Bab 21

776 Kata
Seperti keinginannya, Dira akhirnya berpisah dari Zachary. Suami yang dinikahinya selama kurang dari tiga tahun. Setelah perceraian mereka, Dira tidak pernah lagi menjalin komunikasi dengan Zachary dan keluarganya. Mertuanya sempat datang untuk menyampaikan penyesalan dan permintaan maaf yang ditanggapi Dira dengan dingin. Bukan maksudnya untuk bersikap kurang ajar pada mereka, hanya saja Dira tidak mau terpengaruh dengan bujukkan mereka yang ingin Dira tetap menjadi isteri Zachary. Tekadnya sudah bulat jadi tidak mungkin dirinya memberikan peluang untuk kemungkinan- kemungkinan yang akan menggoyahkan dirinya. Keinginan mama Dewi untuk tetap menjalin komunikasi dengannya juga ditolak oleh Dira dengan alasan untuk menjaga perasaan menantunya nanti. Bohong besar! Karena faktanya hal itu Dira lakukan untuk menjaga perasaannya sendiri. Tidak hanya dengan Zachary dan keluarganya. Dira juga memutuskan hubungan dengan ibunya sendiri. Baginya begitu, tapi nyatanya Astari memang tidak pernah juga ingin menyambung silahturahmi dengan Dira seperti sebelumnya. Terakhir kali pertemuan mereka adalah dipengadilan agama. " Kamu membuktikan sendiri kalau kamu bukanlah keturunanku." ucap Astari sesaat Dira keluar dari ruang pengadilan. Dira tidak mengerti tujuan kedatangan Astari dan juga maksud ucapannya barusan. " Kalau kamu anakku, kamu pasti bisa membuat suamimu tidak akan memilih perempuan lain, sekalipun itu perempuan dari masa lalunya sendiri." ucapnya tajam," Tidak lama lagi kamu akan tahu kenapa aku selama ini menolakmu. Menjadi janda bukanlah status yang bisa kamu banggakan." Kejam sekali, seperti bukan perkataan seorang ibu pada anak kandungnya sendiri. Dira menerima semua ucapan tajam dari ibunya sebelum membuang semua perasaannya sendiri dan menutup hatinya rapat- rapat dari orang -orang tersebut. # Satu lagi keputusan besar yang dibuat oleh Dira selain bercerai disaat hamil adalah pindah ke luar kota. Tidak sepenuhnya keputusan Dira sendiri karena nek Romlah turut andil dalam membuat keputusan tersebut. Lewat bantuan kerabat jauh nek Romlah mereka bisa mendapatkan tempat strategis di sebuah perkampungan sebagai tempat mereka memulai hidup baru. Selain menjual rumah mereka yang merupakan aset satu- satunya mereka, Dira juga menggunakan uang tunjangan perceraian dari mantan suaminya. Tunjangan yang sempat ditolaknya dengan alasan harga diri namun terpaksa diterimanya juga karena dijadikan oleh nek Romlah sebagai ultimatun saat tahu Dira sedang hamil. Andai Dira tetap keras kepala, wanita tua itu mengancam akan mendatangi Zachary untuk membocorkan tentang kehamilannya. Dira tidak mau urusannya dengan Zachary jadi bertambah panjang karena alasan kehamilannya. Jadilah Dira menerima saja cek yang diberikan oleh Zachary setelah membulatkan tekad bahwa bukan untuk dirinya tapi untuk calon buah hatinya yang memang berhak atas uang yang tidak sedikit itu. Nyatanya uang yang diawal terasa begitu banyak baginya terasa kurang setelah mereka membeli rumah tua yang harus mereka renovasi dulu sebelum bisa ditempati sebagai hunian dan juga tempat usaha berjualan barang sembako. Beruntung Dira masih memiliki tabungan yang bisa dipakainya sebagai dana untuk melahirkan. Tepat sebulan sejak kepindahan ke rumah baru dan dibukanya toko sembako mereka, Dirapun melahirkan buah hatinya yang diberinya nama Aruni zanafa. Bayi perempuan yang mewarisi wajah ayahnya itu begitu cantik dan menggemaskan bagi siapa saja yang melihatnya. Ternyata memiliki bayi sangat melelahkan. Jam tidur Dira berkurang drastis. Beruntung Dira masih memiliki nenek yang siap membantu kapanpun Dira kerepotan saat harus mengurus anak dan usaha mereka. Pagi- pagi sekali nek Romlah sudah membuka pintu toko sebelum Dira siap dengan membawa anaknya ke meja kasir. Aruni yang sudah mandi dan menyusu akan terlelap diatas strollernya yang sengaja diletakkan oleh Dira didekatnya melayani pembeli. Jika sepanjang siang Aruni lebih banyak tidur hal berbeda terjadi saat malam hari yang mana bayi mungilnya akan terbangun lebih lama. Diantara rasa kantuk dan perasaan lelah yang menderanya, Dira masih bisa bersyukur karena diberikan kepercayaan oleh sang Pencipta. Setiap hari Dira selalu mengafirmasi dirinya untuk memberikan cinta yang tak terbatas pada sang buah hati. Jangan sampai Aruni merasakan kurang kasih sayang karena tidak memiliki seorang ayah. Dira bertekad akan menjadi ibu dan juga ayah bagi anaknya. " Makan dulu, biar nenek yang jaga disini." suruh nek Romlah yang baru selesai sarapan. Sejak membuka toko sembako mereka tidak bisa lagi sarapan dan makan siang bersama. Mereka harus gantian supaya masih ada yang berjaga didepan. Tanpa banyak bicara Dira bangkit dari duduknya dan berjalan ke bagian belakang toko yang merangkap sebagai tempat tinggal mereka. Perutnya sudah kelaparan sejak tadi. Maklum busui selalu merasa lapar setelah menyusui. Dira makan dengan nikmat meski hanya menu sederhana saja. Bukan mereka tidak mampu untuk membeli bahan makanan seperti saat masih menjadi isteri dulu, Dira hanya ingin berhemat untuk bekal mereka nanti. Belum lagi untuk biaya sekolah Aruni nanti. Semuanya harus dipersiapkan sejak dini. Mereka harus menabung sedikit demi sedikit sejak sekarang. Beruntung Dira dan nek Romlah punya fikiran yang sama tentang pola hidup. Keduanya tidak suka hidup berlebihan. Sederhana saja sesuai dengan kemampuan. Makanan sederhana terasa nikmat juga jika disertai rasa syukur. Bersambung......
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN