7. Menjalani Bersama

1020 Kata
Tiba-tiba, kedua orang tua Olivia—Ozan dan Bella— datang menghampiri Rehan yang tampak sangat terpukul. Ozan merengkuh bahu sang istri yang masih terlihat shock, berulang kali Bella menangis di dalam kamar. Dengan sabar lelaki yang berprofesi sebagai dokter itu juga menenangkan istrinya. Sampai mereka mendengar sayup-sayup suara Rehan dan memutuskan untuk turut memberi penjelasan. Membantu sang putri menghadapi dilema, bukankah tak adil jika mereka hanya larut dalam kesedihan. "Itu benar, Rehan." Bella dan Ozan menjawab pertanyaan kekasih putrinya itu dengan serentak. Kekasih Olivia itu sontak menoleh dan mencari sumber suara. Pandangan netranya kosong dan hampa. Bagaimana tidak? Baru beberapa jam yang lalu ia membayangkan wajah bahagia Olivia, tetapi khayalan itu seketika sirna diterpa angin. Hilang begitu saja dan berganti dengan tabir berkabut. Tenggorokan Rehan seperti terganjal duri, ia tak mampi mengeluarkan suara, ketika mendengar jawaban orang tua Olivia. "Apa yang telah kaulihat dan dengar adalah kenyataan," timpal Bella dengan mata berkaca-kaca. Bagaimana pun di antara mereka bertiga Bella yang paling merasa hancur. Sebagai seorang ibu ia merasa sangat-sangat terluka dan tak rela. Dirinya yang mengandung dan melahirkan putri cantik itu. Selama belasan tahun kehidupan mereka berjalan dengan lancar dan bahagia. Namun, takdir berkata lain, kini semuanya akan segera menjadi kenangan saja. Tak tahu kapan Sang Khaliq akan mengambil kembali Olivia. "Rehan, mulai detik ini kau harus bisa menerima. Olivia, putriku divonis leukemia dan sebagai seorang ayah aku berharap kau akan memilih untuk tetap bersamanya," pinta Ozan sembari memandang lekat kekasih putrinya. "Iya, Om. Saya berjanji apapun yang terjadi pada Olivia, saya akan tetap berada di sisinya. Namun ...." Rehan bangkit dari posisi duduk dan menggenggam jemari Olivia dengan erat. "Katakan padaku, ini hanya sandiwara kan? Semua ini kamu lakukan hanya untuk menahanku lebih lama di Indonesia. Benar begitu kan, Oliv?" Rehan menatap Olivia lekat, ia masih tidak percaya dengan pernyataan kedua orang tua kekasihnya. Rehan masih berharap ini adalah sebuah rekayasa, kebohongan yang sengaja diciptakan agar dirinya menetap lebih lama di Indonesia. Lelaki itu mengamati kembali wajah sang kekasih. Manik mata yang selalu berbinar itu tampak redup, bibir yang selalu memanggil namanya dengan sebutan kakak itu tampak kering. Sebuah panggilan kehormatan bagi Rehan, walaupun mereka nyatanya adalah sepasang kekasih. "Jawab, Oliv. Kenapa hanya diam?" tanya Rehan dengan suara bergetar. Namun, bukan jawaban menyenangkan yang ia peroleh, melainkan gelengan kepala Olivia. Penolakan secara tegas atas pertanyaannya. Wanita itu mengangkat wajah, kini tampak jelas netra itu membendung air nestapa. "Tidak. Ini realita, Kak. Aku ... aku memang dalam kondisi tidak sehat dan ... mungkin sebentar lagi akan pergi. Entah, berapa lama lagi Tuhan memberiku kesempatan untuk bersamamu," ucap Olivia dengan senyuman getir. Bulir bening kembali mengalir, tidak ada lagi obrolan. Hanya bibir dan bahunya yang berguncang. Hari ini Olivia tidak lagi dapat menghitung berapa banyak dirinya meratapi nasib. Sampai-sampai wanita itu tak lagi merasakan kelopak mata yang mulai membengkak. Psikisnya tergerus lebih dalam dibandingkan rasa sakit di sekujur tubuh. Lebam yang terbentuk di hati kian membiru dan menyisakan ngilu, kekecewaan, putus asa semua berbaur menjadi satu. "Kak, aku akan pergi. Pergi jauh dan tak kembali lagi, kuharap bila saat itu tiba-" Olivia memejamkan mata, ia tak sanggup lagi melanjutkan kalimat dan memandang wajah kekasihnya. Rehan merengkuh tubuh Olivia dengan lembut. Mengusap tulang punggung yang terasa menonjol ketika ia raba. Untuk sesaat lelaki itu tertegun dan baru menyadari bahwa tubuh Olivia semakin ringan. Berapa banyak wanita itu kehilangan berat badannya? Sesakit apa kini yang ia rasakan. Rehan mempererat dekapannya, menghirup aroma tubuh Olivia yang bercampur dengan obat-obatan. "Tidak, Oliv. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Apapun akan kulakukan untukmu, My Lovely Olivia akan tetap berada di sini." Rehan menarik tangan kanan Olivia dan meletakkan tepat di dadanya. "Berjanjilah untuk terus bersamaku? Kamu percaya padaku 'kan," ujar Rehan dengan netra berkaca-kaca. "Kita akan menjalaninya bersama." Lelaki itu sudah tidak peduli ada siapa saja di sana. Kondisi Olivia meruntuhkan segala ego. Saat ini baginya yang terpenting sang kekasih harus bangkit dan kembali bersemangat. Ia mengesampingkan gengsi dan memilih untuk meluapkan perasaan yang bergelayut. Ya, lelaki itu menitikan air mata, seakan turut merasakan sakit. Menangis tidak hanya diperuntukkan bagi kaum Hawa, jika seorang lelaki menangis itu pertanda batinnya benar-benar tergores. "Iya, Kak. Aku mau bersamamu selamanya, aku mau semua itu." Olivia merapatkan pelukan, seakan tiada lagi hari esok untuk merasakan kenyamanan itu. Kehangatan mengisi relung kalbu, walau waktu terus bergulir dan mungkin saja sesuatu yang buruk akan terjadi. Olivia sadar ia masih memiliki keluarga dan kekasih yang selalu mencintainya. Betapa sempurna sisa-sisa kehidupan untuknya, Tuhan telah memilih dirinya sebagai wanita tangguh. Roda kehidupan akan terus berputar, sudah semestinya yang bernyawa akan berpulang pada-Nya. "Bagus, sekarang tersenyumlah yang lebar. Aku merindukan itu." Rehan melonggarkan pelukan dan menyeka air mata Olivia. Olivia menarik kedua sudut bibirnya dan tersenyum manis. "Terima kasih, Kak. Aku sadar bahwa masih memiliki kalian yang mencintaiku di sini. "Itu benar, ingat apa yang dikatakan Dokter Vela. Peralatan medis saat ini sudah canggih, kami berdua akan memaksimalkan segalanya untuk kesembuhanmu," tutur Ozan sembari menghela napas lega. "Terima kasih, Ayah dan Bunda adalah tongkat kehidupanku." Bella hanya tersenyum dan bergelayut manja di lengan Ozan. Betapa beruntungnya ia memiliki suami dan putri yang begitu tegar. Bahkan ditambah dengan kekasih Olivia yang bersedia menerima kekurangan sang putri. Ia sempat khawatir, lelaki itu akan pergi meninggalkan anaknya. Alis Rehan mengernyit dan menoleh ke arah Ozan. "Bukan berdua, Om, tetapi bertiga. Sekarang ada aku yang akan selalu mendampingi putrimu yang cantik ini." "Ya, Om percayakan Olivia padamu. Rehan, berjanjilah untuk membuat putriku selalu bahagia." Ozan mendongakkan wajah ke langit-langit. Ayah Olivia menjaga agar air matanya tak terjatuh, ia harus tetap terlihat tabah dan kuat. Mengapa dadanya terasa begitu nyeri, ketika ia menyerahkan Olivia pada Rehan? Itu terdengar seperti sebuah kata perpisahan. Tidak! Ini bukan akhir, ini adalah awal dari segalanya. Kehidupan yang baru dengan garis takdir yang sudah semestinya. Leukemia, penyakit ganas yang telah menggerogoti tubuh Olivia mungkin akan menjadi akhir kehidupan bagi wanita berparas rupawan itu. Namun, Bella, Ozan dan Rehan tidak akan tinggal diam. Mereka akan memperjuangkan kesembuhan wanita terkasih itu. Bagaikan seorang prajurit yang siap bertempur di medan perang demi melindungi sang putri. Mempertaruhkan segalanya hingga titik darah penghabisan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN