Queen kembali ke apartementnya lalu menangis sejadi-jadinya. Queen begitu menyesali perbuatanya, menyesali betapa bodohnya dirinya karena apa yang baru saja dia lakukan pada Robert.
"Aku tidak boleh menangis, hiks hiks kenapa aku menangis." Air mata itu tak kunjung berhenti malah semakin menjadi. Melihat raut wajah kecewa Robert membuat d**a Queen terasa begitu nyeri.
"Maaf Robert, maaf." Berulang-kali Queen memukul dadanya untuk menghilangkan rasa sesak yang ada, namun hasilnya nihil. Semakin Queen mengingat apa yang baru saja terjadi maka semakin tetesan air mata itu mengalir deras di kedua pipinya.
Setelah berjam-jam menangis, Queen membulatkan tekadnya untuk menemui Robert. Queen tidak mau Robert menjadi salah faham pada jawaban atas lamaranya tadi. Queen tidak mau rasa sakit dan sesak di hatinya menjadi semakin berlarut-larut.
Queen berulang-kali menekan bel namun Robert tak juga mau membuka pintu.Walaupun Queen dan Robert memang saling mengetahui password masing-masing, namun karena sekarang masalah mereka tentang privasi maka Queen tidak akan langsung masuk seperti biasanya. Queen dengan sabar terus menekan bel dan juga mengetuk pintu berulang kali, namun masih tidak juga mendapat jawaban. Queen bahkan berusaha menghubungi Robert sejak tadi, namun Robert mematikan ponselnya. Maka karena tingkat kesabaranya yang semakin menipis Queen memutuskan untuk langsung masuk saja ke apartement Robert, tetapi setelah menyusuri seluruh apartement Robert, Queen tidak menemukan sang empunya berada di apartement. Queen mencoba menghubungi Robert kembali, namun nihil ponsel Robert tetap tidak aktif. Bahkan tidak terhitung berapa kali Queen mengirimkan voice note untuk menanyakan dimana Robert berada sekarang. Queen cemas, karena sekarang sudah sangat larut tapi Robert belum juga pulang.
‘’Kamu di mana Robert,’’ Gumam Queen cemas. Queen terus berjalan mondar-mandir di depan kamar Robert. Mencoba berfikir, di manakah yang berkemungkinan menjadi tempat Robert bersembunyi.
"Mungkin dia butuh waktu," ucap Queen akhirnya setelah berfikir begitu lama. Untuk menenangkan dirinya sendiri, Queen memutuskan untuk kembali ke apartementnya dengan perasan kecewa.
Getaran ponsel Queen yang berada di genggaman tanganya membuat Queen kaget.
Justin Calling
Queen yang awalnya tersenyum senang, namun sepersekian detik selanjutnya senyum itu luntur, digantikan dengan raut kecewa. Queen fikir, jika Robert menghubunginya namun kenyataan kembali menghempaskanya.
"Justin," jawab Queen dengan lesu, tidak menutupi kekecewaanya karena mengira jika yang menghubunginya itu Robert.
"Kau di mana Queen?" tanya Justin dari sambungan telepon.
"Aku di apartement, ada apa?"
"Tunggu 10 menit, aku akan sampai!" baru Queen akan menjawab jika dirinya sedang tidak ingin di ganggu, namun Justin lebih dulu mematikan sambungan telepon.
Justin pun menepati ucapannya, dia muncul di depan pintu apartement Queen dalam waktu 10 menit. Justin adalah sepupu dari Queen, dia anak dari Aurel Meredith adik dari Jennifer Meredith--Mommynya. Mereka menempuh pendidikan di Universitas yang sama, Justin adalah pria yang menjadi primadona para gadis di Universitas, tapi tidak ada yang tau jika Justin adalah sepupu Queen karena mereka memang sengaja menjaga jarak, ketika bertemu keduanya sama-sama saling tidak mengenal karena itu adalah permintaan Queen pada Justin sejak awal saat menempuh pendidikan di Universitas yang sama, karena hidup Queen tidak akan tenang jika para gadis tau jika dia dekat dengan idola mereka. Bahkan Robert pun tidak tau jika Justin adalah sepupunya, karena Justin dan Robert pun tidak saling mengenal, sebab mereka tidak berada di jurusan yang sama dengan Justin.
