Usai menjalani kemoterapi pertama, Olivia merasakan efek mual selama lima hari. Beruntung mahkota kepalanya masih tergerai dengan indah dan belum mengalami kerontokan. Mungkin karena dosis yang diberikan masih rendah dan dalam masa uji coba. Perjuangan Olivia tidak berakhir di sana, selang dua minggu ia harus kembali menjalani kemo.
Tak peduli betapa menyiksa efek yang ia rasakan, Olivia akan terus bersemangat untuk memerangi sel kanker dalam tubuhnya. Seperti hari ini, ia akan kembali menjalani kemoterapi kedua. Rona wajah wanita itu mulai tampak segar dan kembali bercahaya. Dengan penuh semangat Olivia didampingi kedua orang tuanya dan Rehan pergi ke rumah sakit.
"Sayang, kali ini mungkin dosis akan dinaikkan jadi kamu harus lebih kuat," tutur sang ayah sembari mengusap puncak kepala putrinya.
"Iya, Yah. Olivia sudah siap menjalani kemo lagi dan tidak boleh kalah dengan benalu yang bersarang di tubuhku." Wania itu melirik ke arah Rehan.
Lelaki itu hanya membalas dengan senyuman simpul. Ia ingin mengabadikan tiap momen bersama Olivia tanpa banyak bicara. Hari ini adalah hari terakhir dirinya berada di Indonesia, tetapi lelaki itu belum mengatakan perihal tersebut pada sang kekasih. Tentu saja tujuannya agar tidak memperburuk kondisi Olivia.
"Kak, aku masuk dulu," pamit Olivia pada Rehan sebelum ia melakukan terapi.
Rehan menggenggam erat jemari Olivia dan mengecup punggung tangan wanita itu.
"Iya, Oliv. Semuanya akan baik-baik saja, aku selalu mendoakanmu."
Bella memperhatikan gesture tubuh Rehan yang tampak lesu, sebagai seorang ibu ia memliki naluri yang peka. Wanita itu menghampiri Rehan dan menepuk bahu kekasih putrinya pelan.
"Ada apa, Rehan? Mengapa hari ini tampak sangat murung?"
"Tidak, Tante. Rehan hanya ...." Rehan tertunduk dan meremas jemarinya.
Berat rasanya mengatakan bahwa ia harus kembali ke London. Rehan tak tahu ini keputusan yang tepat atau bukan. Di satu sisi ia harus melanjutkan kewajibannya sebagai seorang mahasiswa, tetapi di sisi lain hatinya ingin selalu bersama Olivia. Sungguh pilihan yang amat sulit, sehingga lelaki itu merasa dilema.
"Katakan saja, Nak," desak Bella lagi.
Rehan mengangkat wajah dan menoleh ke arah Bella.
"Begini, Tante. Saya harus segera kembali ke London besok, tetapi saya tidak tahu bagaimana cara menyampaikan hal ini kepada Olivia?"
"Hmm, begitu. Sekarang dengarkan tante baik-baik, Rehan. Mana di antara keduanya yang penting bagimu?"
Rehan terdiam, pertanyaan Bunda Olivia ini begitu menohok batin. Lelaki itu menimbang kembali dan hasil akhir tetap keduanya begitu berarti.
"Dua-duanya, Tante. Olivia sangat penting bagi saya, tetapi pendidikan tersebut merupakan kewajiban yang harus saya penuhi."
Bella tersenyum lebar. "Kalau begitu katakan terus terang pada putriku bahwa kau akan pergi besok. Tante yakin Olivia akan memakluminya."
"Tapi, Tante, saya sudah berjanji akan selalu bersama dengan Olivia, bagaimana mungkin saya mengingkari hal ini?" beo Rehan dengan penuh penyesalan.
Bunda Olivia itu menggeleng ringan. "Jangan begitu, kau masih bisa menepati janjimu dan tetap melanjutkan studi. Sekarang teknologi sudah canggih dan kalian bisa saling memberi kabar setiap hari melalui video call."
Ozan yang sedari tadi hanya mencuri dengar mulai merasa terusik. Ia tahu betul bagaimana perasaan Rehan sebagai sesama lelaki. Tentu ini pilihan yang sangat berat, menentukan karier atau cinta. Meninggalkan salah satunya sementara demi masa depan.
"Itu benar, Rehan. Bagaimana kau akan menjaga putriku, jika kau tidak bertanggung jawab terhadap dirimu sendiri?" timpal Ozan yang mengambil posisi duduk di samping Rehan.
"Tunjukkan padaku bahwa kau memang pantas untuk putriku. Beri Olivia kebanggaan dengan prestasimu, Rehan," sambung Ozan lagi.
Benar apa yang dikatakan oleh Ayah Olivia. Bagaimana ia akan layak menjadi pendamping Olivia? Jika saat ini saja ia bimbang dan gelisah. Ini bukan saat yang tepat untuk berputus asa, Olivia juga pasti akan bersedih jika penyakit yang ia derita menjadi penghambat masa depan Rehan.
"Baik, Om. Saya akan mengatakannya nanti ketika kondisi fisik Olivia sudah stabil," jawab Rehan dengan mantap.
Ozan menepuk bahu Rehan dan berkata, "Bagus. Ini baru lelaki sejati."
Selang beberapa jam menunggu, akhirnya Olivia dibawa ke ruang perawatan. Rehan bersama Bella dan Ozan mengikuti ranjang dorong yang membawa tubuh Olivia. Wanita itu tampak sangat lemah dan tidak berdaya.
"Sayang, berbaring saja dahulu! Jangan memaksakan untuk duduk," pekik Rehan yang panik melihat Olivia duduk.
Berulang kali Olivia mencoba untuk duduk, tetapi gagal. Kondisinya masih lemah dan kepalanya terasa sangat pusing seluruh langit-langit rumah sakit berputar. Gejolak dalam perutnya semakin bergelora dan memaksanya untuk mengeluarkan apa yang ia makan. Sesekali tanpa sadar Olivia merintih, merasakan sekujur tubuhnya yang sakit.
Beruntungnya kondisi itu tidak berlangsung lama. Setelah diberikan pereda nyeri, Olivia bisa kembali tersenyum. Rehan begitu takjub melihat perjuangan sang kekasih. Benar-benar wanita yang tangguh karena setelah hari ini masih ada sepuluh kali kemoterapi yang harus ia lalui.
"Katakan sekarang, Rehan," bisik Ozan pada kekasih putrinya itu.
Rehan menghela napas dalam dan mendekati Olivia yang tampak lebih segar. Ia mengusap lembut jemari-jemari yang tampak semakin kurus itu. "Sayang, ada yang ingin kubicarakan denganmu."
"Apa itu sesuatu yang penting?" tanya Olivia polos.
"Ya. Sayang, aku akan kembali ke London besok. Maafkan aku, ini semua-" Kalimat Rehan terhenti ketika jari telunjuk Olivia menyentuh bibirnya, terasa dingin dan lembut.
"Jangan meminta maaf, Kak. Pendidikan itu sangat penting, pergilah." Olivia menarik kedua sudut bibirnya dengan terpaksa.
Perpisahan ini begitu berat untuk Olivia. Namun, ia tidak bisa egois dan meminta Rehan untuk selalu di sisinya. Jalan mereka masih panjang dan mereka akan berjuang bersama.
Hari-hari pun berlalu, setiap hari Rehan selalu menelepon Olivia sekadar untuk menghiburnya. Di London pun lelaki itu tidak hanya berpangku tangan. Beribu doa selalu mengalir untuk sang kekasih. Lelaki itu berusaha mencari dokter terbaik yang mungkin memberikan harapan sembuh untuk Olivia.
Rehan bertanya kepada professor sekaligus dosen yang mengajarnya dan dari sana ia mendapatkan satu informasi penting. Beliau merekomendasikan seorang dokter onkologi dari Singapura yang menyelesaikan studinya lebih awal. Dokter muda itu jelas.telah diacungi jempol dan diakui kinerjanya yang baik.
Seakan mendapatkan udara segar, Rehan segera menelepon Ozan dan meminta ayah dari kekasihnya untuk berkomunikasi dengan dokter rekomendasi tersebut.
"Terima kasih, Rehan. Info yang kauberikan begitu berarti, bagaimana jika kaukirimkan nomor telepon rumah sakit di mana dokter itu bekerja? Om akan segera menghubunginya." Ozan dengan antusias menerima usulan Rehan.
"Baik, Om. Rehan akan mengirimkan nomornya setelah ini, semoga dokter tersebut adalah perantara untuk kesembuhan Olivia. Selamat malam," ucap Rehan sembari memutuskan panggilan.
Rehan menghela napas lega dan tersenyum lebar sembari menggengg ponselnya.
"My Lovely Olivia, semoga ini berhasil dan mengurangi rasa sakitmu, Sayang."