" Good morning," suara berat khas bangun tidur menyapa gendang telinga Dira. Sangat dekat sampai terasa hangat dibawah telinganya.
" Morning..." jawab Dira nyaris tak terdengar karena merasa sangat malu meskipun posisi tidurnya membelakangi pemilik suara.
Semua bayangan kejadian tadi malam kembali muncul dalam ingatannya. Bagaimana mereka yang awalnya berbicara dengan sedikit ketegangan berubah menjadi obrolan panjang lebar hingga lewat tengah malam dan terjadilah kejadian yang tak pernah terbayangkan oleh Dira sendiri.
Dira begitu mudah larut dalam pembicaraan mereka sehingga percaya dengan semua janji yang diucapkan oleh Zachary padanya yang ingin serius untuk menjalani pernikahan bersama. Dira memang tidak pernah punya pengalaman dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis sebelumnya jadi tidak punya pembanding dalam menilai sebuah keseriusan yang diucapkan oleh seorang pria. Hidupnya selama ini sangat berat dan penuh perjuangan. Dira menepis semua godaan yang datang demi bisa segera terlepas dari ibunya. Belajar dan bekerja dengan giat agar segera bisa hidup mandiri. Tapi nyatanya takdir berkata lain, disaat impian sederhananya mulai tercapai Dira dipaksa untuk kembali berurusan dengan wanita itu. Masalah kali ini bahkan jauh lebih serius karena melibatkan banyak pihak. Untuk pertama kali dalam hidupnya Dira tidak lagi merasa iri dengan kehidupan ibunya yang bergelimang harta karena dibalik itu semua ada noda gelap yang susah payah dia tutupi.
" Kenapa tante tidak menyerah saja dan mencari jalan yang lain?"tanya Dira saat melihat Astari yang begitu tertekan saat berhadapan dengan keluarga suaminya. Malam itu Dira sempat mendengar sedikit pertikaian antara Astari dengan sepupu suaminya.
" menurutmu kenapa? apa aku akan mengikuti semua keinginan wanita bodoh itu setelah semua yang aku jalani selama ini?"
" tante bisa kembali ke Indo, kita bisa memulai hidup yang baru."
Astari tertawa mengejek," Kamu masih saja jadi wanita naif. Jangan terlalu lurus memandang kehidupan ini. Kita harus egois agar bisa hidup enak."
" Tapi tante tidak dihargai oleh mereka."
" Aku hanya perlu bersabar," ucapnya penuh misteri," kalau kamu memang peduli padaku, ikuti saja perintahku.Zachary bukanlah orang jahat."
Dira mencoba percaya dengan kalimat terakhir yang diucapkan oleh ibunya.
" kamu diam saja, apa masih sakit?"
Pertanyaan yang dilontarkan Zachary membawa ingatan Dira kembali. Bisa- bisanya pria itu menanyakan hal tersebut. Apa dia tidak berfikir kenapa Dira masih mempertahankan posisi tidurnya karena malu bertatapan langsung dengan pria yang baru mengambil kesuciannya itu?
" Sakit banget ya?" ulang Zachary membuat Dira jengah lalu sontak membalikkan badannya.
" Perlu banget ya nanyain hal begituan?"
Zachary mengangguk sambil menatap Dira intens," Ini pengalaman pertama buatmu jadi aku merasa sedikit bersalah namun juga sangat beruntung." ucapnya terlalu jujur yang dihadiahi sebuah delikan oleh Dira.
" Kamu beruntung tapi aku yang rugikan?" sindir Dira merasa sedikit terluka harga dirinya saat menyadari kalau Zachary sudah pernah tidur dengan wanita lain sebelumnya. Selain dengan Laura entah dengan siapa lagi Zachary pernah melakukannya.
" Kamu benar, maafkan aku."
" Sudahlah, mau dikata apa lagi toh sudah terjadi juga. Aku hanya bisa berdoa semoga aku tidak ikut menanggung hal buruk karena kebiasaanmu yang suka free s*x sebelumnya..akhh.." Dira tiba- tiba mengaduh kesakitan karena tangannya digigit oleh Zachary gemas.
