Bab 07─Lebih penting siapa?

1052 Kata
Kriiing!! Bel istirahat berdering. "Istirahat sekarang, mau pada makan di mana?" tanya Zeo. "Kantin, biasalah... cireng mbak Mirna selalu menjadi cireng terfavorite gua." Jawab Rossy. "Gue juga, sekalian sih mau beli mie ayam. Katanya, harganya udah mau turun." "Gegara apa tuh?" tanya Gava. "Mbak Mirna ulang tahun!" Jenna mengemas buku-bukunya, ia memasukkannya ke dalam tas. Bagaimana tidak, selalu saja alat tulisnya hilang secara cuma-cuma kalau tidak di amankan. Meskipun harga alat tulis terbilang murah, tapi kalau hilangnya keseringan ya sama aja bisa terbilang mahal. "Gua makan siang bareng kalian ya." Sela Jenna. "Lah? tumben banget, mbak. Lagi berantem ya?" tanya Rossy, meski Rossy dan Jenna selalu bersama dengan Zeo dan kawan-kawan, namun mereka berdua lebih akrab bahkan sangat akrab. "Ck! udah ah, nggak mau ingat lagi gua." Ketusnya. "Kalau lu, Ze?" tanya Gava. Saat Zeo akan menjawab, tiba-tiba Rossy menyenggol Gava dengan sikunya. "Ck! kayak nggak tahu aja, ya sama mamas crush lah." ujar Rossy dengan sedikit membisik. Gava hanya menganggukan kepalanya. "Eh! mana ada gua makan bareng Geo, gua mau ikut kal─" Kling! Notifikasi di ponsel Zeo membuat ia menghentikan bicaranya. Ternyata sedari pagi tadi, Zeo tidak mematikan data di ponselnya. Ada sebuah pesan dari Geo. "Zee, istirahat bareng gua ya." Setelah membaca pesan tersebut, ia tersenyum sedikit paksa pada Jenna, Gava, Seola dan Rossy. Sudah benar tebakan Rossy. "Tuh 'kan? gua bener?" ujar Rossy. "Itu pasti deh chat dari mamas Geo, iya kan?" tebaknya. Zeo menghela napas kasar, "tapi sebelumnya dia nggak ngajak!" "Yaudah deh... semangat makan-makannya. Iri deh gua sama lo." Ujar Seola. "What?" "Dadah, selamat nge-date." Ujar Gava. "T-tapi gua mau ikut kalian!" teriak Zeo. Saat Jenna, Rossy, Seola dan Gava berjalan melalui ambang pintu. Mereka tak mendengarkan ocehan Zeo dan tetap berjalan keluar, namun Rossy langsung kembali dan mengintip Zeo di ambang pintu. "Upsie... nih ditanyain mas crush." Zeo berjalan mendekat pada ambang pintu, ternyata benar ada Geo di sana. "Lama nunggu?" tanyanya. "Baru aja mau ditinggal tuh sama mereka." Jawab Zeo. "Sorry," "Santai..." ujar Zeo gadis itu melirik Geo, "menu populer hari ini apa ya?" Kini Zeo dan Geo berjalan ke keluar menuju kantin di lantai atas, di rooftop. Jarang sekali orang membeli makanan disana sebab lokasinya memang cukup jauh, jadi perlu memakan waktu yang lumayan lama. Namun Geo sengaja mengajak Zeo ke sana, berhubung tempatnya jarang dimasuki anak-anak lain, kantin itu jadi terasa lebih tenang. Apalagi kalau makan berdua. "Nggak tahu, mungkin kalau minuman paling populer di sana ya dragon cheese." Jawab Geo. "Gua mau pesan dragon cheese, lu juga 'kan?" tanya Zeo. Geo sedikit berdehem, "Emm... gua mau juice mangga aja." Jawabnya. "Loh?" "Gua nggak suka buah naga." Jawabnya jujur. "Loh? Kok bisa ada orang yang nggak suka sama buah naga?" gumam Zeo. "Mungkin kelihatan geli kali ya?" tanyanya pada Geo. "Nggak, bukan." "Terus?" "Karena... Nanti gua di makan sama naga." Sontak Zeo tertawa seraya memukul lengan Geo, "Geo kalau nyebelin nggak setengah-setengah ya." ujarnya di selaan tawa. "Bercanda, gua memang nggak suka sama buah naga, rasanya aneh." Zeo sebagai penyuka buah naga garis besar merasa tidak terima, "eh enak aja! buah naga itu enak tahu. Lu aja nggak tahu rasanya kayak gimana." "Nggak enak." "Enak!" "Nggak enak." "Enak!" "Kan menurut gua nggak enak." "Tapi nyatanya 'kan enak." Perdebatan itu berlangsung sampai mereka keluar dari lift dan berjalan kembali ke koridor sampai menemukan jalan yang mengarah pada pintu rooftop. "Kalau nggak percaya, coba aja!" Zeo tetap tidak mau kalah. "Iya deh terserah lu, takut dipukul gua." "Dih, siapa juga yang mau mukul lu. Geer banget!" sinis Zeo pada Geo. "Tadi mukul," gumam Geo. "Apa, Ge?" "Engga ada! Tuh cepet pesen." Zeo melihat buku menu, untuk makan siang ia sudah tak berselera sebenarnya. Ia hanya memesan makanan ringan dan minuman saja. Zeo mengangkat tangan kanannya memanggil waiters, benar, kantin di rooftop lebih mirip pelayanannya dengan cafe outdor. "Zeo pesan dragon cheese sama silverqueen chunky bar, Geo .. mau pesan apa?" tanya Zeo. "Makanannya nggak pesen lu?" tanya Geo. Zeo tersenyum lebar, "Gua udah pesan coklat, Geo jelek." "Gak." Zeo memelotot, keningnya berkerut tidak paham dengan yang Geo maksud. "Apaan?" "Lu harus pesan makanan juga," ujarnya. "Ih gak mau, lagi nggak laper." Jawab Zeo. "Gak bisa, lu harus makan." "Tapikan─" "Pesan juice mangga satu, chicken katsu dua porsi ekstra keju, sama pesanan yang tadi dibilang Zeo ya, mbak." Ujar Geo. Mata Zeo memelotot, apaan Geo ini?! Zeo kan sudah bilang tidak merasa lapar. "Baik, tunggu sebentar ya." Geo menatap Zeo sambil tersenyum, "Gini 'kan lebih oke." Zeo memukul pelan meja, "lebih oke, lebih oke, your head ada lima! gua 'kan udah bilang lagi enggak mau makan, kenapa dipesenin sih?" "Ngapain kali nggak makan, sakit nanti baru tahu rasa." "Lagian udah biasa kok." Gumam Zeo. "Bandel." °°°~••~°°° "Weh, weh, ada anak baru ya?" "Iya, mana ganteng banget lagi. Asli sih kece abis!" "Plis de... gua udah lihat orangnya dan pengen banget deket sama dia." "Duh jangan mimpi deh, itu benerin dulu dah muka lu daripada mikirin gimana deket sama dia." "Ya jelas, peraturan pertama buat jadi pasangannya orang ganteng ya Goodlooking." "Duh, ribut mulu dah lu pada. Goodlooking doang, goodrekening nggak?" Begitulah gibahan-gibahan para siswa yang hendah melewati Geo dan Zeo. Zeo pada akhirnya menurut pada Geo, ia memakan pesanan yang Geo pesankan tadi. Zeo mengambil minumannya lalu meminum dragon cheese, selanjutnya ia membuka cokelat sebagai makanan penutup. "Kan gini enak, abis makan baru boleh makan coklat." Ujar Geo seraya melahap makanannya. Ucapannya cukup membuat Zeo sedikit kesal dan ingin menenggelamkannya saja. "Katanya nggak laper." "Kan kalau dibuang mubazir!" kesal Zeo. "Mau makan punya gua gak?" tanya Geo. "Kalau gua abisin bisa bikin gua tinggi, tirus dan kurus boleh deh gua makan." Canda Zeo seraya terkekeh. Geo menarik makanannya kembali, "nggak jadi, lu nggak boleh kurus apalagi tirus dan tinggi." "Dih curang! lu sendiri tinggi dan tirus!" protes Zeo. "Cewek chubby dan pendek itu lucu, kalau cowok chubby itu keliatan agak aneh." Ujar Geo. Tanpa ia sadari, pipi Zeo sedikit memerah, ia menahan senyumnya. Rasanya ingin teriak. "Kalau gua lucu dong?" "Iya." Ujar Geo. "Banget." Gumamnya dengan suara yang sangat pelan bahkan Zeo tidak bisa mendengarnya dengan jelas. "Kenapa, Ge?" "Emm... engga, tadi denger gak anak-anak yang lewat bilang mau ada murid baru?" "Iya, tapi nggak terlalu penting sih." Ujar Zeo. "Lebih penting gua 'kan?" "Geo jangan nyebelin!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN