11. Ritme Yang Aneh

1030 Kata
Olivia tampak duduk termenung sembari menyandarkan kepala di kursi penumpang. Manik mata yang sayu itu menatap dengan nanar ke jendela pesawat. Ia menikmati pemandangan dari ketinggian dengan beribu harapan. Sesekali Olivia melirik sang mama yang sibuk mengecek beberapa dokumen penting yang mereka bawa. "Sayang, apa kau lapar?" tanya Bella di sela-sela lamunan Olivia. Semenjak Olivia menjalani kemoterapi, Bella menjadi over protektif. Ia selalu memastikan agar putrinya itu makan dan minum obat tepat waktu. Apalagi Olivia harus selalu mengkonsumsi sedikit makanan berat tiap dua jam, untuk mempertahankan keseimbangan kinerja organ tubuhnya. Wanita berparas pucat itu tersenyum simpul dan mengangguk lemah. "Iya, Bun." "Bersabarlah sedikit, ya. Sebentar lagi makananmu akan diantarkan." Bella mengusap puncak rambut putrinya. Benar apa yang dikatakan Bella, tak lama kemudian seorang pramugari cantik mengantarkan makan siangnya. Olivia mengunyah menu makanan siangnya dengan senyum getir. Seporsi sayuran kukus dengan roti gandum dan beberapa potong buah. Sejak divonis leukemia, kekasih Rehan itu mau tak mau harus bersahabat dengan sayuran kukus demi menjaga metabolisme tubuhnya. Dua jam berlalu dan mereka telah tiba di Bandara Changi. Ya, hari ini Olivia telah tiba di Singapura, tujuan mereka selanjutnya adalah Nasional Cancer Centre Singapore. Sebuah rumah sakit kanker terkenal di negara berikon kepala singa tersebut. "Apa kau baik-baik saja, Sayang?" tanya Ozan khawatir melihat wajah putrinya yang kian pias. Oliva mengangguk dan menyandarkan kepala manja di bahu sang mama. "Iya,Yah. Olivia hanya merasa sedikit pusing, mungkin karena efek penerbangan." Tanpa menunda waktu lagi, mereka melanjutkan perjalanan menggunakan alat transportasi umum, yakni taxi. Sepanjang perjalanan Olivia selalu memandang keluar. Jajaran pepohonan dan ruko-ruko yang mereka lewati tampak sangat rajin. Para petugas kebersihan tampak selalu siap sedia di jalanan. Sungguh potret negara yang sarat akan kebersihan. Bella mengusap punggung Olivia dan berkata, "Apa kau menyukai kota ini?" Namun, putri kesayangannya itu bergeming. Entah karena memang tak mendengar ucapan sang mama atau karena melamun. Banyak hal yang terjadi dalam waktu singkat ini membuat Olivia mengalami beberapa perubahan. Seindah apapun negara tetangga, wanita itu masih menyukai tanah airnya. Tempat di mana ia mulai mengenal dunia dan tumbuh besar. "Maaf, Tuan. Kita sudah sampai, tujuan Anda tepat berada di samping kanan," ucap sang driver dengan senyuman ramah. Ozan melirik argo dan membayar sebesar dua puluh lima dollar Singapore. Itu adalah tarif yang relatif terjangkau karena mereka tiba saat jam kantor, sehingga dikenakan tarif on peak yang dikenakan 25 % charge tambahan dari tarif normal. Mereka bertiga memasuki lobby rumah sakit, Bella menggiring sang putri untuk duduk di salah satu kursi penunggu yang tersedia. Sementara Ozan menghampiri meja resepsionis dan berbincang dengan perawat yang sedang berjaga. Kemudian lelaki itu menyusul anak dan istrinya di kursi penunggu. "Bagaimana, Yah? Apa ada kendala?" Bella bertanya sembari mengernyitkan alis. Wanita itu heran mengapa sang suami kembali duduk dan bukannya mengurus berbagai surat untuk mendaftarkan Olivia. Dengan tatapan menelisik, Bella mengawasi setiap pergerakan Ozan. Ia benar-benar takut jika ada hal buruk yang akan terjadi. "Yah? Bagaimana?" panggil Bella lagi. "Semuanya berjalan lancar, hanya saja kita diminta untuk menunggu sebentar." Tak lama kemudian seorang lelaki tambun menghampiri mereka. Direktur rumah sakit tersebut secara khusus menyambut kedatangan Ozan. Ya, karena kebetulan Edward dan Ozan adalah sahabat ketika mereka masih berada di bangku kuliah. "Lama sekali aku tidak melihatmu, Edward. Kau semakin berisi sekarang," kelakar Ozan sembari mengusap perut sahabatnya yang membuncit. Pak Edward tertawa dan menepuk bahu Ozan dengan keras. "Kau juga tetap tampan dalam usia matang! Bagaimana? Mau langsung bertemu dengan Dokter terbaikku?" "Boleh," jawab Ozan antusias. Lelaki itu menoleh ke arah putri istrinya, kemudian memberi kode agar mereka berdua mengikuti Ozan. Pak Edward dan Ozan asik mengobrol, sesekali lelaki tambun itu menjelaskan tentang fasilitas apa saja yang akan didapat Olivia ketika berobat di rumah sakit yang ia kelola. Ozan mendengarkan dengan seksama agar tidak melewatkan satu hal penting pun. Akhirnya mereka tiba di depan ruangan Dokter Gustin. Ozan meminta Bella dan Olivia menunggu di luar terlebih dahulu. Lelaki itu menghilang bersama Pak Edward. "Selamat siang, Dokter Gustin," sapa Pak Edward. Lelaki berperawakan jangkung itu membalikkan tubuh, ia tampak memegang sebuah map. Mungkin itu adalah catatan medis Olivia yang ia pelajari lagi. Dokter Gustin menutup dokumennya dan tersenyum ke arah sang direktur. "Selamat siang, Pak." Sang direktur menggiring Ozan untuk mendekat padanya. Kemudian lelaki itu mulai memperkenalkan sahabat masa mudanya itu pada Gustin. "Dokter Gustin, perkenalkan beliau adalah Dokter Ozan. Sahabat sekaligus ayah dari pasien yang akan Anda tangani," jelas Pak Edward dengan santun. Dokter Gustin mengulurkan tangan ke arah Ozan. "Saya Gustin Justavo, senang bertemu dengan Anda Dokter Ozan." "Ya, saya juga merasa sangat terhormat bisa bertemu dengan Anda. Seorang dokter muda yang berprestasi, saya harap Anda akan menangani putri saya dengan baik." Ozan menjabat tangan dengan begitu ramah. "Tentu, saya akan mengerahkan seluruh pikiran dan tenaga saya untuk pasien ...." "Olivia, itu nama putri saya. Oh ya, Pak Edward bolehkah saya membawa Olivia kemari?" tanya Ozan dengan formal. Meskipun, Ozan dan Edward adalah sahabat. Lelaki itu tahu diri dan selalu menjunjung etika berbicara. Di depan rekan kerja Edward, ia akan tetap memperlakukan sahabatnya itu sebagai atasan dari dokter yang akan merawat Olivia. "Tentu saja boleh, bawa gadis cantik itu kemari. Biar mereka lebih akrab," jawab Edward sembari mengedipkan netra. Ozan memanggil Olivia dan manik mata Dokter Gustin terbelalak ketika melihat paras anak gadis Bella itu. Bibir yang tampak pucat itu masih terlihat menawan, tatapan sayu Olivia beradu sesaat dengan sang dokter tampan. "Perkenalkan ini putri kami Olivia. Tampaknya Anda sudah mengetahui namanya dari data yang saya kirimkan kemarin," ujar Ozan sembari melirik map transparan yang tergeletak di meja. "Ah, iya. Kebetulan sekali hari ini saya mempelajari kembali rekam medis Nona Olivia. Senang berjumpa dengan Anda Nona, saya Gustin Justavo. Terima kasih telah mempercayakan kesembuhan Anda pada rumah sakit ini." "Terima kasih kembali Dokter Gustin. Saya menaruh harapan besar pada Anda dan tempat ini," ucap Olivia dengan senyumnya bagai musim semi di padang pasir. Olivia menjabat tangan sang dokter yang terasa dingin. Di saat itu pula Dokter Gustin merasakan hal yang aneh. Ritme jantungnya berdetak tak karuan, bahkan lebih kencang dari pertama kali ia melihat foto Olivia. Apakah ini kebetulan saja? Karena beberapa hari ini lelaki itu terlalu bekerja keras. Ataukah ada hal lain yang mempengaruhi kinerja organ vitalnya itu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN