Sepanjang malam, Queen terus membolak-balikan posisi tidurnya dengan tidak nyaman, karena dirinya tidak bisa tidur malam ini. Kata-kata Robert tadi begitu mempengaruhi dirinya dan itu sangat mengganggu pikirannya. Queen tak pernah menyangka jika Robert sahabatnya dulu akan berubah sebegitu ekstrimnya dari terakhir Queen mengenalnya.
"Kenapa kamu terlihat begitu membenciku sekarang Robert,’’ gumam Queen sembari menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kecewa.
‘’Apakah kamu tidak merindukanku?’’ Tanpa Queen sadari buliran air mata mengalir di pipinya. Queen begitu merindukan Robert selama ini, namun dirinya mencoba untuk selalu menyangkal dan menutupinya, kembali bertemu dengan Robert membuat perasannya kembali membuncah, namun begitu melihat sikap Robert padanya sekarang membuat Queen begitu sedih dan kecewa. Robert bahkan dulu begitu lembut dan perhatian padanya, namun kenapa ketika sekarang mereka kembali bertemu Robert menjadi begitu sinis dan sarkas padanya.
Apakah ini karena hal yang telah lalu? Tapi bukankah kamu yang memilih meninggalkanku?
Kamu yang meninggalkanku, lalu mengapa sekarang justru kamu yang terlihat membenciku?
Queen kembali mengingat kejadian 5 tahun lalu, yang menurutnya mungkin menjadi penyebab kenapa Robert begitu membencinya sekarang.
Saat ini Queen masih menjalani study S2-nya di Harvard University, menjadi anak seorang Arthur Addison tidak seindah pemikiran orang lain. Bagi seorang pengusaha besar sekelas Arthur, memiliki putri adalah suatu kelemahan, namun bukan berarti Arthur membenci atau mengucilkan putrinya, Tidak! Sama sekali tidak. Tapi seorang pengusaha biasanya menghancurkan lawan mereka melalui keturunanya terlebih jika itu seorang gadis. Oleh sebab itu, tidak banyak media atau bahkan rakyat New York yang tau siapa putri dari Arthur Addison. Selama menempuh studynya di Harvard University, Queen hanya memiliki satu teman dan dialah Robert Elliot Hamilton. Robert adalah mahasiswa di jurusan Business sama seperti Queen, mereka mulai mengenal sejak mereka masuk Harvard University pertama kali, lebih tepatnya sejak mereka menempuh pendidikan S1. Queen gadis yang ceria di rumah, namun begitu pendiam saat keluar rumah begitupun pada semua temannya kecuali pada Robert, Queen juga sangat buruk dengan pergaulan sehingga tidak banyak anak para pengusaha yang mau berteman denganya, karena Queen dianggap terlalu kuno dan tidak asyik. Dia selalu malu ketika berbicara dengan orang lain, terlalu lama hidup di dalam sangkar Mansion Addison membuatnya tidak suka keramaian, itu sebabnya dia tidak terlalu suka memiliki banyak teman. Sejak kecil, Queen lebih banyak menghabiskan waktu dengan Nelson--kakaknya. Baginya, Nelson adalah teman, sahabat, dan keluarga. Oleh sebab itu, Queen begitu antusias sejak memiliki Robert yang merupakan teman pertamanya. Selama menempuh pendidikan, Queen memilih tinggal di sebuah apartment sederhana dekat Universitas karena dirinya tidak mau jika teman-temanya tau jika dirinya adalah putri dari Arthur Addison, Triliyuner terkenal di New York. Queen sangat menghindari memiliki fake friend yang bersedia menjadi temannya hanya karena latar belakang keluarga.
Dan tanpa di sangka, jika Robert temannya itu juga merupakan tetangga di samping kamarnya. Dengan semua ketentuan takdir itulah membuat mereka menjadi semakin dekat setiap harinya, sehingga memutuskan untuk bersahabat.
Queen bukanlah seorang gadis yang jenius, dia bisa lulus dengan mudah itu karena Robert yang selama ini selalu membantunya, bisa di bilang jika Robertlah kunci kelulusanya. Robert yang selalu menemani, melindungi, bahkan menjadi mentor Queen sejak awal menjadi mahasiswa. Robert memang terlahir jenius, bahkan skripsi milik Queen sebagian besar adalah ide Robert.
Dimana ada Queen maka di situ akan ada Robert, mereka berdua bukanlah mahasiswa yang menjadi most wanted di Universitas karena ketampanan dan kecantikan keduanya, sebab masih ada yang lebih dari mereka, dan Queen juga Robert sangat bersyukur untuk itu karena keduanya memang menghindari menjadi pusat perhatian. Mereka berteman tetapi saling sayang, namun tidak pernah mendeklarasikan hubungan layaknya orang-orang, mereka juga tidak pernah malampui batas hubungan wajar antara pria dan wanita, hanya bergandengan tangan lalu sedikit kecupan, tidak lebih dari itu. Walaupun mereka dekat, tetapi mereka berdua sama-sama tidak mengetahui latar belakang keluarga masing-masing. Yang Robert tau, Queen hanyalah seorang anak pengusaha dari New York sedangkan yang Queen tau Robert adalah seorang anak pengusaha dari Italia. Mereka saling menutup rapat rahasia masing-masing, dan tidak benar-benar tau latar belakang keluarga masing-masing, keduanya pun tidak pernah ingin mencari tau. Mereka berdua memilih untuk saling memiliki rahasianya sendiri dan tidak cukup percaya satu sama lain. Queen yang begitu takut jika Robert tidak tulus padanya jika mengetahui latar belakang keluarganya dan Robert yang tidak ingin Queen tau bagaimana garis keluarganya.
Hingga suatu sore, Robert menyiapkan sebuah surprise untuk Queen. Di ulang tahunnya yang ke 23 tahun, Robert memberanikan diri meminta Queen untuk menjadi tunangannya di depan ballroom Universitas, di hadapan banyak mahasiswa yang sedang beraktifitas di ballroom atau mereka yang tidak sengaja lewat. Meskipun Robert tidak pernah meminta Queen menjadi kekasihnya secara terang-terangan namun bagi Robert, Queen adalah kekasihnya selama ini. Itu sebabnya Robert memberanikan diri untuk melamar Queen menjadi tunanganya dan sangat yakin jika Queen pasti akan menerimanya.
"Queen, kita telah mengenal sejak lama. Aku ingin bersamamu dan selalu ada untukmu, menjadikanmu satu-satunya gadisku dan mengenalkanmu pada keluargaku. Besok kita telah menyelesaikan S2, aku ingin mengenalkanmu pada Orang Tuaku besok di acara wisuda kita, mengenalkanmu sebagai tunanganku. Maukah kamu bertunangan denganku? Menjadikanku satu-satunya priamu?" Robert melamar Queen di depan banyak orang. Queen dengan karakternya yang tidak suka keramaian sungguh malu karena menjadi pusat perhatian di depan banyak orang saat ini. Karena besok adalah hari mereka untuk di wisuda, maka banyak mahasiswa dan juga beberapa rektor yang mengurus acara untuk wisuda besok, dan sangat kebetulan jika acara besok akan di adakan di aula ballroom tepat di mana Robert dan Queen sekarang berdiri, menjadikan mereka menjadi pusat perhatian orang-orang yang sedang melakukan persiapan untuk acara besok. Karena Robert tau jika Queen menjadi salah satu panitia, maka Robert memutuskan untuk melamar Queen di ballroom Universitas, dengan tujuan jika akan ada banyak orang nantinya yang akan menjadi saksi jika Queen hanya akan menjadi miliknya seorang.
"Robert apa yang kamu lakukan, aku malu!" bisik Queen dengan keringat dingin yang sudah membasahi dahinya, Queen mengabaikan Robert yang sedang berlutut dengan cincin berlian berwarna putih yang di ulurkan untuknya. Queen senang dengan lamaran Robert tentu saja, namun perasaan malu dan rendah diri karena di tatap ratusan pasang mata yang mengelilingi dan menyorakinya itu berhasil mengalahkan rasa bahagianya.
"Yes or no?" tanya Robert karena Queen hanya meremas jari-jarinya dan tidak segera menjawab, menjadikan para mahasiswa yang lain semakin menyoraki Queen untuk segera menjawab, yang menjadikan Queen semakin bertambah malu. Robert tidak memperdulikan keadaan sekitar, yang Robert harapkan adalah jawaban ‘Ya’ segera dari Queen.
"Robert,’’ ucap Queen lalu menggelengkan kepalanya. Queen lalu berlari meninggalkan Robert secepat mungkin untuk menjauhi gedung ballroom secepat mungkin. Queen menggeleng bukan untuk menolak Robert, sama sekali bukan. Yang Queen maksud adalah mengapa Robert harus melakukanya di depan banyak orang seperti tadi, padahal Robert tau benar jika Queen sangat membenci keramaian. Mungkin jika Robert memintanya hanya di depan Queen maka semuanya tidak akan berakhir menjadi seperti ini. Queen dengan lantang pasti akan menjawab ‘Ya’, bukan malah berlari seperti seorang pengecut hanya karena rasa malu dan rendah dirinya.
Robert masih bertahan dengan posisi berlututnya, bahkan untuk menolehkan kepalanya menatap kepergian Queen pun Robert tidak sanggup. Gelengan kepala Queen barusan, terus berkelebat di kepalanya. Tusukan nyeri di dadanya juga semakin menambah kerapuhan Robert saat ini.
‘’Apakah aku di tolak?’’ ucap Robert bertanya pada dirinya sendiri.
Keadaan ballroom yang mulanya ramai karena sorak dari para mahasiswa mendadak begitu sunyi dan sepi, orang-orang yang telah mengenal Queen dan juga Robert tentu sangat tau jika mereka adalah couple goals dan diyakini banyak orang akan menjadi pasangan suami istri kelak, namun apa yang mereka saksikan sangat bertolak belakang. Lalu apakah penyebab Queen menolak Robert menjadi pertanyaa besar bagi semua orang, terlebih untuk Robert.
‘’Bangunlah Robert, kejar dia dan selesaikan urusan kalian.’’ Seorang pria yang merupakan teman sekelas Robert dan Queen itu membimbing Robert untuk berdiri dari posisi berlututnya.
‘’Kalian hanya perlu berbicara, hanya bedua,’’ lanjut pria itu. Namun Robert masih terdiam dengan tatapan kosong.
Setelah 5 menit Robert hanya terdiam, kini Robert mulai bisa menguasai kesadaranya, Robert menepuk bahu temanya dengan tersenyum tulus, memperlihatkan jika dirinya baik-baik saja, meskipun semua orang tau jika itu senyuman penuh kepalsuan. Robert lalu pergi dari ballroom, dengan pandangan tajam lurus kedepan. Robert tidak akan menoleh untuk melihat tatapan kasihan dari orang-orang. Rasa sakit hati dan malu ini akan selalu Robert ingat sampai mati, untuk pertama kalinya dalam hidup, harga dirinya diinjak-injak terlebih oleh seorang perempuan, dan dari semua orang kenapa orang itu harus Queen.
-o0o-