Terlihat peluh membanjiri kening kedua gadis yang sedang bermain basket di lapangan itu. Satu sama lain saling memperebutkan bola yang diambil alih oleh lawannya. Mereka sama-sama berambisi untuk menang. Meski pertandingan itu hanya antar individu dan untuk kepuasan sendiri.
"Gue akan selalu di atas lo, Sa. Dan lo nggak akan pernah menang dengan status lo yang hanya sebagai anggota tim basket."
Arsa menatap Gilsa lurus. Tatapan matanya sama sekali tidak menunjukan amarah atas ucapan Gilsa padanya. Gilsa adalah ketua tim basket dan Arsa hanya pemain cadangan di tim basket. Perbedaan yang sangat jauh. Dan benar. apapun usaha Arsa untuk bisa menjadi pemain inti di tim basket, hanya ada kata tidak mungkin yang dia dapatkan. Skornya saja sudah sangat jauh ketinggalan di bawah Gilsa.
"Lo itu lemah dan keras kepala. Lo selalu maksain diri untuk bisa, padahal lo gak bisa. Gue aja bisa hitung berapa kali lo main dalam pertandingan hanya gara-gara pemain terluka dan tidak bisa mengikuti permainan lagi. Hanya itu, selebihnya lo nggak dibutuhkan!"
Kata-kata Gilsa sungguh tajam dan menusuk. Tapi Arsa seperti menulikan indra pendengarannya. Apapun yang dia inginkan, itu urusannya. Dia tetap anggota tim basket walaupun hanya cadangan, dan bukan pilihannya. Dia tidak di butuhkan pun, apa masalahnya dengan semua orang?
"Apa pedulinya lo? Suatu saat, setiap orang pasti meraskan dirinya dibutuhkan dalam sebuah situasi. Tidak terkecuali gue!" Arsa tertawa, "Dan saat ini Lu hanya sedang di butuhkan makanya, lu di atas gue. Siapa yang tau besok, Gil. Bisa jadi ... Lu di bawah gue!"
Bola yang ada dalam dekapan Arsa dipantulkan kesembarang arah dan pergi meninggalkan lapangan basket. Bola itu memantul beberapa kali dan berakhir mengelinding hingga membentur dinding lapangan. Gisi Gilsa bergemeletuk menatap geram pada kepergian Arsa. Tangannya ikut mengepal keras meninju angin yang tak nampak.
Gilsa mendicih. "Muka lo hanya topeng, Sa. Lo itu memang lemah!"
Arsa masuk ke dalam ruangan ganti dan menganti kembali pakaiannya menjadi pakaian kuliah. Jika jam kuliah kosong Arsa selalu menikmati waktu dengan berlatih basket. Organisasi basket memang menjadi rebutan mahasiswi kampus untuk bisa menjadi salah satu pemain tim basket. Tidak terkecuali basket gilr, semua bisa mengikutinya dan menjadi bagian tim setelah uji tahap seleksi. Dan Arsa hanya mendapatkan tugas sebagai tim cadangan saja. Hei, tak apa? Pemain cadangan tidak selamamya menjadi penonton, kan?
Arsa mematikan wastafel setelah membasuh wajahnya dengan air. Dia bernafas kecil, mengahasilkan embun yang membentuk di kaca depan wastafel. Tangannya mengusap pelan wajahnya menghilangkan bulir air yang mengalir di pipinya. Dia menatap ke pantulan kaca lama.
"Sa, Sa, Arsa. Lo di mana?"
Jejak nyaring sepatu menginjak lantai terdengar di belakang punggung Arsa. Gadis itu bisa melihat seorang cowok di pantulan kaca. Cowok yang masuk dengan tergesa-gesa sampai melupakan jika ruangan itu adalah khusus perempuan.
"Eh. Maaf, maaf. Gue kira ini umum. Maafin gue." Cowok itu Fano. Dia mundur secara teratur kebelakang dengan membungkuk rendah meminta maaf atas kelancangannya. Dalam tundukannya dia menepuk jidat mengingat kelancangannya masuk tanpa permisi. Dia belum melihat siapa cewek itu.
"Nggak ada siapa-siapa. Lo nggak usah kayak gitu." Fano seketika berdiri tegak setelah mendengar jelas suara yang di carinya ternyata ada di hadapannya. Dia melihat Arsa yang menatapnya dari balik pantulan kaca.
"Lo...," Nafasnya tertahan sebelum bernafas panjang. "Gue kira cewek lain." Fano mengelusi dadanya naik turun lega ternyata nasibnya
Masih beruntung cewek itu adalah Arsa.
Fano tersenyum lebar kemudian mengambil nafas untuk bicara. "Gak ada mata kuliah lagi, kan? Ayuk kita pulang."
"Gak bisa."
Tatapan Fano lurus.
"Kenapa?" Jeda.
"Oh, gue tau. Pacar lo pasti jemput, kan? Makanya lo gak bisa pulang bareng gue."
Arsa menggeleng lemah. "Gak. Gue hari ini gak pacaran."
"Terus kenapa?" Fano berjalan maju menghampiri Arsa.
"Gu...,"
"Kak, Fan. Katanya tadi mau nganterin pulang. Kok malah di sini?" Seorang gadis muncul tiba-tiba di belakang punggung Fano. Arsa berbalik menatap jelas wajah gadis itu.
"Eh, Tasya. Ya ampun gue lupa. Maaf ya, gue gak bisa anterin hari ini, tapi lain kali gue pasti anterin lo pulang, kok. Ini Flash disk lo, makasih ya udah minjemin." Fano mengambil Flash Driver yang ada saku celana jensnya. Tasya menerima dengan wajah masam.
"Gue pasti bakal anterin lo pulang kok. Tapi tidak untuk hari ini."
"Iya. Aku pulang duluan." Tasya melirik sekilas pada Arsa di samping Fano. Ini semua pasti gara-gara Arsa! Fano membatalkan untuk mengantarnya pulang alasan terkuat adalah hanya karena gadis itu.
Tasya pergi meninggakan mereka.
"Kenapa lo nggak ngantar dia pulang?"
"Karena lo." Arsa tersenyum sinis berjalan keluar dari ruangan itu. Fano membuntutinya.
"Apa hubungannya dengan gue. Lo lupa perkataan gue. Kalau gue itu, gak akan pernah mau bareng lo. Ngerti gak sih!"
Tiba-tiba saja Arsa kembali membalik badan dan melempar sebelah sepatu basketnya ke arah Fano yang berdiri di belakangnya. Fano tersentak sekian detik dan tak lama dia tertawa.
"Haha. Gue selalu ngerti malah. Tapi mungkin lo yang nggak pernah ngerti ucapan gue."
Fano membungkuk dan mengambil sebelah sepatu Arsa di bawah kakinya dan berjalan maju mengambil sebelahnya lagi di tangan Arsa. Fano menaruhnya ke dalam loker milik gadis itu yang terbuka.
"Hari ini gue gagal, besok mungkin juga gagal. Tapi lusa, siapa yang tau." Pandangan Arsa menajam. "Kalau gitu, gue duluan. Hati-hati."
Langkah kaki Fano semakin lama semakin menghilang dan lenyap. Arsa memejamkan mata erat dengan kepalan tangan yang tergulung kuat. "Lu cowok terbodoh yang gue pernah temuin. Gue gak bakal bisa, Fan. Gak akan!"
Dering ponsel Arsa membuatnya tersadar. Dia mengambil ponselnya lalu menerima panggilan yang masuk dengan cepat saat mengetahui siapa yang menelepon. "Halo Pah, ada apa?"
Yang menelponnya ada Anggala—ayah nya.
"Kamu cepat pulang ya Nak, Papa punya kejutan untuk kamu."
"Kejutan apa, Pah?" Tanya Arsa karena penasaran.
"Kalau Papa kasih tau sekarang, namanya bukan kejutan dong. Udah sampai rumah kamu lihat sendiri saja oke, Papa tunggu."
Panggilan itu telah selesai. Arsa tak menunda waktu lebih lama lagi untuk segera berjalan ke parkiran fakultas sastra dan berniat pulang secepatnya. Dan dia pulang menggunakan motor Scoopy putih miliknya. Seperti hari biasa jika tak memiliki pacar, Arsa akan pulang sendiri dan menikmati waktu kesendirian nya itu.
Hampir setengah jam perjalanan pulang akhirnya Arsa sampai di rumahnya. Ketika dia membuka pintu hal yang pertama dia lihat membuatnya sangat terkejut.
"Hai, Arsa... Lama gak ketemu." Sapa seorang gadis dengan senyuman manisnya di hadapan Arsa yang masih mematung.
"Yuita?"
-Bersambung...