10. Dokter Gustin Justavo

1024 Kata
Lelaki setinggi seratus tujuh puluh sembilan sentimeter dengan seragam scrub lengkap, terlihat meletakkan peralatan medisnya yang berlumuran darah perlahan. Ia baru saja menyelesaikan operasi keduanya untuk hari ini. Sesekali seorang perawat mengusap keringat di keningnya dengan selembar sapu tangan. Peluh yang bercucuran menandakan lelaki itu baru saja berpikir dengan berat dan sangat hati-hati. Karena apa yang ia lakukan menyangkut nyawa seseorang, baginya mendedikasikan diri untuk pasien adalah harga mati sesuai dengan sumpah yang pernah ia ikrarkan. Dialah Dokter Gustin Justavo, pemilik manik mata hazel. Warna cokelat terang dari irisnya berpadu dengan bibir yang merona bagaikan seorang wanita. Hidung yang ramping dan mancung itu memikat siapa saja yang melihat. "Bagaimana, Dok? Apakah ada hal lain yang Anda perlukan lagi?" tanya perawat yang sedari tadi mengamati pergerakan sang dokter. "Tidak, aku sudah selesai menjahit lukanya. Kita berdoa saja semoga pasien segera pulih," ucap Dokter Gustin sembari melepas sarung tangan karetnya. Perawat wanita yang mendampingi sang dokter itu tersenyum sembari memeluk catatan rekam medis. Ia tak pernah bosan menatap Dokter Gustin, ah wanita mana yang tak akan tergoda ketika mendengar suara khasnya yang maskulin. "Suster Jean, tolong bawa alat-alat ini dan sterilkan," titah kepala perawat yang berusia kisaran tiga puluh lima tahun. Namun, suster muda itu tak menghiraukannya malah tersenyum memandang punggung Dokter Gustin yang keluar dari ruang operasi. Jelas sekali terlihat jika perawat baru itu menaruh hati pada dokter tampan idola semua perawat. "Suster Jean! Apa Anda mendengar ucapanku?" Wanita yang kerap dipanggil Debora itu memanggil untuk kesekian kalinya. "Ah, i-iya. Maaf, saya akan segera mensterilkan alat- alat medis ini." Suster Jean dengan bergegas mendorong rak yang berisi berbagai benda tajam itu. Seorang suster lainnya mendekat ke arah Debora dan berbisik, "Sepertinya ia akan menjadi sainganmu." "Cih, tidak akan kubiarkan!" desis kepala perawat itu sewot. Kepala perawat itu mulai melepas tirai hijau yang terciprat noda darah dan menggantinya dengan yang baru. Entah mengapa, bulu romanya meremang ketika ia melihat pasien yang terkulai lemah pasca operasi. Apalagi di dalam ruangan itu hanya ada mereka berdua. Ruangan itu tampak mengerikan dengan jajaran lampu-lampu besar dan beberapa peralatan medis yang terpasang. "Akan lebih baik jika seseorang menemaniku di sini," gumam Debora sembari melangkah keluar. Wanita itu menyusuri koridor rumah sakit, langit tampak mendung. Suara ketukkan hak sepatunya menggema, saat tiba di meja resepsionis ia mendengar beberapa suster lain yang sedang bergosip. Apalagi jika bukan membicarakan Dokter Gustin. "Andai aku bisa selalu mendampinginya. Apakah kalian tahu, ketika ia tampak serius itu benar-benar sangat tampan!" pekik seorang perawat yang berperawakan kecil girang. Para perawat memang mengagumi pesona dokter tampannya. Mereka selalu mencari cara untuk dekat dengan Dokter Gustin. Ada yang rela berlama-lama di sana demi bisa melihat sang idola. Bahkan banyak juga yang secara terang-terangan mengajak dokter itu berkencan. Namun, Dokter Gustin selalu menolak dengan halus. Pak Edward tampak mondar-mandir di lobby depan, tidak biasanya orang penting itu menampakkan batang hidung. Ia melambaikan tangan ke arah Debora, dan kepala perawat itu menghampirinya. "Maaf, Pak. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya kepala suster itu santun. "Bisa tolong carikan Dokter Gustin? Aku ingin berbicara dengannya. Jangan lupa suruh dia untuk segera menghadapku," titah lelaki tambun itu tegas. "Baik, Pak. Saya mohon undur diri," jawab Debora lirih. Kepala perawat itu hapal ke mana perginya dokter tampan itu. Gustin memiliki kebiasaan untuk kembali ke ruangannya ketika selesai dengan kewajiban sebagai seorang dokter. Debora mengetuk pintu ruangan Gustin pelan, dan lelaki itu menjawab dengan cepat. "Silakan masuk," ujar Gustin dengan tatapan lembut. "Ada apa, Suster Debora?" Debora tersenyum dan membenahi roknya. "Pak Edward meminta Anda untuk segera ke ruangan beliau, Dok." "Hmm, baiklah. Aku akan segera ke sana, apa ada lagi?" tanya Gustin sembari mengernyitkan alis. Ia menatap kepala perawat itu lekat karena wanita yang memiliki paras cukup cantik itu tak kunjung meninggalkan ruangannya. Tatapan teduh sang dokter membuat Debora kian terlena. Ia mematung di depan lelaki idolanya seperti keledai. "Suster, apa ada lagi yang ingin Anda sampaikan padaku?" ulang Gustin sekali lagi. "Ah, ti-tidak. Tidak ada, Dok. Saya mohon undur diri." Debora menunduk dan bergegas keluar. Dokter Gustin menaikkan tirai gantungnya dan memandang jajaran gedung tinggi di samping rumah sakit tempatnya bekerja. Ia memandang sebuah pohon yang selalu ia amati setiap hari. Dedaunan yang berguguran mengingatkan dirinya akan kematian yang mungkin akan datang tiba-tiba. Salah satu momok menakutkan bagi seorang dokter seperti dirinya. "Tumben sekali Pak Edward memanggilku." Dokter Gustin menutup map berisi beberapa rekam medis pasien yang ia tangani. Kemudian beranjak pergi menuju ruangan Pak Edward. Direktur rumah sakit kanker tempat Gustin bekerja itu tampak duduk manis di ruangannya, lelaki tambun itu tersenyum dan mempersilakan Gustin untuk duduk. Ia memperhatikan penampilan sang dokter yang masih tampak rapi, walaupun telah bekerja sangat keras hari ini. "Bagaimana kabar Anda hari ini Dokter Gustin?" tanya Pak Edward basa-basi. "Luar biasa, semuanya berjalan dengan lancar." Direktur itu mengangguk-angguk, ia tidak meragukan kinerja dokter muda yang kini berada di hadapannya. Suatu kebanggan bagi rumah sakit ini memiliki seorang dokter yang handal dan piawai. Entah sudah berapa banyak nyawa manusia yang selamat melalui perantaranya. "Langsung saja ke inti pembicaraan, Dok. Saya ingin Anda menangani pasien dari Indonesia yang sedang mengidap leukemia. Bagaimana?" Direktur berperawakan tambun itu menegakkan posisi duduknya agar sejajar dengan sang dokter. Ia menantikan jawaban apa yang akan terlontar dari rekan kerja kebanggaannya tersebut. Meskipun ia tahu bahwa Dokter Gustin tidak akan pernah menolak untuk menangani pasien. "Stadium berapa, Pak? Apa saya boleh melihat rekam medisnya selama di Indonesia?" tanya Dokter Gustin dengan antusias. "Tentu, ini datanya. Dia seorang gadis muda yang malang. Saya sangat berharap Anda akan mengambil tanggung jawab ini." Direktur itu menyodorkan sebuah map transparan. Dokter Gustin Justavo menerima map yan berisi rekap data kesehatan Olivia. Manik mata lelaki itu tidak bisa lepas dari foto pasien yang terlampir di sana, jantungnya berdetak kencang saat itu. Baru kali ini dokter tampan itu merasakan hal yang aneh. Bahkan, ia belum bertatap wajah dengan Olivia. Nalurinya seakan mendesak untuk segera menerima tawaran sang direktur. "Baik, Pak. Saya akan menerima pasien kali ini dengan suka cita," jawab Dokter Gustin dengan mantap. Rasanya sungguh tak sabar ia ingin bertemu dengan pasien yang membuat dadanya berdenyut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN