Hari yang paling ditakutkan dan juga dinantikan ayah Olivia tiba, beberapa kali lelaki itu tampak gusar. Meremas jemarinya dan mondar-mandir di koridor rumah sakit, tepatnya di depan laboratorium. Manik matanya berbinar ketika seorang dokter wanita keluar sembari membawa sebuah amplop. Namun, wajah dokter itu tampak kecewa. Ada apakah gerangan?
"Bagaimana Dokter Vela? Putriku baik-baik saja kan? Dia hanya kelelahan pastinya," ujar lelaki yang juga bergelar dokter itu antusias.
Dokter Vela menghela napas panjang, ia menatap rekan kerjanya itu dengan sorot mata teduh. Kemudian berkata, "Maafkan aku, Dokter Ozan. Putrimu, Olivia positif terjangkit leukemia stadium dua."
"Dan ...."
Ozan menggeleng cepat, ia memejamkan netra seakan tidak percaya apa yang barusan Dokter Vela katakan. Mungkin saja hasil tes darah itu keliru atau sample tertukar dengan milik pasien lain. Ia terus berusaha menyangkal, berharap semua itu hanyalah mimpi buruk di siang bolong.
"Ini tidak mungkin, Dok. Tolong Anda jangan bergurau, Olivia baik-baik saja.".
Dokter berparas ayu itu menepuk perlahan bahu Ozan dan menggeleng ringan. "Ini kenyataan yang harus Anda hadapi, Dokter Ozan. Bagaimana pun kita harus melakukan upaya terbaik agar sel kanker tidak menyebar."
"Lalu—" Kalimat Ozan terhenti tatkala istrinya Bella memanggil namanya.
Bagaikan tertimpa batu yang amat besar, begitulah keadaan hati Ozan ketika melihat putri kesayangannya mengekor di belakang sang bunda. Wajahnya yang ayu tampak pias, sesakit apa sekarang tubuhnya? Meskipun demikian, Olivia tidak pernah mengeluh dan selalu tersenyum. Jika boleh meminta pada Tuhan, dirinya ingin mengantikan sang putri.
"Bagaimana hasilnya, Yah?" Bella mencengkeram lengan suaminya dengan erat, sementara Olivia mengambil posisi duduk tepat di samping sang ayah.
Ozan menarik napas dalam-dalam, ia menatap Dokter Vela sendu. Seakan di balik irisnya tersirat 'tolong bantu aku menjelaskan semua ini'. Seakan tergerak oleh hati nuraninya, Dokter Vela menyodorkan amplop yang sedari tadi masih dipegang kepada Bella.
"Silakan Anda buka, hasilnya tertera di sana," titah Dokter Vela dengan suara lirih.
Olivia yang melihat amplop itu segera beranjak dari posisi duduknya. Ia menyandarkan kepala di bahu sang bunda dengan perlahan. Tangan yang selalu membelai puncak rambut Olivia itu bergetar, seakan ikut menyaksikan apa yang akan dibaca.
Satu per satu tulisan dan kode etik medis mereka baca, di sana tertulis bahwa jumlah leukosit Olivia meningkat drastis. Itu adalah pertanda buruk, mereka terus melanjutkan hingga ke barisan diagnosa. Seketika tubuh Bella lunglai, ia menoleh le arah Olivia yang ternyata telah berurai air mata. Ya, di dalam hasil laboratorium itu tertulis bahwa pasien positif leukemia stadium dua.
"Tidakk!!" raung Bella sembari mengusap surai putrinya.
Olivia merasa plafon rumah sakit itu berputar dan menimpa dirinya, kenyataan pahit ini belum bisa ia terima. Impiannya masih sangat jauh, ia ingin menyusul sang kekasih. Masih ingin bermain dan bergurau dengan sanak saudara. Mengapa Tuhan seperti ini? Semua begitu terasa tak adil untuk Olivia.
"Tenanglah, Sayang." Ozan memeluk kedua bidadarinya dengan bahu berguncang.
Tak ada lagi rasa malu akan reputasinya sebagai seorang dokter. Kali ini Ozan meluapkan segala emosi sebagai seorang ayah. Ia terus mengecup puncak kepala Olivia, bergantian dengan kening sang istri. Bagaimana pun dirinya harus mampu menguatkan mereka.
"Ini pasti keliru, Yah. I-ini bukan milik Olivia kan? Jangan hanya diam, katakan padaku!" sentak Bella sembari meremas kemeja Ozan.
Wanita itu tampak sangat terpukul, sama halnya dengan dirinya. Orang tua mana yang tak akan hancur, ketika mengetahui sebuah penyakit ganas bersarang di tubuh sang putri. Saat ini yang mereka bisa lakukan hanyalah menguatkan diri dan memantapkan hati untuk menerima takdir.
"Aku tahu ini berat bagi kita, tapi kumohon jangan begini." Ozan memeluk erat sang istri dengan penuh kasih sayang.
Bella menumpahkan segala tangis di d**a Ozan, tak peduli berapa banyak mata yang memandang mereka. Hatinya sebagai seorang ibu terkoyak dalam, takdir ini begitu menyakitkan. Mulai detik ini, segalanya telah berbeda. Dunia yang penuh kebahagiaan kini berubah menjadi berkabut.
"Aku ... bangunkan aku. Sekarang aku hanya sedang bermimpi buruk 'kan? Iya 'kan?" Bella meraih tangan Ozan dan menepuk-nepuk pipinya dengan kencang.
"Cukup, jangan semakin membuat Olivia terpuruk. Lihat, di antara kita dialah yang paling terpukul."
Olivia berjalan pelan dan duduk di bangku penunggu pasien yang kosong. Sekujur tubuhnya lemas tak berdaya, bukan karena penyakit yang menggerogoti tubuh melainkan tak memiliki harapan lagi. Sesekali ia menarik-narik surainya, mengacak mahkota rambut yang sedikit rapuh itu dengan kuat.
"Kenapa ini harus terjadi, Tuhan?" Olivia menengadah, memandang langit-langit yang masih saja membisu.
Air nestapa mengalir deras, membasahi pipi yang tampak tirus itu. Apa ke depannya ia akan terus merepotkan orang lain? Akan jadi seperti apa hidupnya tanpa asa dan impian. Sementara itu Dokter Vela menghampiri pasiennya dengan sangat hati-hati, ia memilih untuk duduk bersama Olivia.
Gadis itu menatap sang dokter dengan pandangan nanar. "Apa aku akan meninggal seperti dedaunan yang berguguran, Dok?"
Suasana menjadi hening, tidak ada satu pun di antara mereka yang membuka suara. Dokter Vela menarik napas dalam-dalam, manik matanya bergerak perlahan. Memandang sang pasien yang mengalami fase down itu. Ia meraih jemari Olivia dan tersenyum.
"Tidak, kamu akan tetap bertahan di ranting terakhir sekali pun badai menerpa. Yakinlah Olivia, Tuhan akan memberikan mukjizat."
Bella dan Ozan yang mulai tenang tampak menghampiri Dokter Vela dan putrinya. Nyeri! Hati Bella merasa sangat sakit melihat kondisi putrinya. Kulit Olivia yang putih semakin pucat, mengapa selama ia tidak menyadari hal itu sebelumnya?
"Bunda ...."
Bella merengkuh tubuh Olivia ke dalam dekapannya. Mengecup kening putrinya berulang kali, berharap sentuhan kasih sayang itu mampu memberi kekuatan untuk putrinya.
"Iya, Bunda di sini, Sayang. Semuanya akan baik-baik saja."
Kemudian dokter Vela meyakinkan, mereka bisa melakukan pengobatan lanjutan untuk menyembuhkan Olivia dengan segala kelengkapan media yang semaju sekarang.
"Kami, para tim medis tidak akan berpangku tangan. Fasilitas yang berada di sini cukup mumpuni untuk menangani hal ini, yakinlah setiap penyakit ada obatnya," tutur Dokter Vela sembari memasukkan tangan di saku jas putihnya.
"Itu benar, Sayang. Ayah akan berusaha semaksimal mungkin demi kesembuhanmu, apapun caranya akan ayah lakukan," ujar Ozan dengan kegigihan.
"Ya, kita akan melewati ini bersama. Bunda, Ayah dan semuanya akan selalu mengoptimalkan pengobatanmu, Sayang. Karena kami mencintaimu, sungguh," kata Bella kembali memeluk putrinya.
Mendengar penuturan sang ayah dan bunda memberikan energi lebih untuk Olivia. Dukungan dan kasih syang dari keluarga adalah kunci selama ini ia tidak mengeluh. Hari ini, ia akan berjuang demi orang-orang terkasih.