sabuk pengaman. "Jangan panggil gua neng!" Geo keluar dari mobilnya, tiba-tiba orang yang berlalu lalang malah menatap pada Geo. Kini Geo menjadi pusat perhatian. Geo mencoba untuk bersikap seperti biasa saja, namun hal itu yang mereka lakukan malah membuat Zeo risih. Geo berjalan ke pintu mobil sebelah, tepatnya pada tempat Zeo. Geo membuka pintu mobilnya lalu keluarlah gadis mungil itu. "Kenapa orang-orang pada ngeliatin sih?" tanya Zeo. "Kenapa emang?" tanya Geo, lalu menutup pintu mobilnya dan menguncinya. Tet... tet... "Ih, lu tuh ya, pertanyaan gua selalu dijawab pertanyaan juga. Emang ya lu tuh nyebelin, harusnya gua sumpel aja lu pake lap dapur." Omel Zeo. Geo berjalan lebih dulu meninggalkan Zeo yang ngomel nggak jelas. "IHH GEOOOO!!" Zeo menghentakkan kakinya. Geo berbalik, berjalan mendekat pada Zeo lagi lalu menarik tangan Zeo dengan paksa. "Lama." Sampai di koridor sekolah, anak-anak yang berada di sana memperhatikan Zeo dan Geo. Sesekali mereka membisikkan sesuatu yang hampir terdengar. Zeo menoleh ke samping kanannya, terlihat dua siswi yang memegang buku paket menatapnya tajam seolah sedang menyindir Zeo, satu temannya membisikkan sesuatu. Fiks. Zeo digibah. Zeo berhenti berjalan, dia melepaskan genggaman tangan Geo. "Geo, kayaknya kita..." "Kenapa diem? kelas lu masih di lantai atas." Jawab Geo. "Ah, iya... ha... ha... tapi sepertinya lu nggak perlu pegang-pegang seperti ini." Ujar Zeo dengan tawaan yang terdengar dipaksa. "Apaan sih? Tadi baik-baik aja." Protes Geo. "Woi Geo, ada apaan lu sama bocah ini? udah bosen lu sama Erina?" Gadis berambut pirang panjang, memakai rok sekolah yang sangat pendek dan tanggung, dia melipat kedua tangannya di depan dadanya. Tidak lupa juga ada... sialan, ada Sora juga di sini. Sejak kapan Sora berteman dengan gadis ini? Dan... Sejak kapan Sora keluar dari penjara?! Keduanya menatap jijik pada Zeo. "Maaf, maksud lu apa ya?" tanya Zeo dengan hati-hati. "Upsie... lu nggak sadar kalau lu cuman jadi pelarian Geo gabut doang? Lagian salah lu sih, jadi orang gatel amat. Lu udah tahu kan kalau Geo itu udah sama Erina." Gadis di hadapan Zeo itu menaikkan sedikit wajahnya seolah menantang. "Joya, please, jangan ikut campur. Bukan urusan lu. Dan gua nggak seperti itu." Geo membuka suaranya. Zeo mengangguk pelan, oh, namanya Joya. "Geo, lu tuh harus hati-hati, Zeo itu cewek gatel yang nempel sama cowok ganteng sana sini, jadi jangan berharap lebih sama dia." Sora membuka mulutnya. Zeo mengepalkan kedua tangannya, ingin saja dia memukul Sora dan gadis bernama Joya ini. "Lu kenapa nggak berangkat sama Erina? Malah sama cewek murahan." Sindir Joya. Geo memijat kepalanya yang mulai terasa pening, entah kenapa semua orang bisa salah paham seperti ini terhadapnya dan Erina. "Gue nggak murahan." Balas Zeo dengan tajam. "Biar gue perjelas, yang murahan itu cewek yang merebut kekasih orang dengan menyebarkan isu atau berita yang nggak bener." Zeo menatap tajam pada Sora. "Terlebih lagi, ada bagian mirisnya. Meskipun cewek itu bersikeras buat dapetin sang cowok walau dengan seribu cara. Kasihan sekali, cowoknya tetap nggak mau. Dan malah ceweknya nempel-nempel terus, bahkan si cewek sempat nempel-nempel sama cowok lain yang udah punya pacar juga. Tiba-tiba dateng minta di ajak liburan sambil gelayutan di tangan cowoknya padahal di depan dia ada pacar si cowok." Jelas Zeo. Bagai ada batu besar yang menimpa kepala Sora, kejadian itu sudah satu tahun yang lalu. "Gimana? Sekarang baru mikir 'kan?" Zeo berdecih pelan. Lalu menarik tangan Geo dan berjalan melalui Sora dan Joya dengan tatapan meremehkan. "HEH TATAPAN ITU! BERANI LU SAMA GUA?!" teriak Joya. "Siapa?" tanya Zeo. "Lu lah, g****k!" Joya menunjuk Zeo. "Yang nanya." Zeo tersenyum miring lalu berbalik lagi dan melanjutkan perjalanan ke kelas bersama Geo. Sampai mereka di depan lift, tangan Zeo masih menggenggam tangan Geo. Geo menyadari itu, namun sepertinya Zeo tidak. Pintu lift terbuka, Geo dan Zeo masuk ke dalam. Geo menekan tombol yang menuju ke koridor kelas Zeo. Tak lama Lift terbuka lagi, mereka keluar dari Lift dan berbelok ke koridor sebelah kanan. "Sorry yang tadi, gua nggak pernah ada niatan buat jadiin lu pelampiasan, Ze." Jujur Geo. Mereka masih berjalan menuju kelas Zeo. "Iya, Ge." Jawab Zeo. "Iya doang, sayangnya mana?" "Mau pukul hah?" Zeo menatap sinis pada Geo. "Lebih nyaman mukul gua atau megang tangan gua? Dua-duanya boleh loh." Goda Geo. Zeo berhenti berjalan, matanya memelotot lalu menoleh pada tangannya yang ternyata memang benar. Tangannya menggenggam tangan Geo. Dengan cepat Zeo melepaskan genggamannya. "G-gua tadi emosi. Nggak sengaja!" ketus Zeo lalu berjalan lebih dulu dari Geo. Pipinya berubah warna menjadi merah padam kali ini. Geo menggelengkan kepalanya lalu tersenyum. Dengan cepat Geo menyusul Zeo. Sampailah mereka di depan kelas Zeo. "Geo, gua udah di depan kelas. Makasih ya, padahal lu nggak usah repot-repot begini. Gua bukan anak kecil lagi, bodoh!" geruntu Zeo. Geo tertawa pelan, lalu mengusap rambut Zeo yang masih sedikit basah karena keramas. "Lu kan emang anak kecil." "HIH NGATAIN?!" "Apa? Mau mukul? Sini pukul!" "Ck. Ish. Pergi sana... sana!" Karena kesal Zeo cepat-cepat masuk ke kelas, di sana ada Jenna, Rossy dan Seola yang sudah datang. "Widih, calon nyonya Federico." Sindir Jenna. "Ck, apaan sih kalian? Gak jelas banget deh." Protes Zeo. Zeo duduk di tempatnya, lalu mengeluarkan ponselnya. "Zee, sejak kapan lu sama Geo jadi sedeket itu?" tanya Rossy. "Emm... Enggak tahu ya, gua lupa..." Lirih Zeo. Kling! Pesan Line dari Serra masuk. "Jeo bantet, hati-hati. Gua denger Sora udah keluar dari penjara seminggu yang lalu dan dia tetap akan sekolah di sekolah kita. Lu harus hati-hati."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN