Sudah satu bulan berlalu, badan Olivia masih saja terasa tidak enak. Tiap menjelang malam, tubuhnya menggigil kedinginan, suhu tubuhnya tiba-tiba saja naik. Bersamaan dengan itu pula Olivia telah kehilangan napsu makannya. Sungguh perubahan yang sangat berbanding terbalik dengan kegemaran Olivia sebelumnya.
Bahkan Olivia suka sekali mengoleksi makanan, buah-buahan, maupun minuman-minuman dalam lemari pendingin di rumahnya. Perubahan Olivia juga sempat dirasakan oleh Ozan dan juga Bella. Kedua orang tua Olivia sangat khawatir melihat Olivia yang kini mulai terlihat tirus, dan juga begitu pucat.
“Sayang, kamu benar tidak apa-apa?” tanya Bella, ibu Olivia menyentuh bahu putrinya ketika memasuki kamar putrinya melihat Olivia masih terbaring di ranjangnya ketika makan malam telah tiba.
“Olivia … demam, Bunda,” jawab Olivia terdengar sangat lemah tak bertenaga.
Kaki Bella melangkah maju, menyentuh kening Olivia dengan kerutan di wajahnya.
“Iya, kamu demam. Kenapa akhir-akhir ini kamu sering sakit? Biar bunda panggilin ayah ya,” ucap Bella diangguki Olivia.
Bella berteriak memanggil suaminya, tak berapa lama Ozan melangkah keluar dari kamar utama, menaiki anak tangga menuju kamar Olivia yang berada di lantai dua rumahnya.
“Ayah, Olivia sakit,” kata Bella menghampiri suaminya.
Wajah Ozan terlihat sangat keheranan, rambutnya yang basah menandakan lelaki itu baru saja menyelesaikan ritual mandi seusai kembali dari rumah sakit untuk menunaikan tugasnya sebagai tenaga medis.
“Bukannya kemaren sudah mereda demamnya, Bun?” tanya Ozan merasa aneh dengan kondisi tubuh Olivia.
Bella mengangguk. “Suhu tubuhnya naik turun tak beraturan. Apa mungkin dia terkena demam berdarah atau typus?” tanya Bella balik.
Ozan segera mengambil alat-alat kedokterannya yang berada di rumah. Seperti telah hafal benar, Ozan melakukan pengecekan alat vital Olivia secara manual. Raut wajah lelaki itu nampak berpikir.
Ozan ujung kaos yang Olivia kenakan. Lelaki itu menyingkap perut Olivia, matanya melebar seperti terkejut melihat penampakan di depannya. Bagian perut Olivia seperti ada titik membiru di sana.
“Ketiakmu ada benjolannya tidak, Sayang?” tanya Ozan dengan nada terdengar begitu khawatir.
Olivia mengingatnya sejenak. Dia sempat bertanya-tanya kenapa ketiak kanannya terkadang terasa nyeri seperti disengat lebah atau terkena hewan-hewan kecil di atas kasur.
Gadis itu menganggukkan kepalanya, bersamaan dengan itu tangan Ozan terhempas lesu ke bawah hingga stetoskop yang dia pegang luruh ke jubin lantai yang sangat dingin.
“Apa yang terjadi, Ayah?” Bella menyentuh tangan suaminya, dirinya begitu khawatir jika itu menyangkut kesehatan keluarga yang sangat dia sayangi dan juga dia cintai.
“Ah, tidak. Aku hanya mendiagnosa awal saja. Dia mengalami peradangan, besok kita ke rumah sakit untuk uji laboratorium,” jelas Ozan menyentuh wajah istrinya dan mengelusnya perlahan.
Tidak ingin berburuk sangka, Ozan menyuntikkan cairan ke dalam tubuh Olivia. Sambari menunggu esok pagi tiba, Ozan berdoa kepada Tuhan semoga saja diagnosanya sebagai seorang dokter salah. Ozan meminta kepada Tuhan, berharap bahwa penyakit Olivia hanya penyakit umum yang bisa kapan saja menyerang gadis seusia putrinya.
Dengan cepat Ozan melenyapkan pikiran buruk dari otaknya.
“Tidurlah seusai memakan makan malammu,” kata Ozan mengelus puncak kepala Olivia.
Hati Ozan rasanya seperti ditusuk oleh sembilu. Tak kuat melihat putrinya terus-menerus merasakan sakit. Dia harus segera memastikannya, penyakit apa yang sebenarnya menyerang tubuh Olivia.
Bahkan niat Olivia mendaftar secara langsung ke kampus di London sampai dia batalkan mengingat kondisi tubuhnya tak bisa diandalkan. Daripada harus menyusahkan Rehan di sana, Olivia memilih melakukan pendaftaran mahasiswa baru secara online.
Dengan berat hati, Olivia membiarkan Rehan kembali ke London untuk menyelesaikan beberapa tugas kampusnya. Olivia telah berjanji akan menyusul Rehan setelah kesehatannya membaik, sambil menyiapkan beberapa kelengkapan saat Olivia tinggal di sana.
Kedua orang tua Olivia sudah menyiapkan satu apartemen yang berada di kawasan tengah Kota London agar Olivia lebih leluasa dalam beraktivitas setiap harinya.