"Queen, bisakah kamu membantuku?" tanya Justin dengan ekspresi frustrasi.
"Membantu untuk apa?" tanya Queen penasaran.
"Ada seorang gadis yang sangat terobsesi denganku, aku bahkan takut dengannya sekarang."
‘’Kamu jelaskan saja padanya jika kamu terganggu dengan sikapnya, semudah itu Justin. Kenapa kamu harus memusingkan sesuatu yang tidak penting, bahkan sampai menemuiku seperti ini. Bagaimana jika dia tau kamu berada di apartemenku sekarang?’’ jawab Queen dengan mudah.
‘’Aku tidak mau ya, dilabrak oleh salah satu wanitamu karena di kira menjadi selingkuhanmu!’’ lanjut Queen, menatap Justin dengan tajam.
‘’Tidak semudah itu Queen, aku rasa dia itu sudah sakit jiwa! Dia selalu mengikutiku kemanapun aku pergi. Aku sudah berkali-kali mengusirnya tapi dia tidak mau mendengarku!’’ jelas Justin semakin frustrasi karena mengingat tingkah gadis yang menjadi penguntitnya.
‘’Kamu jangan berikan harapan padanya! Ini sebabnya karena kamu sering tebar pesona pada para gadis,’’ ujar Queen dengan mencemooh.
‘’Yang ini berbeda Queen, dia itu gila! Hanya kamu yang bisa membantuku. Please, bantu aku kali ini saja,’’ mohon Justin dengan raut memelas, yang membuat Queen menjadi tidak tega.
‘’Apa?’’ tanya Queen singkat.
‘’Benar kamu mau membantuku?’’ Justin menggenggam jemari Queen lalu tersenyum dengan misterius.
‘’Katakan saja,’’ ulang Queen.
"Menikahlah denganku." Queen yang kaget sontak langsung memukul kepala Justin dengan keras menggunakan kepalan tanganya.
"Queen!! Sakit!!" Teriak Justin yang tersungkur dan kesakitan sambil mengusap kepalanya yang di pukul Queen dengan keras.
‘’Apa kamu sudah gila!’’ bentak Queen dengan marah, menatap Justin dengan tajam.
"Queen, maksudku kamu berpura-pura akan menikah denganku. Besok, di acara wisuda kita, dia mengancam akan bertemu daddy dan mommy, dia akan mengaku jika dia tengah hamil anakku. Bukankah itu gila!" jelas Justin dengan frustrasi, menatap Queen dengan penuh harap.
"Dan ternyata kamu benar menghamilinya?" Queen menatap Justin semakin tajam.
"Tentu saja tidak! Aku hanya melakukan sekali dengannya tapi tentu saja dengan pengaman! Dia mengancam akan mengaku hamil anakku supaya bisa menikah denganku." Queen kembali memukul kepala Justin, kali ini lebih keras dari sebelumnya.
"QUEEN!!!" teriak Justin emosi karena tidak terima jika Queen terus memukul kepalanya, terlebih dengan kekuatan Queen yang tak main-main, membuat Justin merintih nyeri mengusap kepalanya.
"Jika kamu mau menidurinya, kenapa tidak mau bertanggung jawab, hah!" bentak Queen dengan kesal.
"Daddy akan membunuhku jika sampai tau aku menghamili seorang gadis, padahal bukan seperti itu kenyataanya.Tolonglah aku Queen, kali ini saja," mohon Justin dengan raut wajah memelas.
