Bab 09─Rumor She's back

1342 Kata
Selamat membaca! Zeo menoleh ke belakang, terlihat lelaki tinggi, mengenakan seragam yang berbeda dengan yang dipakai Zeo─tersenyum padanya. Zeo kebingungan, ia tak pernah melihat lelaki ini sebelumnya. "Emmm... siapa?" bingungnya. Lelaki itu mendekat, cepat-cepat Zeo melangkah mundur. Ia terlalu takut untuk mendekat, terlebih lagi lelaki ini sangat asing. "Zeolily 'kan?" tanyanya. Zeo mengangguk pelan tanpa sadar. "Lu... Siapa? Kenapa bisa tahu nama gua?" tanya Zeo. Lelaki itu bukannya menjawab, ia malah tersenyum. Membuat hati Zeo tidak tenang. Entah kenapa rasanya takut sekali, padahal sebelumnya Zeo selalu bisa berinteraksi dengan banyak orang yang bukan satu sekolah dengannya. "Woi pendek, lu ngapain di sini?" suara seseorang sontak membuatnya terkejut. Tentu saja itu suara Geo. Zeo menoleh ke belakang, dengan cepat Zeo berlari kecil mendekat pada Geo dan langsung mengajaknya pergi. "Itu siapa? Dia teman lu?" tanya Geo. Zeo menggelengkan kepalanya, ia menarik lengan Geo dengan cepat, sampai mereka meninggalkan lelaki asing itu. Di perjalanan pulang, Zeo sedikit tertegun. Ia terkejut dengan sosok lelaki tadi. Entah mengapa rasanya seperti pernah bertemu namun Zeo sama sekali tidak pernah melihatnya. Sungguh, Zeo sudah beberapa kali mengingat siapa lelaki tadi. Geo masih menyetir, sesekali ia menoleh pada Zeo. "Kenapa? Cowok tadi siapa?" tanyanya. Zeo tidak menyahut. "Mantan lu?" Bletak! "Mantan your eyes! Nggak kenal gua sama orang tadi." "Hah? masa sih?" Zeo mengangguk, namun Geo sepertinya belum percaya. "Kelihatannya orang tadi tuh kayak kenal banget sama lu." Ujar Geo. "Kadang nih, orang-orang suka berperilaku sok kenal sok dekat. Biar cepat akrab." Sela Zeo membuat Geo menoleh padanya. "Dih, gua juga dong?" "Iya, memang. Kenapa? Geo jelek, rese, nyebelin pula." Sinis Zeo pada Geo. "Udah dibaikin malah ngejelekin, lu doang emang." "Oh, iya dong, jelas... Zeo itu seseorang yang limited edition." Puji Zeo pada diri sendiri dengan sangat bangga. "Halah, limited edition sih kayaknya iya, termasuk batunya." "Gua ga batu!" elaknya. "Boong banget." "Dih beneran serius kok." Hari ini terasa mudah berlarut begitu saja, Zeo juga rasanya sangat tidak ada perasaan ingin membahas apapun. Hanya ingin begini, duduk dengan tenang menatap pada luar jendela yang menampakkan bagian luar rumah dari atas sini menikmati indahnya kota. Tak lama ia mengambil ponselnya. "Geo, besok gua berangkat sendiri ya." "Kenapa?" "Gak apa-apa 'kok. Lagi pengen aja." "Oke... Kalau ada apa-apa cerita ke gua, ya. Jangan di pendem sendiri." °°°~••~°°° Di sekolah, Zeo hari ini berangkat pagi dan tidak menunggu Geo. "Seola," panggil Zeo dengan pelan. Lalu menggerakkan tangannya seolah menyuruh Seola untuk duduk di sampingnya. "Kenapa?" "Sora, dia... Kembali." Pernyataan itu sontak membuat Seola membelalakkan matanya. Brak! Seola memukul meja dengan tangannya yang terkepal. Tiba-tiba saja dia