“Semoga saja, apa yang aku pikirkan salah. Olivia, baik-baik saja,” lirih Ozan menutup pintu kamar Olivia dengan pelan.
Air mata Olivia meluruh, tangannya meraih ponsel yang dia sembunyikan di bawah bantalnya. Kembali dia masukkan password ponselnya, lalu membuka tampilan awal sebelum dia mengeluarkannya ketika sang bunda memasuki kamarnya.
Di sana, Olivia membaca artikel tentang gejala yang dia alami. Tentang segala hal, mulai dari demam, lebam mendadak, dan juga bengkak.
Olivia membacanya, tentang Leukimia.
Pagi harinya, Ozan serta Bella segera membawa Olivia menuju rumah sakit negeri tempat Ozan bekerja. Di samping melakukan absen paginya, Ozan juga bisa mengantarkan putrinya ke dokter spesialis yang sudah dia hubungi tadi malam ketika usai memeriksa putrinya secara pribadi. Syukurlah, dokter spesialis hematologi yang merupakan kenalannya memiliki jam tugas sama seperti dirinya di pagi hari.
Dalam hatinya, Ozan selalu berdoa bahwa pemikirannya tentang penyakit Olivia hanyalah kekhawatirannya sebagai seorang ayah.
“Bagaimana kondisi tubuhmu sekarang ini, Sayang?” tanya Ozan kepada Olivia di bangku belakang.
“Demam Olivia agak mendingan, Ayah. Tidak selemas tadi malam karena obat yang Ayah berikan pada Oliv,” jawab Olivia masih mengusahakan senyuman pada bibirnya.
Ozan dan Bella tersenyum lembut, Olivia memang murah senyum di banding dengan adiknya.
“Apa Olivia harus berobat segala, padahal Ayah sendiri kan seorang dokter,” cibir Olivia.
“Ayah nanti kena hujat kalau sampai membiarkan anak ayah sakit,” kekeh Ozan mencairkan suasana di dalam mobilnya.
Getaran pada ponsel Olivia membuat gadis itu menundukkan kepalanya, merogoh isi tasnya untuk mencari ponselnya yang terus saja bergetar tidak sabaran.
Nama Rehan tertera di layar ponselnya. Seulas senyum muncul pada bibir Olivia.
“Siapa, Sayang? Nak Rehan ya?” kata Bella menggoda putrinya.
Olivia mengangguk membenarkan. Bukan lagi rahasia, hubungan Olivia dan Rehan telah diketahui oleh kedua belah pihak keluarga mereka. Baik keluarga Olivia, maupun keluarga Rehan tidak pernah menuntut keduanya untuk berhubungan serius karena usia mereka berdua masih sangat muda.
Kedua belah pihak keluarga hanya terus mengingatkan, bahwa masih ada masa depan di depan sana yang masih harus mereka lewati. Tidak boleh menikah muda, dan harus bisa menjaga diri dari kesesatan anak muda yang tengah trend saat ini, marriage by accident.
Tanpa menjawabnya, Olivia justru menggeser tombol merah di sana.
Satu pesan masuk ke dalam ponsel Olivia. Gadis itu mengetikkan balasan dengan cepat kepada kekasihnya yang tengah merindukan dirinya di belahan dunia lain.
“Ayo,” ajak Ozan keluar dari mobil disusul Bella dan Olivia.
Mereka bertiga berjalan menuju ruangan Dokter Vela, selaku dokter spesialis hematologi. Ozan mengetuk pintunya dengan sopan, sahutan di dalam ruangan meminta mereka untuk segera masuk.
“Dokter Ozan,” sapa Dokter Vela tersenyum lembut.
Dokter Vela mempersilahkan Dokter Ozan dan keluarganya untuk segera duduk di ruangannya.
“Terimakasih, Dokter. Sudah menyempatkan waktu Anda untuk memeriksa Olivia,” kata Dokter Ozan kepada Dokter Vela.
“Ini Olivia yang saat itu masih SMP kan ya? Kamu sudah besar, cantik lagi,” ucap Dokter Vela memuji Olivia.
Dokter Ozan menceritakan segala keluh kesah Olivia selama ini kepada Dokter Vela. Berharap Dokter Vela bisa memberikan titik cerah dalam kesehatan putrinya. Benar saja, Dokter Vela langsung meminta Olivia melakukan pengecekan medis, termasuk tes darah untuk mendiagnosanya.
Ditemani oleh kedua orang tuanya, Olivia melakukan tes darah yang akan diuji laboratorium.
“Nanti kalau hasilnya sudah keluar, saya akan menghubungi Dokter Ozan,” ucap Dokter Vela tersenyum lembut.
Selagi menunggu hasil keluar, Dokter Vela memberikan resep obat-obatan untuk Olivia. Dokter Vela tidak bisa memberikan argumentnya sebelum uji laboratoriumnya keluar. Padahal, selama bergelung dalam dunia hematologi. Dokter Vela sudah dikatakan menguasai segala gejala-gejala yang timbul pada tubuh Olivia.
"Menurut Dokter, apa yang terjadi pada Olivia?"