‘’Aku tidak menyangka jika kamu sebrengsek ini, Justin.’’ Queen semakin kesal dibuatnya.
‘’Queen, di sini bukan aku yang b******k, tetapi kamu yang terlalu kolot. Sudah hal yang biasa jika remaja seumuran kita akan sering having s*x di luaran sana, apakah selama ini kamu tidak pernah melakukanya dengan Robert temanmu itu?’’ tanya Jutin dengan ekspresi mengejek. Mendengar nama Robert, membuat Queen kembali mengingat pria yang saat ini tidak tau di mana keberadaanya itu.
‘’Tutup mulut mesummu itu, Justin!’’ sarkas Queen.
‘’Baiklah, lalu bagaimana? Maukah kamu membantuku? Sekali ini saja, jadilah sepupu yang baik ya.’’ Rayu Justin dengan mengatupkan tanganya memohon.
‘’Tidak!” ketus Queen
‘’Queen.’’ Rengek Justin terus memaksa Queen untuk membantunya.
‘’Apa kau gila! Bagaimana jika daddy dan mommyku tau! Kau pikir hanya Orang Tuamu saja yang datang besok!’’
‘’Aku akan meminta pertolongan Uncle Arthur besok, kamu tenang saja.’’
‘’Dan jika Daddy mau membantumu, tapi Orang Tuamu tau jika kamu akan melamarku, maka jangan salahkan jika besok kamu akan melihatnya di ICU rumah sakit,’’ sindir Queen.
‘’Aku akan mengurusnya, yang penting kamu mau saja itu sudah cukup. Aku akan pastikan kedua Orang Tua kita tidak akan tau. Aku akan memastikan akting kita hanya untuk ditonton oleh gadis itu,’’ jelas Justin untuk meyakinkan Queen.
"Apa yang akan kamu berikan jika aku menolongmu?" secercah harapan muncul di raut wajah Justin ketika melihat Queen yang kembali ke jati dirinya, membantu dengan pamrih.
"Seorang Addison memang," sindir Justin dengan tersenyum senang.
"Tidak ada yang gratis di dunia ini. Kamu tau betul bukan, jika tawaranya tidak menarik maka aku tidak akan membantumu."
"Baiklah, selepas wisuda liburan 3 hari di pulau pribadi keluargaku, bagaimana?" ucap Justin sembari menggoyang alisnya, menggoda Queen.
"1 minggu," jawab Queen dengan cepat.
‘’4 hari,’’ tawar Justin.
‘’’6 hari.’’
"5 hari atau tidak sama sekali," ucap Justin final.
"Deal," jawab Queen akhirnya yang di sambut pelukan bahagia oleh Justin.
-o0o-
Hari ini adalah hari wisuda bagi Queen dan Robert, tak ketinggalan juga Justin. Hingga saat ini, Robert masih belum mau menjawab pesan ataupun panggilan dari Queen. Robert bahkan memilih untuk menginap di hotel demi untuk menghindari bertemu dengan Queen, karena Robert tau jika Queen pasti sedang menunggunya di apartement. Queen memutuskan menunggu Robert di ruang tamu apartemen Robert selepas Justin pulang semalam, hingga Queen tertidur di sofa namun hingga pagi Robert masih belum menampakan batang hidungnya yang membuat Queen benar-benar cemas.
Meskipun Robert menghilang, namun setidaknya Queen merasa lega tak kala melihat Robert di acara kelulusan mereka tadi bersama dengan kedua Orang Tuanya. Karena hadirnya Arthur dan Jennifer yang selalu berada di sampingnya, membuat Queen tidak bisa menemui Robert tadi. Selesainya acara, Queen langsung bergegas untuk mencari Robert sebelum ketinggalan jejak, dan tidak menghiraukan Arthur dan Jennifer yang berteriak memanggilnya.
"Robert." Robert hanya menoleh sekilas tanpa mau menghampiri Queen, Queen berlari menghampiri Robert yang berjalan menuju lift.
"Selamat atas kelulusan kita, semoga di masa depan kita bisa menjadi mitra bisnis." Queen tersenyum lebar sembari menjulurkan tanganya.
"Selamat." Hanya itu jawaban singkat yang Robert berikan tanpa mau repot menjabat tangan Queen, yang membuat Queen menatap uluran jemarinya dengan kecewa.
"Hei Son, siapa gadis cantik ini. Kamu tidak ingin mengenalkannya pada kami?" Gilbert dan Ellisabeth tiba-tiba datang menghampiri putranya.
"Hallo Tuan Gilbert dan Nyonya Ellisabeth, perkenalkan nama saya Jeslyn, saya temannya Robert sejak kita masuk di Harvard." Queen menunduk memberikan salam perkenalan dengan sopan.
"Wah, tidak ku sangka putraku punya teman secantik ini." Ellisabeth lalu memeluk Queen sebagai tanda perkenalan.
"Ayo mom, dad kita bisa ketinggalan pesawat." Robert seakan muak lama-lama melihat Queen.
‘’Kamu tidak ingin berbincang dengan Jeslyn dulu, Sayang?’’ tanya Ellisabeth setelah menatap wajah Queen yang terlihat kecewa dengan ucapan putranya.
‘’Kita sudah hampir terlambat Mom, bukankah Mommy sendiri yang menginginkan kita untuk menggunakan pesawat komersial?’’ ujar Robert beralasan.
"Daddy dan mommy akan menunggumu di mobil. Ucapkan salam perpisahan dengan benar kepada temanmu ini, Son." Gilbert menepuk pundak Robert lalu berjalan dengan Ellisabeth menuju lift.
"Robert apakah kamu akan kembali ke Sisilia? Dan tidak kembali lagi?" tanya Queen dengan ekspresi sedih.
"Ya,’’ jawab Robert singkat.
‘’Tapi bagaimana dengan barang-barangmu di apartement?’’ tanya Queen asal, karena melihat tatapan Robert yang tajam sedari tadi membuat Queen gugup.
‘’Pegawai daddy akan mengurusnya.’’
‘’Apakah kita tidak akan bertemu lagi?’’ tanya Queen menatap takut ke arah Robert.
‘’Tidak.’’
‘’Kenapa begitu?’’
‘’Memang apa pedulimu!’’ jawab Robert ketus.
"Tentu saja aku akan merindukanmu." Robert tidak menjawab, hanya berdecih dan tertawa sinis.
‘’Apa kamu akan melupakanku setelah ini? Kamu tidak akan merindukanku?’’ tambah Queen.
"Bukankah kamu akan menikah?" tanya Robert dengan menoleh dan menatap Queen tepat di matanya.
Deg … Deg … Deg
Debaran jantung Queen berdetak begitu cepat, terasa sakit seperti diremas erat-erat. Queen terdiam membeku mendengar apa yang baru saja di ucapkan oleh Robert, apakah keputusanya untuk membantu Justin tadi akan menjadi bom waktu untuk dirinya sendiri?
"Robert ini bukan se …."
"Aku sudah melihatnya di depan auditorium, kamu tidak perlu menjelaskanya lagi. Selamat atas pernikahanmu," ucap Robert dengan cepat, lalu Robert berjalan dengan cepat meninggalkan Queen dan memasuki lift yang kebetulan sedang terbuka.
Saat Queen tersadar dari keterkejutanya, namun pintu lift itu sudah terlanjur tertutup. Queen segera mengejar Robert dengan menggunakan tangga darurat, Queen ingin segera menjelaskan kesalah- pahaman ini pada Robert, Queen tidak ingin Robert beranggapan jika dirinya tidak mencintai Robert. Sesampainya di lantai dasar, dengan keringat yang terus menetes dan nafas yang memburu Queen mengedarkan pandanganya menatap ke seluruh arah namun tak menemukan sosok Robert, Queen berlari ke arah parkiran namun masih tak menemukan mobil Robert, Queen ingin mencari mobil orang tua Robert namun Queen tidak tau mobil jenis apa yang mereka gunakan. Queen menatap jajaran mobil di depanya dengan pandangan kecewa, matanya berkaca-kaca yang di susul dengan buliran air mata yang membanjiri kedua pipinya.
‘’Haruskah kita berakhir seperti ini.’’ Queen menutup mulut untuk meredam isakannya.
"Aku berjanji, tidak ingin menikah jika tidak denganmu, Robert." Janji Queen pada dirinya sendiri, menatap kosong pada jajaran mobil di depannya.
-o0o-
Queen mengusap air matanya ketika kilasan masa lalu itu kembali berputar di memorinya. Betapa dulu Robert yang begitu menyayanginya, namun karena kesalah-pahaman yang disebabkan olehnya sendiri membuat hubungan mereka menjadi dingin seperti sekarang. Queen rindu sosok Robert yang hagat seperti dulu.
Apa kamu sekarang sangat membenciku’
Queen dengan gerakan tiba-tiba bangun dari posisi tidurnya lalu beranjak menuju meja kerja yang berada di kamarnya, lalu menyalakan tablet yang berada di atas nakas. Queen mengetik ‘Robert Elliot Hamilton’ pada bilah pencarian di browser, dan begitu banyak artikel mengenai Robert yang tersebar.
Tiba-tiba saja Queen memikirkan, apakah Robert sudah memiliki istri atau belum. Queen takut jika sikap dingin Robert padanya juga karena Robert ingin menjaga hati untuk istrinya, oleh sebab itu Queen langsung mencari identitas Robert sekarang, untuk mengetahui apakah Robert telah memiliki istri atau belum. Dan senyuman tersungging di bibir Queen tak kala mengetahui jika Robert belum mmeiliki seorang istri. Queen tidak pernah menyangka jika sosok Robert yang di kenalnya selama ini adalah seseorang yang luar biasa, yang menjadikan Queen menyesal karena tidak mencari tau tentang Robert sejak dulu.
‘Robert Elliot Hamilton, King of Sport yang masih Single dan Mempesona’
‘Robert tertangkap kamera berkencan dengan Jenny Baldwin, model Victoria Secret yang tengah naik daun’
‘Robert Elliot Hamilton dan Sarah Kadarsian bertunangan?’
‘Kembali tertangkap kamera di sebuah hotel, Robert Elliot Hamilton mengelak bermalam dengan Sarah Tyson’
‘Laura Trevor mengaku menjalin kasih dengan Robert Elliot Hamilton’
‘Hamilton International Group yang semakin di depan’
‘HIG Perusahaan Otomotif terbesar no 3 di Dunia asal Italia’
‘Kisah Robert Elliot Hamilton sang Taipan asal Italia’
‘Billionaire termuda menurut majalah Forbes, Robert Elliot Hamilton’
‘Robert Elliot Hamilton Eksekutif termuda terkaya no 1 di Dunia’
‘Sukses di usia muda, Robert Elliot Hamilton tak berencana segera menikah’
‘Sukses sebelum 30 tahun, Triliyuner ini betah sendiri?’
Mata Queen terus menyusuri berbagai berita tentang Robert, tidak ada satu artikel pun yang terlewat olehnya. Semua tentang Robert yang sekarang, Queen ingin mengetahui semuanya.
"Robert, kamu bersinar sekarang," kagum Queen setelah membaca bermacam-macam gosip tentang Robert.
"Aku yakin, kita bisa kembali seperti dulu lagi Robert," ucap Queen menyemangati dirinya sendiri.
‘’Aku akan berusaha, apa pun rintangannya,’’ ucap Queen sembari mengusap foto Robert yang terpampang di layar laptopnya.
-o0o-