7. Brave

1843 Kata
Hamilton International Group 09:30. Queen berdiri di depan sebuah gedung pencakar langit yang baru-baru ini menjadi pusat perhatian para investor di New York. Queen berulang-kali menghela nafas untuk meyakinkan dirinya jika keputusan yang dia ambil ini adalah tepat, Queen memberanikan diri menemui Robert untuk menyelesaikan kesalah pahaman di masa lalu. Queen tidak bisa lagi bertahan dengan sikap dingin Robert seperti kemarin, setelah memikirkan hal tersebut, hingga pukul 2 dini hari semalam, keputusan inilah yang Queen ambil akhirnya. Queen berjalan memasuki gedung Hamilton International Group yang terlihat begitu besar dan megah. Queen yakin, jika Robert telah mengetahui hal yang sebenarnya pasti Robert akan menyesal karena telah memperlakukan Queen seperti kemarin. Queen berjalan dengan penuh percaya diri menuju meja resepsionis. "Selamat pagi, apakah ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya seorang wanita yang berdiri di balik meja front office. "Saya ingin menemui Robert," jawab Queen dengan santai. "Apakah maksud anda adalah, Tuan Robert Elliot Hamilton?" tanya sang resepsionis memastikan. "Iya, Robert Elliot Hamilton." Resepsionis itu memperhatikan penampilan Queen dari atas ke bawah, yang terlihat sangat kontras dengan pakaian orang-orang yang berlalu lalang menggunakan setelan formal. Mungkin terlihat tidak sopan jika seorang resepsionis menelisik pakaian seseorang dari atas ke bawah seperti yang baru saja dilakukan oleh resepsionis bernama Sarah itu, tetapi orang-orang jelas akan melakukan hal yang sama tak kala melihat Queen yang hanya mengenakan baju santai saat memasuki gedung Hamilton International Group, bahkan terlewat santai untuk menemui seorang Ceo dari perusahaan besar sekelas Hamilton International Group. "Maaf Nona, apakah anda sudah membuat janji sebelumnya?" tanya resepsionis itu dengan sopan. "Belum, aku Dominique Jeslyn Addison dari Addison Group. Aku memiliki urusan bisnis yang mendadak dengannya, tolong jangan bertele-tele, kamu menghambat waktuku!" Queen merasa sedikit kesal karena resepsionis di depanya ini yang terkesan bertele-tele meskipun dirinya jelas tau jika memang seperti inilah prosedurnya. Wanita bernama Sarah itu masih tersenyum tidak bereaksi apapun meskipun Queen sudah mengenalkan siapa dirinya, karena kesal Queen mengeluarkan kartu identitasnya untuk membuktikan pada resepsionis ini jika dirinya adalah Dominique Jeslyn Addison dan benar jika dirinya adalah bagian dari Addison Group, setelah melihat dan mengonfirmasi identitas dari Queen, Sarah lalu menekan tombol teleponnya untuk meminta izin bertemu pada sekretaris Robert. "Maaf Nona Dominique, sekretaris Tuan Robert belum menjawab panggilan, sehingga saya belum bisa mengkonfirmasi izin bertemu untuk anda. Apakah anda bersedia untuk menunggu?" tanya Sarah dengan sopan. Sedikit merasa terintimidasi setelah mengetahui identitas Queen, terlebih semakin merasa takut tak kala melihat raut kesal yang Queen tunjukan setelah dirinya berkata jika Queen harus menunggu. "Lantai berapa ruangannya!" ucap Queen kesal, mengabaikan ucapan Sarah jika dia harus menunggu. "Maaf Nona, saya tidak bisa memberi tahu anda di mana ruang Tuan Robert karena anda belum memiliki izin bertemu, anda hanya bisa menemui Tuan Robert setelah mendapat konfirmasi izin temu terlebih dahulu." Meskipun Sarah juga sebenarnya kesal menghadapi sikap Queen yang terkesan bossy, namun Sarah masih harus profesional dengan bersikap sopan. Bukankah kebanyakan orang kaya memang seperti ini? "Jika kamu takut akan di pecat hanya karena memberitahuku di lantai mana ruang kerja Robert, maka datanglah ke Addison Group, kamu akan di terima!" Queen kembali menghiraukan ucapan Sarah, lalu memberikan kartu namanya dengan santai di atas meja. Queen melenggang masuk menuju lift yang kebetulan sedang terbuka, tidak perduli pada Sarah yang berteriak memanggilnya. Queen dengan asal menekan tombol lantai tertinggi bertuliskan angka 45. Queen bisa melihat Sarah dan 2 orang petugas keamanan yang mencoba mengejarnya namun terlambat karena pintu lift lebih dulu tertutup. Lift yang digunakan oleh Hamilton Group termasuk canggih, karena Queen sangat heran sebab hanya dalam waktu 10 detik dirinya sudah berada di lantai tertinggi gedung ini. Saat pintu lift terbuka, pemandangan lantai granit mewah dan hiasan dinding juga lampu yang menggantung indah membuat Queen terpukau. "Sesuai instingku," gumam Queen berbangga diri karena merasa benar jika lantai ini benar untuk Ceo. Lantai ini sangat luas namun terlihat sangat sepi namun berkelas. Queen dengan berani menyusui tempat itu, dan terdapat sebuah pintu besar di ujung ruangan yang bertulisakan Chief Executive Officer. Queen berjalan menghampiri ruangan tersebut lalu membukanya tanpa permisi, karena tidak ada seorang pun kecuali dirinya di sini. Queen pikir setelah membuka pintu ini, maka Queen akan otomatis memasuki ruangan kerja Robert, namun nyatanya dirinya salah, karena masih ada ruangan luas di sini.  Di dalam ruangan itu, nampak sebuah meja sekretaris yang sedang kosong dan juga ada seorang pria berjaga di depan ruangan bertuliskan ‘CEO’ di pintunya. "Apa yang anda lakukan di sini?!" tanya seorang pria yang tak lain adalah David. David menghampiri Queen yang masih berdiri di depan pintu dengan wajah bingung, dan David bertanya dengan wajah tegasnya, karena merasa aneh melihat ada orang asing yang memasuki kawasan khusus untuk petinggi perusahaan tanpa izin seperti yang Queen lakukan, terlebih saat David menatap pakaian yang di kenakan Queen, semakin mendorong David untuk bersikap waspada. "Namaku Jeslyn, aku ingin bertemu dengan Robert." Queen menatap David menantang seolah tak takut dengan aura David yang mengintimidasinya. David kembali memperhatikan wajah Queen, yang dirinya rasa sangat tidak asing, seperti pernah bertemu. "Maaf Nona, Tuan Robert sedang sibuk dan tidak bisa untuk di ganggu. Jika anda memiliki izin resmi tentu resepsionis kami akan memberikan anda informasi jika Tuan Robert sedang tidak bisa untuk bertemu tamu. Maka dengan sopan, saya meminta anda untuk meninggalkan tempat ini sekarang.’’ David masih mencoba untuk sopan karena masih menghargai Queen yang seorang wanita. "Tidak!" bentak Queen tidak terima oleh usiran David. "Saya akan berterima kasih jika anda bisa bersikap koperatif Nona, sebelum saya melakukanya dengan cara kasar untuk meminta anda pergi," ‘’Aku memiliki urusan yang penting dengan Robert, dan apakah kamu tak bisa mengingatku? Kita bahkan baru kemarin bertemu!’’ kesal Queen dengan sikap David yang tidak bisa untuk diajak bekerja sama. ‘’Dari ratusan orang yang saya temui dalam satu hari, maka haruskah saya untuk bisa mengingat wajah  anda Nona? Jadi bisakah anda segera pergi dari sini dan tidak membuang waktu saya yang berharga!’’ David masih kukuh untuk mengusir Queen, walaupun kali ini dengan sedikit tekanan karena David tau Queen tidak takut denganya jika dia bersikap sopan.  Queen yang melihat wajah David yang terus datar dan keras kembali mengingatkanya pada wajah Robert yang sekarang, sehingga keinginan untuk bertemu Robert semakin besar. Queen berusaha untuk menerobos masuk, tidak peduli pada David yang menghadang jalannya. David yang mulai kesal karena sikap keras kepala Queen menahan pergelangan tangan Queen yang terus mencoba menerobos masuk ke dalam ruangan Robert. Baru David menyentuh pergelangan tangan Queen, Queen dengan sigap menarik David dan membalikkan lengan lalu mengunci lengan David di belakang tubuhnya.  Membuat David kaget dengan aksi Queen barusan. Wanita yang disangkanya hanya seorang gadis biasa yang hanya bisa mengejar-ngejar Robert demi uang, ternyata seorang gadis yang jago bela diri. Siapa wanita ini sebenarnya? ‘’Sudah aku katakan, jangan halangi aku. Bukan hanya kamu yang ingin bertindak kasar, aku pun juga akan bertindak kasar jika kamu menghalangi jalanku!’’ ucap Queen masih dengan posisi mengunci pergerakan David yang tengah berusaha untuk melepaskan diri. David mencoba untuk membalikan keadaan dengan menggunakan sikunya untuk menyerang Queen, namun Queen cukup mudah untuk membaca pergerakan David sehingga Queen semakin kuat mengunci tubuh  besar David yang ada di belakangnya, ketika David mencoba meraih pistol di belakang bajunya dengan tangan kirinya, Queen dengan sigap meraih dan mengarahkan pistol itu tepat di depan dahi David. Bunyi suara kokang senjata yang di arahkan Queen tepat pada dahi David membuat David seketika mengangkat kedua tanganya ke atas, sebagai tanda jika dirinya menyerah. "Wow, desert eagle," ucap Queen sembari menempelkan ujung moncong pistol itu ke arah dahi David. "Oke, saya menyerah." Meskipun bibir mengatakan menyerah namun dari tatapan dingin dan ekspresi menghunus tajam yang David berikan semakin memacu adrenalin Queen untuk menaklukan pria besar di depanya ini. ‘’Apakah benar kamu menyerah?’’ goda Queen yang semakin membuat David merasa direndahkan. David menendang lutut Queen namun tidak berhasil sebab Queen sudah lebih dulu membaca situasi dari mimik muka lawanya ini. Queen belajar ilmu bela diri dan menggunakan senjata adalah untuk mengatasi hal semacam ini, untuk melindungi dirinya dari bahaya atau bahkan lawan yang 3x lebih besar dari tubuhnya. "Jangan halangi jalanku, aku hanya ingin bertemu Robert. Terlalu lama bermain denganmu membuang waktuku!" Queen menurunkan ujung moncong pistol itu dari dahi David, namun Queen sama sekali tidak menurunkan tingkat kewaspadaannya.  ‘’Tidak sembarang orang bisa atau bahkan boleh untuk bertemu dengan Tuan Robert, Nona.’’ David mencoba untuk bernegosiasi setelah dirasa jika situasi mulai dapat dikendalikan. ‘’Haruskah aku menjelaskan urusan pribadi kami padamu?!’’ jawab Queen dengan sarkas. ‘’Saya hanya bisa membantu jika anda juga bisa untuk bekerja sama,’’ ucap David. ‘’Baiklah, aku adalah teman Robert. Aku memiliki urusan yang harus dibahas denganya sekarang, untuk membicarakan hal yang pribadi denganya. Kemarin, kalian datang ke restoranku, apakah kamu sudah mengingatku sekarang?’’ jelas Queen dengan percaya diri. "Meskipun anda adalah teman Tuan Robert, namun saya masih tetap harus membutuhkan izin Tuan Robert untuk mengizinkan anda masuk dan bertemu dengan beliau. Sebab saya yakin, anda sampai ke lantai ini tidak dengan prosedur yang tepat." Masih dengan kedua tangan di atas kepala, David mencoba membujuk Queen. Karena sejujurnya David tak mengenal siapa wanita di depannya ini, dan bisa jadi jika wanita ini adalah musuh yang sedang menyamar, oleh karena itu David tidak akan mudah untuk mengizinkan wanita ini bertemu dengan Robert. Robert juga kemarin tidak membahas perihal wanita ini sekalipun setelah mereka hanya bertemu berdua. Terlebih setelah melihat kemampuan bela diri dari Queen tadi, semakin membuat David untuk lebih waspada menghadapi wanita seperti Queen. David juga tidak mau mengambil resiko atas keselamatan Robert jika membebaskan Queen dengan mudah untuk bertemu bosnya itu. Kemampuan bela dirinya luar biasa untuk sekelas perempuan yang terlihat biasa seperti Queen. "Ambilah." Queen melemparkan pistol kearah David yang sedang terdiam dengan tiba-tiba, lalu berjalan kearah pintu ruangan Robert dengan santai, tidak peduli serentetan kalimat yang sudah David jelaskan sejak tadi. Queen buru-buru akan masuk ke dalam ruangan Robert sebelum David akan menangkapnya. Namun ketika Queen baru saja menyentuh handle pintu ruang kerja Robert, suara desahan seorang wanita terdengar mengalun di telinga Queen. Tidak hanya itu, bahkan suara Robert yang menggeram juga terdengar. Apa yang mereka lakukan di dalam. Queen terdiam mematung di depan pintu, Queen menepuk dadanya dua kali lalu merubah mimik mukanya kembali menjadi biasa saja, menampik rasa sesak di dadanya. Queen dengan tanpa permisi membuka lebar pintu ruangan Robert lalu masuk. Queen menatap pemandangan mengerikan di atas meja kerja Robert. Queen dengan tanpa rasa peduli justru melangkah menuju sofa yang berada di dalam ruangan itu, mengabaikan dua sejoli yang sedang mengais nikmat di atas meja kerja. Robert sempat melirik sebentar ketika mendengar langkah kaki seseorang, dia terkejut ketika melihat Queen ada di dalam ruangannya, namun itu tidak menjadikan Robert untuk menghentikan kegiatannya. Robert masih tetap melanjutkan kegiatan penuh kenikmatan di mana seorang wanita sedang memberikan kepuasan pada miliknya dengan mulut mungilnya. Dan Queen dengan bodohnya, hanya duduk terdiam sembari menunggu mereka mencapai puncak kenikmatan. Queen sudah menyiapkan mentalnya, bahwa apa pun yang terjadi, dirinya ingin segera menyelesaikan kesalah pahaman ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN