Tubuh wanita berkulit seputih s**u itu terasa hangat, kepalanya berputar-putar tidak karuan rasanya. Dengan langkah sedikit limbung, Olivia segera mencari toilet pada restaurant yang jauh dari sana. Tangannya secara gemetaran menutup pintu kamar mandi, lalu menatap pantulan wajahnya dari kaca wastafel.
Pintu kamar mandi terbuka, Nadia muncul dari sana. Terlihat Nadia nampak khawatir dengan kondisi Olivia.
“Kamu sakit, Liv?” tanya Nadia kepada sahabatnya.
Olivia menggeleng. “Mungkin hanya kurang tidur,” jawab Olivia masih menyunggingkan senyumnya menjawab pertanyaan dari Nadia.
“Kenapa tidak pulang lebih cepat saja?” ucap Nadia karena cemas melihat wajah Olivia begitu pucat pasi.
“Iya, aku akan pulang sekarang. Kepalaku sedikit pusing,” tuturnya memegangi kepalanya yang terasa pening.
Nadia berjalan di samping Olivia, berjaga-jaga jika tubuh Olivia tiba-tiba limbung tanpa permisi lebih dahulu. Nadia memanggil Rehan yang tengah bercanda gurau bersama teman-temannya.
“Sayang, kamu sakit?” Rehan yang awalnya tersenyum bahagia mendadak menjadi sangat khawatir melihat kondisi Olivia saat ini.
“Aku mau pulang, kepalaku pusing sekali. Kamu di sini, atau …?”
“Aku akan pulang bersamamu,” jawab Rehan tanpa perlu mempertimbangkannya lebih dulu.
Rehan menggandeng tangan Olivia, membantu Olivia menuju mobilnya. Dengan sigap Rehan membukakan pintu mobil untuk Olivia, melindungi kepala kekasihnya ketika hendak memasuki mobil. Rehan, memang lelaki yang begitu manis, dan sangat perhatian kepada orang-orang di sekitarnya. Terlebih, orang-orang tercintanya.
“Sudah tahu tubuhmu sedang tidak fit, kenapa memaksa mengikuti acara itu?” omel Rehan tidak mengerti bagaimana jalan pikiran kekasihnya itu.
“Berhenti mengomel, aku butuh sandaran,” kata Olivia menyenderkan kepalanya di bahu Rehan.
Mata Olivia terpejam, ingatannya kembali pada kejadian beberapa menit yang lalu ketika hidungnya secara tiba-tiba mengeluarkan darah. Olivia tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi kepada tubuhnya.
Olivia mengakui, bahwa dirinya memang suka sekali begadang. Dia tipe wanita yang tidak akan bisa tidur di bawah pukul dua belas malam. Maka bukan lagi menjadi rahasia jika Olivia sering online pada malam hari saat banyak orang yang telah terlelap di waktu bersamaan.
“Aku memimpikan kuliah bersama denganmu,” ucap Olivia dengan nada lirih.
Seulas senyum terukir pada bibir Olivia, dielusnya bahu Rehan, mengeratkan tangannya di sana. Betapa Olivia merindukan kekasihnya yang kini duduk di sampingnya persis. Seperti mimpi, namun terlihat begitu nyata saat Rehan meluangkan waktunya pulang ke Indonesia demi merayakan kelulusan Olivia.
“Hmm, aku tahu mungkin kamu tidak rela membiarkanku di London sendirian karena banyak wanita sexy di sana,” kekeh Rehan dengan begitu percaya diri.
Olivia langsung memukul lengan Rehan, mengerutkan keningnya dengan mata memicing menakutkan bagi Rehan.
“Hei, ternyata kamu sering mengamati para wanita sexy di London? Astaga, pantas saja kamu jarang sekali menghubungiku di siang hari,” keluh Olivia berpura-pura marah.
Mana pernah Olivia marah? Gadis itu dijuluki sebagai manusia tanpa memiliki emosi dalam dirinya karena terkenal tidak pernah marah apapun yang terjadi.
Rehan mengacak gemas rambut Olivia hingga terurai ke depan.
“Rapikan kembali rambutku, kamu tahu kecantikanku berasal dari sana,” keluh Olivia tidak terima.
“Kamu botak sekalipun, aku tetap mencintaimu,” jawab Rehan menoleh menatap kekasihnya lekat-lekat.
Botak? Kenapa d**a Olivia terasa nyeri saat Rehan membahas tentang rambut?
“Em … kau suka wanita yang seperti apa? Berambut panjang atau pendek?” tanya Olivia penasaran.
“Apapun, asal itu dirimu,” jawab Rehan mengecup kening Olivia dengan lembut.
Mata mereka bertemu, senyum lembut terlukis di wajah Olivia dan juga Rehan. Cinta yang awalnya hanya sebatas cinta seorang kakak kelas nampaknya berubah menjadi cinta sesungguhnya bagi mereka berdua.
Sering kali orang ketiga datang dan pergi, tapi semua itu tidak menggoyahkan pondasi mereka berdua. Meski, umur mereka yang tidak terlalu dewasa. Namun mereka berdua sudah begitu piawai menjaga keutuhan sebuah hubungan.
“Kalau aku botak sekalipun, tidak apa?” tanya Olivia kembali memastikan.
“Hm, memangnya kamu berniat membotaki kepalamu?” Mata Rehan menyipit.
Olivia tertawa, melihat raut wajah kebingungan dari Rehan menjadi stamina tersendiri bagi Olivia. Dia, merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia ini karena memiliki Rehan di sampingnya.