" Kamu ini suka sekali ya menuduhku dengan hal- hal buruk. Aku nggak seperti yang kamu fikirkan."
" Bukannya tadi sudah kamu akui atau...." Dira menghentikan ucapannya saat sadar kalau cuma dengan Laura saja Zachary melakukannya. Dira kesal sendiri jadinya... harus senang atau marah dengan kenyataan tersebut.
Zachary mengelus bagian tangan Dira yang baru digigitnya," Kami hanya pernah melakukannya sekali, itupun langsung kena hukuman dari mama." ucapnya tak berani menatap Dira. Harusnya apa yang dirinya dan Laura lakukan bukanlah hal besar buat orang umum ditempatnya selama ini dibesarkan. Mereka juga melakukannya saat usia Laura genap dua puluh tahun dan dirinya dua puluh satu tahun tapi tentu hal demikian tidak berlaku bagi orangtuanya, terutama sang mama yang masih memegang teguh tradisi dan agamanya. Dipergoki oleh orang tua sendiri memang agak memalukan tapi tidak terlalu buruk juga. Tapi sekali lagi tentu tidak berlaku dalam hubungan Zachary dan mamanya. Mamanya marah besar padanya, bahkan sampai mendiamkannya berhari- hari. Mamanya tidak mempan dengan bujuk dan rayuan yang dia ucapkan. Papanya sendiri bahkan sampai angkat tangan dalam masalah tersebut. Oleh karena hal tersebut, Zachary tidak berani lagi melakukan hal tersebut. Beberapa kali Laura pernah memancing Zachary untuk melakukannya lagi tapi selalu di tolak oleh Zachary. Bayangan kemarahan sang mama selalu jadi pengingat yang ampuh. Zachary merasa berdosa pada Mamanya dan juga Tuhan jika sampai melakukannya lagi. Tak jarang mamanya menyuruh Zachary menikah jika sudah tidak sanggup lagi menahan diri. Zachary tentu saja menolak untuk menikah muda. Zachary ingin menikah saat usianya sudah diatas tiga puluh tahun. Tapi prinsip tersebut harus dilanggarnya saat Laura terus mengajaknya untuk melakukan hal yang dilarang tersebut. Solusi terbaik yang bisa mereka putuskan adalah dengan menikah saja apalagi sekarang usia Zachary juga sudah cukup untuk membangun rumah tangga. Semuanya baik- baik saja sampai pada saat Laura bilang tidak siap untuk menikah dan ingin menundanya. Saat ditunda untuk pertama kali masih bisa diterima oleh keluarga besarnya namun untuk kali kedua tidak lagi. Semuanya sudah dipersiapkan dan melibatkan banyak pihak dari luar. Sebelum berubah menjadi skandal yang besar, yang salah satunya disebabkan oleh ketamakan keluarga Laura sendiri, maka pernikahan harus tetap dilanjutkan dengan menghadirkan pengantin pengganti yang disodorkan oleh Astari yang tentunya disetujui oleh mamanya sendiri. Zachary tidak tahu alasan mamanya menyetujui pergantian mempelai tersebut karena sejujurnya andaipun pernikahan dibatalkan kerugian terbesar tidak dipihak mereka. Malahan mereka bisa mengajukan ganti rugi yang berlipat pada keluarga de Brigh.
Zachary pernah ingin membujuk Laura sekali lagi tapi urung dia lakukan karena dari kabar yang ia terima ada hal lain yan membuat Laura tidak ingin menikah dengannya, ada pihak ketiga yang membuat Laura pergi meninggalknnya. Zachary merasa sekarang adalah waktu yang tepat baginya mengakhiri hubungan panjang mereka selama ini. Ternyata mereka tidak berjodoh.
" Aku bersih kok jadi nggak ada alasan kamu untuk menolakku."
Zachary melihat keraguan dalam tatapan Dira.
" Aku sudah mengeceknya, asal kamu tahu saja kalau semua prosedur pernikahan kita sesuai dengan peraturan di Indo. Kamu nggak lupakan kalau aku ini WNI?"
