Olivia masih terus memandang amplop yang ia genggam dengan ragu, jemari-jemari lentik yang tampak terawat itu seakan enggan bergerak lebih jauh. Akan lebih baik lagi jika dirinya tidak mengetahui hasil tes ujian masuk universitas yang ia idamkan. Namun, wajah Rehan—sang kekasih—begitu sumringah dan lelaki itu terus merengek bagaikan anak kecil.
"Ayo, Sayang. Apa yang kamu tunggu? Cepat buka amplopnya!" desak Rehan dengan girang.
Akhirnya benteng pertahanan Olivia runtuh, ia tersenyum ke arah Rehan dan mengangguk.
"Baik. Tolong bersabarlah sedikit, Kak."
Wanita itu menarik napas dalam dan memejam sesaat, kemudian ia membuka kelopak matanya perlahan. Menarik ujung amplop dengan sangat hati-hati seakan di dalam sana berisi barang yang rentan pecah. Sedetik kemudian manik netra yang tampak sayu itu membulat sempurna, mengiringi suara retakan hatinya yang kian melebar.
"Bagaimana?" tanya Rehan antusias sembari menopang dagu.
Olivia telah selesai membaca hasil tes masuk ujian itu dan bergumam lirih.
"A-aku lulus ...." Mata Olivia berkaca-kaca, nestapa semakin gigih meremukkan hatinya.
Seketika bahu wanita itu berguncang semakin lama semakin kencang. Bulir bening meluruh dengan bebas membasahi pipi Olivia, ia tak sanggup lagi menahan perasaan yang bergejolak. Dadanya berdenyut, nyeri! Bom waktu dalam kalbu telah mencapai batasnya dan meledak. Wanita itu menangis sesenggukan tanpa mengucapkan sepatah kata. Bendungan air mata yang ia tahan sedari tadi akhirnya runtuh dan mengalir begitu deras.
Rehan tersentak dan langsung merengkuh bahu Olivia. "Sayang, apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis?"
Namun, Olivia bergeming, air nestapa terus mengalir dari sudut netranya. Lidah wanita itu terasa kelu, tak ada jawaban apapun yang terlontar. Rehan semakin bingung melihat wanita pujaannya menangis tanpa sebab. Apa kedatangannya kurang tepat, sehingga membuat sang kekasih kesal? Tidak! Itu alasan yang konyol. Olivia bukanlah wanita manja seperti itu.
"Sayang, ada-"
Belum tuntas Rehan mengucapkan kalimatnya, Olivia bangkit dari posisi duduk. Ia berdiri, melempar amplop cokelat dengan kasar ke lantai. Kemudian menginjak-injak lembaran tak berdosa itu dengan frustasi, hingga permukaan amplop terkoyak dan lusuh. Kekecewaan Olivia pada takdir kian membuncah. Rasa sakit dan putus asa merajai batin.
Mengapa ini harus terjadi pada dirinya? Membayangkan untuk bisa berbaur lebih lama dengan anggota keluarga saja sudah tidak berani. Apalagi berkuliah di luar negeri? Sanggupkah fisiknya melawan penyakit ganas yang bersarang? Berapa lama lagi ia akan mampu melihat dunia yang fana ini? Berbagai pertanyaan memenuhi benak Olivia.
"Sayang, sadarlah. Apa yang kamu lakukan."
Kekasih Olivia itu semakin dibuat panik dengan tingkah wanitanya. Baru kali ini ia melihat Olivia begitu hancur dan terpuruk. Tanpa menunggu lagi, Rehan segera berdiri dan menghampiri sang kekasih yang masih terisak. Lelaki itu takut jika sesuatu yang tak diinginkan terjadi. Apalagi melihat kondisi emosional Olivia yang labil, ini seperti bukan Olivia yang ia kenal. Di mana wanita periang yang selalu ia rindukan?
Dengan cepat Rehan menarik Olivia ke dalam pelukannya.
"Tenanglah, Sayang. Apa yang terjadi? Jelaskan padaku?"
"Aku ... mengapa Tuhan tak adil, Kak?" rutuk Olivia tiba-tiba.
Rehan tak mengerti apa maksud dari ucapan kekasihnya, ia hanya mengecup puncak rambut Olivia dengan lembut sebagai jawaban. Mendapatkan pelukan hangat dan bersandar di d**a bidang Rehan bagaikan vitamin tambahan untuk Olivia. Perlahan-lahan wanita itu mulai tenang dan dapat mengendalikan emosi. Entah mengapa, apa yang baru saja ia lakukan benar-benar di luar kendali.
Seakan dirinya adalah banteng yang melihat bentangan kain merah. Segalanya spontan terjadi begitu saja, mungkin jika ada orang lain yang melihat. Mereka pasti akan berpikiran putri pasanagan Ozan dan Bella itu mulai kehilangan akal sehat.
"Ma-maafkan aku, Kak Rehan." Tangisan Olivia kembali pecah dan membasahi pakaian yang dikenakan Rehan.
Sadar apa yang dilakukannya terlalu sarkas, Olivia kembali menumpahkan segala beban yang membuat dadanya terasa sesak. Ia membenamkan wajah ke dalam pelukan Rehan, menangis dan menghirup aroma tubuh lelaki yang mampu membuatnya tenang. Memang benar adanya pelukan orang terkasih merupakan mood booster yang paling mujarab.
"Tidak apa-apa. Ayo kita duduk. Ada apa, Sayang? Jawablah, jangan membuatku semakin bingung."
Rehan menyentuh dagu Olivia dan menatap netra wanita itu sendu.
"Apa aku melakukan kesalahan?"
"Tidak. Ini bukan salah Kak Rehan hanya saja-"
Olivia menggeleng lemah, ia mengalihkan pandangan. Menatap keramik abu-abu yang memantulkan bayangan dirinya yang tampak sangat pucat dan kacau. Rehan memalingkan wajah sang kekasih dengan lembut ke arahnya, kini tatapan mereka kembali terkunci.
Jarak yang begitu dekat membuat Rehan ingin mengecup bibir ranum Olivia, tetapi ini bukan waktu yang tepat. Ia harus segera mengetahui duduk perkara apa yang menyebabkan wanitanya menangis. Pasti ada sesuatu yang tidak beres!
"Kalau begitu, ceritakan apa yang membuatmu menangis? Aku gusar jika My Olivia terus bersedih. Katakan padaku apa yang terjadi?"
Pertanyaan itu terlontar kembali dari mulut Rehan, entah sudah yang ke berapa kalinya. Kalimat yang diucapkan lelaki itu barusan bagaikan sebuah mantra yang memberikan Olivia keberanian. Putri kesayangan Ozan itu melepas pelukan kekasihnya dengan perlahan. Manik mata yang teduh itu menatap lurus ke meja yang berada tak jauh dari lokasinya saat ini.
Ia meraih amplop besar hasil laboratorium, kemudian membawanya ke hadapan Rehan.
"Buka dan lihatlah, Kak," titah Olivia dengan suara sengau.
Kening Rehan berkerut, lelaki itu menerima benda yang Olivia sodorkan dan mengeluarkan lembaran kertas dari dalam amplop. Manik matanya bergerak mengikuti batin yang sedang membaca tiap tulisan yang tertera. Dahi Rehan berkerut dan sesekali ia menggeleng ringan dan menghela napas dalam.
"Kak Rehan sekarang sudah tahu penyebab aku menangis. Apakah mungkin aku masih mengharapkan lulus tes masuk universitas, sedangkan nyawaku saja berada di ujung tanduk? Pantaskah aku berharap, Kak?" Oliva bertanya balik kepada Rehan yang membisu.
Rehan tak mampu menjawab pertanyaan sang kekasih setelah membaca hasil laboratorium. Lelaki itu melipat kembali hasil tes darah Olivia dan terduduk lemas, tulang-tulang penyangga tubuh seakan terlepas dari tempatnya. Rehan menatap Olivia yang kini berdiri mematung.
Memandang wanita yang selalu membuat hatinya tergila-gila dengan lekat. Jiwanya meronta dan ingin sekali berteriak! Sakit, tetapi tidak berdarah. Seakan saat ini ia sedang dirajam dengan ribuan belati dan tak mampu bergerak.
"Apakah yang kudengar ini suatu kebenaran?" tanya Rehan dengan pandangan nanar.
Tampak jelas rona wajah lelaki tampan itu menjadi muram, cahaya yang ia bawa menjadi redup. Batin dan logikanya tidak bisa menerima apa yang baru saja ia lihat dan dengar. Ini hanya sebuah ilusi! Ya, halusinasi yang mengerikan dan membuat Rehan sangat terpukul.
Ia tak mampu lagi berpikir dengan jernih, palung hatinya terkoyak begitu dalam. Bukankah saat ini harusnya mereka berdua bahagia? Tampaknya semua kebahagiaan hanyalah sebuah fatamorgana.