berkeringat. "Nggak bisa dibiarin." Ucapnya. "Syutt, jangan berisik," "Hey Seola, ada apa?" "Lu berisik deh, Seol. Masi pagi loh." Beberapa ucapan dari teman-teman sekelas yang cukup mengganggu. Seola membalas mereka dengan tatapan tajam. "Urus aja urusan lu, ini tempat bukan punya lu juga." Dengus Seola. "Ih apaan sih?" "Nggak tahu, nggak jelas tuh Seola." Seola memutar matanya sebal, Seola tak memperdulikan omongan teman sekelas. Lantas dia menatap Zeo lagi. "Gila-gila, terus gimana?" "Tadi dia sempat ngatain gua di depan Geo, oh iya Kemarin Seola lagi sama temennya Kak Erina tuh, kalau nggak salah gua denger namanya Joya." "Joya?" Zeo mengangguk, "Dia juga sempet ngatain gua cewek murahan." "Aish sial." Umpat Seola. "Lu kenal Joya?" tanya Zeo. "Entahlah, gua pikir nggak bagus temenan sama dia." "Kenapa?" "Lu tahu? Gua sama joya sempet deket. Entah kenapa tiba-tiba Joya berubah waktu dia terserang rasa obsesi buat milikin seseorang buat jadi kekasihnya. Kira-kira begitu. Beruntung banget lu ada yang jaga," sahut Seola. "Siapa?" "Geo. Gua yakin dia akan jaga lu, dan di sini ada gua juga." Ucap Seola. "Maksud gua bukan... ah lupakan. Makasih, Seola." Zeo tersenyum. "Selamat pagi anak-anak," suara seorang guru kini menggelegar, seorang pria tinggi dengan rambut putih seperti uban itu duduk di kursi guru. "Lisa, gua duduk di sini sebentar ya." Izin Seola. "Oke!" "Perkenalkan saya adalah guru baru kalian, mengajar pelajaran seni musik. Nama saya Jelal D. Ignorious, panggil saya Sir Jelal. Jadi saya harap kalian bisa nyaman sama saya layaknya doi yang nyaman terus sama kita." Murid-murid menjadi heboh dengan kalimat terakhirnya, Seola mendekat pada Zeo. "Dia udah tua nggak sih? Ubannya banyak. Apa mending di botakin aja ya?" "Syut... Seola, nggak baik ngomong gitu. Tapi dari wajahnya sepertinya masih muda deh." Bisik Zeo. "Baik, sebelumnya, jangan pernah melakukan apapun dengan rasa." Ucap Sir Jelal. "Pake racun aja Sir, jadi Benci kan." Ucap Stein selaku ketua kelas. "Ya bagus 'kan? Kayaknya dia warnain rambutnya." Tukas Zeo pada Seola. "Yeh pala lu. Di sekolah kita mana boleh ganti-ganti warna. Murid aja nggak boleh apalagi guru lah sebagai cerminan murid." Ujar Seola. "Karena kalau kita melakukan semuanya pakai rasa, kita akan terus mengingatnya dan sulit untuk melepaskannya." Sir Jelal masih menjelaskan. "Dari wajah kan kelihatan banget masih muda, mungkin baru lulusan kuliah, serius masih muda sepertinya." Zeo mengatukan kedua tangannya lalu dagunya disimpan di atas tangan itu. Perlahan kepalanya menoleh pada guru itu. Zeo menatap dari ujung rambut sampai ujung kaki Sir Jelal, kini Zeo mendadak berubah menjadi seorang detektif. "Ubannya, Ze, jangan lupa itu." Peringat Seola. "Hish itu bukan uban, itu sepertinya alami deh, Seol." Ujar Zeo. "Sir nya Curhat nih." Tukas Jenna. Kelas mendadak ricuh kembali. Kemudian Sir Jelal menunjuk pada Seola dan Zeo. "Itu anak yang rambut pendek sama yang