Bab 08─Lari pagi dan Rumor

1545 Kata
Pagi ini adalah hari sabtu, di mana keinginan Zeo sekarang adalah lari pagi untuk membuat tubuhnya sehat dan bugar. Hari sabtu itu jam sekolah bagian pukul delapan, Zeo memanfaatkan waktu singkat itu untuk berolah raga. Zeo menggunakan kaos putih polos tangan pendek, celana hitam panjang, sepatu putih yang sedikit tinggi agar dirinya bisa terlihat tidak sependek yang kalian kira. Zeo mengikat rambutnya satu di belakang, tangan kanannya membawa air putih dari rumahnya. "Lumayan capek," keluhnya setelah mengelilingi lapangan umum sebanyak delapan kali. Yap, hanya dia sendiri di sana. Maksudnya, tidak dengan teman. Meski banyak sekali orang yang menghabiskan pagi ini untuk lari pagi. Tunggu, sepertinya Zeo mengenal lelaki di depannya yang kini sedang meneguk minumnya. "Dia lagi." Geruntu Zeo. Lelaki itu menoleh pada Zeo, lalu tersenyum. Tak lama dia memutuskan untuk menghampiri Zeo saja. "Hey, lu sendirian?" tanya Geo. "Ya... lu lihat sendiri." Lalu keduanya berjalan ke depan, Zeo berencana akan pergi ke pedagang di ujung sana. Perutnya sangat meminta dirinya untuk segera makan. "Geo! Lihat!" pekik Zeo sambil menunjuk kepada laki-laki sebelah kiri yang sedang berdiri sendirian dengan earphone putih yang terpasang di telinganya. Geo memutar matanya. "Kenapa dia? Lu kenal?" tanya Geo. Zeo menggelengkan kepalanya. "Nggak, dia keliatannya ganteng ya!" Zeo terkagum-kagum. "Cih, ini cowok ganteng ada di samping lu nggak di lirik." Dengus Geo. Lalu senyuman jahil tersirat di bibir Geo. "Zeo, lihat ke sana! ada cewek seksi tuh, cantik juga, kayaknya gua suka deh." Zeo mengerutkan keningnya, lalu menatap Geo dengan ujung matanya. "Hello! Gua jauh lebih seksi." Jawab Zeo tak terima. "Tapi dia cantik." Timpal Geo. "Yaudah, pergi aja sana! Sana sana! Gua mau makan. Bye!" dengus Zeo, lalu pergi meninggalkan Geo yang masih tertawa lepas. "JANGAN KETAWA!" Zeo berteriak dari depan tanpa menoleh pada Geo. °°°~••~°°° Zeo dan Geo sedang makan, mereka mampir ke pedagang kaki lima dahulu. Tidak peduli jika mereka menjadi pusat perhatian orang-orang di sana. Zeo menoleh sebentar pada Geo, lalu kembali menoleh pada makanannya. "Kenapa? Nggak suka?" tanya Geo. "Suka." Jawab Zeo. "Oh, lu suka sama gua." Ujar Geo dengan sangat kepedean. "Heh! Dasar sombong! Lu jelek! Mana mungkin gua suka!" elak Zeo. "Kalau gitu─" "Geo, kenapa lu nggak lari pagi sama kak Erina?" sambar Zeo dengan hati-hati. "Ooh, ternyata itu yang lu pikirin dari tadi." Ujar Geo sambil mengunyah makanan yang memenuhi mulutnya. "Gua cuman anggep dia sebagai adik, jadi nggak usah ngomong seolah dia itu pacar gua. Lagipula lu nanyanya itu-itu mulu. Lu cemburu ya?" Sambung Geo. Zeo tertegun, benar adanya yang dikatakan Gava, dia benar-benar menganggapnya sebagai adik. Tapi entah kenapa ada perasaan lega di hati Zeo. "Apa ini?" dia melamun, bertanya-tanya pada hatinya yang aneh. Tidak mungkin Zeo... ah, lupakan! "Hey! Mau sampe kapan ngelamun kayak gitu? Lu nggak akan biarin makanannya dingin 'kan? Nanti nggak enak." Tegur Geo. Zeo mengunyah sisa makanan yang tertinggal di mulutnya dengan pelan, lalu menelannya pelan, tatapannya beralih dari Geo ke makanan di hadapan Zeo, dia meraih sendok dan mengaduk makanannya dengan pelan, matanya bergerak tak menentu arah. "Zeo, gua minta w******p lu sini." Pinta Geo. °°°~••~°°° "Serius? Gua yakin ini cuman editan! Lu tahu kan jaman sekarang orang-orang gabut lebih keren editan foto nya dari pada kalian semua." Tukas Gava pada teman-temannya. "Ya ampun! Gava! Apa lu nggak lihat dengan jelas?" Rossy menggeruntu kesal pada Gava. Gava menatap tak suka pada foto nya. "Gua yakin pasti cuman nggak sengaja ketemu, Zeo masih belum bisa membuka hatinya." Seola membela. "Gua? Kenapa?" Sontak semuanya menoleh pada Zeo yang entah sejak kapan sudah berada di ambang pintu. Zeo berjalan mendekat pada teman-temannya dan menatap mereka kebingungan. Terlebih lagi saat Rossy menyembunyikan sesuatu di belakang punggungnya dengan kedua tangan. "Emm... kalian... sedang apa? Kalian lagi ngomongin gua?" tanya Zeo. "N-nggak, Jeo bantet... itu cuman..." Jenna gelagapan. "Hey kak Jenna! Johnny memanggilmu." Ujar Wona sedikit teriak di ambang pintu. "Ah okey, gua ke sana sekarang!" ujar Jenna lalu dengan cepat dia pergi. Mereka menatap kepergian Jenna. Zeo menoleh pada teman-temannya, menatap mereka dengan ekspresi yang sama seperti tadi. Bingung. "Gua..." Dengan cepat Gava mengambil foto di tangan Rossy dan memperlihatkannya pada Zeo. "Zeo! Coba sini lu lihat, ada orang gabut yang ngedit foto lu!" ujar Gava dengan cepat. Mata Zeo terbelalak seketika, dia terkejut dengan fotonya, foto itu adalah dimana hari kemarin Zeo dan Geo makan bersama sehabis lari pagi. "Hey! Di mana lu punya foto itu?!" tanya Zeo dengan sedikit meninggikan suaranya. "Jawab aja ini bener atau nggak?" tanya Gava. "G-gua... Y-ya itu benar, t-tapi!" "Sudah gua duga!" ucap Gava lalu pergi. "Gava!" Zeo sempat menahan Gava. Namun dirinya tidak bisa, Gava menepis tangan Zeo dengan kasar. "Hey, dia kenapa?" tanya Rossy. Zeo menggelengkan kepalanya karena dia benar-benar tidak tahu. "Gua kemarin nggak sengaja ketemu sama Geo, beneran, gua nggak berbohong. Awalnya gua cuman pergi lari sendirian dilapangan Brimob, cuman gua nggak sengaja ngeliat dia dan dia juga ngeliat gua jadi dia ngedeket terus nyapa gua dan kita─" Rossy dan Seola terdiam menyimak ucapan Zeo, dia tahu Zeo tidak berbohong, terlihat sekali di matanya. "Udah, Ze. Tenang! Bukan salah lu juga. Lagipula kalian 'kan nggak sengaja ketemu kan?" Ucap Rose. Zeo mengangguk. Lalu bel berdering, sekolah sudah mulai, sebentar lagi guru akan masuk, Zeo duduk di tempatnya dengan sendu, perasaannya pada Gava tiba-tiba sangat bermasalah. Zeo mengambil botol air minum di tasnya lalu meminum dan meneguknya sebagai penenang. Zeo membuka ponselnya sebentar, sebelum itu matanya melirik ke kanan, kiri dan depan untuk memastikan guru belum masuk. Kling! "Zeo, pulang sekolah nanti lu sibuk nggak?" Zeo terdiam sebentar, ada sedikit senyuman terukir di bibirnya, entah kenapa akhir-akhir ini Geo terasa lebih dekat dengannya. Dan, mengapa dia menanyakan dia perihal pulang sekolah nanti? "Nggak, kenapa?" "kalau gitu pulang bareng mau?Tunggu gua di depan gerbang depan ya." "Tapi... gimana sama kak Erina?" "Tenang aja sih, dia pulang sama Mark. Katanya sih baru aja jadian, anak kelas seberang di kelas IPA 7." "Eh? Lu nggak apa-apa? Maksudnya, nggak cemburu? Mereka pacaran?" "Kenapa gitu?" "Gua kira lu..." "Nggak elah santai," "Maaf, hehe. Iya nanti pulang sekolah gua tunggu. Udah ya, ada Pak Puto mau ngajar." Begitu isi pesan Zeo dengan Geo, tapi, melihat adanya Pak Puto masuk ke dalam kelas membuatnya cepat -cepat mematikan data ponselnya, dan mengambil buku dari tasnya, jangan katakan hati Zeo seperti apa sekarang. Dia terus saja tersenyum sendiri hingga Seola yang melihatnya merasa Zeo sudah gila. "Lu kenapa?" "Hah?" sontak Zeo menoleh pada Seola. Namun Zeo masih tidak bisa menyembunyikan senyumannya. Meski bibirnya dia rapatkan agar berhenti tersenyum, namun itu tidak mempan. Seola mengangkat kepalanya sebentar meminta jawaban. "G-gua... mau... beli... emm... beli... coklat, Ya! Coklat! Gua lihat ada coklat baru di kantin," jawab Zeo cepat. "Memangnya coklat apa yang baru?" "Dairy milk," "Ckck! Bukannya kantin memang selalu menyiapkan coklat Dairy milk dan Silverqueen? Lu aneh banget deh." Lalu Seola tersenyum jahil, "A-apa?!" "Gua tahu..." "Tahu apa?!" tanya Zeo dengan mata terbelalak. "Lu sedang..." "GUA NGGAK JATUH CINTA!" Zeo berteriak membuat kening Seola mengrenyit. "Gua nggak bilang itu," kata Seola. "Hah? T-terus?" "Gua kira lu lagi mikirin buat beli semua coklat di kantin sampai lu gendut." Lalu Seola membelalakkan matanya. "JANGAN-JANGAN LU MEMANG LAGI JATUH CINTA?" "NGGAK! JANGAN NGOMONG KAYAK GITU!" "Halah Zeo, jangan bohong. Sikap lu memang agak berbeda akhir-akhir ini." "Maksud?" Seola hanya mengangkat bahunya. Zeo menggeruntu dalam hati, ingin sekali mengutuk Seola sekarang. °°°~••~°°° "Gav, lu mau kemana?" tanya Zeo. "Jangan tanya lagi, gua mau pindah sekolah." Jawabnya dengan sedikit senyum yang dipaksakan. Zeo menunduk lemas, menatap lantai yang tak berdosa. "Kenapa?" tanya Zeo. Gava terdiam, dia menatap Zeo yang masih dengan mata sendunya. "Jangan pergi," "Maksud?" tanya Gava kebingungan. "Kalau lu pindah karena gua, mending gua saja yang pergi, jangan kayak gini, Gava. Kalau lu mau, gua gak akan bersama lagi sama Geo, bahkan kalau dia ngedeket ke gua, gua bakalan menghindar. Tapi, jangan... jangan pergi..." ujar Zeo dengan menunduk dan memegang tangan Gava. "Lu ngomong apa sih? Gua memang mau pindah dari sejak lama." Jawab Gava dusta. Zeo terdiam, masih merasa bersalah pada Gava. Memang aneh, tidak seperti biasanya Gava seperti ini. "Lu kira kita berteman hanya satu atau dua bulan aja? Lu kira gua nggak tahu kalau lu memaksa senyuman lu itu? Gua... gua tahu lu cemburu, kenapa nggak ngomong jujur aja? Gua... gua bener-bener nggak─" "Udah, Zeo. Lu memang cocok sama dia, kalau lu sampai menjadi pacarnya, jangan lupa kasih gua pajak jadian lu sama Geo." Zeo terdiam. "Gua cuman sebatas teman, nggak lebih. Kami cuman berteman, Gava." "Gua serius." Ujar Gava. "Gua nggak akan mengenal Geo lagi kalau harus kehilangan temen gua." Ujar Zeo, hatinya sangat berat jika Gava harus pindah karena masalah sepele seperti ini. "Jangan kayak gitu, lu nggak salah, Geo juga, dan ini bukan tentang kalian atau gua. Asli, gua memang mau pergi dari sini, maksudnya, gua memang udah berencana mau pindah." Zeo terdiam, Gava melepaskan genggaman tangan Zeo, dia berjalan melalui Zeo yang masih kebingungan. Ada rasa bersalah di dalam dirinya, Gava benar-benar akan pindah sekolah. Dia hanya bisa terdiam mematung dengan banyak pertanyaan di pikirannya. Zeo mengedipkan matanya tiga kali. Perlahan napasnya menjadi pelan, dia menoleh pada Gava yang berjalan manjauh dan lama-lama menghilang. "Hey, lagi apa?" Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN