Menjelang sore hari Dira menerima kedatangan kedua mertuanya. Hanya mereka berdua saja, tidak ada tanda- tanda kehadiran sang Tante.
" Ibumu nggak bisa ikut karena ada urusan lain," jelas Dewi yang bisa membaca gelagat Dira yang seperti sedang menunggu seseorang dan orang itu pastilah temannya yang baru menyebut dirinya sebagai ibu Dira. Astari terpaksa menyuruh Dira memanggilnya demikian agar tidak menimbulkan rumor buruk tentang status Dira didalam keluarga de Brigh. Jika dahulu dia menyembunyikan status Dira demi nama baik dan harga dirinya begitu juga kali ini. Dira seolah diperlakukan sebagai alat semata. Dewi kasihan dengan kenyataan tersebut dan jika boleh jujur nuraninya sebagai seorang ibu sempat ingin berontak, menolak ide gila yang melibatkan Dira kedalam polemik yang mereka hadapi. namun nurani yang sama juga membuatnya menerima usulan tersebut serta memastikan agar rencana mereka bisa berjalan lancar. Pernikahan Zachary harus tetap terjadi meskipun dengan cara mengganti mempelai wanitanya. Dewi setuju dengan tawaran konyol dari Astari saat tahu kalau yang menggantikan Laura adalah Nadira, perempuan ayu yang memang cukup dikenalnya dimasa lalu. Karena pendiam, Nadira selalu menarik diri saat ada acara kumpul- kumpul. Nadira seperti tidak ingin terlihat oleh orang lain tapi tidak juga sampai mengabaikan orang disekitarnya terbukti dengan Nadira yang selalu mau bersuara setiap ditanya oleh Dewi. Sifat Nadira yang sangat bertolak belakang dengan remaja seusianya membuat Dewi gampang jadi iba, makanya Dewi menyuruh anaknya mengajak Nadira untuk bermain bersama. Sayangnya bukan Zachary yang tidak mau bermain bersama Dira tapi Lauralah yang melarang. Laura tidak mau mengajak Dira kedalam lingkaran pertemanan mereka karena alasan kecemburuan semata. Dewi bisa memastikan hal tersebut tanpa perlu bertanya pada yang bersangkutan.
Dewi tahu kalau Dira kurang beruntung karena memiliki ibu seperti Astari tapi Dewi tidak bisa juga menyalahkan Astari atas pilihannya karena sedikit banyak, Dewi ikut menyaksikan sendiri berbagai ujian dan penderitaan yang dialami oleh Astari. Tidak semua wanita beruntung seperti dirinya yang punya banyak kesempatan dimasa lalu. Selain bisa menuntut ilmu setingi- tingginya, Dewi juga selalu memiliki keluarga dan lingkungan yang mempermudah jalan hidupnya serta berkah yang luar biasa karena dipertemukan dengan suami yang begitu menyayanginya. Dengan begitu banyak nikmat yang sudah ia terima tidak mungkin rasanya Dewi mampu menghakimi kehidupan orang lain. Lagipula Dewi bukanlah wanita picik yang tidak punya rasa empati terhadap wanita lain. Hal yang bisa ia lakukan hanyalah mencoba memahami dan membantu semampunya saja.
" Mama rasa apa yang akan kita bicarakan sekarang tidak harus melibatkan ibumu juga. Acara nanti akan kita gelar di kediaman eyang Zachy jadi mereka yang akan mengurusnya kita hanya perlu menyetujui konsepnya saja." jelas Dewi," jika kita mencari gedung yang lebih besar pasti akan memerlukan waktu yang lebih lama makanya kami sepakat untuk menggunakan pendopo saja. Untuk menyiasatinya kita bisa bikin acara dua sesi."
Dira mengangguk," iya tante, Dira mengerti."
Dira mencoba mengerti kalau pria yang menjadi suaminya bukanlah orang sembarangan. Sudah pasti segalanya tidak akan sesederhana dulu lagi. Lihat saja pestanya kemarin yang mengundang banyak tamu dan orang penting, kelihatannya begitu karena faktanya Dira tidak tahu sama sekali.
" Jangan panggil tante, mama saja... kamu sekarang sudah jadi anak mama juga sama seperti Zachy."
Dira mengangguk sungkan.
" Mama berencana menggelar acara dalam bulan ini juga, bagaimana menurutmu, apa kamu setuju" tanya Dewi setelah keduanya sama - sama duduk di ruang keluarga sedangkan Zachary bersama sang Papa berada diruangan sebelah karena ada hal lain yang ingin mereka bahas yang tentunya tidak melibatkan Dira.
" Terserah tan.... eh mama saja." jawab Dira masih gamang untuk mengubah panggilannya pada wanita itu.
Dewi tersenyum mendengar Dira yang sudah mau memanggilnya mama.
" Kalau begitu rencana finalnya akan kita bicarakan saat sudah sampai di Indo saja." putus Dewi," Acara disana pastinya tidak kalah dengan yang disini, bukannya apa- apa, tapi ke depannya kalian pasti akan lebih sering tinggal disana."
Sungguh berita yang mengejutkan bagi Dira. Dira tidak menyangka kalau dirinya akan kembali ke Indo. Dira sebelumnya sangat khawatir jika harus tinggal di luar negeri selamanya.
" Zachy mungkin belum sempat cerita ya kalau dia akan mengurus usaha keluarga yang di Indo. Tampaknya dia benar- benar sibuk." ucap Dewi dengan senyum menggoda. Baru datang saja Dewi sudah tahu kalau anak dan menantunya bisa melewati malam pertama mereka dengan baik. Dewi terlalu kenal siapa anaknya jadi dia tak terlalu heran juga. Dewi tentu senang melihatnya. Permulaan yang sangat baik bagi hubungan keduanya.
Pipi Dira merona jadinya. Apakah sejelas itu kalau dirinya baru saja melepas keperawanannya?
" Tidak perlu malu, mama cuma bercanda." ucap Dewi sambil tergelak.
Meski cuma bercanda tetap saja Dira malu!
Obrolan selanjutnya lebih banyak diisi dengan candaan dan pembicaraan ringan lainnya hingga menjelang malam. Zachary dan Papanya baru bergabung dengan kedua wanita tersebut saat jam makan malam. Setelah selesai makan malam bersama, kedua orang tua Zachary pun pamit agar kedua pengantin baru itu bisa melanjutkan masa perkenalan mereka yang bisa juga disebut sebagai masa bulan madu.
Semuanya... seharian ini berjalan sangat lancar dan normal seolah tidak ada drama sebelumnya yang telah terjadi. Selain kecanggungan diawal, tidak ada lagi hal lain yang mengganggu pembicaraan serta interaksi yang terjalin diantara mereka. Rasanya masih sulit dipercaya kalau semuanya benar- benar terjadi bukan hanya dalam mimpi semata. Orang tua Zachary yang langsung menerimanya tanpa ada jarak dan melibatkannya dalam rencana yang akan mereka gelar juga diluar ekspektasi Dira. Kecemasan yang Dira rasakan saat mengetahui kedatangan keduanya rasanya sia- sia belaka. Tapi Dira mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak cepat merasa senang. Masih terlalu awal baginya untuk membuat kesimpulan kalau dirinya benar- benar diterima dengan tulus oleh Zachary dan keluarganya. Pengalaman hidup telah mengajarkan Dira bahwa dirinya tidak akan semudah itu mendapatkan kebahagiaan. Ibu kandungnya saja begitu sulit menerima kehadirannya apalagi orang lain. Dira kembali mengingatkan dirinya untuk tidak cepat merasa menjadi bagian dari keluarga Wolverstone.
" Apa yang kamu fikirkan?" tanya Zachary yang baru masuk kedalam kamar tidur mereka.
Dira menggelengkan kepala dengan seulas senyum tipis.
" Rindu kampung, heh?" tanya Zachary berusaha menggoda karena sebenarnya ia sedikit terganggu dengan raut Dira yang terlihat kosong. Zachary sadar kalau dirinya turut andil membuat Dira terkurung disini. Keputusan mamanya dan tante Astari saja tidak akan bisa memaksanya menikahi wanita lain. Jika sebelumnya Zachary tidak berfikir dengan tenang sehingga kewarasannya sedikit terganggu maka kini akal budinya sudah kembali meski belum sepenuhnya. Apakah dirinya menyesal telah menikahi Dira dalam keadaan emosional? Tidak juga. Malahan merasa beruntung karena mendapatkan wanita baik-baik. Dengan dirinya menjadi orang pertama yang merasakan moment paling intim dengan Dira cukup menjadi bukti kalau isterinya itu telah menjaga dirinya dengan sangat baik. Bukan berarti Zachary menjadikan keperawanan menjadi syarat mutlak dalam mencari pendamping. Nyatanya selama ini Zachary tetap memacari Laura yang bahkan sudah melepas kegadisannya diusia sangat belia dengan pria yang juga dikenal oleh Zachary.. Hanya saja, Zachary merasa ada yang mengganjal. Tidak seharusnya mereka melibatkan orang lain dalam masalah mereka apalagi dengan cara memaksa.
" Sudah mau tidur?" Dira balik bertanya melihat keterdiaman Zachary setelah bertanya padanya. Dira tidak menjawab pertanyaan Zachary karena beberapa hari lagi mereka juga akan pulang ke Indo.
" Kenapa? apa kamu mau kita mengulanginya lagi?"
" Nggak!" tolak Dira cepat," Aku cuma mau bilang kalau aku akan berkeliling sebentar, kamu silahkan tidur duluan."
Zachary menatap Dira mencoba mencari jawaban," Mau kemana? biar aku temani."
" Tidak perlu, aku lagi ingin sendiri."
Dua kali penolakan yang dilontarkan oleh Nadira secara cepat membuat Zachary jadi tertegun. Seakan Dira sedang mencoba memberi jarak yang nyata bagi mereka.
Menyadari perubahan raut wajah Zachary, Dira pun berkata," Nggak akan lama kok, aku hanya ingin melihat langit malam dari teras depan."
Zachary mengangguk seolah memahami maksud Dira padahal jika hanya ingin melihat langit malam saja, Dira bisa juga melakukannya dari balkon kamar bersamanya. Zachary tidak akan keberatan menemaninya dalam waktu yang lama. Hingga mata Dira mengantuk sekalipun dan melewatkan sesi bercinta yang sangat dinantikan oleh Zachary sejak kepergian orang tuanya. Zachary tidak tahu kenapa dirinya ingin terus mengulangi kejadian tersebut meskipun sejak resmi menikah kemarin mereka sudah melakukannya lebih dari tiga kali. Apa sekarang dirinya jadi kecanduan s*x? atau candu bercinta dengan Nadira, isterinya sendiri.
Sepeninggal Dira, Zachary berjalan ke arah meja yang ada disudut kamar dan mengambil sesuatu dari laci lalu membawanya ke arah balkon. Zachary butuh pengalihan dari rasa tak nyaman yang menyusup dihatinya setelah penolakan Dira tadi.
Dira mengalihkan pandangannya dari langit malam yang begitu kelam kearah samping kirinya, tepatnya ketempat balkon kamar mereka berada. Meski samar karena hanya ada pendaran cahaya lampu dari sela gorden kamar saja, Dira bisa melihat sosok Zachary yang menyandar pada pagar balkon sambil merokok. Pria itu memandang lurus kepadanya.
Bersambung...