Bukan lupa, Dira sama sekali tidak tahu apa- apa tentang suaminya dan juga segala macam prosedur serta berkas pernikahan mereka kecuali dengan ijab kabul yang dilakukan secara tertutup sebelum acara resepsi yang membuat kakinya sakit sekali. berdiri berjam-jam menyalami tamu yang begitu banyak. Diantara para tamu yang didominasi oleh para bule dan ekspatriat itu, sayangnya tidak ada yang dikenal oleh Dira.
" Kita akan melakukan resepsi di Indo, disana kamu bisa balas dendam padaku nanti." kata Zachary seolah bisa melihat isi kepala Dira.
" Tidak usah, buang- buang uang saja." tolak Dira percuma karena sebelumnya Dira sudah dua kali mendengar rencana tersebut dari dua orang yang berbeda. Tante Astari dan tante Dewi.
Dira berjalan ragu memasuki kediaman Zachary. Sesampainya di London, Astari tidak mengajaknya ke kediaman wanita tersebut. Dira langsung dibawa ke rumah tante Dewi karena sesuai dengan rencana semua acara akan dilakukan disana apalagi kondisi yang mendesak mengharuskan Dira tidak bisa kemana- mana lagi. Hal yang paling menyulitkan semua orang adalah membuat baju yang baru untuk Dira dalam waktu yang sangat singkat. Zachary menolak keras saat sang desaigner berencana untuk menggunakan gaun yang sama dengan Laura. Harusnya pekerjaan mereka jadi lebih ringan jika bisa merombak sedikit gaun yang sudah jadi. Selain tinggi badan tidak ada perbedaan yang mencolok diantara kedua wanita tersebut.
" kamu sudah sampai, ayo masuk."
tante Dewi memeluk Dira dan menuntunnya masuk ke sebuah ruangan yang sudah terisi banyak orang. Dira tidak berani memandang mereka satu persatu. Tapi saat merasa kalau seseorang memandangnya lebih intens dari yang lainnya, Dirapun menoleh. Orang itu adalah Zachary. Ternyata Zachary berubah dari terakhir kali Dira lihat namun tidak juga sampai membuatnya lupa.
tidak ada pembicaraan yang terjalin diantara mereka saat itu. Hanya dengan tante Dewi saja Dira sempat bicara. Lebih tepat jika dibilang Dira jadi pendengar saja.
" Nanti untuk acara di Indo kita bicarakan lagi, sekarang kita tidak punya banyak waktu, Mama sedang sibuk sekali. Zach juga akan menjelaskan nanti. Sekarang kamu istirahat saja." ucap tante Dewi saat mengantarkan Dira ke kamar yang akan ia tempati. Dira tidak memberikan respon apa-apa pada wanita yang akan menjadi mertuanya itu. Suasana begitu asing dan semua orang terlihat begitu sibuk.
" kenapa tidak usah? kamu tidak mau orang- orang disana tahu kalau kamu sudah menikah?"
" Bukan begitu, nanti juga akan tahu sendiri."
" kamu punya pacar?"
Dira menggeleng.
" Terus apa alasannya?"
Zachary tidak puas dengan jawaban Dira," kamu tidak akan bisa menutupi status kita. aku tidak mau kamu begitu." kata Zachary.
" Terserah kamu saja." balas Dira melepaskan pegangan Zachary pada tangannya.
" Mau kemana?" tanya Zachary protes karena Dira menghentikan kesenangannya.
" Apa aku tidak boleh ke kamar mandi juga?"
Zachary tersenyum," tentu saja boleh nyonya... mau aku antar?" ucapnya balik bertanya sambil menaikkan alisnya menggoda.
" Tidak perlu." jawab Dira cepat sambil berdiri," Aww..." ringisnya sampai terduduk.
Dengan sigap Zachary turun dari ranjang dan meraih tubuh Dira kedalam gendongannya lalu membawanya kedalam kamar mandi. Zachary mengabaikan protes yang keluar dari mulut wanita tersebut.
Bersambung...