rambut panjang itu berdua." "Hah? S-saya?" Seola menunjuk dirinya. "Ya ya kalian, sedang apa? Mengobrol di jam pelajaran saya?" "E-enggak pak! Eh maksudnya Sir." "Saya tahu saya itu tampan, tapi kalian harus bisa pokus pada ketampanan eh maksudnya pada pelajaran saya." Para murid lelaki turut berduka, mereka langsung muntah-muntah mendengar kalimat yang dilontarkan Sir Jelal. "Sir ini PD banget." Protes Zhang. "Oke! Teori dasar musik itu adalah..." "Jeng... jeng... jeng..." "Sir, ini bukan acara komedi ya ampon." Protes Rossy. "Tau tuh, Sir Jelal." "Tenang anak-anak. Saya tahu saya tampan." "Apa sir teori dasar musik itu? Lama banget kayak udah mau buka lotre undian." Protes Stein. "Jawabannya itu adalah teknik vocal." °°°~••~°°° "Zeo, sarapan belum? Istirahat ke kantin nggak?" Satu pesan dari Geo turut membuat Zeo tersenyum. Zeo memikirkan pertanyaan teman-temannya. Akhir-akhir ini mereka memang terlihat sangat dekat. Zeo, lu nggak boleh berharap lebih! "Nggak, Geo. Gua di kelas aja." "Gua tunggu di depan loker, cepetan." "Zeo, mau kemana?" tanya Seola. "Gua mau ke loker sebentar." Jawab Zeo. "Jangan sendiri!" "Ada Geo kok." "Ceilah, Geo 'kan bener... bentar lagi jadi nyonya Federico." Jerit Rossy. "Berisik kalian." Protes Zeo lalu segera pergi meninggalkan kelas. Zeo cepat-cepat ambil langkah, ia sedikit berlari kecil. Sebenarnya Zeo tidak suka dan tidak mau membuat orang-orang menunggunya. Tapi kenyataannya, Zeo selalu membuat Geo menunggunya karena selalu lupa dengan janjinya. Janji yang Geo buat, lebih tepatnya. "Lama nggak?" tanya Zeo. Geo menggeleng. "Enggak," Mereka berjalan menuju kantin, Geo sempat memilih meja yang kosong yang cukup dekat dengan tempat ibu kantin menyajikan makanan. "Gua pesen makanannya dulu." Ujar Geo. Zeo mengangguk pelan. Tak lama Geo kembali. "Eh katanya bioskop lagi rame karena ada film yang di angkat dari w*****d yang udah di bukuin dan udah best seller juga." Ujar Geo. "Mau nonton?" tanya Zeo. "Gimana? Lu mau?" "Boleh," "Kapan?" tanya Geo. "Hari minggu gimana? Biasanya 'kan ada promo beli tiket satu gratis satu. Kan lumayan hemat." "Oke." Tak lama makanan pun datang, Zeo dan Geo makan tanpa mengobrol. Memang rasanya lebih baik kalau makan ya makan. Ngobrolnya ditunda dulu sebentar. Niatnya dan bagusnya begitu, tapi apa daya kalau diem-dieman kayak begini jatuhnya jadi canggung. Zeo mengambil minumannya lalu meneguknya. "Eh berapa ini?" tanya Zeo. Geo menoleh pada Zeo. "Udah abisin aja, udah gua bayar tadi pas pesen." "Ih nggak apa-apa? makasih ya Geo..." "Santai aja, makan yang banyak, Zee." Suruh Geo. "Ih, lu mau bikin pipi gua tambah gede ya?!" Zeo mempoutkan mulutnya. "Nggak apa-apa, Ze. Lucu." "Lucu your head ada empat." Meski Zeo memaki Geo, Geo hanya tertawa puas membuat Zeo kesal. Dan... meski Zeo mencibir tidak jelas perihal pipi dan makanan. Dia tetap memakan makanan yang Geo pesan. Sampai habis. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN