8. Kemoterapi Pertama

1054 Kata
Pagi ini Olivia memandang pantulan dirinya di cermin. Ia memoles sedikit bibirnya yan tampak kering dengan lip gloss. Wanita itu menghela napas dan menyisir surainya perlahan. Tiba-tiba, jemari kurus itu berhenti. "Hai, Olivia. Hari ini kamu akan melakukan cek up. Berdoalah agar rambut lebatmu ini masih bisa bertahan." Olivia berbicara dengan suara sengau sembari memandang bayangan dirinya. Seakan-akan ia sedang berbincang-bincang dengan orang lain. Ini adalah upayanya untuk menguatkan hati dan tekad. Meskipun pedih, suratan takdir yang tertulis harus ia lalui. Cinta keluarga dan Rehan semakin menguatkannya. "Sayang, kamu sudah siap?" tanya Bella yang tiba-tiba muncul di ambang pintu. Wanita yang masih tampak modis itu menghampiri sang putri yang tampak gelisah. "Hmm, ayo kita turun. Rehan dan Papamu sudah menunggu di bawah." Namun, Olivia mencekal pergelangan tangan sang mama dengan cepat. "Apa Olivia masih terlihat cantik, Bun?" Jantung Bella berdenyut nyeri, ia yakin putrinya sedang mengalami mood swing. Perubahan mood yang sering terjadi ketika mendapati kenyataan yang getir. Apalagi tersisip kata 'masih' dalam ucapan Olivia. Mungkin putrinya mulai gelisah penyakit yang bersarang di tubuhnya cepat atau lambat akan mengubah tampilan fisiknya. "Cantik, bahkan sangat rupawan. Sayang, Olivia adalah wanita tercantik. Lihat, bibirmu yang ranum dan menggoda. Bulu mata yang menjuntai indah dan lentik, ditambah hidung ini." Bella mencubit cuping hidung Olivia dengan lembut. "Kamu begitu mempesona." "Ayo kita keluar. Dua jagoan yang menanti kita akan mengoceh nanti, jika kita tidak bergegas," ajak Bella lagi. Kali ini Olivia menurut dan menarik kedua sudut bibirnya. Ia bergelayut manja di lengan sang mama, setiap detik waktunya sangat berharga. Wanita itu mencoba merekam segala kenangan indah dalam benak. Toh, itu juga baik bagi kondisi fisiknya. "Ayo kita pergi, Tuan Putri." Rehan mengulurkan tangan pada Olivia. Lelaki itu berusaha melakukan hal-hal konyol yang bisa membuat wanitanya tersenyum. Tak peduli dengan orang tua Olivia yang terkekeh melihat tingkahnya. Ia hanya berharap melihat senyuman kekasih tercinta. "Terima kasih," jawab Olivia sembari memasuki mobil. Tiga puluh menit berlalu dan mereka tiba di rumah sakit. Aroma alkohol berbaur dengan mentari yang mulai menghangatkan permukaan Bumi. Olivia mencengkeram lengan Rehan dengan kuat. Entah mengapa, jantungnya berdegub kencang. Apa mungkin karena ini adalah kali pertamanya ia melakukan cek up. "Kenapa, Sayang?" tanya Rehan yang melihat perubahan mimik wajah Olivia. Olivia tertunduk lesu. "Aku takut." "Tenang, ada kami bertiga bersamamu dan Dokter Vela." Ozan berusaha menenangkan putrinya. Derap langkah mereka menggema, memenuhi lorong-lorong rumah sakit. Tampak beberapa pekerja medis sibuk berlalu lalang. Ada yang membawa papan rekam medis, ada yang sekadar mendorong rak berisi menu sarapan para pasien. "Selamat pagi, Olivia," sapa Dokter Vela ramah. "Pagi, Dok." Dokter berparas manis itu tersenyum memandang pasiennya yang tampak siap. Ia beralih ke arah Ozan yang terlihat gelisah. Ya, sebagai seorang ayah pastinya merasa was-was tentang kondisi sang anak. Dokter Vela pun memaklumi hal itu. "Dokter Ozan, pemeriksaan lanjutan akan kami lakukan secepatnya. Apa Anda bisa menandatangani beberapa prosedur sekarang?" "Bisa, Dokter Vela." Ozan menjawab dengan mantap pertanyaan rekan kerjanya itu. Mereka bertiga menanti di luar ruangan, ayah Olivia sedang berkutat dengan lembaran-lembaran kertas yang entah berisi apa. Olivia semakin resah, beberapa kali manik matanya bergerak liar menyusuri tiap jengkal benda yang ia lihat. Tak lama kemudian Ozan keluar dari ruangan dengan senyum mengembang. "Silakan, Nona Olivia. Anda telah ditunggu Dokter Vela di dalam," ucap seorang perawat berseragam lengkap. Sebelum memasuki ruangan itu, Olivia menoleh ke arah orang tuanya dan Rehan. Mereka bertiga serentak mengangguk dan tersenyum, seakan berkata semuanya akan baik-baik saja. Aroma alkohol langsung menyentuh indera penciuman Olivia. Tirai-tirai berwarna hijau itu menjadi saksi perjuangannya kala itu. Kini tubuh putri Ozan itu terbaring di atas ranjang. Dokter Vela menghampirinya dan memperkenalkan tim dokter. "Olivia, perkenalkan ini Dokter Meira. Beliau adalah salah satu dokter onkologi bedah dan ini Dokter Ines yang akan membantuku juga, beliau juga spesialis hematologi. Apakah kamu siap, Sayang?" tanya Dokter Vela yang sembari membelai surai Olivia. "Siap, Dok. Aku ingin hidup lebih lama lagi." "Kalau begitu berdoalah dahulu," ucap Dokter Vela. Olivia memejamkan mata, di dalam hati ia berdoa memohon perlindungan Tuhan. Ya, wanita itu ingin hidup lebih lama lagi demi Rehan. Lelaki yang bisa menerima kondisi fisiknya saat ini, mungkin jika itu lelaki lain akan berbeda cerita. Dokter Ines menghampiri Olivia dan melakukan tes kesehatan dan gigi yang fungsinya untuk mengetahui kondisi organ vital pasien. Sehingga mereka bisa menyesuaikan dosis obat kemo yang akan diberikan. Setelah memastikan kondisi pasien mampu untuk menerima kemoterapi, Dokter Ines bertukar tempat dengan Dokter Vela. "Tahan ya, Sayang. Ini akan sedikit sakit," ucap Dokter Vela yang bersiap untuk menginfus lengan Olivia. Wanita itu hanya mengangguk pasrah dan terus berdoa dalam hati, ketika jarum suntik menembus kulit arinya perlahan. Kemudian, secara bertahap Olivia merasakan sensasi seperti terbakar. Entah karena efek obat-obatam yang diberikam melalui infus atau memang karena tubuhnya bereaksi. Olivia merasa sensasi sengatan dari obat-obat yang disuntikkan, tetapi sekujur tubuhnya melemah. Obat kemo berbentuk cairan yang dialirkan ke pembuluh darah venanya mulai bekerja. Berbagai sensasi mulai menjalari tubuh putri Bella yang sesekali mengerang. "Bunda ...," rintih Olivia lirih di sela-sela perjuangannya. Regimen atau obat kemo dimasukkan satu per satu sesuai urutannya secara bergantian oleh Dokter Vela dan Dokter Ines. Ada yang memakai ampul karena jumlahnya banyak, ada juga yang disuntikkan perlahan-lahan. Lengan kanan Olivia kini penuh dengan selang, selepas itu ia merasakan kantuk. "Bagaimana, Dok?" tanya Doktet Vela pada rekannya. "Jika melihat kondisi pasien, kemoterapi pertama ini sukses. Jika terus stabil, kita bisa menaikkan dosis secara bertahap." Tiga setengah jam berlalu, ketiga dokter dan dua perawat telah melakukan upaya terbaik untuk mencegah perkembangan sel kanker dalam tubuh Olivia. Mereka bisa bernapas lega setelah mengecek ulang kondisi pasien yang stabil. Rehan dengan gelisah menunggu proses pengobatan selesai, entah mengapa hatinya terus menyebut nama Olivia dalam doa. Ia berharap Tuhan memberikan keajaiban untuk kesembuhan sang kekasih. Lelaki itu tersenyum bahagia ketika mengetahui dokter yang melakukan tindakan pada Olivia telah keluar ruangan. Tanpa membuang waktu Rehan bersama Ozan bergegas menghampiri Dokter Vela yang tersenyum lebar. "Bagaimana kondisi Olivia, Dok?" tanya Ozan tak sabar. "Kemoterapi pertama berjalan dengan lancar. Namun, Olivia masih membutuhkan perawatan paling tidak tiga hari. Hal ini untuk meminimalisir efek yang akan timbul selepas terapi." Bagai mendapat angin segar, kedua lelaki itu menghela napas bersamaan. Rehan tak henti-hentinya mengucap syukur. Berharap sel kanker itu akan menghilang dari tubuh Olivia seiring dengan dilakukannya berbagai tindakan medis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN