Derap langkah Dokter Gustin menggema di koridor rumah sakit. Manik mata berwarna cokelat terang itu bergerak liar. Ia mencari seseorang, lelaki itu terus mempercepat langkah menuju ruang laboratorium. "Selamat siang, Profesor Gerald," sapa Dokter Gustin sambari menghampiri lelaki paruh baya itu. Lelaki yang telah lama berkecimpung dalam dunia farmasi dan kedokteran tersebut menoleh. Hubungan di antara keduanya sangat lekat, bagaikan ayah dan anak saja. Profesor Gerald tersenyum dan menghampiri Gustin. "Siang, Dokter Gustin. Apakah ada yang bisa kubantu?" tanya profesor tersebut sambari membenahi jas putihnya. "Ya, saya membutuhkan ...." Dokter Gustin berbisik di telinga Prof. Gerald. Manik mata Profesor Gerald terbelalak dan ia menggelang cepat. "Maaf, Dokter. Kali ini aku tidak bisa

