9. Scheming Plan

1981 Kata
Robert masih menatap tubuh Queen hingga benar-benar menghilang dari pandangannya, setelahnya baru Robert kembali masuk ke ruanganya, diikuti oleh David yang berjalan di belakang tubuh Robert. "Siapa gadis itu? Mengapa kau melindunginya?" tanya David dengan bahasa informal, karena David merasa ini bukan saatnya untuk mode teman, situasi yang baru saja terjadi termasuk keadaan yang darurat di mana David sangat penasaran dengan sosok Queen. ‘’Dialah orangnya,’’ ucap Robert dengan santai sembari menatap geli raut muka David yang terlihat tengah kebingungan. ‘’Apakah aku mengenalnya?’’ tanya David. ‘’Tidak, hanya aku.’’ David baru mengerti apa maksud dari ucapan Robert. Karena David adalah salah satu orang yang menemani bangkitnya seorang Robert Elliot Hamilton, maka David pun juga tau sejarah kisah asmara masa lalu Robert meskipun tak mengenal orang-orang yang terlibat secara langsung. ‘’Jadi, baru sekarang kamu bertemu lagi denganya?’’ David dengan santainya duduk di sofa yang baru saja ditinggalkan oleh Queen tadi. Sedangkan Robert kembali duduk di kursi kebesarannya, membuat jarak mereka terbentang cukup jauh. ‘’Aku tidak pernah berharap untuk bertemu lagi denganya.’’ Robert mengusap wajahnya, untuk melampiaskan rasa frustrasi yang tiba-tiba melanda. ‘’Aku tidak menyangka, jika wanita dari masa lalumu adalah wanita hebat sepertinya,’’ ucap David memuji Queen, sembari melirik Robert sekilas untuk mengetahui reaksi Robert. ‘’Apa hebatnya dia!’’ desis Robert sewot. ‘’Jadi kamu tidak tau apa pun tentangnya?’’ ‘’Aku tidak punya waktu untuk mengetahui apa pun tentang masa laluku!’’ ucap Robert dengan kesal. ‘’Baiklah, aku akan memberitahumu, apakah kau tau jika dia bisa berkelahi?’’ tanya David dengan raut wajah serius. ‘’Apa kau bercanda, mana mungkin gadis sepertinya bisa berkelahi, dia hanya gadis manja dan bodoh. Ada-ada saja kamu ini,’’ ujar Robert dengan tertawa geli, seakan apa yang baru saja diucapkan oleh David adalah sebuah lelucon. ‘’Seperti apa yang aku bayangkan jika kamu tidak tau apa-apa, jadi wanita tadi yang kamu bilang temanmu itu baru saja menangkis seranganku dan bahkan berani menodongkan desert eagle milikku tepat di dahi,’’ jelas David sembari mempraktekan tangannya seperti sebuah pistol yang mengarah di dahinya. ‘’Apa maksudmu?’’ Robert seketika menghentikan tawanya setelah mencermati apa yang baru saja di ceritakan oleh David, karena David tak mungkin berbohong. "Kamu mungkin perlu melihat ini." David mengambil ponselnya, setelah beberapa saat mencari apa yang dia maksud, David berjalan mendekati Robert untuk menunjukan rekaman CCTV yang dapat di akses lewat ponselnya. Robert melihat dengan seksama, bahkan Robert sempat menahan nafasnya ketika melihat adegan di mana Queen berhasil membalikkan posisi David yang menyerang, bahkan dengan lincahnya dan gesit Queen mampu menangkis serangan David yang tiba-tiba. Yang paling memukau dari semuanya adalah ketika Queen dengan berani menodongkan pistol itu ke arah David. Robert tak pernah menyangka jika Queen yang di kenalnya dulu akan berubah sedemikian rupa seperti sekarang, Robert juga salut dengan gerakan reflek Queen yang mampu menghalau serangan David yang belum tentu bisa di lakukan oleh orang terlatihnya sekalipun. Jika David, orang kepercayaanya dapat di patahkan oleh Queen hingga seperti ini, lalu bagaimana dengan anak buahnya yang lain? ‘’Jadi, karena ini kamu menyiapkan begitu banyak personil untuk menargetkanya?’’ tanya Robert dengan tertawa kecil. ‘’Aku hanya tidak tega mematahkan tulang seorang wanita, jadi lebih baik aku menggertaknya saja, tapi bukan berarti aku kalah oleh wanita!’’ jawab David tak mau di anggap kalah walaupun memang, itulah kenyataanya. Robert kembali memfokuskan matanya untuk mengulang-ulang video cctv yang memperlihatkan gerakan Queen dalam mengalahkan David. ‘’Haruskah kamu terus mengulangnya?’’ kesal David, karena ponsel yang digunakan Robert adalah miliknya. Robert tak menjawab, dirinya hanya menoleh sekilas untuk menatap David dengan tatapan tajamnya, David yang mengerti hanya berdecih lalu kembali untuk duduk di sofa. Jadi kamu sudah berubah sekarang. Tanpa di sadari, Robert melukiskan senyuman di sudut bibirnya ketika menatap wajah Queen sekali lagi. ‘’Robert,’’ panggil David. ‘’Robert,’’ panggil David sekali lagi untuk menyadarkan Robert dari fokusnya menonton video cctv di ponsel miliknya. ‘’Robert!’’ panggil David dengan keras, dan akhirnya berhasil membuat Robert menoleh, meskipun hanya diam tidak menjawab. ‘’Apa yang harus aku lakukan pada wanita itu?’’ tanya David, yang menimbulkan kerutan di dahi Robert. ‘’Apa aku harus membereskannya?’’ tambah David. ‘’Biarkan saja, aku tidak ingin lagi berhubungan denganya, dan berhenti memanggilnya ‘wanita itu’ bukankah dia sudah mengatakan padamu jika namanya Jeslyn.’’ Melihat raut muka Robert yang kesal justru membuat David tertawa. ‘’Apa kamu tidak ingin tau informasi tentangnya?’’ tanya David memastikan. Robert terlihat terdiam karena ragu akan menjawab apa. ‘’Aku sudah mendapatkan informasi tentangnya, jika kamu ingin tau aku akan memberikanya sekarang,’’ lanjut David lagi. ‘’Kenapa kamu bergerak tanpa menunggu perintahku!’’ Robert memandang tajam ke arah David. ‘’Karena awalnya aku menganggapnya sebagai ancaman untukmu, maka sudah kewajibanku untuk mencari tau informasi tentang siapa musuhku,’’ jelas David dengan santai. ‘’Apa yang kamu dapatkan?’’ tanya Robert dengan cepat. ‘’Aku fikir kau tidak ingin tau,’’ kekeh David yang dibalas tatapan menusuk dari Robert. David kembali berjalan ke arah meja kerja Robert, lalu menekan tombol telephone yang ada di meja Robert untuk meminta Adele masuk dan membawa berkas yang tadi dia tinggalkan di meja. Hanya dalam waktu sepuluh detik, Adele sudah menyerahkan laporan yang diminta David tadi pada Robert. Robert dengan tidak membuang waktu lama langsung segera membaca informasi apa yang berhasil David dapatkan di waktu yang sesingkat itu. ‘’Dia adalah putri dari Tuan Arthur Addison, dia adik perempuan dari Nelson Addison. Seseorang yang sempat menjadi rival kita untuk mendapatkan tanah yang berada di Stamford, Connecticut.’’ David tetap menjelaskan rincian dari file yang sedang dibaca oleh Robert. ‘’Jadi dia selama ini menutupi identitasnya di depan publik, bahkan juga di depanku,’’ gumam Robert pelan, yang tentu saja dapat di dengar oleh David dengan jelas. ‘’Jadi kamu tidak mengenalnya sama sekali walaupun telah bersama sekian tahun?’’ tanya David dengan sedikit intonasi ejekan. ‘’Aku memiliki rahasiaku sendiri begitupun denganya!’’ balas Rober tak mau kalah. ‘’Berarti dia juga memiliki alasanya sendiri untuk menutupi identitasnya, meskipun di depanmu.’’’ ‘’Aku hanya tidak menyangka saja, lagi pula untuk apa juga dia menyembunyikan identitasnya di depanku? Keluarganya tidak sekotor keluargaku, lalu apa yang membuat dia harus menyembunyikannya?’’ ‘’Kamu benar, Addison Group memang perusahaan yang tergolong bersih, bahkan tidak pernah ada skandal yang menyinggung mereka, aku juga mencari jika Jeslyn juga merupakan sosok yang bersih. Aku hanya turut berduka atas kandasnya hubungan kalian,’’ ucap David dengan kekehan kecil yang terdengar sangat menjengkelkan di telinga Robert. ‘’Kami tidak pernah memiliki hubungan!’’ ‘’Baiklah, terserah kau saja,’’ ujar David dengan tertawa. ‘’Dia juga belajar di berbagai bidang bela diri, pantas jika strategi dan kekuatanya patut di apresiasi. Teknik menembaknya juga luar biasa karena seorang gadis sepertinya mendapatkan lisensi menembak di umur yang baru 24 tahun, bukankah itu hebat? Aku tidak pernah menyangka seorang Arthur Addison menyiapkan para keturunanya sedemikian rupa,’’ tambah David yang membuat Robert menatapnya tajam karena sejak tadi terus memuji Queen di depanya. ‘’Aku juga ahli menembak di umurku yang ke-24 tahun asal kau tau,’’ sinis Robert. ‘’Kau seorang pria, jelas itu berbeda. Apa kau mau di samakan dengan Jeslyn?’’ David terkekeh geli dan Robert terlihat semakin kesal. ‘’Haruskah aku mengujinya untuk melihat seberapa hebatnya dia? Mungkin aku bisa mencoba dengan menembaknya dari jarak jauh, dan kita lihat apakah dia bisa menghindar dari peluru atau tidak,’’ ucap David dengan santainya, bertujuan untuk memprofokasi Robert.  ‘’Lakukanlah, maka kamu yang akan menjadi targetku selanjutnya!’’ sinis Robert lalu melempar David dengan bolpoint yang ada di mejanya, David dengan santainya justru hanya tertawa. ‘’Sepertinya, dia bersikeras untuk kembali menjalin hubungan denganmu,’’ ucap David kembali serius setelah menghentikan tawanya. ‘’Jujur saja aku tidak ingin memiliki hubungan lagi denganya, kembali melihatnya hanya mengingatkanku tentang masa lalu. Namun setelah mengetahui segala informasi tentangnya justru membuatku tertantang untuk membuatnya takluk.’’ ‘’Lalu apa yang akan kamu dapatkan dengan rencanamu?’’ ‘’Membuatnya merasakan apa yang pernah aku rasakan!’’ tegas Robert. ‘’Membuatnya terjerat cinta lalu meninggalkanya? Bukankah itu terlalu kuno untukmu?’’ ‘’Dia bukan gadis seperti yang berada di luaran sana, tak akan mudah jika hanya dengan cara seperti itu,’’ jawab Robert sembari mengusap dagunya seraya berfikir cara yang tepat. ‘’Dari yang aku lihat, justru kau yang akan terjerat kembali denganya,’’ Celetuk David. ‘’Tidak akan aku biarkan masa lalu kembali mempengaruhiku.’’ Robert menyeringai tajam. ‘’Bukankah sudah aku katakan jika Jeslyn itu bersih? Tak ada yang mencurigakan darinya, jika kau tidak ingin berhubungan lagi denganya maka lepaskanlah. Kau hanya akan semakin terjerat denganya.’’ "Hancurkan Addison Group, buat gadis itu datang memohon padaku. Gunakan Vincent jika itu memang di butuhkan!" Robert mengabaikan ucapan David barusan, bahkan berpura-pura seolah tak mendengarnya. David mengerti arti dari seringaian Robert saat ini, karena seorang Robert akan selalu mencapai apa yang akan menjadi tujuannya. ‘’Aku hanya ingin mengingatkan, untuk menghancurkan perusahaan sebesar Addison Group tentu tak akan mudah Robert. Jika kau bisa melakukanya dengan mudah, maka orang lain pun bisa. Tak mungkin perusahaan sebesar itu tak melewati badai besar sebelumnya. Lalu dengan cara apa kau ingin kita menghancurkanya?’’ tanya David, menyelami dalamnya isi pikiran Robert. ‘’Kamu tau, seseorang akan cenderung berfikir sempit di kala mereka sedang terdesak. Skill dan pengalamanlah yang akan mengajarkanmu cara bertahan di bawah tekanan. Mungkin kita bisa mempercayai seorang Arthur Addison, namun sekarang yang memegang kendali atas Addison Group adalah putra pertamanya—Nelson Addison. Aku tidak yakin dia sudah begitu berpengalaman, anggap saja kita sedang mengetes karakter dan kekuatan musuh,’’ jelas Robert. ‘’Dengan cara apa kita melakukanya?’’ tantang David, biarlah kali ini Robert saja yang akan berfikir. ‘’Sepertinya aku tidak bisa membiarkan Cosa Nostra ikut andil dalam rencanaku ini, karena mereka pasti berpengalaman untuk mengatasinya. Di lihat dari Arthur yang begitu mempersiapkan putra dan putrinya untuk menghadapi klan sejenis Cosa Nostra,’’ gumam Robert. ‘’Bagaimana jika kita menciptakan teori konspirasi?’’ usul David, jengah menatap Robert yang tak kunjung mendapatkan ide. ‘’Idemu bisa aku terima. Bukankah konspirasi adalah umpan yang pas untuk mendesak mereka di depan media dan rakyat Amerika?’’ seringaian sinis itu sempat membuat David bergidik seketika. ‘’Kau akan membahasnya dengan Vincent, untuk menentukan langkah apa yang akan kita ambil selanjutnya,’’ tambah Robert. ‘’Aku hanya akan mengingatkanmu sekali, jangan pernah menyesali keputusanmu, apa pun itu.’’ ‘’Aku percayakan segalanya padamu David, lakukan seperti biasanya. Jangan membuatku kecewa!’’ "Baiklah, karena keputusanmu adalah tugas dan perintah untukku, maka aku akan segera melakukanya." David menunduk hormat lalu segera pergi meninggalkan ruangan Robert, melupakan ponselnya yang masih berada di atas meja kerja Robert karena David memiliki ponsel penting lainnya. Seperginya David, Robert kembali mengulang rekaman cctv itu lagi. Robert tak ingin mengakui jika Queen semakin tangguh dan mempesona sekarang, namun hati tidak pernah bisa untuk ditipu. Dengan tak adanya kehadiran David, membuat Robert dengan bebas dan leluasa untuk terus memandangi wajah Queen meskipun itu hanya dari video rekaman cctv. Jika dahulu aku yang mengemis cinta padamu, sekarang giliran kamu yang akan mengemis cinta padaku.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN